
Di perusahaan NL Crop's, Nadira yang tadi bersama dengan Nile begitu marah saat tiba-tiba Nile meninggalkannya setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Ia tidak tahu kemana perginya Nile saat ini. Tapi Nadira tidak bodoh, ia memiliki banyak cara untuk menemukannya. Nadira pun menghubungi Tuan Taksa, meminta salah satu nomor anak buahnya yang bersama Nile untuk mengetahui dimana keberadaan Nile saat ini.
"Om, bisa kirimkan nomor anak buah om yang bersama dengan Nile, Nadira membutuhkannya,"
"Akan om kirim. Tapi kenapa kamu meminta nomor anak buah om? Bukankah kalian selalu bersama?"
"Nile pergi meninggalkan ku dengan tiba-tiba, aku tidak tahu kemana perginya. Tapi di lihat dari raut wajahnya dia begitu khawatir, maka dari itu aku ingin tahu keberadaanya saat ini dimana. Jika aku menghubungi Fin, pasti Fin tidak akan mengatakannya."
"Baiklah, akan segera om kirim,"
Taksa pun meminta Bagas untuk mengirim nomor ponsel milik anak buahnya yang bersama dengan Nile, dan Nadira yang mendapatkan nya langsung menghubungi, meminta nya kengatakan kebedaraan Nile saat ini.
"Rumah sakit? Kenapa Nile di rumah sakit? Apa dia sakit?" gumam Nadira bingung.
Tanpa menunggu lama lagi, Nadira langsung pergi menuju rumah sakit dimana Nile saat ini berada. Dan setelah sampai, Nadira menjadi keberadaan Nile, meminta anak buah Tuan Taksa menunjukkan keberadaan mereka saat ini.
Dari sedikit kejauhan, Nadira melihat tak hanya Nile yang berada di sana, ada pria lain yang tidak di kenalnya juga berada disana.
"Sebenarnya apanyang terjadi?"
Dengan langkah pasti terlihat anggun dan tegas, Nadira menghampiri. Fin yang tidak sengaja menoleh dan melihat Nona nya datang langsung berbisik kepada taunnya.
"Tuan, Nona Nadira,"
"Nadira?" Nile menoleh dan benar saja Nadira berjalan ke arahnya.
Nile menatap Nadira tidak senang. Bagaimana bisa Nadira tahu dirinya ada disini. Nile menatap Fin dan Fin menggeleng, bukan dia pelakunya. Nile pun beralih ke arah anak buahnya memberikan tatapan tajam, semuanya takut dan hanya bisa menunduk.
Nadira yang kini sudah ada di depan Nile berkata, "Jangan salah mereka, aku yang meminta mereka memberitahukan nya,"
"Kenapa kamu datang kesini?" ucap Nile tidak senang.
"Kenapa? Apa kau takut? Sudah ku katakan, aku tidak akan melepaskan mu. Jika ada yang berani merebut mu dari ku, maka bersiaplah berhadapan dengan ku,"
"Dasar wanita gila,"
__ADS_1
"Aku memang gila, jadi jangan macam-macam dengan ku. Kamu hanya milik ku dan selama nya menjadi milik ku."
Nile begitu malas jika bersama dengan Nadira. Menurutnya Nadira adalah wanita yang gila, gila akan dirinya yang harus menjadi miliknya. Dan jika ada yang mencoba berebut atau mengusiknya, Nadira tidak akan diam. Bahkan dia berani melenyapkan orang tersebut.
"Kenapa kamu datang kesini?"
"Bukan urusan mu,"
mendengar itu, Nadira terkekeh. Bukan urusannya? Nile miliknya apapun yang di lakukan Nile adalah urusannya. Nadira duduk di kursi ruang tunggu, bersedekap dada dan menyilangkan kaki, menatap mereka semua.
"Fin,"
Fin yang di panggil Nadira menjadi bingung. Ia menatap Tuannya, dan Nile memberikan tatapan tajam.
"Jika kau berani mengatakannya, akan ku bunuh kau!"
Fin tidak berani berkutik, selain takut dengan Nile, tuan mudanya, ia juga takut dengan wanita yang memanggilnya itu, wanita yang sangat mengerikan. Menurutnya bagaimana bisa Tuan besarnya itu menjodohkan tuannya dengan wanita mengerikan ini. Jika dirinya lebih mati dari pada harus bersama dengannya. Tapi saat mengingat latar belakang keluarga Smith, Fin bergidik ngeri.
Haidar yang ada disana hanya mengamati, menatap wanita yang bari saja datang, "Siapa sebenarnya wanita ini?"
Nadira menatap Haidar, entah kenapa tubuh Haidar seakan langsung gemetar, padahal tatapannya hanya biasa saja.
Nadira memainkan jarinya yang terlihat lentik dan cantik dengan kuku yang sudah di hias indah. Ia menunggu ruang operasi terbuka dan akan tahu siapa sebenarnya yang mereka tunggu ini. Jika itu wanita dan membuat Nile mengabaikannya, maka wanita itu harus di bunuhnya. Dan jika pria, akan ia berikan pelajaran.
"Beraninya dia mengganggu waktu ku dengan Nile," kesalnya mengingat Nile pergi meninggalkannya seorang diri. "Sialan!"
Tak lama pintu ruangan operasi terbuka, Haidar dan Nile langsung mendekati dokter tersebut dan bertanya. Nadira yang menyaksikan hanya mengerutkan kening, sambil mencuri dengan apa yang mereka bicarakan.
"Bagaimana dengannya, dok?" tanya mereka bersamaan.
"Pasien sudah selamat. Namun saat ini pasien masih dalam keadaan kritis. Kita berdoa saja semoga pasien dapat melewati masa kritisnya,"
"Baik dok, terimakasih,"
Haidar dan Nile merasa lega karen Reren bisa selamat. Hanya saja mereka berharap Rerena bisa melewati masa kritisnya itu.
__ADS_1
Nadira yang melihat bagaimana mereka peduli dan khawatir, Nadira yakin pasien yang ada di dalam bukanlah pasien bisa. Dia harus menyelidiki nya.
Sebenarnya siapa orang itu sampai membuat Nile begitu peduli.
Tak lama setelah itu beberapa perawat memindahkan Rerena ke ruang ICU, dan saat itulah Nadira tahu bahwa itu adalah wanita. Nadira mengepalkan tangan, "Jadi dia seorang wanita," Nadira menatap Nile dengan wajah dingin dan setelah itu pergi. Nile yang melihat tahu bahwa saat ini Nadira marah dengannya. Tapi dia tidak peduli.
"Tuan,"
"Biarkan saja dia. Tapi setelah ini kau harus mengirim beberapa pengawal untuk melindungi Rerena. Aku tidak ingin Rerena mati di tangan Naidra, dia hanya boleh mati di tangan ku,"
"Baik tuan,"
Tak hanya Nadira yang cemburu dan marah, Bella yang mengetahui Rerena selamat dari kematiannya, membantung gelas yang ada di tangan, marah.
Arg.......
"Sialan! Kenapa wanita itu tidak mati saja," Dengan nafas memburu karana marah tidak berhasil membunuh Rerena, Bella kini semakin menggila. Ia ingin Rerena mati secepatnya. "Aku harus membunuhnya. Tidak akan ku biarkan dia hidup,"
Bella memikirkan cara untuk bisa membunuh Rerena di rumah sakit. Mondar-mandir Bella mencari cara. Dan saat otak jahatnya itu bekerja, sebuah rencana muncul di benarnya. "Yah, dengan cara itu aku bisa membuatnya menderita. Hahahaha.....bersiaplah mati di tangan ku," Bella tersenyum mengerikan membayangkan rencana berhasil.
Di sebuah apartemen mewah, Nadira duduk di sofa dengan kaki menyilang dan mulut menyesap sebatang rokok di tangannya. Di depannya duduk seorang pria yang menunduk takut.
"Ceritakan," perintah Nadira ingin tahu apa hubungannya wanita itu dengan pria nya.
"Nama wanita itu Rerena Aprilia Marcell, nona. Dia adalah mantan istri Tuan Nile,"
Mendangar jawaban daei bawahannya Nadira terkejut. Jadi wanita itu adalah mantan istri Nile. Pantas saja Nile begitu khawatir.
"Lanjutkan,"
Bawahan itu pun menceritakan semua yang di ketahui, termasuk tuannya yang sering menyiksa Rerena. Nadira yang mendengar mencerna isi dari cerita itu. Ia memegang dagunya, berpikir
Jika Nile sering menyiksa Rerena, kenapa saat ini dia begitu khawatir. Bahkan sampai rela datang kesini hanya demi wanita itu. Atau jangan-jangan dia menyukai Rerena? Jika itu benar, Nadira tidak bisa tinggal diam. Ia harus melakukan apapun, termasuk menyingkirkan Rerena bahkan membunuhnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung