Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Akan Saya Usahakan


__ADS_3

Mereka kini berada di jalan. Davin menjadi supir dan Rerena duduk di belakang menatap jalanan yang di lewatinya dengan wajah sedih.


Davin yang melihat tidak tahan, ia pun berkata. "Nona, apa kita akan langsung ke Mall?"


"Terlalu pagi untuk kesana,"


"Lalu kita akan kemana?"


"Terserah,"


Jawaban yang membuat Davin sungguh bingung. Kata Terserah, sunggung membuatnya harus berpikir keras. Dan akhirnya hanya bisa meminta bantuan pada Varo untuk memberikan solusi padanya.


.


.


Davin mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Varo, bertanya tempat yang bagus untuk membawa Rerena. Dan Varo yang mendapatkan pesan juga di buat bingung, dia masih lajang tidak tahu tempat-tempat yang romantis. Dan akhirnya mengumpulkan beberapa anak buahnya untuk merekomendasikan tempat yang baik dan cukup bagus untuk di kunjungi tuannya dan wanita nya.


"Cepat katakan!" seru Varo tidak ingin tuannya menunggu lama.


Salah seorang anak buahnya pun merekomendasikan sebuah taman, taman itu di tumbuhi banyak pohon sakura yang mungkin saja nonanya akan menyukai hal itu. Dan Varo pun langsung membalas pesan tuannya


Taman Merah Muda.


Davin yang membaca bingung, "Taman Merah Muda?" dalam hati ia ingin tertawa, tidak ada kata lainkah untuk nama itu, menurutnya terlalu norak.


Author 😡 "Apa kau bilang, norak?"


Davin 😏 "Memang kenyataannya norak. Merah Muda, heh, menggelikan,"


Author 😡 "Davin sialan, awas kau! Akan ku buat Rerena bersama dengan Haidar,"


Davin😣 "Jangan, ku mohon! Author yang baik, jangan pisahkan aku dengan Rerena pujaan hati ku. Aku tidak bisa hidup tanpanya."


Author😁 "Heh, makanya jangan mengolok ku. Kalau aku marah baru tahu rasa kamu. Katakan bahwa itu memang bagus. Merah Muda hehehe,"


Davin😒 "Bagus,"


.


.


"Nona, bagaimana jika kita pergi ke Taman Merah Muda? Disana banyak bunga sakura, saya yakin anda menyukainya."


"Taman Merah Muda? Baiklah, antarkan aku kesana. Aku ingin melihatnya,"

__ADS_1


"Baik nona,"


Davin pun menambah kecepatan nya menuju Taman Merah Muda, ia tidak ingin melihat wanitanya sedih terlalu lama. Dan setelah menempuh perjalanan cukup lama, kini mereka berdua telah sampai.


Hal pertama yang di lihat Rerena adalah banyaknya pohon sakura yang bunganya bermekaran, membuatnya terpana. Ia berjalan masuk kedalam taman itu, berhenti dan membentangkan kedua tangannya, memejamkan mata, menghirup wangi aroma bunga sakura yang masuk dalam indra penciumannya.


Davin yang berada di belakang menatap punggung Rerena dengan senyuman yang manis. Ia senang, Rerena menyukai tempat ini.


Rerena berjalan menyusuri tempat itu, ia merasa bahagia. Kesedihan yang baru saja ia rasakan hilang. Ia menoleh ke arah Davin hang terus mengikutinya. Senyuman manis di berikan nya untuk pelayan itu.


Davin yang melihat jantungnya langsung berdetak cepat. Senyuman itu untuk nya. Ah..rasanya ingin membawa Rerena pergi bersama nya, hidup selama nya berdua. Tapi dirinya harus sabar, tidak ingin memaksa perasaan Rerena untuknya. Perlahan pasti, ia yakin Rerena akan menjadi miliknya.


Davin mengambil kameranya dan memotret Rerena yang berada di bawah pohon bunga sakura, ia ingin hari ini memiliki kenangan untuk mereka berdua.



Foto hanya pemanis saja ya.


Davin berjalan menghampiri.


"Apa nona menyukai tempat ini?"


Rerena menoleh, mengangguk. Ia menyukai tempat ini. "Aku menyukainya," jawabnya dengan senyum yang mengembang di bibir.


Keduanya berjalan bersama, menyusuri tempat itu. Rerena melihat sebuah kursi di bawah pohon, mengajak Davin untuk duduk di sana.


"Tidak nona, biar saya berdiri saja," tolak Davin pura. Padahal dalam hati ia ingin duduk dan memeluk pinggang itu, menyandarkan kepalanya di bahunya. Terlihat romantis


Namun semua nya hanya angan-angan nya saja, tidak sesuai realita.


"Duduklah," pintanya lagi dan akhirnya Davin duduk di samping Rerena dengan jarak sedikit jauh.


Davin mengambil sesuatu di sakunya dan menyerahkannya kepada Rerena.


"Maaf, jika saya tidak meminta izin terlebih dahulu,"


Davin memberikan foto hasil potretannya. Rerena yang melihat mengambil. Ia terkejut, menatap Davin penuh tanya. Sejak kapan Davin mengambil foto dirinya.


"Kamu sungguh pelayan yang lancang, ya," Rerena tersenyum, tidak marah akan apa yang di lakukan Davin padanya.



Foto hanya pemanis saja ya.


Di lihatnya dirinya sedang memberikan makan seekor anjing yang di temui di taman itu, mungkin milik seorang pengunjung disana. Ia tersenyum. Hari ini sungguh ia bahagia, melupakan kesedihan karena hadirnya seorang wanita masa lalu Haidar.

__ADS_1


"Niel, apa menurut mu aku tidak pantas untuk di cintai?"


Davin yang mendengar tidak menjawab, ia menatap Rerena. Ingin mendengar keluh kesah wanita yang di cintainya.


"Setiap kali aku merasakan kebahagian, pasti kebahagian itu akan pergi dari ku. Padahal aku ingin sekali merasakannya. Apakah aku tidak pantas merasakan kebahagiaan itu?" Rerena menunduk, kesedihannya akan teringat kehidupannya yang jauh dari kata bahagia.


"Aku tidak memiliki keluarga lagi, tidak ada tempat untuk ku untuk mengeluh dan bersandar. Saat ada harapan dimana aku bisa bersandar dan berlindung serta mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan itu kini mencoba lari dari ku lagi,"


Tes.


Air mata itu menetes saat mengingat takdir hidupnya yang selalu menyedihkan. "Orang tua ku entah kemana, aku ingin mencari dan menyelamatkannya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya, karena aku lemah dan tidak berdaya, hanya bisa bergantung pada seseorang. Tapi kali ini, seseorang itu___"


Rerena tidak bisa membandung air matanya, ia menangis, takut Haidar akan melupakan nya karana hadirnya Bella disisinya.


Davin ingin sekali merenghuh tubuh itu, namun ia tidak boleh egois. "Nona,"


Rerena mengusap air matanya, "Apa aku terlihat menyedihkan?"


"Tidak,"


"Pasti kamu tertawakan melihat ku seperti ini?"


"Tidak sama sekali, nona. Dan saya yakin anda pasti akan mendapatkan kebahagian itu, yakinlah."


"Semoga saja," jawabnya mengusap sisa air matanya. "Oh ya Niel, apa kamu bisa membantu ku?"


"Apa yang bisa saya bantu nona?"


"Aku ingin mencari keberadaan Ayah dan ibu ku. Tapi aku tidak tahu kemana mencari nya. Dia di tawan oleh mantan suami ku, Nile Alvarendra."


Davin diam. Walaupun tidak di minta, ia akan melakukannya, menolong calon mertuanya.


"Akan saya usahakan nona. Saya memiliki beberapa teman, mungkin mereka bisa menolong dan mencari keberadaan orang tua nona. Saya akan meminta bantuan mereka,"


Mendengar itu Rerena tanpa sadar menggenggam tangan Davin dengan mata berbinar, "Benarkah?"


"Akan saya usahakan,"


Davin sungguh tidak percaya bahwa wanita yang cintainya menggenggam tangan dan meminta bantuan nya. Dengan semangat 45 ia akan membantu dan menemukan keberadaan calon mertuanya.


"Kamu tahu, mendengar mu akan membantu ku mencari keberadaan orang tua ku, aku sangat bahagia. Selama ini aku ingin menemukan mereka. Dan entah kenapa aku merasa kamu bisa membantu ku,"


Rerena memiliki perasaan dan pikiran bahwa Davin bisa andalkan. Selama ini ia menanti Haidar menemukan keberadaan orang tuanya, tapi nyatanya sudah menunggu lama, Haidar tidak menemukan keberadaan orang tuanya. Dan kini malah ada hadirnya Bella, Rerena yakin Haidar akan sibuk dengan wanita itu dan melupakan dirinya dan apa yang di mintanya.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2