Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Kecelakaan


__ADS_3

"Aku merindukan mu sayang," batinnya mengucapkan itu, karena jujur ia sangat rindu dengan wanita nya. Tapi saat ini tidak bisa bertemu karana ada suatu urusan yang tidak bisa di tinggalkan, urusan pekerjaan, dan itu bisa memakan waktu sampai satu minggu.


Membayangkan dirinya akan pergi jauh dari wanitanya, membuat Davin sakit kepala. Walaupun hanya beberapa hari, tapi Davin tidak rela untuk meninggalkannya.


.


.


"Niel," panggil Rerena kembali karena Davin tidak menyahut panggilannya.


Haidar yang mendengar entah kenapa merasa panggilan itu terdengar lembut dan romantis, membuatnya semakin cemburu, mengepalkan tangan di bawah meja.


"Dia wanita ku, kenapa aku cemburu dengan pelayan itu, tidak selevel!" gerutu Haidar dalam hati, menganggap Davin tidak cocok untuk menjadi saingannya. Karana dirinya lebih segala-galanya dari pelayan kere itu.


Davin yang Di panggil lagi langsung menyahut saat mendengar suara lembut wanitanya.


"Ya sa___Eh, nona," hampir saja Davin keceplosan memanggil Rerena sayang. Jika sampai Haidar tahu sudah di pastikan Rerena akan hancur.


"Ada apa menghubungi ku?"


"Saya mau minta izin nona, beberapa hari ini saya tidak akan masuk. Ada sesuatu hal yang penting yang harus saya lakukan. Ayah saya sakit dan saya harus mengurusnya."


Rerena yang mendengar terkejut, "Ayah mu sakit?"


"Benar nona,"


"Lalu bagaimana keadaanya sekarang," Rerena begitu khawatir takut terjadi sesuatu sesuatu dengan bapaknya Davin.


"Sekarang sudah di tangani oleh dokter nona."


"Baiklah, aku beri kamu izin. Rawat ayah mu hingga sembuh. Jika sudah baik kamu bisa kembali lagi bekerja,"


"Terimakasih nona,"


Panggilan pun berakhir. Haidar yang mendengar percakapan itu entah kenapa begitu kesal, apalagi saat melihat kekhawatiran Rerena terlihat jelas di wajahnya.


Brak.....


"Apa-apaan ini! Kenapa dia begitu khawatir dengan bapaknya pelayan itu, mungkinkah meraka menjalin hubungan," Haidar kesal tanpa sadar ia mengagetkan dua wanita yang dia cintai.


"Haidar," seru keduanya menatap bingung Haidar.


"Jauhi pelayan itu, aku tidak suka kau dekat dengannya."


Rerena bingung dengan apa maksud yang di katakan Haidar. Sedangkan Bella semakin mencengram kuat tangannya melihat Haidar cemburu dengan Davin.


"Sial! Sampai kapan semua ini," Bella sudah tidak sabar untuk melenyapkan Rerena dari hadapannya.


Hari ini Davin sudah meminta izin, membuat Rerena kepesian, ia duduk termenung sendirian karena tidak ada teman untuk menemaninya mengobrol.


Jenuh, tentu saja jenuh. Jika biasanya di temeni Davin mengobrol dan bersendau gurau, kini dia tidak ada. Membuat Rerena berkali-kali menghela nafas.

__ADS_1


Karena jenuh sendirian, ia pun berencana untuk pergi ketaman tak jauh dari rumah. Rerena mengambil taknya dam pergi. Sedangkan Bella yang terus memperhatikan tersenyum seringai karena akhirnya ada kesempatan untuknya menyingkirkan Rerena.


Bella menghubungi seseorang, memintanya untuk membunuh Rerena saat di jalan. "Lakukan, dan buat wanita itu mati saat ini,"


"Baik nona. Untuk bayaran nya gimana?"


"Akan ku Transfer setelah tugas kalian selesai,"


"Oke,"


Dua orang pria yang berada di dalam mobil hitam menunggu tak jauh dari kediaman Haidar, menunggu Rerena keluar dari rumah itu dan akan melakukan tugas seperti yang di perintahkan wanita pada nya.


"Kapan wanita akan kelaur?"


"Tunggu saja, aku yakin sebentar lagi wanita itu akan keluar,"


Tak lama setelahnya, Rerena keluar dari balik pintu gerbang. menutupnya kembali dan berjalan santai sambil menunggu ojek online datang.


"Nah, itu dia wanitanya,"


"Kau benar, dialah wanita nya."


"Ternyata wanita itu sangat cantik bro. Bagaimana jika kita culik saja dan kita nikmati tubuhnya, dari pada dia mati nganggur, lebih baik kita nikmati tubuhnya lebih dulu, setelah itu bunuh."


Seorang dari mereka memiliki ide gila sebelum membunuh Rerena. Temannya yang ada di sampingnya diam, berpikir. "Lebih baik jangan lakukan itu. Lakukan saja seperti yang di tugaskan. Tabrak wanita itu saat lengah,"


"Ah, kau payah bro. Di ajak mantap-mantap malah gak mau." ucap pria itu kecewa, karena tidak jadi merasakan lubang hangat wanita.


.


.


Aaaa.......


Teriaknya dan tubuhnya terpental.


Mobil yang menabrak melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu. Sedangkan beberapa orang yang melihat langsung menghampiri Rerena dan menolongnya.


"Cepat panggil ambulance," pinta seorang di antara pengunjung taman yang melihat kejadian itu.


Tak lama mobil ambulance pun datang dan membawa Rerena kerumah sakit. Sedangkan jauh di negara lain, Davin yang memegang gelas tiba-tiba jatuh dan pecah. Davin menatap gelas pecah itu, entah kenapa dirinya memiliki firasat yang buruk.


"Ada apa ini?"


Varo yang melihat gelas berserakan di lantai langsung memanggil pihak kebersihan untuk membersihkannya, takut tuannya nanti terkena pecahan.


"Apa Tuan baik-baik saja?"


"Entah kenapa perasaan ku sedikit tidak enak,"


"Mungkin perasaan anda saja, tuan. Ini berkas yang anda minta, silahkan periksa," Davin mengangguk dan memeriksa berkas yang baru saja di berikan Varo padanya.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lainnya, Bella tertawa keras saat orang suruhannya berhasil menabrak Rerena. Ia berharap Rerana tidak dapat di tolong alias mati.


"Semoga saja wanita sialan itu mati dan tidak akan pernah mengganggu ku lagi dengan Haidar," gumamnya dengan seringai jahat.


Berbeda dengan Bella yang senang, Haidar Dan Nile yang mendengar Rerena mengalami kecelakaan, marah. Mereka langsung pergi ke rumah sakit dimana Rerena di rawat.


Keduanya sampai secara bersamaan, saling memberikan tatapan tidak suka. Walaupun Haidar kalah dari Nile tapi Haidar belum menyetujui syarat yang di berikan Nile padanya untuk membawa Rerena pada Nile.


Sama hal nya dengan Nile, ia tidak suka. Hari ini niat menunggu Haidar menghubunginya dan membawa Rerena, tapi kenyataannya kosong, Haidar tidak membawa Rerena padanya. Dan malah mendapatkan kabar Rerena mengalami kecelakaan.


"Jika kau tidak bisa menjaganya, lebih baik serahkan pada ku secepatnya. Aku takut tidak hanya hari ini Rerena terluka, mungkin lain waktu dia akan terluka kembali,"


"Jika aku memberikan pada mu, apa bedanya. Dia juga akan terluka,"


Nile tertawa lepas. Memang benar yang di katakan Haidar, jika Rerena bersamanya, Rerena akan menderita seperti sebelumnya dan mungkin saja bisa lebih parah.


Nile hanya tersenyum dan pergi menjenguk Rerena.


Di perusahaan NL Crop's, Nadira yang tadi bersama dengan Nile begitu marah saat tiba-tiba Nile meninggalkannya setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Ia tidak tahu kemana perginya Nile saat ini. Tapi Nadira tidak bodoh, ia memiliki banyak cara untuk menemukannya. Nadira pun menghubungi Tuan Taksa, meminta salah satu nomor anak buahnya yang bersama Nile untuk mengetahui dimana keberadaan Nile saat ini.


"Rumah sakit? Kenapa Nile berada di rumah sakit?" gumam Nadira bingung



Davin Menzies



Rerena Aprilia Marcell



Nile Alvarendra



Nadira Smith



Haidar Tanson



Bella Amsel


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2