Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Mengirim Pergi


__ADS_3

Keesokan hari. Paleo langsung menghubungi Pria yang memberikan kartu nama padanya. 


Dan setelah berbicara lewat telepon, pria itu menyetujui permintaan Paloe tentang keinginannya bertemu dengan tuannya. Dan Coky memang sebelumnya sudah mengatakan siap menemui mereka karena tahu mereka tidak semudah itu percaya.


"Katakan padanya, siang nanti kita bertemu di Restoran Y," ucap Coky.


"Baik tuan," 


.


.


.


Paleo dan Taksa kini di antar oleh supir menuju Restoran Y untuk menemui tuan dari Ketua Mafia Black Wolf. Setelah 15 menit, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. 


Disana pria yang kemaren menemui Paleo sudah menunggu kedatangan mereka. 


"Maaf membuat anda menunggu tuan," ucap Paleo tidak enak hati.


'Tidak sama sekali. Mari, saya akan membawa anda bertemu dengan tuan," 


Pria itu membawa Paleo dan Taksa menuju ruang privat yang di sudah di pesan sebelumnya. Tapi tanpa di ketahui oleh mereka, seorang pria tak jauh dari mereka tersenyum menyeringai. Benar kata tuannya, bahwa mereka mungkin akan berkerja sama. 


Pria yang mengintip itu merogoh sakunya dan menghubungi tuannya.


"Hallo tuan,"


"Ada apa?" Tanya Varo, pria yang di hubungi pria tersebut.


"Saat ini saya melihat anak buah Tuan Coky sedang bersama dengan Tuan Smith dan Tuan Taksa. Saya yakin mereka bertemu dengan Tuan Coky didalam," 


"Baiklah, kau pergi aja dari sana."


"Baik tuan,"


Varo langsung memberitahukan apa yang di ketahui anak buahnya pada Davin. Davin yang mendengar menyeringai. 


"Sepertinya mereka tidak sabar untuk menyerang ku,"


"Benar tuan. Saya yakin tidak lama lagi mereka akan menyerang kita. Lalu apa yang harus kita lakukan tuan?"


"Dua kelompok itu aku yakin bekerja sama dan kekuatan mereka semakin bertambah. Jika kita melawan mereka dengan anak buah kita yang ada disini, sepertinya tidak memungkinkan."

__ADS_1


"Lalu apakah kita harus memanggil semua untuk berkumpul?"


"Hm…kumpulkan semuanya. Aku juga akan meminta bantuan sedikit dari anak buah Om Tristan. Hanya untuk berjaga-jaga,"


"Baik tuan,"


"Kau hubungi semua anak buah kita, minta mereka berkumpul di markas besar dan menyiapkan segalanya. Aku yakin mereka akan datang ke markas kita,"


"Baik tuan. Saya akan segera menghubungi mereka semua."


.


.


Varo langsung menjalankan perintah tuannya, menghubungi semua anak buahnya yang berpencar di berbagai negara dan kota untuk berkumpul menjadi satu. Perang ini adalah perang besar yang pastinya akan merenggut banyak nyawa. Mereka harus menyiapkan keperluan senjata jauh-jauh hari dan selalu siaga jika sewaktu-waktu musuh datang menyerang. Mereka tidak bisa lengah, karena itu bisa menjadi kekalahan mereka. 


"Kumpulkan semua anggota dan kembali ke markas besar. Bos meminta kalian untuk bersiap, karana akan ada perang besar nantinya."


Setiap ketua yang mengetuai kelompok terkejut dengan info dadakan itu. Dan tanpa menunda lagi, mereka langsung berkemas dan kembali ke markas besar THE GOLD HOLD, tidak ingin membuat Bos besar mereka murka.


Sedangkan Davin menghubungi pamannya yang berada di Negara J, Tristan adik kandung Mommynya yang memegang ketua Mafia GEROGRE LORIDZ.


"Ada apa? Tumben kamu menghubungi paman?"


"Katakan, apa kamu mempunyai masalah?"


"Hanya sedikit. Aku meminta bantuan paman untuk meminjam anak buah paman yang kompeten dan meminta banyak senjata yang berkualitas baik. Ada suatu kelompok yang harus aku hadapi dan ku bereskan,"


"Sepertinya kelompok itu tidak bukan kelompok yang cetek,  sampai kau meminta bantuan."


"Kalau hanya satu kelompok aku mampu melawan dengan anggota ku sendiri. Masalahnya mereka ada dua kelompok besar yang bergabung menjadi satu untuk melawan ku,"


"Hmmm….begitu ya. Baiklah, paman akan mengirim anak buah paman, tapi itu hanya untuk berjaga-jaga jika kelompok mu darurat,"


"Ya, untuk masalah senjata, secepatnya tolong di kirim,"


"Kau tenaga saja, besok paman akan meminta bantuan anak buah paman untuk mengirimnya."


"Aku tunggu,"


Setelah menghentikan Tristan, Davin menemui Mommynya yang saat ini bersama dengan Mommynya, ikut bergabung dengan obrolan mereka.


"Ada apa?" Tanya Queen yang sepertinya tahu putranya memiliki masalah.

__ADS_1


"Mom, sepertinya Mommy harus segera kembali," 


Mendengar itu Queen mengangguk, mengerti tanpa harus bertanya kenapa putranya meminta untuk segera pulang. Sedangkan Rerena diam, namun dalam hati ingin bertanya. Kenapa secepat itu untuk memintanya pergi.


"Baiklah, besok Mommy akan berangkat," Queen menatap Rerena dan mengelus lembut rambut panjang itu. "Kamu bersiaplah, besok ikut bersama dengan Mommy," Rerena mengangguk.


"Katakan pada Dokter dan orang tua Rerena untuk bersiap juga. Biarkan mereka ikut dengan Mommy,"


"Ya, nanti biar Varo mengatakannya,"


Davin menatap Rerena, mungkin dirinya akan rindu setelah Rerena pergi. Queen yang tahu tatapan putranya langsung pergi tahu putranya ingin berbicara dengan Rerena.


"Mommy pergi dulu," tepuknya pada bahu Davin. Dan Davin menganguk. 


Setelah Queen pergi, Davin duduk di kursi panjang bersama dengan Rerena. Menarik kepala Rerena untuk bersandar di bahunya sambil tangannya saling bertautan. 


"Sayang, maaf harus membuat mu pergi dari sisi ku. Bukan aku tidak mencintai mu, tapi ini demi keselamatan mu."


"Aku tahu, walaupun aku tidak tahu apa masalah mu. Ku harap kamu baik-baik saja saat tidak bersama ku."


"Tentu saja aku akan baik-baik saja. Tidak mungkin aku akan membuat mu sendiri. Aku terlalu mencintai mu, sayang," 


Davin menarik dagu Rerena dan mendaratkan ciumannya di bibir kekasihnya, melu-matnya dan menye-sapnya menikmati hari-hari kebersamaan mereka.


.


.


Keesokan harinya Davin dan Varo serta anak buah yang mengawalnya pergi ke bandara untuk mengantar kepergian Mommy dan kekasihnya. Disana tak henti-hentinya Davin memberikan kecupan mesra di wajah Rerena, membuat wanita itu begitu malu karena banyak yang memperhatikannya.


"Kamu harus menunggu ku, dan merindukan ku selalu," Rerena menganguk saja agar Davin berhenti menciumnya.


Setelah pesawat siap, semuanya pergi meninggalkan Davin dan Varo yang terus menatapnya. Davin sebenarnya tidak rela Rerena pergi. Namun karana keadaan yang berbahaya, maka Davin harus melepaskan Rerena pergi dari sisinya.


"Aku akan secepatnya menyelesaikan masalah disini. Dan setelah itu menyusul mu dan menikahi mu," gumam Davin dalam hati.


.


.


.


Bersambung 

__ADS_1


 


__ADS_2