Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Lakukan Rencana


__ADS_3

Asiaten Haidar menjelaskan semuanya tentang saham yang kini berpindah alih. Tapi siapa pembelinya, ia belum mengetahui, karena itu rahasia. Dan jika tidak salah hari ini pembeli saham itu akan datang ke perusahannya.


Haidar sempat terkejut, kenapa bisa ini terjadi. Kenapa pemegang saham sebelumnya tidak ada yang mengkonfirmasi. Bahkan ia tidak tahu siapa pembeli saham yang baru ini.


.


.


Nile dan Fin kini penuju ke tempat kantor HR Group. Ia akan menjadi tamu dadakan di sana agar Haidar yang mengetahui kaget akan kehadirannya. Dan tak menunggu lama, Nile dan Fin sampai.


Din membuka pintu, mempersilahkan tuannya untuk turun.


"Silahkan tuan," Fin mempersilahkan.


Nile turun dan menatap bangunan cukup besar, namun di bandingkan dengan perusahaan masih jauh, dan lebih besar miliknya.


"Lumayan," gumamnya dan berjalan masuk dengan di ikuti oleh Fin.


Fin menuju resepsionis, bertanya apakah bos mereka ada, jika ada ia ingin menemuinya.


"Katakan pada tuan mu, kami dari perusahan NL Crop's datang, minta invin bertemu,"


"Baik tuan," jawab Wanita tersebut dan menghubungi Asisten Haidar.


Asisten Haidar yang mengetahui ada pihak NL Crop's datang langsung pergi menemui tuannya. Untuk memberitahukan bahwa kedatangan tamu dari perusahaan milik Nile Alvarendra.


Tok...Tok...Tok...


"Masuk," jawab Haidar dari dalam ruangan.


Asisten itu masuk, berdiri di depan tuannya dengan wajah cemas, karena ia tahu antara tuannya dan Nile mereka saling berselisih karena seorang wanita.


"Tuan, ada seseorang yang datang di perusahaan kita dan itu dari NL Crop's," jelas Asistennya.


Haidar yang mengenal perusahaannya itu langsung menatap Asistennya, "NL Crop's?"


"Benar tuan,"


"Apakah itu Nile Alvarendra?"


"Saya belum tahu, tuan."


"Jika dia Nile, buat apa dia datang ke perusahaan ku? Kamu turunlah dan jemput mereka,"


"Baik tuan," jawab Asistennya dan pergi untuk menemui Nile dan Fin.


Tak membutuhkan waktu lama, Asisten Haidar kini telah berada di mana Fin dan Nile menunggu. Asisten Haidar sempat terkejut, ternyata itu adalah Nile dan Asistennya.


"Kenapa mereka datang kemari? Mungkin ksh karena masalah Nona Rerena?" batin Asisten Haidar dam menghampiri mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi tuan Nile dan tuan Gin," sapa Asisten Haidar dengan senyum ramah.


"Selamat pagi juga tuan, Reno," balik sapa Fin menjabat tangan Reno, Asisten Haidar.


"Kalau boleh___," belum juga Reno bertanya, Nile lebih dulu berkata dan pergi.


"Bawa aku menemui tuan mu,"


Reno yang melihat Nile lebih dulu pergi dengan cepat langsung mengikuti di belakang Nile, pergi ke ruangan Haidar.


Tok...Tok...Tok...


"Tuan," panggil Reno dan Haidar mempersilahkan masuk.


Saat pintu di buka, Haidar terkejut saat melihat siapa yang masuk, ia beranjak dan berdiri menatap Nile tidak suka.


"Nile Alvarendra! Buat apa kamu datang ke perusahaan ku,"


Yang di tanya seperti itu malah begitu santai, ia berjalan dan melihat-lihat ruangan itu. "Hm, apa seperti ini seorang pemilik perusahaan menyambut seorang tamu?"


Haidar mengepalkan tangan, dan mengeraskan rahannya. Marah, ingin sekali ia meninju wajah Nile.


Hah, Haidar menghela nafas dengan kasar. Ia beranjak dan mempersilahkan Nile.dan.Fin untuk duduk.


"Silahkan duduk," ucap Haidar mempersilahkan. Walaupun hatinya dongkol, tapi apa boleh buat ia harus menyambut dengan baik juga.


"Perusahaan mu cukup baik juga," Nile basa-basi membuat Haidar menyipitkan mata menyelidik.


"Jika boleh tahu sebenarnya apa yang membuat Tuan Nile datang ke perusahaan ku yang kecil ini?"


Nile menatap Fin, meminta Fin menyerahkan berkas yang ada di tangannya.


"Silahkan anda melihatnya tuan," Fin berkata dan Reno mengambilnya, membacanya.lebih dulu. Saat mata itu melihat keseluruhan isi dari berkas itu, ia terkejut, dan langsung memberikan kepada Tuannya, agar tuannya tahu apa yang di serahkan Asiaten Fin.


"Tuan,"


Haidar mengambil dan membacanya, matanya langsung melotot tidak percaya. Bagaimana bisa, di sana tertulis 40% saham perusahannya di miliki oleh Nile.


"Apa ini?"


"Ya bukankah itu sudah jelas," jawab Nile dengan seringainya.


Brak...


"Ini tidak bisa,"


"Apa yang tidak bisa? Bukankah itu sudah jelas, bahwa 40% saham di perusahaan mu telah di jual kepada ku!"


"Kalian pasti___,"

__ADS_1


"Pasti apa? Apakah kamu berpikir aku mengancam mereka?


Haidar menatap tajam Nile, ia tahu pasti Nile mengaja melakukan ini. Ia yakin Nile melakukan ini karena mereka memiliki masalah. Haidar bingung, jika Nile menjadi pemegang saham kedua di perusahaan nya, maka bisa saja Nile akan menjatuhkannya.


.


.


Hari itu juga semua di kumpulkan, dan di umumkan bahwa Nile Alvarendra menjadi pemegang saham kedua selain dirinya. Dan itu membuat Nile puas.


Selanjutnya Nile sedikit demi sedikit akan menjatuhkan dan membuat perusahaan HR Group menjadi miliknya.


.


.


Di kediaman Mansion Haidar. Rerena yang jenuh karena setiap hari berada di rumah berencana keluar untuk berbelanja di supermarket. Ia meminta seorang sopir untuk menemaninya.


"Pak bisa antarnya saya ke super maret?"


"Bisa nona, mari saya antar," sopir itu membukaksn pintu dan membawa Rerena pergi untuk berbelanja.


Tak jauh dari kediaman Mansion Haidar, seorang yang selalu mengawasi menghubungi seseorang, ia mengatakan jika Rerena pergi keluar mansion.


Orang di hubungi yaitu, Varo langsung memberitahukan tuannya membuat davin begitu senang.


"Lakukan rencana,"


"Baik tuan," jawab Varo memberi perintah pada beberapa anak buahnya untuk menghadang Rerena, dan mencoba menculik.


Davin menyamar menjadi pemuda biasa, rambutnya di buat acak-acakan, dan pakaian yang di kenakan hanya kaos oblong dan celana pendek, agar nanti Rerena mengira ia pemuda pengangguran.


Kali ini Davin tidak menggunakan topeng palsu, ia dengan wajah aslinya, hanya menambahkan kaca mata agar tidak ada yang mengenalinya.


"Apakah sempurna?"


"Sempurna tuan," jawab Varo memberikan jempolnya, tuannya terlihat seperti pemuda miskin yang pengangguran.


"Hahahaha....aku tidak sabar membuatnya jatuh cinta pada ku,"


Varo hanya tersenyum, ia tidak menyangka tuannya akan jatuh cinta dengan seorang wanita, bahkan wanita itu pernah menjadi istri orang. Padahal sebelumnya banyak gadis yang mengantri untuk menjadi pendampingnya, wanita bangsawan dan putri dari seorang pengusaha sukses dari berbagai negara. Tapi Davin selalu menolak, dengan alasan belum ingin memiliki pendamping dan hal itu membuat banyak wanita patah hati karena nya.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2