Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Lebih Baik


__ADS_3

"Bunuh mereka,"


Wajah para Dokter itu sudah pucat pasi. Sungguh malang nasib mereka karena harus mati di tempat ini. Mereka menghela nafas. Jika nasibnya harus seperti ini, apa boleh buat. Mereka akan pasrah.


Walaupun mereka memohon tetap saja Davin tidak mau mendengarkan. Padahal obat tidak langsung bekerja, butuh proses. Memang dasarnya Davin yang tidak sabaran dan berakhir Dokter yang menjadi sasaran.


Saat anak buah Davin menyeret papa Dokter itu, tiba-tiba terdengar Rerena batuk dan muntah darah.


Davin yang melihat panik dan langsung menghampiri begitu juga para Dokter itu, mereka memberontak minta di lepas untuk melihat keadaan Rerena.


Saat Dokter itu mendekat, Davin langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya ke arah mereka.


"Lebih baik kalian mati saat ini. Beraninya kau membuat wanita ku semakin parah,"


Tatapan Davin begitu tajam, seolah mampu menguliti tubuh mereka. Para Dokter yang melihat ketakutan. Namun demi menyelamatkan nyawa mereka, mereka harus berusaha lagi mencoba membuat tuan kejam ini mengerti.


"Tuan, mungkin ini efek dari obat yang kami berikan. Saya rasa darah itu adalah darah kotor akibat racun itu. Biarkan kami memeriksanya," Para Dokter itu berharap Davin memberikan Izin agar nyawa mereka selamat.


Davin memicingkan mata, melihat ke arah Rerena, dan menurunkan senjatanya.


"Periksalah. Ini kesempatan buat kalian. Jika sampai wanita ku kenapa-napa karena obat rusak mu itu, aku akan menguliti tubuh kalian,"


Glek....


Keringat menetes di kening, sungguh ancaman yang menakutkan.


"Baik tuan. Kami akan berusaha semampu kami,"


Davin duduk di sofa, menatap para Dokter itu bekerja. Sedangkan Dokter yang di tatap seperti itu semakin berkeringat. Beberapa kali mereka menyeka keringat di keningnya. Rasanya mereka ada di tepi jurang yang setiap saat dapat mati mengenaskan.


"Sungguh mengerikan, sungguh mengerikan."


Para Dokter itu pun berusaha semaksimal mungkin, menyelamatkan satu nyawa penting bagi tuan mereka.


Dan cukup lama para Dokter memeriksa dan memberi perawatan, kondisi Rerena semakin membaik dan itu membuat para Dokter semakin lega.


Huh....


Mereka membuang nafas dengan lega. Jika sebelumnya mereka seakan susah untuk bernafas, tidak untuk kali ini. Mereka seakan di beri kesempatan untuk hidup kembali.


Davin yang melihat wajah lega para Dokter langsung beranjak mendekati Rerena.


"Bagaimana keadaanya?"

__ADS_1


"Jauh lebih baik tuan. Racun di dalam tubuh nona sudah berkurang. Namun masih harus di bersihkan dengan tuntas. Kami akan merawat dan menyembuhkan nona semaksimal mungkin,"


Davin mengangguk. Tatapannya tak lepas dari wajah pucat Rerena. Tangannya terulur menyentuh wajah itu. "Cepatlah sembuh. Setelah ini tak akan ku biarkan badjingan-badjingan itu menyakiti mu. Aku akan menjaga mu," Davin mengecup tangan itu dengan penuh kasih dan setelah itu melambaikan tangan, meminta semuanya keluar dari ruangan itu.


Melihat semuanya keluar, Davin yang belum membersihkan tubuh langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Tapi sebelum itu dia mengecup kening wanita yang sangat di cintainya.


Beberapa menit kemudian, Davin telah selesai. Keluar dengan tangan mengusap rambutnya yang basah. Tatapannya masih mengarah ke arah ranjang dimana Rerena berbaring. Senyum terbit di bibirnya, tidak sabar melihat Rerena siuman.


Setelah berganti pakaian, Davin menghubungi Varo. Bertanya apakah sudah menemukan dari mana asal penyusup itu.


Varo kini berada didepan tuannya, dan menjawab seperti informasi yang di dapatkan nya.


"Dari informasi yang saya dapat, mereka dari kelompok Mafia Black Wolf tuan kelompok mafia yang mencoba mengambil alih kekuasaan anda di bawah tanah."


"Apa kau tahu siapa ketuanya?"


"Coky Millano,"


"Coky Millano? Bukankah dia pengusaha yang memiliki Club malam, tempat penjudian, pela-curan terbesar di Negara R?"


"Benar tuan. Orang ini belum lama berada di Negara R, tapi usahanya meroket tajam. Dan saya juga menemukan bukan itu saja pekerjaan mereka. Mereka juga seorang bandar narkoba dan Human Trafficking,"


Davin mengangguk mengerti. Jadi Coky ini mencoba mengambil alih kuasanya karena ingin leluasa dan memperluas bisnisnya. Davin yakin setelah Coky berhasil, pasti Coky akan mengambil alih tentang bisnis senjata apinya juga.


"Mereka adalah anggota yang sama, Black Wolf,"


Davin tersenyum menyeringai. Sungguh gerakan yang cepat ingin menghancurkan dirinya. "Untuk dia biarkan saja dulu. Aku yakin ada orang di balik semua ini. Dan itu pastilah orang yang mengenal ku dengan baik. Tetap waspada dan jangan lengah."


"Baik tuan."


"Oh ya, lalu bagaimana dengan Nile?"


"Orang yang ponselnya di sadap oleh Recky menghubungi seseorang, dan mereka juga menginginkan kematian Nona."


"Apakah itu Nile?"


"Bukan Tuan. Dia seorang wanita,"


"Wanita?"


"Tunangan Tuan Nile yang di jodohkakan oleh Tuan Taksa."


"Dari keluarga mana itu?"

__ADS_1


"Keluarga Smith,"


"Keluarga Smith? Heh, sungguh menarik. Beraninya dia mencoba menganggu wanita ku. Dan apa kau sudah menemukan orang tua Rerena?"


"Mereka berada di tangan Tuan Taksa,"


"Baiklah. Dua hari lagi siapkan anak buah mu kita temui Taksa tua bangka itu?"


"Baik Tuan,"


Davin yang lelah kini merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya menatap langit-langit kamar. Banyak yang harus di lakukan setelah ini. Demi melindungi wanitanya dari orang-orang picik yang ingin membunuhnya.


Perlahan matanya terasa berat dan Davin pun memejamkan mata untuk tidur karena kelelahan seminggu lebih tidak tidur dengan teratur.


Malam hari Davin mengunjungi markas untuk menemui dua orang yang di tahan. Dua orang yang saat itu melakukan penyerangan di rumah sakit. Davin duduk dengan menyangga kepalanya, menatap dua orang yang terikat dengan rantai dalam keadaan lemah karena mereka sudah lebih dulu disiksa oleh beberapa anak buahnya.


Byuur....


Seorang anak buah Davin menyiramkan air di wajah keduanya, membuat mereka langsung sadar dan melihat sekeliling. Di lihatnya dua orang asing yang belum mereka lihat saat mereka ada di tempat itu. Ya, mereka adalah Davin dan Varo.


"Tuan, mereka adalah orang yang ingin menculik nona,"


Dua orang yang tahan itu menatap Davin. Dalam hati mereka berkata, "Jadi pemuda ini adalah Tuan mereka? Terlihat lemah, tidak seperti tuan,"


Mereka menganggap Davin lemah dan tidak sekejam Tuan mereka berdua. Davin yang melihat wajah meremehkan itu langsung bemberi perintah pada anak buahnya.


"Robek mulut nya,"


Kedua orang itu yang mendengar langsung melotot, terkejut. Apa tadi yang di perintah oleh orang itu. Merobek mulutnya? Apa dia sudah gila? Mereka berpikir Davin tidak sesederhana yang mereka lihat


Tanpa membantah perintah, satu anak buah Davin mengambil pisau dan mencengram rahang seorang dari mereka dan


Sreek....


Argh....!


Teriak nya keras saat sebelah bibirnya di robek dengan pisau tajam secara paksa.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2