
Ckleek....
Pintu di buka oleh seseorang. Varo si pelaku mematung di pintu saat melihat sesuatu yang tak boleh di lihatnya.
Davin yang mendengar pintu di buka dan tahu siapa pelakunya, langsung melempar bantal ke arah wajah Varo.
Bug.
"Ku bunuh kau sialan!" makinya kesal karena kegiatannya di ganggu.
"Maafkan saya tuan,"
Brak....
Nafas Varo tersengal-sengal takut juga terkejut. Varo memegang dadanya yang berdetak cepat.
"Apa tadi?" bayangan tuannya mencumbu nona nya terlintas di pikirannya. "Sialan! Tuan pasti marah dengan ku. Apa yang harus ku lakukan," bingung nya tidak ingin melihat kemarahan tuannya yang mengerikan.
"Apa aku harus sembunyi? Ya, aku harus sembunyi,"
Varo berencana untuk sembunyi jauh dari tuannya. Ia tidak ingin mati konyol di tangan tuannya. Namun saat dirinya baru saja melangkah kaki, suara berat seseorang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana kau?"
Tubuh Varo kaku, seakan membeku. Hanya mendengar nada berat tuannya, Varo yakin tuannya dalam suasana hati yang buruk.
Varo menelan ludah. Ia membalikkan tubuhnya. Dan benar dugaannya, wajah tuannya sudah gelap karena menahan amarah.
Davin bersedekap dada, menatap tajam Asistennya itu. Varo yang di tatap semakin membeku. Berulang kali dia menelan ludah karena berasa kerongkongannya kering.
"Tu...Tuan,"
Beberapa orang yang melihat hanya diam, tidak ingin bertanya. Mereka tahu tuannya dalam suasana hati yang buruk. Jika tidak ingin kena imbasnya lebih baik diam dan memperhatikan saja.
"Apa yang kau lihat?" tanya Davin masih dengan nada suara berat dan wajah dingin.
"Sa...sa...saya...."
"KATAKAN! APA YANG KAU LIHAT?" bentak Davin membuat Varo terjingkat.
__ADS_1
"Saya melihat anda dan nona sedang ber...." Varo dengan cepat menutup mulutnya yang lancang. Menggelangkan kepala, mengatakan tidak melihat apapun.
"Saya tidak melihat apapun," jawabnya lagi membuat Davin menyeringai.
Davin berjalan mendekati Varo dan berbisik di telinganya. "Benarkah kau tidak melihat apapun?" ucapnya dengan pelan.
Tubuh Varo langsung merinding mendengar suara lembut tapi sebenarnya penuh ancaman.
"Ya, saya tidak melihat apapun," jawab Varo namun langsung mendapatkan pukulan kuat di perut nya.
Bugh...
Uhuuk....
Varo memegang perutnya yang terasa sakit. Pukulan itu sungguh membuatnya ingin pingsan karena kuat nya tuannya memukulnya. Namun semua itu memang pantas di dapatkan karena berani lancang melihat hal yang seharusnya tidak di lihat.
"Beruntung aku tidak mencongkel mata mu."
"Terimakasih tuan," hanya kata itu saja yang bisa Varo ucapkan. Jika dia banyak berbicara mungkin bukan perutnya saja yang akan mendapatkan pukulan, wajah berharganya mungkin saja akan babak belur di buatnya.
"Katakan, apa yang membuat mu masuk tanpa izin?"
"Ini tentang nyonya besar tuan. Nyonya besar tahu segalanya dan esok beliau akan datang," jelas Varo sebelumnya sudah di hubungi oleh Queen. Queen ingin melihat seperti apa wanita yang di sukai putranya itu.
"Benar tuan."
"Akhirnya wanita yang menolak tua itu menyelidiki tentang ku. Aku yakin karena alasan aku tidak pernah datang menemuinya. Besok jemput Mommy dan jangan sampai terlambat, jika tidak ingin kepala mu lepas dari lehernya mu,"
Varo langsung memegang lehernya. Membayangkan betapa mengerikannya nyonya besarnya itu.
"Baik tuan,"
.
.
Makan malam hari ini sedikit berbeda. Jika biasanya hanya ada Davin dan Varo, kini bertambah anggota lain. Rerena, dan kedua orang tua Rerena.
Rerena duduk di samping Davin, walaupun kakinya belum pulih Davin senantiasa membantunya, apalagi setelah kejadian tadi siang di dalam kamar, membuat mereka dekat dan memutuskan menjadi pasangan kekasih.
__ADS_1
"Makan yang banyak, agar kesehatan mu lekas pulih," Davin memberikan daging ke piring Rerena.
"Ini sudah banyak. Apa kamu ingin membuat ku menjadi babi?" kesal Rerena karena sedari tadi Davin selalu menambahkan lauk di piringnya.
"Tubuh mu terlalu kurus. Menjadi babi tidak masalah agar aku lebih mudah memeluk mu saat tidur,"
Wajah Rerena langsung merona. Mereka ada di meja makan tapi dengan entengnya Davin berkata seperti itu. Apalagi ini di depan kedua orang tuanya. Sungguh memalukan. Mereka pasti berpikir tidak-tidak tentangnya. Bisa jadi mereka berpikir, mereka sering tidur bersama dan menghabiskan dengan bermesaraan.
"Tidak bisakah jangan berkata seperti itu, kau membuat ku malu,"
"Kenapa? Bahkan aku juga sudah melakukan hal lebih dari berpelukan." bisiknya di telinga Rerena. "Nanti malam aku ingin makan semangka mu lagi. Aku menginginkannya,"
Wajah Rerena semakin bersemu. Sekuat yang ada di meja makan hanya menatap saja. Entah apa yang mereka berdua bicarakan sampai membuat Rerena bersemu malu. Berbeda dengan Varo, dia seolah tidak peduli. Padahal di otaknya sudah menebak apa yang di bicarakan tuannya. Pasti tentang ciuman dan semangka.
"Orang yang sudah jatuh cinta sungguh mengerikan. Jika sebelumnya waras, sekarang menjadi gila." batin Varo melihat sikap tuannya yang sudah berubah jika di depan nonanya. Seperti kucing yang minta belaian. Mungkin memang Davin kurang belaian karena lamanya menjomblo.
Membayangkan dirinya yang sudah jomblo lama, mungkinkah dia akan sama seperti tuannya. Menjadi gila karena wanita. Memikirkan itu, membuat Varo bergidik ngeri.
.
.
.
Jika di Villa Davin penuh dengan kebagaian, berbeda di tempat lainnya. Seorang pria yang saat ini bersama dengan seorang wanita sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan Davin.
Wanita itu bernama Bella. Dia melakukan kerja sama dengan seorang pria yang ingin menghancurkan Davin, alasan nya karena yakin Davin tahu akan perbuatannya tentang racun yang di berikannya pada Rerena. Dan untuk Haidar, Bella susah tidak peduli karena pria itu kini sudah menjadi gelandangan karena Nile sudah membuatnya bangkrut dan menendangnya dari perusahaan.
Janji yang di berikan Nile pada Haidar untuk tetap menjadi pemimpin perusahaan hanya omong kosong belaka. Dan kini Haidar menyesal. Selain perusahaannya hancur dia juga kehilangan Rerena. Haidar juga menyesal kenapa dulu menyinggung Nile hanya demi kekasih lamanya. Jika waktu itu dirinya tidak membawa Rerena, semuanya pasti akan berjalan dengan lancar tanpa ada masalah sedikitpun.
Haidar juga menyesal karena menyakiti Rerena setelah datangnya Bella di kehidupannya. Jika waktu bisa di ulang, Haidar ingin meminta maaf atas segala perbuatan yang pernah di lakukannya. Bahkan Haidar rela menyerahkan nyawanya untuk melindungi Rerena dari orang-orang yang ingin mencelakainya. Karena Haidar tahu siapa orang yang ingin mencelakai Rerena. Orang itu tak lain adalah Bella, wanita kejam yang ingin membunuh Rerena.
Bahkan tak hanya Bella, Haidar juga tahu pihak lain yang selama ini mencari keberadaan Rerena. Ternyata itu wanita yang pernah di temuinya saat di rumah sakit waktu Rerena setelah kecelakaan. Wanita itu memiliki kelompok yang cukup mampu, dia adalah tunangan Nile Alvarendra, Nadira Smith.
Haidar sebenarnya ingin mencari dan mengatakan bahwa ada dua pihak yang ingin membunuh Rerena. Namun cukup lama mencari, Haidar tetap tidak menemukannya. Dan hanya bisa menunggu Rerena muncul kembali.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung