Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Membuat Nile Marah


__ADS_3

Tanpa membantah perintah, satu anak buah Davin mengambil pisau dan mencengram rahang seorang dari mereka dan


Sreek....


Argh....!


Teriak nya keras saat sebelah bibirnya di robek dengan pisau tajam secara paksa. Tak hanya itu, Davin juga memberi perintah untuk memotong setiap jari tangan mereka.


Teriakan demi teriakan menggema di ruangan itu. Darah mengucur diri tubuh mereka, membuat ruangan itu bau anyir.


setelah puas melihat anak buahnya menyiksa dua orang bodoh yang mengantarkan nyawa. Davin pergi, zebelum itu dia memberi perintah untuk membuang mayat mereka di hutan, agar tubuh mereka di makan binatang buas di hutan tersebut.


Keesokan harinya, kegiatan Davin berjalan seperti biasa. Sebelum berangkat bekerja, Davin lebih dulu menemui Rerena yang masih berbaring di ranjang. Mengajaknya berbicara, mengecup tangan dan juga mencium kening.


Seperti saat ini, Davin sedang berpamitan pada Rerena untuk berangkat bekerja.


"Aku pergi dulu sayang. Cepat lah bangun, aku akan membahagiakan mu,"


Cup


Setelah mencium kening Rerena cukup lama, Davin pergi bersama dengan Varo ke perusahaan. Hari ini dia akan di sibukkan dengan banyaknya tumpukan berkas yang harus di periksa.


"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?"


"Sudah tuan. Semuanya sudah siap. Tinggal menunggu kedatangan kita di sana."


"Sudah kau lacak tempat nya,"


"Sudah tuan,"


Davin benar-benar puas dengan Varo. Asiatennya ini memang dapat di andalkan dalam semua urusan.


Siang hari, Varo mengetuk pintu memberitahukan jika ini waktunya makan siang. Varo dan Davin pun pergi ke sebuah restoran mewah tak jauh dari kantor. Saat mereka masuk, Davin bertemu dengan Nile. Namun Nile yang tidak terlalu mengenal Davin cuek saja, hanya menyapa dengan menganggukkan kepala. Berbeda dengan Davin, senyum seringai muncul di bibirnya.


"Bukankah ini tuan Nile?"


Varo yang mendengar tuannya menyapa, bingung. Tidak seperti biasanya tuannya begitu ramah.


"Ya, dengan siapa ya?" tanya Nile, namun asiaten Nile langsung memberitahukan bahwa itu adalah Davin Menzies pengusaha sukses di Negara ini. Bahkan di Negara lain juga.

__ADS_1


Nile yang mendengar terkejut. Kenapa dia tidak terlalu mendengar. Bahkan dia tidak pernah bertemu sekalipun.


"Ya, saya Nile Alvarendra. Apa ini dengan Tuan Davin Menzies, pengusaha tersohor di negeri ini?" Nile mengulurkan tangan, berjabat.


"Anda bisa saja." jawab Varo balas menjabat tangan.


Varo yang melihat sungguh sangat terkejut. Sejak kapan tuannya nya ini begitu ramah dengan musuhnya. Namun karena Nile tidak tahu jika pria di depannya adalah musuh dalam cinta, Varo diam saja dan mengikuti alur.


"Apa anda mau berbincang dengan saya. Saya ingin banyak mengenal mengusaha lain di negara ini?"


"Boleh, jika anda berkenan," Mereka pun masuk dan duduk di meja yang sebelumnya telah di pesan oleh Varo.


Varo terus menatap tuannya. Sebenarnya apa yang di rencananya tuannya ini.


Davin dan Nile terus berbincang satu sama lain. Sedangkan Varo dan asisten Nile, hanya menjadi pendengar setia. Hingga sampai Davin menyinggung tentang perusahaan Nile yang bangkrut dalam semalam.


"Oh jadi perusahaan anda bernama NL Crop's?"


"Benar tuan Davin,"


"Sepertinya saya tidak asing dengan nama itu." Davin seolah berpikir. "Oh ya, bukankah itu perusahaan yang beberapa minggu lalu bangkrut dalam semalam?"


"Tidak, saya tidak memiliki bisnis seperti itu. Lagian itu hanya perusahaan cabang. Jadi tidak akan membuat saya bangkrut dan miskin."


"Aku kira anda memang bangkrut. Jika anda bangkrut saya bisa membantu anda?"


"Benarkah?"


"Tentu saja,"


"Bagaimana caranya agar anda membantu saya."


"Saya mendengar anda memiliki istri yang sangat cantik. Jika di perbolehkan saya menginginkannya,"


Mendengar pria yang baru saja di temui berkata menginginkan Rerena. Darah Nile langsung mendidih. Bisa-bisanya pria itu berbicara seperti itu dengan nya. Apalagi dengan entengnya menginginkan Rerena. Yah, walaupun dirinya sudah bercerai, tapi Nile tidak akan melepaskan Rerena pada pria mana pun.


"Maaf saya menolak. Saya tidak akan melepaskan Rerena pada anda."


"Oh jadi namanya Rerena. Nama yang cantik. Tapi kurasa saya bener-bener menginginkannya. Saya akan mengambilnya dari anda,"

__ADS_1


Varo yang mendengar sungguh sangat terkejut. Mulutnya sampai menganga mendangar hal tak biasa dari bosnya.


Apa tadi, mengambilnya? Bukankah itu sama saja merebut. Sungguh usaha yang bagus membuat Nile kesal dan marah padanya.


Brak....


"Anda sungguh sangat lancang. Dia istri saya. Apapun yang terjadi saya tidak akan melepaskannya."


"Aku semakin penasaran dan tertarik, sepertinya istri anda memang sangat luar biasa. Hm....sungguh membuat ku penasaran."


Nile yang tidak ingin mendangar omong kosong dari Davin langsung pergi. Jika dirinya tidak pergi takut dirinya membuat Davin babak belur. Dia tidak ingin banyak orang membicarakan hal buruk tentangnya, bisa-bisa akan berdampak dengan perusahaannya.


Setelah Nile pergi, Davin menyesao kopinya. Varo yang ingin mengetahui rencana tuannya langsung duduk tepat di depan Davin, dan menatapnya ingin meminta penjelasan.


"Kenapa dengan wajah mu?"


"Apa yang tuan rencanakan?"


"Aku ingin dia panas dingin. Rerena bersama ku, aku akan membuatnya cemburu dan marah. Setelah itu aku yakin dia akan dendam dan mencoba menghabisi ku dengan anak buahnya yang tidak berguna itu. Saat dirinya fokus akan Rerena yang ternyata bersama ku. Kau hancurkan semuanya milik pria itu,"


"Baik tuan,"


"Untuk saat ini kita fokus menghancurkan Taksa. Jika Taksa hancur, Nile tidak akan memiliki pelindung dan hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Setelah dia berdiri sendiri, kita hancurkan dia."


"Baik tuan."


Varo tidak menyangka jika tuannya memiliki pikiran seperti itu. Jika biasanya tuannya akan langsung menyerang tanpa ampun, tidak untuk saat ini. Tuannya ingin bermain lika-liku. Mungkin ini untuk kesenangan hatinya. Dan Varo hanya bisa menuruti saja. Padahal untuk menghancurkan semua keluarga Alvarendra tidak akan susah, hanya seperti menghentikan jarinya saja. Tapi ya, Varo hanya nurut karena ini sudah keputusan tuannya.


Malam hari, Davin kembali ke Vila. Sebelum itu Devin membersihkan tubuhnya agar saat menemui Rerena tidak membawa kuman dari luar.


Dia duduk di kursi mengambil tangan dan mengecupi nya berulang kali. Namun tiba-tiba tangannya merasakan gerakan kecil dari jari Rerena. Davin menatap jari itu, takut salah dengan apa yang di rasakan. Namun lagi-lagi jari itu bergerak, membuatnya terkejut dan senang.


"Dokter....Dokter!" Teriak Davin membuat para Dokter langsung lari terbirit-berit menuju ruangan Rerena. Takut terjadi hal buruk dengan pasiennya dan mengakibatkan kepala mereka bolong akibat tembakan senjata dari Tuan kejamnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2