
Semua Dokter yang mendengar tubuh mereka gemetar, ketakutan.
"Tuan, ampuni kami tuan,"
Mereka terus memohon dengan tubuh di seret oleh beberapa anak buah Davin. Membawanya ke suatu tempat. Setelah kepergian para Dokter yang menurutnya tidak berguna, Davin menghela nafasnya dengan berat. Dan menghampiri Rerena yang terus menatapnya.
"Apa aku benar-benar lumpuh?" Rerena memastikan apa semuanya benar bahwa dirinya lumpuh. Rerena tidak menyangka akan mengalami hal ini, dan itu membuatnya sesak.
"Semua nya akan baik-baik saja. Percayalah," Davin akan melakukan apapun untuk menyembuhkan wanitanya. Tidak mungkin Dokter seluruh dunia tidak bisa menyembuhkan wanitanya.
Rerena mengangguk, namun matanya tak lepas dari wajah Davin yang asing di matanya.
"Sebenarnya siapa anda ini?"
Davin diam, Rerena memang belum mengenalnya dengan wajah aslinya. Dia tersenyum manis dan mengelus kepala Rerena dengan lembut.
"Nama ku Davin?"
"Apa kamu yang menolong ku?"
"Bisa di katakan seperti itu,"
"Terimakasih. Tapi bisakah kamu mengatakan saat ini ada di mana?"
"Kamu ada di Villa ku,"
Villa? Rerena berpikir. Apakah dirinya masih berada dinegara yang sama? Lalu apakah Haidar mengetahui keberadaan dirinya.
Melihat Rerena yang seperti berpikir keras, Davin meminta Rerena untuk segera istitahat lagi karena waktu yang masih menunjukkan dini hari.
"Tidurlah, ini masih malam. Setelah kamu lebih baik, aku akan menjelaskan semuanya,"
Rerena mengangguk, dia tahu ini waktu masih malam dan Davin pindah, naik kesamping Rerena. Rerena yang melihat terkejut. Kenapa pria ini tidur lagi di sampingnya.
"Tidurlah," elusnya dan memejamkan mata.
Rerena masih menatap Davin yang ada di sampingnya. Banyak pertanyaan di benarnya tentang siapa sebenarnya pria ini dan kenapa bisa menolongnya. Padahal dirinya sama sekali tidak mengenal sedikitpun pria ini. Namun saat terus menatapnya, ia seperti pernah melihat wajah itu, tapi dimana, ia lupa."
Karena lelah berpikir dan tubuhnya belum pulih total, Rerena ikut memejamkan mata.
Pagi hari, Rerena membuka mata namun Davin sudah tidak ada di sampingnya.
Cklek….
Pintu di buka wajah tampan dengan tubuh tinggi tegap berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Tampan," gumam Rerena melihat ketampanan Davin yang tidak terlalu di perhatikan tadi malam.
Tap
Tap
Tap
"Sudah bangun?" Elusnya pada kepala Rerena.
Rerena hanya menatap dengan alis saling bertaut. "Kenapa pria ini senang sekali mengelus kepala ku? Apa dia pikir aku seekor kucing?"
Rerena melihat sekeliling. Tidak ada orang lain. Ah ya, ia teringat dengan para Dokter itu. Kemana perginya mereka. Kenapa tidak ada yang datang memeriksanya.
"Kemana para Dokter itu?" Tanyanya. Entah kenapa ia teringat dengan kejadian tadi malam, tentang beberapa Dokter di seret paksa karena mengatakan dirinya lumpuh.
"Tidak usah tanya tentang mereka. Sekarang gimana keadaan mu, sudah lebih baik?"
Rerena mangangguk. Tapi ia tidak bisa mengabaikan Dokter itu. Rerena yakin Dokter itu telah merawatnya selama ini.
"Aku ingat tadi malam mereka di seret oleh beberapa pria. Tidak terjadi sesuatu dengan mereka kan?"
"Mereka semua mati," gumam Davin lirih, namun tidak sampai Rerena mendengar.
Rerena ingin bertanya lagi, namun suata pintu di ketuk dan muncul seorang wanita dengan membawa nampan dan semangkuk bubur. Wanita itu adalah Dokter Alesa, Dokter yang di minta Davin untuk menjadi pelayan dan perawat untuk Rerena.
Davin hanya diam, membuat Dokter Alesa kikuk dan takut. Dengan terpaksa, Dokter Alesa melangkah dan meletakkan nampan di meja nakas.
"Nona waktunya anda sarapan." Dokter Alesa dengan ramah membantu Rerena duduk. Menyandarkan tubuhnya du sandaran ranjang.
"Bisakah panggilkan Dokter untuk melepas selang-selang ini daei tubuh ku. Aku merasa tidak nyaman,"
Alesa ragu, dia menatap tuannya meminta persetujuan.
"Jika dia sudah lebih baik, lepaskan saja,"
"Baik tuan,"
Rerena mengerutkan kening, kenapa pria itu meminta seorang pelayan melepas alat-alat ini? Bagaimana jika itu salah dan malah membawakan nyawanya.
"Panggilkan Dokter yang tadi malam saja. Aku takut___"
"Anda tenang saja nona, saya juga seorang Dokter,"
Rerena terkejut. Ia menatap Alesa dengan intens. Benarkah wanita ini seorang Dokter? Lalu kenapa dia memakai pakaian pelayan?
__ADS_1
Rerena yang masih tidak percaya menatap Davin, meminta penjelasan. Davin yang tahu menghela nafas dengan pelan. "Percaya padanya. Dan makanlah buburnya. Aku ada urusan."
Davin beranjak dan pergi karena memang dia ada urusan. Apalagi sore nanti dia harus berangkat ke Negara B untuk pergi ke tempat Taksa, menghancurkannya dan menjemput kedua orang tua Rerena.
Rerena yang melihat Davin pergi menatap Alesa. Alesa hanya tersenyum dia pun membantu melepas beberapa alat yang menempel di tubuh Rerena. Tapi sebelum itu, dia memeriksanya lebih dulu tentang kondisi wanita tuannya.
"Apa kamu benar-benar Dokter?"
"Tentu saja,"
"Lalu kenapa kamu menjadi seorang pelayan?"
"Ada suatu alasan yang tidak bisa saya katakan," Rerena diam, tidak berani bertanya lagi rentang alasan Alesa menjadi pelayan.
"Apakah dia benar bernama Davin," Alesa mengangguk. "Apakah dia orang baik?"
Alesa diam. Jika dia mengatakan baik, sepertinya tidak. Bahkan pria itu sangat kejam dan mengerikan. Alesa hanya mengangguk mengatakan jika pria itu sangat baik, singking baiknya jika Alesa memiliki keberanian sedikit saja ingin sekali dia memukul dan meninju wajahnya.
Setelah melepas semuanya, Alesa menyuapi Rerena dengan telaten. Dan setelah selesai, tak lupa Alesa juga menyeka tubuh Rerena. Dan kini Rerena terlihat lebih segar, yah walaupun wajahnya masih sedikit pucat.
Sore hari, Davin menemui Rerena yang ada di kamar. Dia ingin mengatakan jika ada perjalanan bisnis yang harus di lakukan. Rerena yang mendengar hanya mengangguk saja. Menurutnya itu bukan urusannya, karena mereka tidak memilik hubungan. Jadi tidak ada alasan untuknya menahan.
Sebelum berangkat Davin melepaskan para Dokter yang sudah di beri pelajaran sebelumnya. Davin tidak membunuh mereka, hanya membuatnya merasakan apa itu siksaan. Dan para Dokter itu merasa lega akhirnya tidak mati di tangan pria mengerikan itu. Namun sebagian ganti harus menemani dan merawat Rerena dengan baik saat dirinya pergi. Dan mereka pun menyanggupi perintah itu.
"Aku pergi dulu." Rerena hanya diam. Namun detik berikutnya dirinya melotot tidak percaya saat dengan beraninya Davin mencium keningnya.
"Kalian jaga dia. Aku tidak mau dengar ada hal buruk tentangnya,"
"Baik tuan," jawab para Dokter merasa lega karena akhirnya tuannya itu pergi dari Villa ini.
Davin dan Varo pergi dengan di antar oleh beberapa buahnya di bandara. Disana seorang pilot telah menunggunya. Dan mereka pun pergi menggunakan jet pribadi.
"Apa kau sudah menghubungi anak buah mu disana?"
"Sudah tuan, semuanya saat ini sedang menunggu kedatangan kita,"
"Jangan lupa bawa senjata yang terbaik. Aku tidak ingin ada kegagalan. Dan jangan biarkan satu pun selamat. Aku ingin Taksa hancur karena berani menahan orang tua wanita ku,"
"Baik tuan. Kami akan lakukan sesuai perintah anda."
Di tempat Taksa berada. Taksa tidak mengetahui jika akan ada badai yang menghancurkannya. Menghancurkan nya hingga membuatnya menyesal dan menangis darah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung