
"Dia tidak akan bisa melukai ku, percayalah," ucapnya percaya diri bahwa Nile tidak akan bisa melukainya. Padahal pikirannya salah, Nile bisa saja dengan mudah melukai bahkan membunuhnya.
.
.
Beberapa hari setelah Nile di tangkap, Arkana datang dengan Asisten Fin di pengadilan, ia membawa beberapa berkas di tangannya untuk membela tuannya. Semuanya sudah siap, tapi sepertinya tidak mudah, karena Haidar tidak akan melepaskan Nile, begitupun orang yang membantu Nile dari balik layar tanpa di ketahui, siapa lagi jika bukan Davin.
Seorang anak buah Davin menyamar, duduk di antara orang-orang yang menghadiri persidangan. Ia menatap seorang yang mulai masuk, yaitu Arkana. Arkana yang berjalan melewati, tidak sengaja menatap mata itu, terkejut, karena ia tahu saat ini dirinya tetap di awasi.
Arkana melakukan tugasnya, membela kliennya, dan setelah beberapa jam akhirnya selesai. Lelah, karena ternyata bukti yang ada di tangan pengacara Haidar lebih kuat di bandingkan bukti yang ada di tangannya, karena semuanya memang jelas, Nile selama ini melakukan kekerasan terhadap Rerena.
Rerena juga hadir di sana, ia menunduk takut saat melihat tatapan tajam Nile yang seolah menusuk jantungnya. Haidar yang berada di samping Rerena menggenggam tangan nya, memberikan ketenangan dan kekuatan gara tidak takut sedikitpun oleh Nile Alvarendra.
"Tenanglah, jangan takut. Aku ada bersama mu dan yakinlah kita akan menang dan dia akan sepenuhnya di penjara," ucap Haidar sangat yakin.
Rerena mengangguk, dan mereka pun pergi dari tempat itu.
Fin dan Arkana yang bersama mencari solusi untuk membebaskan tuannya, tapi entah kenapa ini sangat susah, bahkan Fin sendiri tidak mampu untuk menjamin kebebasan tuannya.
"Apakah aku harus meminta bantuan Tuan Taksa untuk membebaskan Tuan?" gumam Fin tidak ada pilihan lain.
Arkana yang mendengar diam, berpikir. Jika Tuan Taksa bertindak mungkin saja Tuan Nile akan bebas? Arkana mengangguk, agar Fin tidak curiga bahwa dirinya bersengkongkol dengan orang lain.
"Kita bisa mencobanya tuan,"
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi Tuan Taksa tentang kasus Tuan,"
Arkana dan Fin berpisah. Arkana menghubungi seorang untuk mengatakan apa yang di ketahuinya. Ponsel berdering, tanda panggilan masuk.
Drrt...Drrt...
"Ada yang bisa saya bantu, tuan ?" jawab Seorang disana, Varo.
"Maaf menganggu waktu anda Tuan Varo,"
__ADS_1
"Tidak masalah, katakan! Apa ada hal penting?"
"Ini tentang Tuan Nile, tuan. Tadi setelah persidangan, Tuan Fin mengatakan kepada saya, jika dia akan meminta bantuan kepada Tuan Taksa," jelas Arkana membuat kening Varo berkerut. Tuan Taksa? Berarti dirinya kini lawannya adalah seorang pengusaha tersohor di Negara B. Jika yang di katakan Arkana benar, akan sedikit repot untuk menahan Nile tetap di penjara.
"Baiklah, lakukan tugas anda dengan baik. Saya yang akan mengurus masalah Tuan Taksa," jelas Varo dan Arkana mengangguk.
Panggilan pun berakhir. Varo meletakkan Ponselnya dan berpikir, memutar otaknya. Senyuman seringai muncul di bibir dan ia pun beranjak untuk menemui tuannya.
Tok...Tok...
"Masuk," jawab Davin dalam ruangan.
Varo membuka pintu dan berdiri di depan tuannya. "Maaf menganggu Tuan,"
"Hm, ada apa?" jawabnya masih dengan memeriksa dokumen di depannya.
Tuan Arkana baru saja menghubungi saya, tuan, mengatakan jika Asisten Fin akan meminta bantuan kepada Tuan Taksa untuk membebaskan Tuan Nile dari tahanan. Jika itu terjadi, maka Tuan Nile akan bebas dan dia akan merebut Nona Rerena dari tangan Tuan Haidar," jelas Varo dan Davin menatap Varo.
Ia mengetuk-ngetukan jarinya, berpikir. Sedetik kemudian, seringai muncul di bibirnya. "Hubungi Ergo minta padanya untuk meretas perusahaan Alvarendra yang berada di Negara B, buat Taksa repot dengan masalahnya agar ia tidak sempat mengurusi Nile,"
"Oh ya, untuk Arkana katakan padanya untuk secepatnya Nile menandatangani surat perceraian itu. Jika dia sudah menandatangani nya mau di keluar dari tahanan atau tidak aku tidak peduli,"
"Baik tuan, akan saya lakukan,"
"Pergilah," perintahnya dan Varo keluar.
Davin menyandarkan tubuhnya, mengambil ponsel dan menyalakannya. Foto Profil terlihat seorang wanita tersenyum, dia adalah Rerena yang fotonya ia dapat saat dirinya.menyamar menjadi kepala pelayan di kediaman Nile.
"Tunggu aku, aku akan mendapatkan mu," gumam nya dengan senyum kecil. Perasaannya sungguh sangat berbeda setelah bertemu dengan Rerena. Cinta, mungkin inilah perasaan cinta. Sebuah perasaan yang baru ia rasakan.
Varo yang telah berada di ruangan nya, kini menghubungi Ergo, memintanya untuk meretas data perusahan di Perusahan Pusat Alvarendra di Negara B. Dan Ergo pun menyanggupi dan akan melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Lakukan dengan baik,"
"Baik, bos," jawab Ergo dan panggilan pun berakhir.
__ADS_1
Ergo pun melakukan tugasnya, meretas dan mencuri data perusahaan pusat Alvarendra membuat pegawai di perusahaan tersebut panik dan langsung melaporkan apa yang terjadi.
Sedangkan di ruangan Direktur, Taksa saat ini mendapatkan panggilan dari Fin. Ia mendengarkan apa yang di katakan Fin tentang Nile yang di tahan.
Saat mendengarkan cerita dari Fin, suara pintu di ketuk dari luar. Dan ternyata Asisten Taksa, Bagas.
"Maaf tuan menganggu waktu anda, ini sangat penting,"
"Hm, masuklah," jawab Taksa, Bagas pun masuk. Mengingat Fin masih menghubunginya, Taksa pun mengakhiri panggilannya. "Aku ada hal penting, kau urus masalahnya, jangan biarkan dia lama di tempat itu, jika perlu suap pihak pengadilan dan polisi untuk membebaskan."
"Baik tuan," jawab Fin.
Bagas, berdiri di depan tuannya, dan mengatakan masalah yang terjadi di perusahaan. Taksa yang mendengar langsung menggebarak meja, marah, beraninya orang itu bermain dengannya.
Brak....
"Kurang ajar! Beraninya badjingan itu bermain dengan ku!" geramnya mengeraskan rahangnya. "Cari siapa badjingan sialan itu, dan temukan!" perintahnya dengan marah dan dengan wajah memerah, nafas memburu.
"Baik tuan," jawab Bagas dan langsung memberi perintah pada anak buahnya untuk mencari siapa orang yang meretas data perusahaan.
Namun anak buah Davin tidak lah bodoh, saat tahu ada yang mencoba melacaknya, ia langsung mematikan retasannya dan membuat anak buah Taksa tidak berhasil menemukan siapa pelakunya.
Bagas yang mengetahui wajahnya mengeras, marah. Ia tidak menyangka jika orang itu sungguh cerdik. "Terus cari sampai ketemu!"
Namun semua itu tidak mudah, setiap kali mereka hendak menemukan alamat orang yang meretas, alamat itu dalam sedetik berubah-ubah, membuat anak buah Taksa bingung dan kesal.
"Sebenarnya siapa yang melakukan?" gumam mereka masih terus menyelidik san mengotak-atik komputer mereka, mencari siapa pelakunya.
Kesibukan di perusahaan Alvarendra tidak berlangsung singkat, cukup lama anak buah Davin mempermainkannya, hingga membuatnya lupa akan masalah yang dialami Nile.
.
.
Bersambung
__ADS_1