Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Menyelamatkan Kedua Orang Tua Rerena


__ADS_3

Melihat anak buahnya berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Davin Dan Varo menghampiri mereka.


"Apa semuanya sudah beres?" Tanya Davin sambil matanya melihat banyak mayat tergeletak.


"Sudah bos."


"Bagus. Ayo masuk. Geledah semua tempat jangan sampai terlewat satu pun. Cari sepasang suami istri yang mereka tawan. Dan juga temukan Taksa,"


"Baik,"


Mereka semua langsung masuk, berpencar mencari keberadaan sepasang suami istri yang di maksud bos mereka. Sedangkan Davin dan Varo duduk santai di kursi menunggu hasil.


Cukup lama mencari, beberapa dari mereka menemukan pintu rahasia di lantai yang tertutup meja. Mereka menggeser meja itu dan membuka pintu tersebut. Ada sebuah anak tangga menuju bawah tanah. 


"Dua dari kalian jaga di sini, biar kami bertempat masuk,"


Dua orang itu mengangguk dan mereka bertempat langsung turun, menyusuri tangga tersebut. Sedikit gelap, namun masih terlihat jelas. 


Seseorang di dalam yang di perintah Taksa bersembunyi di balik tembok saat mendengar suara langsung masuk.


"Bagaimana bisa mereka menemukan tempat ini?"


Dia waspada sambil memegang pistol di tangannya. Jika sewaktu-waktu di perlukan akan di gunakannya untuk menembak musuh.


Anak buah Davin berjalan perlahan, salah satu dari mereka memberi kode untuk berhati-hati takut ini sebuah jebakan.


"Waspada,"


Semuanya mengangguk dengan sikap waspada dan memegang senjata mereka sambil matanya melirik setiap sudut tempat itu.


Mereka melewati beberapa sel kosong. Terus berjalan hingga sampai di sebuah sel yang terdapat dua orang, pria baya dan wanita baya yang tangan dan kakinya di borgol menggunakan besi.


"Buka,"


Hm…


Door…


Door…


Door…


Seorang dari mereka menembak gembok itu berulang kali dan akhirnya gembok pun patah dan berhasil di buka.


Mereka langsung menghampiri dan mencoba melepas borgol itu. Namun sangat susah.


"Bagaimana?"


"Bawa mereka langsung saja. Nanti kita lepas saat sudah keluar,"


Dua orang langsung membawa mereka keluar dari tempat itu. Sedangkan seorang dari mereka berhenti melihat sekeliling. Seperti ada yang memperhatikan mereka. Senyum seringai muncul di bibirnya. Dia melanjutkan jalannya sambil tangannya mengambil sesuatu dari sakunya dan menempelkannya di beberapa dinding.


Tit…

__ADS_1


Tit…


Tit…


Waktu terus berjalan. 


Semuanya sudah keluar dari bawah tanah itu. Sedangkan seorang pria yang mengintai tadi keluar dari persembunyiannya. Sebenarnya dia ingin membunuh mereka semua. Tapi dirinya yang sendiri takut tidak bisa menghadapi, dan akhirnya bersembunyi demi menyelamatkan diri.


Pria itu berjalan hendak keluar, yakin musuh nya telah pergi. Saat melewati sebuah dinding, dia mendengar sebuah suara. Dia mencari asal suara itu. Saat menemukannya dia terkejut ternyata itu adalah sebuah Bom yang sudah di aktifkan. 


Tik…


Booom….


Booom….


Duuar…..


Duuar…..


Ledakan besar itu langsung membunuh pria itu dalam sekejap dan membuat tempat itu bergetar.


Mereka yang ada di luar sampai menengok, apa yang terjadi. Ternyata itu adalah ulah dari seorang di antara mereka.


"Maaf bos,"


"Tidak masalah."


Davin menatap dua sepasang paruh bayah yang juga menatapnya penuh tanya. Mereka berpikir, mungkinkah mereka akan di pindahkan tempat lagi. Mereka sudah pasrah akan nasibnya yang menjadi tawanan orang-orang yang kejam.


"Baik Bos."


Mereka membawa kedua orang tua Rerena masuk kedalam mobil dan setelah itu semuanya melesat meninggalkan tempat tersebut. Untuk anak buah Davin yang mati, mereka langsung menguburkannya di tempat karena tidak mungkin untuk mereka di bawa ke tempat asal.


.


.


Setelah menempuh perjalanan lumayan jauh, kini mereka sampai di mansion atau markas milik Davin. Davin memberi perintah anak buahnya untuk segera melepas borgol besi itu. Dan setelah berhasil Davin memanggil pelayan untuk melayani kedua orang Rerena dengan baik.


Mereka berdua sempat bingung sebenarnya siapa pemuda itu. Tapi rasa penasaran itu mereka tahan. Mungkin pemuda itu tidak ingin mengatakan karena melihat tubuh mereka yang bau dan kotor. Padahal memang Davin tidak berniat mengatakan. Ia ingin mengatakan setelah mereka sampai di Villa dimana Rerena berada.


Setelah membersihkan tubuhnya, mereka di bawa ke meja makan untuk makan karena Davin tahu pasti mereka saat ini kelaparan, yakin Taksa tidak memberi makan mereka dengan baik.


"Silahkan dimakan," ucap Davin mempersilahkan mereka berdua untuk makan makanan yang sudah di hidangkan. 


Kedua orang tua Rerena saling pandang, dan setelah itu mengambil nasi dan lauk. Mereka makan dengan lahap karena selama ini mereka makan tidak teratur. Jika pun makan mereka hanya di beri nasi sisa dari anak buah Taksa yang berjaga.


Davin yang melihat mereka makan dengan lahan tersenyum dan setelah itu pamit lebih dulu untuk istirahat karena dirinya lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh.


"Kau temani mereka. Setelah selesai antar mereka ke kamarnya,"


"Baik tuan," Varo mengangguk tanpa berani membantah. Walaupun dia lelah, tapi harus tetap melakukan tugasnya.

__ADS_1


Beberapa menit akhirnya kedua orang tua Rerena selesai, dan Varo membawa ke kamar yang sudah di sediakan sebelumnya.


"Silahkan. Dan selamat malam."


Kedua orang tua Rerena mengangguk dan masuk kedalam kamar untuk istirahat.


Uaaah…..


Varo merenggangkan ototnya yang kaku. Tak sabar untuk membersihkan tubuhnya dan istirahat. 


.


.


Di kamar Davin, Davin membuka ponselnya dan membaca pesan masuk. Terlihat sebuah pesan yang menarik perhatiannya. 


Davin membukanya dan ternyata pesan dari Nile Alvarendra. 


"Dasar badjingan sialan! Akan ku bunuh kau berani menyentuh dan mengambil wanita ku. Akan ku buat kau menyesal dan menderita karena berani menyinggung ku, sialan!"


Davin yang membaca tersenyum, sungguh pria yang bodoh.


"Jika kau berani, lakukan. Aku tunggu setiap saat," balas Davin menantang. Ingin membuat Nile semakin marah.


Dan benar saja. Saat pagi hari Nile membaca pesannya, Nile begitu marah. Dia benar-benar membenci Davin dan ingin membunuhnya.


Karena tidak tahan dia pun menghubungi ayahnya ingin meminta bantuan untuk menyingkirkan Davin. Walaupun Taksa susah mengirim anak buahnya untuk Nile, tapi itu bukanlah orang-orang terlatih Taksa. Dan Nile yakin anak buah itu tidak akan berguna untuk membuat Davin mati. Karena lawannya bukanlah orang sembarangan dan yakin Davin memiliki anak buah yang terlatih untuk menjaganya.


Drrt…


Drrt…


"Ada apa?" Jawab Taksa dengan nada dingin.


Nile yang mendengar mengerutkan kening. Ada apa dengan papanya? Tidak seperti biasanya papanya menjawab dengan nada dingin.


"Apa papa memiliki masalah?"


"Hah, semuanya hancur, berantakan,"


"Apa yang hancur pa?" Tanya Nile penasaran.


"Tadi malam ada sekelompok tak di kenal menyerang markas papa. Dan sekarang markas papa hancur rata tanpa sisa. Bahkan anak buah papa mati semua tanpa sisa. Papa tidak tahu badjingan mana yang melakukannya,  tapi papa yakin itu bukanlah orang biasa."


Nile yang mendengar sangat terkejut. Bagaimana bisa kelompok mafia papanya kalah dalam satu semalam. Padahal kelompok mafia papanya cukup kuat. Bukankah berarti lawan papanya adalah orang yang memiliki kekuatan lebih besar dari papanya. Tapi siapa?


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2