Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Pertarungan Varo


__ADS_3

"Akhirnya kau keluar juga Davin sialan! Tak akan ku biarkan kau hidup. Kau harus mati di tangan ku," gumam Coky dalam hati dengan pandangan penuh seringai. 


Davin yang berjarak cukup jauh melihat tatapan penuh permusuhan dari Coky, menatap dingin, datar tanpa ekspresi. Menurutnya Coky terlalu ambisius. Dia tidak akan membiarkan manusia uang serakah itu menguasai negara tempat mafianya berada.


"HANCURKAN MEREKA!"


"SERANG!"


"SERANG!"


Seru dua kelompok secara bersamaan. Mereka pun maju dan berperang.


Syuut….


Syuut….


Craas….


Cuuus….


Serangan senjata tajam saling menggiring tubuh mereka. 


Door….


Door….


Tembakan juga menyertai pertarungan mereka. 


Sedangkan Varo sudah pergi sedari tadi untuk melawan orang kepercayaan Coky.


"Lawan mu adalah aku!" 


Varo menatap tajam pria yang baru berbicara dengan nya. Sudut bibirnya terangkat, senyum menyeringai muncul, meremehkan lawannya.


"Apa kau pantas?" Ucap Varo yang menurutnya pria di hadapannya tidak pantas bertarung dengan nya.


"Cih, beliau sekali kau! Lawan aku. Dam buktikan apa yang kau ucapkan,"


"Baiklah jika kau memaksa," jawab Varo dan langsung mengambil pisau ganda miliknya yang di selipkan di celakanya.


Sing…


"Maju, aku akan membunuh mu dan mencincang tubuh mu," ucap Varo ingin membuat musuhnya emosi. 


"Dasar sialan! Aku tidak akan melepaskan mu," Pria itu juga mengambil pisau yang sebelumnya juga di lumuri racun. 


Varo tahu jika pisau musuhnya pasti di lumuri racun. Tubuhnya tidak boleh terkena pisau itu. Itu pun jika tubuhnya terkena harus lebih dulu melukai musuh dan membunuhnya.


"Aku harus berhati, waluapun sebelumnya tubuh ku sudah di suntik obat penangkal racun, tapi tidak boleh terkena racun itu. Aku tidak tahu seberapa racun yang digunakan bawahan Coky ini."


"Ayo, kita selesaikan urusan kita. Biarkan salah satu di antara kita mati,"


"Baik, jika itu keputusan mu," jawab Varo.

__ADS_1


Dan tanpa menunggu lagi mereka langsung bertarung. Melayangkan pisau itu untuk saling melukai lawan. Bahkan tak hanya serangan benda tajam, mereka berdua juga melayangkan tendangan-tendangan dari kaki mereka untuk mengalahkan satu sama ini.


Pertarungan sengit mereka terjadi di antara pertarungan anak buah mereka. 


Langkah demi langkah kaki mereka membawa ke tempat sedikit jauh. Pertarungan masih sama, malah semakin sengit untuk menjatuhkan satu sama lain. 


Bug….


Bug….


Bug….


Pukulan dan tendangan melayangkan di tubuh mereka.


Srak….


Satu goresan berhasil menggores lengan musuh dan itu semakin membuat musuh Varo semakin murka.


"Badjingan sialan! Ku bunuh kau!" Geramnya dan menyerang Varo membabi buta.


Pisau itu di tebaskan terus menerus ke arah Varo, mencoba melukai Varo dengan pisaunya, berharap Varo terkena pisau beracunnya. Namun sialnya, susah untuk menyentuh atau melukai tubuh Varo. Dan itu semakin membuat Pria tersebut murka.


"Mati kau sialan!"


"Tak semudah itu kau membunuh ku. Kau bukan lawan ku, pecundang!" Hina Vark begitu meremehkan.


Bug….


Bug….


Bug….


Bug…..


"Sialan!" Umpat Varo ada yang mengacau dan ikut campur dalam pertarungannya.


Varo yang geram, dengan gerakan cepat, mengambil pistol dan menembak pria tersebut hingga mati.


Dooor….


"Mati kau sialan!" Umpat Varo begitu kesal.


Melihat Varo fokus pada anak buah BLACK WOLF,  pria tersebut mencari kesempatan untuk membunuh Varo. Tapi belum juga dia menyerang, Varo yang telinganya sangat sensitif langsung menoleh, dan tanpa menunda melepas satu peluru dari pistolnya.


Door….


Tembakan menyerempet mengenai lengan, karena pria itu berhasil melompat menghindari serangan nya. 


Argh…..! Teriak pria itu merasakan sakit di lengannya. 


Walaupun itu berbilang luka ringan, namun juga bisa merasakan sakit. 


Darah bercucur keluar dari lengannya. Pria itu mengeraskan rahangnya, begitu marah dan benci. Apapun yang terjadi harus membalas semuanya.

__ADS_1


Pria itu tidak memperdulikan lengannya. Dia maju dan dan kembali menyerang, menendangkan kakinya berharap tendangannya bisa melukai Varo. Namun Varo menahannya dengan lengannya, membuatnya mundur beberapa langkah, dan hal itu di buat kesempatan untuk pria itu untuk melukai Varo.


Pria itu melempar pisaunya dengan kuat. Varo yang terkejut menepis pisau itu dengan pisaunya membuat dentingan benda tajam saling bergesekan. Setelah itu pria tersebut, mengambil pistolnya dan menembakkan nya ke arah Varo.


Door….


Satu peluru berhasil mengenai satu lengannya. Varo yang melihat meringis merasakan sakit dan nyeri saat menembus lengannya.


Senyum seringai muncul di bibir pria tersebut, puas karena bisa melukai Varo.


"Kita imbang badjingan.  Lihatlah akan ku buat kau merasakan kesakitan dan kekalahan dari tangan ku ini," 


"Cih, jangan pikir bisa melukai ku kau akan menang," Varo mengambil peluru di lengannya dengan jarinya,  walau pun sangat sakit namun dia tahan, dia tidak ingin saat kembali bertarung benda kecil keras itu mengganggu rasa sakit di lengannya.


Argh….!


Sakit, sungguh sangat sakit, sampai rasanya begitu nyeri. Namun Varo tetap menahan nya dan setelah berhasil mengambil, dia membuang benda tersebut.


Napasnya terengah-engah, dan keringat mengalir di keningnya karena memaksa mengambil peluru itu dari dalam dagingnya.


Hah….hah….hah….


Semua yang di lakukan Varo tidak lepas dari musuhnya. Bahkan musuhnha sempat tertegun saat Varo melakukan hal tersebut. Dia yakin itu sangat menyakitkan.


Setelah mengatur nafas dan rasa sakit, Varo membuang pisaunya, kali ini dia akan bertarung dengan menggunakan kekuatannya. Sebelum itu dia melepas pakaiannya dan merobeknya, mengikatnya di lengan untuk menahan agar darah tidak keluar banyak dan kini tinggal rompi anti peluru yang menempel di badan kekarnya.


 Pria tersebut yang melihat Varo membuang pisaunya juga melakukan hal sama. Dia akan bertarung dengan seimbang. Menentukan siapa yang lebih kuat.


"Ayo tunjukkan siapa yang lebih kuat di antara kita," ucap Varo di sambut senang oleh musuhnya.


Mereka tidak menunda lagi dan bertarung.


Bug… 


Bug…


Pukulan dan tinjuan saling mereka layangkan untuk memukul wajah dan tubuh. Mereka saling mengahalau pukulan yang menghantam ke tubuh mereka. 


Krak….


Satu kepalan tangan berhasil di tahan oleh Varo dan setelah itu lengan pria itu di pelintir dan membuat suara seperti tulang patah. Bahkan Varo membanting tubuh pria tersebut di tanah.


Buug….


Tak terima, pria itu langsung berdiri dan menyerang.


Bug…


Satu pukulan berhasil meninju wajah Varo. 


Pertarungan dengan tangan kosong itu sangat-sangat sengit. Mereka tidak peduli dengan Tuan mereka. Yang saat ini ada di otak mereka hanya membunuh, membunuh dan membunuh. Dan apa yang di lakukan mereka tak luput dari mata Davin dan Coky. 


.

__ADS_1


.


Bersambung 


__ADS_2