Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Menawarkan Kerjasama


__ADS_3

Setelah mencurahkan kerinduan bersama putra sulungnya, Queen keluar. Banyak yang sudah mereka bicarakan. Terutama tentang Davin yang ingin mengirim Rerena ke Negara N. Namun semua itu ditolak oleh Queen. Queen ingin Rerena ikut bersama nya saja ke kediaman Menzies. Alasan Queen tidak menyetujui karena di Negara N Rerena tidak mengenal satu pun orang disana. Apalagi berada di istana, takut nya Rerena malah tidak nyaman.


"Biarkan Rerena bersama dengan Mommy, agar Mommy memiliki teman di rumah,"


"Baiklah kalau begitu. Untuk keberangkatannya Mommy atur saja. Aku akan mengantarkan kalian," Queen mengangguk saja.


.


.


Keesokan hari nya. Anak buah Coky menemukan alasan kenapa Tuan Alvarendra dan Tuan Smith tidak langsung menyerang Davin, dan alasannya karena mereka tidak mampu melawan mereka.


"Aku harus menemui mereka," gumamnya mencari waktu yang tepat untuk membicarakan semua nya.


Saat Paleo menjenguk putrinya di rumah sakit, orang itu menghampirinya dan langsung masuk kedalaman ruangan dimana Nadira di rawat.


Ckleek…


Pintu di buka. 


Paleo yang mendengar langsung menoleh, dia mengira Taksa yang datang. Namun ternyata bukan. Seorang pria yang sama sekali tidak di kanalnya.


"Siapa kau?" Tanya Paleo mengerutkan kening.


Pria itu hanya tersenyum dan semakin mendekat.


"Selamat siang Tuan Paleo," sapa pria itu, namun tidak sedikitpun Paleo menanggapi. Karena menurutnya dia sama sekali tidak mengenalnya. 


"Siapa kau?" Tanya Paleo ulang.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya.," jawab pria itu mendekati ranjang dimana Nadira berbaring. "Sungguh gadis yang tragis. Kasihan sekali," pria itu mencoba menyentuh Nadira namun dengan cepat Paleo menepis tangan lancang itu.


"Jangan menyentuh putri ku!"


Bibir pria itu tersenyum miring, "Bahkan dia sudah lebih dulu di sentuh oleh dua pria sekaligus."


"Tutup mulut mu!" Marah Paleo saat tahu ternyata pria di depannya tahu tentang sebab yang terjadi dengan putrinya. 

__ADS_1


"Apa anda tidak merasa hidup putri mu menderita?" 


"…….." Paleo diam, tidak ingin menanggapi pria yang menurutnya gila. 


Melihat Peleo mengabaikannya, pria itu kembali menyunggingkan senyumnya. "Apa anda tidak ingin membalas semuanya, tentang yang terjadi dengan putri anda?"


"Tentu saja aku akan membalasnya. Tapi tidak perlu kau ikut campur dalam urusan ku!"


"Padahal saya disini ingin menawarkan suatu bantuan. Karena anda menolak, jadi ya sudahlah." Pria itu mencoba menerik ulur Paleo


"Bantuan?" Tanya Paleo dengan tatapan menyelidik.


"Ya, bantuan. Jika anda tidak keberatan, saya bisa membantu anda membalaskan semua yang terjadi pada anda dan putri anda. Saya bisa membantu anda membunuh badjingan itu dan dalangnya."


Mendengar pria itu berbicara tentang membalas siapa dalang di balik derita putrinya, Paleo menjadi tertatik.


"Apa yang bisa saya percaya dengan ucapan anda?"


"Saya memiliki kelompok besar di Negara ini. Dan beruntungnya anda karena saya dan kelompok saya juga menginginkan pria itu mati. Dan jika anda tertarik kita mengobrol dan mencari tempat yang nyaman,"


Paleo diam menimbang apa yang di katakan pria itu. Pria itu tersenyum menunggu jawaban Paleo, yakin Paleo akan tergoda dengan tawaran bantuannya.


Setelah sampai di Cafe tak lupa mereka memesan kopi untuk menemani pembicaraan mereka.


"Katakan, alasan anda menawarkan bantuan kepada saya. Saya tidak mengenal anda, tapi sepertinya anda begitu mengenal saya,"


"Tentu saja saya mengenal anda. Bahkan siapa anda saya sangat mengenalnya. Saya datang kesini atas perintah tuan saya, beliau adalah ketua dari Black Wolf. Beliau meminta saya untuk menawarkan kerjasama kepada anda bergabung untuk membunuh Davin, ketua mafia THE GOLD HOLD."


"Anda pasti mengenal yang namanya Davin bukan?" Paleo mengangguk, karena Davin adalah dalang anaknya menderita dan berbaring di rumah sakit. "Davin adalah pria yang ingin di hancurkan oleh tuan saya. Kekuatan pria ini tidak bisa di remehkan, bahkan kelompok kami sedikit susah untuk melawannya. Maka dari itu, tuan meminta saya datang kepada anda untuk menawarkan kerjasama membunuh pria ini. Dengan bergabungnya dua kekuatan mungkin kita bisa membunuh Davin dan menghancurkan Mafia THE GOLD HOLD,"


Paleo mendengar dengan seksama dan menimbangnya. Mungkin dengan bergabungnya dua kekuatan memang bisa mendapat peluang untuk menang dan mungkin saja bisa membunuh pria yang bernama Davin itu. Tapi jika kalah bagaimana. Bukan saja rugi, tapi dirinya akan hancur. 


Namun saat mengingat Nadira yang berbaring di rumah sakit, darahnya mendidih penuh dendam dan ingin mencabik-cabik pria tersebut.


Paleo menatap pria di depannya. Bisakah dia percaya jika bergabung dengannya. Paleo harus menimbang kembali tawaran pria di depannya. Ia tidak boleh gegabah.


"Akan saya pikirkan lebih dulu Tuan. Saya tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat."

__ADS_1


Pria itu mengangguk, mengerti, tidak bisa terburu-buru. 


"Baiklah. Saya akan menunggu keputusan anda." Pria mengambil kartu namanya dan meletakkan di meja. "Anda bisa menghubungi saya engabg keputusan anda. Kalau begitu saya pergi dulu," Paleo mengangguk dan pria itu pun pergi.


Paleo mengambil kartu nama pria tersebut. Dan membaca nama yang rertera di sana. Setelah itu menyimpannya. 


Paleo tidak serta merta percaya. Dia mempunyai dunia bawah tahu akan sifat-sifat mereka. Waspada karena kebanyakan dari orang-orang dunia bawah adalah orang picik dan serakah. Bahkan bisa juga berhianat satu sama lain. 


Paleo akan membicarakan hak ini dengan Taksa terlebih dahulu, dan melihat tanggapan Taksa, apakah akan ikut bergabung atau tidak. Tapi ini sebenarnya adalah kesempatan emas ada kelompok yang bergabung dengannya untuk membunuh satu orang yang sulit untuk mereka singkirnya. Dan mungkin jika bergabung bisa jadi mereka menang. Dan balas dendam pun terwujud.


Paleo menghubungi Taksa dan mengatakan ada yang berniat bekerja sama untuk mmebunuh Davin. Taksa yang mendengar langsung meminta bertemu, ingin tahu apa yang di katakan orang tersebut. 


Dan 20 menit kemudian Taksa sudah bersama dengan Paleo di rumah sakit, di ruangan Nadira di rawat.


"Apa yang di katakan pria itu?"


"Dia mengajak berkerja sama untuk membunuh Davin. Aku tidak tahu apa permasalahan mereka. Tapi aku yakin pria itu memang ingin membunuh badjingan sialan itu,"


"Lalu tanggapan mu apa?"


"Aku ingin memikirkan dulu. Tidak mungkin aku langsung menerimanya. Kita tidak tahu siapa mereka. Aku takut kita malah menjadi umpan mereka,"


"Yang kau katakan benar juga. Lalu bagaimana cara kita untuk bisa memastikan mereka tidak memiliki niat buruk kepada kita?"


"Aku berniat untuk meminta bertemu dengan Tuan dari kelompok itu. Kita bisa membuat kesepakatan langsung untuk tidak merugikan kita jika bergabung. Maksud ku harus bergerak bersama-sama,"


"Ya, kau benar. Jika saling bergerak bersama kelompok mu juga tidak akan mendapatkan kerugian besar." Jawan Taksa.


"Lalu bagaimana? Kita menerimanya?" Taksa mengangguk dan Paleo akan menghubungi pra itu esok hari.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2