
"Urus mayat mereka. Aku akan melaporkan semua ini pada posisi," Nile memberi perintah pada bawahannya dan akan melaporkan apa yang terjadi di kediaman nya. Nile yakin pelakunya tak lama lagi akan segera tertangkap.
Namun semua itu sudah dipikirkan dengan matang oleh anak buah Davin. Mereka meminta Recky untuk menghapus semua rekaman CCTV di sekitar kediaman Nile dan tak lupa Recky juga menghapus rekaman CCTV di kediaman Nile sendiri.
.
.
.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang polisi yang saat ini di hubungi Nile.
"Datang lah ke rumah saya. Ada banyak mayat yang entah siapa yang mengirimnya. Anda bisa menyelidiki nya,"
"Baik Tuan Nile, kami akan segera kesempatan lokasi,"
Para polisi kini sudah ada di kediaman Nile Alvarendra. Mereka melakukan penyelidikan dari CCTV di kediaman Nile dan di sekitarnya. Namun semua CCTV eror dan membuat membuat para polisi tidak menemukan petunjuk siapa pelaku tersebut.
"Bagaimana?"
"Kami tidak menemukan petunjuk sama sekali, tuan. Sepertinya pelaku sudah memperkirakan semuanya. Jadi mereka menghapus setiap jejak di sekitar sini,"
Nile diam. Bukankah berarti memang sudah di rencanakan? Tapi siapa yang melakukannya sampai mengirim banyak mayat itu di kediamannya. Mungkin kah musuhnya?
"Tuan, apa anda memiliki musuh?" Tanya polos entah kenapa mereka berpikir, banyak nya mayat adalah ulah dari musuh Nile Alvarendra.
"Tidak ada," jawab Nile. Namun tiba-tiba terbesit sebuah nama, Davin. Mungkinkah pelakunya Davin?
"Baiklah, tuan. Kami akan mengkonfirmasi anda kembali jika kami memiliki petunjuk,"
"Terimakasih."
Beberapa polisi itu pun pergi. Sedangkan Nadira berada di kamar mencoba menghubungi ayahnya.
Tut….
Tut….
Panggilan terhubung.
"Ada apa sayang? Tumben menghubungi papa?"
"Pa, ada sesuatu yang ingin Dira katakan,"
"Katakanlah. Sepertinya ini hal yang penting,"
"Ya, ini memang penting. Saat ini Dira sangat takut pa,"
"Takut kenapa?" Tanya Paleo saat mendengar nada bicara putrinya yang sedikit aneh.
"Sepertinya aku melakukan kesalahan,"
"Kesalahan? Kesalahan apa?"
"Aku menyinggung orang yang penting pa. Dan ku yakin orang itu memiliki kuasa besar," jelas Nadira menggigit jarinya. Jika dugaannya besar, mungkin nyawanya dalam bahaya saat ini.
"Menyinggung orang? Siapa?"
"Dira tidak tahu siapa. Tapi orang itu pastinya memiliki kekuatan besar. Apalagi saat melihat semua anak buah papa mati di tangan mereka,"
__ADS_1
Paleo sungguh terkejut saat mendengar anak buahnya yang dia kirim untuk melindungi putranya mati semua. Paleo seakan tidak percaya. Paleo berpikir itu hanya karangan putri nya.
"Sayang, jangan bercanda. Bagaimana bisa anak buah papa mati semua,"
"Dira tidak bercanda pa. Mereka telah mati semua tadi malam,"
"Tadi malam? Sebenarnya apa yang terjadi? Katakan pada papa,"
Nadira pun menceritakan semuanya tanpa kurang sedikitpun tentang rencana nya untuk menangkap Rerena di sebuah Villa. Tapi ternyata semuanya kacau, anak buahnya mati semua dan di kirim ke tempat tinggalnya.
Paleo yang mendengar cerita putrinya sungguh terkejut. Bagaimana bisa mereka seceroboh itu.
"Apa kamu tahu siapa pemilik Villa itu?"
"Tidak tahu. Hanya saja saat terakhir anak buah papa menghubungi ku, seorang pria berbicara dengan ku. Apakah itu ketua atau bukan aku tidak tahu."
"Kamu harus hati-hati mulai sekarang. Papa takut mereka tidak akan melepaskan mu."
"Ya, Dira akan lebih berhati-hati,"
Panggilan mereka pun berakhir. Nadira menghela nafas dengan dalam, semoga tidak ada yang berniat membunuhnya. Tapi entah kenapa Nadira selalu berpikir bahwa nyawanya selalu terancam. Merasa orang itu tidak akan melepaskannya.
"Aku harus bagaimana?"
.
.
.
Setelah beberapa hari Nadira tidak berani keluar dari kediaman Nile karena takut anak buah Davin mencelakainya, kini Nadira merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dalam beberapa hari ini tidak ada yang mencoba mengintainya di rumah Nile. Oleh sebab itu, kini Nadira akan keluar. Dia ingin shopping untuk menyegarkan otaknya.
Nadira mengendarai mobilnya dengan santai menuju Mall. Memakai kacamata besarnya dengan gaya sok kayanya.
Namun tanpa diketahui oleh nya, seorang tak jauh darinya tersenyum menyeringai. Dan setelah itu pergi menghubungi rekan lainnya.
"Ada apa?"
"Target sudah keluar. Kita lakukan saat dia keluar dari Mall."
"Baiklah, kau pantau dia. Jangan sampai lolos. Tuan memberi perintah untuk kita melakukan apapun asal wanita menderita."
"Oke. Aku tidak sabar untuk membuat wanita menyesal karena berani menyinggung tuan,"
"Pergilah, aku akan menunggu ku di luar,"
Panggilan berakhir dan satu pria pengintai kini mengikuti kemana Nadira berada tanpa di ketahui olehnya.
Tidak adanya anak buah di sekitar Nadira membuat anak buah Davin dengan mudah mengikutinya. Pria itu terus menatap Nadira, terasa tertidur dengan tubuhnya yang indah dan seksih. Tiba-tiba terbesit pikiran liar di otaknya.
"Sepertinya sayang jika hanya di siksa, lebih baik nikmati dulu baru di siksa. Lagian tuan tidak mengatakan jika tidak boleh di nikmati. Baiklah, akan ku nikmati tubuh mu dulu wanita,"
Seringai mengerikan muncul di bibirnya sambil menyesap kopi dengan santai.
.
.
.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Nadira dengan membawa banyak belanjaannya kini kembali ke mobil. Keluar dari Mall dan akan kembali ke kediaman Nile. Namun sebelum itu dia berencana untuk mampir ke Spa. Saat belum juga dia sampai di tempat tujuan, sebuah mobil melaju kencang dan berhenti menghadangnya.
Ciiiit…..
Suara ban mobil karena berhenti dengan mendadak.
Dug….
Kening Nadira membentur stir karena dia menginjak rem dengan tiba-tiba.
"Siapa mereka?"
Entah kenapa Nadira menjadi khawatir. Dia mencari ponselnya untuk menghubungi Nile meminta bantuannya. Namun sialnya beberapa kali menghubungi, Nile tidak mengangkatnya.
"Sial! Kemana dia ini sebenarnya. Apa tidak tahu aku sedang membutuhkan bantuannya," gerutu nya dan kini mencari nomor ayahnya, menghubungi.
Tut…..
Tut…..
"Ada apa sayang?"
"Pa, tolong aku." Panik Nadira.
Mendengar nada panik dari putrinya, Paleo terus bertanya tentang apa yang terjadi.
"Ada seseorang yang menghadang ku, pa. Aku…."
"Keluar," gedor anak buah Davin pada pintu dan suara itu dapat di dengar oleh Paleo.
"Siapa mereka."
Pa, tolong aku pa," panik Nadira dalam mobil. Dan tiba-tiba kaca pecah karena dipukul menggunakan kayu oleh anak buah Davin.
Pyaar….
A….. teriak Nadira.
Anak buah Davin membuka pintu dan menyeret tubuh Nadira.
"Lepaskan aku," Nadira memberontak dan menendangkan kakinya, melawan.
Bugh…
"Wanita sialan,"
Plak….
Pipi Nadira mendapatkan tanparan keras membuat wajahnya langsung merah.
"Lepaskan aku badjingan,"
"Diam!" Bentak anak buah Davin dan menyeret paksa Nadira masuk kedalam mobil.
Sedangkan Paleo terus berteriak memanggil anaknya. Paleo tahu Nadira dalam bahaya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung