
"Aku tidak menginginkannya,"
"Menginginkannya atau tidak, ini sudah keputusan Daddy. Kamu harus menurut dan terima dia."
"Aku masih tetap menginginkan Rerena, Dad,"
"Jika hanya untuk balas dendam kau bisa menyiksa kedua orang tuanya, tidak untuk membuatnya bersama mu. Lagian kau tidak ada hubungannya lagi dengannya. Dia bukan lagi istri mu,"
.
.
Nile yang mendengar bingung, apa maksudnya bukan istrinya lagi? Bukankah Rerena istrinya, kenapa Daddynya mengatakan itu.
"Apa maksud Daddy?"
Taksa memberikan sebuah amplop coklat kepada Nile, dengan perlahan Nile membukanya. Di bacanya isi dari surat tersebut, matanya melotot, tidak percaya dengan apa yang di bacanya.
"Apa ini?"
"Bukankah sudah jelas, wanita itu bukan lagi istri mu,"
"Tidak, ini tidak benar. Aku tidak pernah menandatangani surat ini,"
"Tapi kenyataan nya seperti itu. Nadira akan datang, kau harus memperlakukannya dengan baik,"
Taksa tidak ingin di bantah, ia hanya ingin yang terbaik untuk putra angkatnya. "Jika kau ingin balas dendam dan membuatnya menderita, lakukan saja. Tapi jangan buat dia menjadi milik mu,"
Nile diam, masih tidak percaya bahwa dirinya sudah bercerai dengan Rerena.
"Jika kamu membantah, jangan harap Daddy akan diam,"
Taksa pergi meninggalkan Nile yang memikirkan apa yang di katakan Daddynya. Ia masih tidak percaya bahwa dirinya telah bercerai dengan Rerena. Nile berpikir keras, kapan dirinya menceraikan Rerena.
Nile memanggil anak buahnya yang berjaga di luar, memintanya untuk memanggilkan Fin. Dan tak lama setelah itu, Fin datang, menghadap.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"
Nile memberikan surat perceraian yang di berikan Daddynya. "Lihatlah,"
Fin mengambil dan membacanya, terkejut. Ia menatap tuannya, sejak kapan tuannya menceraikan Nyonya nya.
"Tuan,"
"Aku tidak tahu kapan aku menandatangani surat itu. Tapi kenyataannya sekarang aku telah bercerai. Kamu selidiki siapa yang melakukannya,"
__ADS_1
"Baik tuan," Fin juga tidak percaya, pasti ada orang dekat yang mencoba membodohi tuannya.
Jika itu orang dekat siapa sampai bisa mendapatkan tanda tangan tuannya. Fim berpikir cukup keras. Entah kenapa satu nama terlintas di pikirannya, Arkana.
"Aku harus mencari tahu,"
Fin menghubungi Arkana, namun nomor yang di hubungi kini tidak aktif. Fin kembali menghubungi, tapi lagi-lagi nomor itu tidak aktif.
"Kemana Tuan Arkana ini?"
Rasa curiga membuatnya harus menemui Arkana. Ia memberi perintah kepada anak buahnya untuk mencari keberadaan Arkana di kediamannya. Namun saat mereka sampai disana, rumah itu kosong. Dan kata dari tetangga mereka, rumah itu sudah kosong sejak satu bulan yang lalu.
"Kemana perginya? Sial! Mungkinkah dia pelakunya?"
Fin tidak akan membiarkan Arkana lepas, ia harus menemukan Arkana dan meminta penjelasan. Dan jika ia tahu pelakunya benar-benar Arkana, ia tidak akan melepaskan nya.
"Cari badjingan sialan itu sampai ketemu!" perintahnya pada bawahannya untuk mencari keberadaan Arkana di manapun dia berada.
Fin melaporkan semuanya pada Nile, dan Nile yang mengetahui marah beras, ternyata semuanya karena Arkana.
"Berani sekali dia!" Temukan dan bawa kehadapan ku!"
Kini Nile tahu kenapa Rerena tidak mau kembali, ternyata alasannya karena dirinya telah bercerai. Nile berpikir, tidak mungkin Arkana melakukan itu terhadapnya. Pasti ada seseorang yang memerintahnya. Tapi siapa? Jika itu Haidar sepertinya tidak mungkin. Dan di pastikan orang yang memiliki kedudukan tinggi dan kuasa besar.
Nile menggelengkan kepala, tidak mungkin Daddynya melakukan hal seperti itu, karena menurutnya Daddy tidak peduli dengan urusannya tentang Rerena.
"Siapa yang ikut campur dalam urusan ku?"
Nile berpikir keras, tapi tetap tidak menemukannya. Dan akhirnya hanya bisa menunggu anak buahnya menemukan Arkana.
.
.
Di hari yang sama, dua wanita cantik kini sudah di bandara dimana Nile, haidar dan Davin berada. Mereka masing-masing akan menemui orang yang sukainya, Nile dan Haidar. Wanitanya yang di perintah Tuan Taksa dan Davin untuk mengambil hati mereka.
Mereka menuju tujuan masing-masing. Namun untuk wanita yang di perintah Davin kini di jemput oleh Varo, dan membawanya ke apartemen yang telah di sediakan oleh Davin.
"Nona, ku harap anda melakukan apa yang di perintah Tuan. Jika tidak___"
"Ya saya tahu, jangan cerewet. Lagian tanpa di perintah olehnya aku akan menjadikan dia milik ku,"
"Baiklah, usahakan buat wanita yang dekat dengan Tuan Haidar cemburu dengan anda,"
"Em," jawabnya melihat keluar jendela. "Aku penasaran, siapa sebenarnya wanita itu sampai membuat orang berkuasa sepertinya rela berkorban melakukan hal seperti ini,"
__ADS_1
"Dia satu-satunya wanita yang menbuat tuan jatuh cinta. Maka dari itu tuan rela melakukan hal seperi ini untuk membuatnya jatuh cinta padanya."
"Mendengar mu bercerita aku sungguh ingin tertawa. Hah, aku tidak sabar melihat Tuan Raja itu dalam penampilannya yang sekarang," kekehnya kecil, membuat Varo hanya melirik saja.
"Saya harap anda tidak membuat Tuan kesal,"
"Siapa juga yang akan membuatnya kesal. Kau pikir aku gila, tidak! Aku tidak ingin mati muda,"
Bella tahu siapa Davin sebenarnya, ia sebenarnya cukup dekat karena dulu mereka pernah bersama sebagai teman waktu kuliah. Ia sedikit jauh dengan Davin karena pernah melihat Davin melakukan hal mengerikan, membunuh bahkan mencincang tubuh seseorang yang mengusiknya. Dan sejak saat itu dirinya sedikit demi sedikit menjauh. Tidak ingin terlibat dengan Raja sekaligus mafia itu.
Kenapa Davin memberi perintah kepada Bella untuk mendekati Haidar, karena sebelumnya Davin sudah menyelidiki, ternyata Bella pernah menjadi kekasih Haidar saat mereka duduk di bangku SMA. Dan Davin kini memberikan kesempatan kepada Bella untuk kembali mengambil hati Haidar. Apalagi Davin juga tahu, Tuan Jhon juga mengenal bahkan menyukai Bella.
"Jika anda tahu baguslah,"
Bella benar-benar kesal. Kenapa ia harus terlibat lagi dengan Davin, pria dingin mengerikan itu. Tapi jika ia menolak, ia takut keluarga nya dan dirinya mati karena tidak mematuhi ketua mafia itu.
"Dia benar-benar mengerikan. Dan ku rasa sekarang dia lebih mengerikan," Bella bergidik ngeri, berjanji tidak akan membuat Davin marah padanya.
.
.
Cukup lama menempuh perjalanan, kini mereka sampai di apartemen.
"Silahkan nona," Di bukakan pintu untuknya.
Bella turun, menatap bangunan tinggi menjulang. Kagum. "Hm, sepertinya tuan mu memang mengharapkan ku untuk merusak hubungan mereka,"
Dari apa yang di siapkan Davin padanya, Bella memiliki pikiran bahwa dirinya harus menjalankan tugasnya dengan baik. Ia melangkah masuk dan menuju kamar apartemen miliknya.
"Ini tempat tinggal anda. Tuan sudah menyiapkannya. Dan untuk selanjutnya, silahkan anda berpikir sendiri apa yang harus anda lakukan,"
Bella benar-benar kesal mendengarnya, dan mengusir agar telinganya tidak sakit mendengar ocehan Varo yang terus menerus mengingatkannya.
"Cerewet sekali, lebih baik kamu pergi saja. Aku lelah," usirnya dan membuka pintu, masuk.
Sedangkan Varo pergi, tapi sebelum itu ia menghubungi tuannya, mengatakan bahwa dirinya telah menjemput Bella.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1