Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Terserah


__ADS_3

"Beraninya dia mencium wanita ku!" geramnya namun hanya bisa dalam hati, ngedumel.


Haidar pun pergi dengan di antar Rerena sampai di depan pintu, melampaikan tangan layaknya sepasang suami istri yang harmonis. Davin yang melihat benar-benar di buat kesal. Tatapannya semakin dingin, bahkan Pak Min yang menyapa di acuhkan karena kesal akan pagi yang sudah di suruh dengan keromantisan. Sungguh pagi yang menyebalkan.


.


.


Setelah kepergian Haidar kekantor, tak lama seorang wanita datang. Bella, wanita berwajah cantik dan memiliki tubuh tinggi dan bentuk tubuh ideal. Ia melangkah anggun masuk dan mencari keberadaan Haidar. Namun yang di dapat bukan Haidar, melainkan Rerena yang menatapnya penuh tanya, karena tidak tahu siapa dirinya.


Bella menghanpiri dan berdiri saling berhadapan dengan Rerena. Menatap Rerena dari atas hingga bawah.


"Mungkinkah dia wanita yang di sukai Davin?"


Bella yakin pasti wanita muda ini adalah wanita yang di inginkan Davin, namun kenyataannya, wanita ini malah bersama dengan Haidar. Demi mengambil hati secara perkalan wanita ini, Davin harus rela menjadi seolah pelayan serta penjaga untuk nya.


"Hm, beruntung sekali wanita ini bisa di cintai oleh pria mengerikan itu."


Bella tersenyum manis dan berkata, "Maaf, apa Haidar ada?" tanya Bella semakin membuat Rerena mnegerutkan kening, bertanya-tanya siapa wanita cantik nan anggun ini?


"Jika boleh tahu siapa nona ini?" tanya Rerena dengan nada lembut.


"Nama ku Bella," jawab Bella mengulurkan tangan.


Walaupun Rerena bingung, ia menyambut uluran tangan tersebut dan memperkenalkan dirinya juga. "Saya Rerena,"


"Rerena ya. Apa kamu pelayan di rumah ini?" tanyanya membuat Rerena terkejut. Pelayan? Ia menatap dirinya, apakah dirinya terlihat seperti seorang pelayan?


"Saya bu___"


Belum juga Rerena menjawab, Bella sudah membenarkan ucapannya tentang Rerena adalah seorang pelayan.


"Aku lapar, bisakah hidangkan sarapan untuk ku?" Bella berjalan lebih dulu menuju ruang makan. Sedangkan Rerena yang masih bingung dengan siapa wanita ini, berjalan mengikuti dan melakukan apa yang di perintah Bella.


Disana Bella duduk anggun menunggu Rerena menghindangkan makanan di depannya. Buk Su yang mengenal siapa Bella langsung menyapanya dengan ramah, karena dulu ia tahu Bella sering datang ke rumah Tuan besarnya karena kedekatannya dengan Tuan mudanya.


"Nona Bella, sejak kapan anda datang?"

__ADS_1


Bella menatap Buk Su, mengingat-ingat siapa wanita tua itu. Dan setelah mengingat ia tersenyum manis, "Apa ini Buk Su?"


"Benar nona, ini Buk Su. Ternyata nona tidak melupakan Buk Su yang tua ini,"


Bella terkekeh, "Bagaimana bisa aku lupa dengan Buk Su. Bukankah selama aku bersama dengan Haidar Buk Su yang selalu melayani kami. Tentu saja aku tidak akan melupakan mu, bu. Untuk kedatangan ku, aku datang kemaren, dan hari ini langsung kesini saat tahu Haidar sudah tinggal sendiri, dan Om Jhon yang memberitahu ku,"


Rerena yang mendengar pembicaraan itu entah kenapa jantungnya berdetak tak karuan. Apa hubungan Haidar dengan wanita itu sebenarnya? Kenapa ia merasa wanita ini begitu dekat dengan Haidar?


Rerena meletakkan makanan di meja dengan tangan gemetar. Semoga apa yang di pikirkan tidak lah benar, bahwa wanita ini ada hubungan dengan kekasihnya.


Buk Su yang melihat Nonanya melayani Bella, menghentikan, "Biar Buk Su yang melayani Non Bella, Non,"


Bella yang melihat mengerutkan kening, ia tersenyum menyeringai. "Biarkan dia yang melayani ku, Bu. Buk Su duduk saja, kita mengobrol sambil menunggu dia selesai,"


"Tapi Non,"


"Bukankah dia pelayan disini? Jadi biarkan saja,"


Rerena yang mendengar hatinya langsung sakit. Kenapa ia di rendahkan oleh wanita yang baru ia temui. Sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa begitu akrab dengan Buk Su, seolah mereka telah mengenal cukup lama.


Buk Su menatap Rerena yang mengambilkan makanan untuk Bella, ia kasihan. Ingin mengatakan jika Rerena adalah kekasih tuan mudanya. Tapi di depannya juga dulu adalah kekasih tuan mudanya. Hah, Buk Su hanya bisa mengehela nafas dengan pelan, dan membiarkan Rerena melakukan semuanya.


"Bagaimana kabar Haidar bu? Aku sangat merindukannya. Sudah lama tidak melihatnya setelah pergi keluar negeri untuk kuliah?"


"Kabar tuan muda baik, nona. Hanya saja setelah nona pergi tuan begitu sedih dan kecewa, mungkin karena nona pergi tidak memberi kabar dengannya,"


"Hah, aku pergi tidak sempat pamit Buk. Waktu itu keluarga memaksa ku secara mendadak, dan tidak ada waktu untuk ku berpamitan dengannya, hanya bisa mengirim pesan, tapi dia tetap marah," Bella sedih karena itu memang kesalahannya, membuat Haidar kecewa padanya. Padahal sudah jelas Haidar begitu mencintainya.


"Aku sekarang kembali, dan akan meminta maaf padanya. Setelah itu kembali seperti dulu lagi,"


Buk Su diam, bingung mau menanggapi gimana. Ia menoleh ke arah Rernsa yang membawa mangkuk sayur dan meletakkannya di meja. Bu Su melihat ada gurau sedih di wajah Rerena, namun di tutup dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Makanan nya sudah siap Nona, saya permisi dulu," Rerena tidak tahan untuk menumpahkan air matanya. Ternyata wanita yang datang itu adalah kekasih Haidar sebelum dirinya. Dan apalagi ia tahu, Haidar begitu mencintai Bella, saat ia mengingat Haidar pernah mengatakan bahwa ia begitu mencintai wanita yang pernah meninggalkannya. Kenangan dan cinta dalam yang katanya susah untuk di hilangkan.


Dan kenangan cinta wanita dari masa lalu kini kembali, akankah Haidar akan kembali mencintai wanita masa lalu atau dirinya yang hadir setelahnya.


Rerena meyandarkan tubuhnya di dinding, menyentuh dadanya yang sakit. "Bagaimana ini? Apakah Haidar akan kembali padanya, atau memilih ku? Kenapa hati ku sakit saat mengetahui ini?"

__ADS_1


Davin yang melihat dari jarak jauh, mengepalkan tangan. Tidak rela melihat Rerena menangis seperti itu. "Ini karena Bella sialan itu! Beraninya dia membuat wanita ku menangis,"


Davin akan memberi pelajaran kepada Bella karena berani membuat Rerena sedih. Karena tidak tahan melihat Rerena menangis, ia menghampiri.


"Nona,"


Rerena yang melihat Davin datang, langsung dengan cepat menghapus air matanya, tidak ingin Davin melihatnya menangis.


"Kita pergi, aku ingin berbelanja," Rerena menarik tangan Davin secara tiba-tiba, tidak kuat berada di mansion dan melihat Bella.


Davin yang melihat tangannya di genggam, mantap terus tangannya itu. Ia senang, tidak menyangka jika Rerena akan menggenggamnya.


Hatinya berbunga-bunga, dan berjanji akan membuat Rerena senang hari ini.


.


.


Mereka kini berada di jalan. Davin menjadi supir dan Rerena duduk di belakang menatap jalanan yang di lewatinya dengan wajah sedih.


Davin yang melihat tidak tahan, ia pun berkata. "Nona, apa kita akan langsung ke Mall?"


"Terlalu pagi untuk kesana,"


"Lalu kita akan kemana?"


"Terserah,"


Jawaban yang membuat Davin sungguh bingung. Kata Terserah, sunggung membuatnya harus berpikir keras. Dan akhirnya hanya bisa meminta bantuan pada Varo untuk memberikan solusi padanya.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa Like, dan Komen dan Votenya 🤗🤗


Mohon dukungannya.


__ADS_2