
Beberapa anak buah Nile yang melihat terkejut, begitu mudahnya pria itu membunuh temannya. Mereka waspada, dan memegang senjata mereka masing-masing dengan erat. Namun belum juga keterkejutannya hilang, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di samping pemuda tersebut. Beberapa orang turun dengan membawa senjata mereka, menghadap dan memberikan hormat kepada pria yang ingin mereka bunuh.
"Tuan,"
Semua nya semakin terkejut saat mereka memanggil dengan sebuah tuan, mungkinkah pria yang ingin mereka bunuh bukanlah pria sembarang. Sungguh mereka mencari lawan yang salah.
.
.
"Urus mereka," perintah Davin, melempar pisaunya dan dengan gerakan cepat seorang anak buahnya menangkap.
"Baik, tuan," jawab semuanya kompak.
Davin masuk kedalam mobil, menunggu mereka menyelesaikan anak buah Nile. Sedangkan anak buahnya kini semua tersenyum menyeringai, siap membunuh mereka semua.
"Maju kalian," seru seorang dari anak.buah Davin sambil menggerakkan jari telunjuknya, meminta mereka untuk maju melawannya.
Anak buah Nile yang melihat mendengus, sungguh sombong kesali mereka. Seorang memberi perintah untuk mengalahkan dan membunuh anak buah Davin.
"Serang mereka!" serunya dan semuanya maju, menyerang anak buah Davin.
Door...
Door...
Door...
Suara tembakan langsung menggema di tempat itu.
Perkelahian mereka tidak hanya menggunakan senjata api saja. Mereka juga menggunakan senjata lain seperti pisau, Bagh naka yang berarti cakar harimau, tongkat besi dan ada pula pedang panjang.
Cras...
Cras...
Sraak...
Argh....
Teriak dari mereka ada yang tubuhnya robek karena karena goresan pisau dan ada pula yang terkena bacokan dari pedang panjang.
Tempat yang semula sunyi kini menjadi riuh karena pertarungan dua kubu. Darah pun banyak menetes di tanah karena luka yang mereka alami.
__ADS_1
Bugh...
Bahkan pukulan tak luput menghantam tubuh mereka. Membuat si penerima merasakan sakit luar biasa dari pukulan tersebut.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Perkelahian itu membunuh beberapa orang, namun banyaknya yang mati adalah anak buah Nile. Sedangkan anak buah Davin hanya mendapatkan beberapa luka, karena pertarungan itu di menenangkan oleh anak buah Davin.
Bugh...
"Ini akibat jika kalian berani menganggu Tuan kami," ucap seorang yang mencekik leher anak buah Nile yang tersisa.
Wajahnya penuh luka dan lebam karena di hajar habis-habisan oleh anak buah Nile, membuatnya tidak berdaya.
Davin yang melihat merasa jenuh, ia memberi perintah untuk segera menyelesaikannya. Dan anak buah Davin langsung membunuh, menembak kepala pria itu hingga mati.
Door...
Door...
Tubuh pria itu langsung tumbang, tergelat di tanah. Anak buah Davin tersenyum menyeringai, akhirnya mereka bisa membunuh semuanya. Dan setelah itu pergi meninggalkan banyak mayat tergelelak di jalan.
.
.
Nile tidak tahu siapa yang ia lawan. Ia mengira Davin hanya pemuda biasa yang mudah di bunuh dan dia gertak. Tapi kenyataannya seseorang yang di lawanlah bukanlah pria biasa yang mudah ia hancurkan, malah sebaliknya ia sendiri yang akan di hancurkan.
"Jangan lepaskan pria itu, apapun yang terjadi buat di mati,"
Nile benar-benar tidak akan melepaskan Davin apapun yang terjadi. Ia memberi perintah lagi kepada anak buah Daddynya untuk menyingkirkan Davin. Tapi semuanya itu di ketahui oleh Tuan Taksa, bahwa anak buah yang di percayakan kepada Nile, beberapa dari mereka telah mati.
Taksa meminta pada Bagas untuk menyelidiki, bagaimana bisa seorang pemuda sendirian membunuh beberapa anak buahnya sekaligus. Entah kenapa ia merasa Davin bukanlah pria sembarangan.
"Cari tahu siapa Daniel itu, aku merasa pemuda itu bukanlah pemuda biasa,"
"Baik, tuan," jawab Bagas meminta seorang anak buahnya untuk mencari tahu siapa Davin sebenarnya. Namun semua informasi yang di dapat tidak membuat tuannya puas.
Taksa yang melihat hasil informasi itu mengerutukan kening, ada seuatu yang aneh dengan informasi itu, seolah ada informasi yang di sembunyikan.
__ADS_1
"Anak ini cukup misterius. Katakan pada Nile, harus lebih berhati-hati dengan pemuda ini,"
Bagas mengangguk dan akan menyampaikan apa yang di katakan tuannya pada Fin, agar Fin menyampaikan hal tersebut pada tuan mudanya.
Fin yang mendengar juga memiliki pemikiran yang sama dengan Tuan besarnya, bahwa pelayan itu memiliki identitas yang misterius
"Baik Tuan Bagas, saya akan menyampaikan pesan anda kepada Tuan muda,"
"Hm, ingat! Harus berhati-hati," pesan Bagas kembali.
Fin mengangguk, untuk menghadapi pelayan yang mampu membunuh anak buah Tuan Taksa dalam waktu singkat pastilah bukan pria biasa. Fin takut jika tuannya terburu-buru malah akan terjadi hal yang tidak diinginkannya.
"Baik tuan saya akan menyampaikan kepada Tuan Nile,"
Sebelum Tuan mudanya memberi perintah pada anak buah Tuan Taksa untuk kembali membunuh oekayan tersebut, Fin melaporkan apa pesan yang di berikan Tuan Bagas padanya untuk berhati-hati dengan pemuda tangan bernama Daniel Itu.
Nile yang mendengar bertanya-tanya, kenapa Daddynya menghentikannya dan meminta untuk berhati-hati dengan Pelayan itu. Saat dirinya mengetahui informasi siapa pelayan itu, sepertinya pelayan itu hanyalah pemuda miskin biasa, bukan seperti yang dipikirkan Daddynya tentang data informasi yang menurut nya misterius.
"Lebih baik anda menuruti perintah Tuan Besar, tuan. Sambil menunggu informasi siapa sebenarnya pekalan itu. Jangan sampai kita salah mencari musuh,"
"Baiklah kalau begitu. Untuk saat ini fokus pada Haidar saja dulu, dan hancurkan perusahaan nya,"
"Baik tuan,"
.
.
Pagi hari seperti biasa, Davin datang ke rumah Haidar, disana ia menunggu haidar pergi dari mansion agar dirinya bisa dekat dengan Rerena. Hari ini ia akan menemani Rerena untuk pergi berbelanja di Mall.
"Aku berangkat dulu sayang. Kamu pergilah dengan Daniel, aku merasa aman jika kamu pergi bersama dengan nya," elus Haidar pada kepala Rerena.
Rerena mengangguk di sertai senyum kecil di bibirnya.
"Kamu juga hati-hati,"
Haidar mencium kening Rerena dengan lembut, membuat seseorang yang melihatnya di bakar api cemburu.
"Beraninya dia mencium wanita ku!" geramnya namun hanya bisa dalam hati, ngedumel.
Haidar pun pergi dengan di antar Rerena sampai di depan pintu, melampaikan tangan layaknya sepasang suami istri yang harmonis. Davin yang melihat benar-benar di buat kesal. Tatapannya semakin dingin, bahkan Pak Min yang menyapa di acuhkan karena kesal akan pagi yang sudah di suruh dengan keromantisan. Sungguh pagi yang menyebalkan.
.
__ADS_1
.
Bersambung