Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
KOMA


__ADS_3

Mendengar kekalahan Bos mereka, mereka seakan tidak percaya. Ingin kabur dan menyelamatkan diri masing-masing. Namun anggota THE GOLD HOLD tidak membiarkan itu terjadi, mereka menembak setiap orang yang mencoba kabur dari tempatnya, hingga akhirnya seluruh anggota BLACK WOLF musnah tanpa sisa, dan kemenangan di menangkan oleh Mafia THE GOLD HOLD. 


Anak buah Davin yang tersisa membersihkan semua kekacauan di tempat itu. Untuk yang terluka mereka langsung mendapatkan penanganan terbaik. Sedangkan untuk yang mati, mereka menguburkannya secara masal, karena tidak mungkin bagi mereka mengubur satu persatu mayat-mayat yang berjumlah ribuan itu.


Davin dan Varo melakukan operasi selama beberapa jam. Beberapa anak buahnya mondar-mandir menunggu operasi tuannya selesai. Dan setelah beberapa jam kemudian, seorang Dokter keluar. Semua anak buah Davin langsung berdiri dan menghampiri, bertanya tentang keadaan Bos mereka.


"Dok, bagaimana operasi tuan kami?" 


"Semuanya berjalan lancar. Setelah ini akan di pindahkan ke ruang perawatan. Semoga Tuan bisa melewati masa kritisnya,"


Mereka lega karena Tuan mereka selamat dari maut. Namun kecemasan kembali melanda, karena tuannya masih dalam keadaan kritis. Semoga saja tuannya bisa melewati masa kritisnya dan sehat kembali.


Baik Varo dan Davin sudah di pindahkan di tuang perawatan. Anak buahnya berjaga di luar kamar, takut ada yang berniat mencelakai tuannya kembali. 


"Hei, apakah kita akan menghubungi Tuan besar dan Nyonya?" 


"Ya, harus. Jika tidak kita akan mati rintangan Nyonya,"


"Lalu, siapa yang akan menghubungi?"


"Kau saja, aku takut berbicara dengan Nyonya."


"Tidak mau. Aku pun sama, takut dengan nyonya," 


"Hei, jangan seperti ini. Jika kita tidak menghubungi keadaan Tuan, kita malah akan di salahkan. Sekarang cepat hubungi,  jangan sampai Tuan dan Nyoya tahu lebih dulu dari orang lain,"


"Baiklah," pasrah pria itu dan akhirnya menghubungi nyonya besarnya, Queen.


Tut…


Tut…


Tut…


Panggilan tersambung.


Queen yang saat ini sedang menikmati malam penuh penuh bersama Gavin mengumpat kesal karena di ganggu oleh panggilan sialan itu. 


:Sayang, ada yang menghubungi,"


"Abaikan saja. Ini masih nikmat," 


Tut…


Tut…

__ADS_1


Tut…


"Sialan!" umpat Gavin karena olahraga malamnya di ganggu oleh panggilan yang tidak mereka kenal.


Gavin mengambil ponsel Queen dan dilihatnya nomor asing. Matanya memicing saat tidak mengenal nomor milik siapa itu.


"Hallo, siapa ini?" Tanya Gavin dengan nada dingin.


Anak buah Davin menelan ludah saat mendengar nada suara Tuan besarnya yang sepertinya kesal.


"Mm, ma…maaf tuan, saya anak buah Tuan Davin."


"Anak buah Davin? Buat apa dia menghubungi malam-malam seperti ini?" Gumam Gavin dalam hati.


"Katakan! Ada apa kau menghubungi ku? Jika ini tidak penting, ku bunuh kau!" Kesalnya


Glek….


Lagi-lagi pria itu menelan ludah mendengar ancaman tuannya.


"Maaf tuan, jika saya menganggu waktu anda. Tapi saya ingin mengabarkan sesuatu yang penting,"


"Penting? Apa itu?"


"Apa!! Rumah sakit? Apa yang terjadi?" Panik Gavin mendangar putranya berada di rumah sakit. Yakin pasti terjadi sesuatu dengan putranya.


Queen yang mendengar kata rumah sakit langsung bertanya apa yang terjadi. Siapa yang sakit?


"Ada apa? Siapa yang masuk rumah sakit?" Tanya Queen ingin tahu. Namun Gavin tidak menjawab, ingin tahu kejelasan lebih dulu dari anak buah Davin.


"Tuan Davin terluka parah karena melawan Coky ketua Mafia BLACK WOLF tuan,"


"Lalu bagaimana keadaannya?" 


"Saat ini tuan masih krisis,"


"Baiklah, aku akan segera pergi kesana. Kalian jaga dia, jangan sampai terjadi sesuatu dengannya."


"Baik tuan," 


Gavin langsung turun dari ranjang dan menyambar pakaiannya. Queen yang melihat bingung, ada apa dengan suaminya? Kenapa seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat panik? Katakan pada ku?" Queen turun dan membuntuti kemana suami nya melangkah.


"Kita harus pergi menyusul Davin. Davin sedang di rawat di rumah sakit,"

__ADS_1


"Apa!! Kenapa baru mengatakan nya?" Panik Queen.


"Aku juga baru tahu sayang. Jadi cepatlah, kita tidak banyak waktu. Oh ya, hubungi Devan, papa dan mama. Kita berangkat sekarang,"


Queen dan Gavin langsung bergegas, malam ini langsung berangkat untuk mengunjungi putra pertama mereka yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tak lupa mereka juga membawa Rerena dan kedua orang tuanya. Sedangkan kedua orang tua mereka juga langsung berangkat menyusul menggunakan jet pribadi mereka. 


Selama beberapa jam perjalanan,  mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Anak buah Davin langsung menjemput mereka di bandara, membawa langsung menuju rumah sakit.


Tak perlu waktu lama, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Queen berlari menuju tempat Davin di rawat, dengan di susun lainnya yang sangat panik. Takut putranya dalam bahaya. 


Cklek….


Queen membuka pintu ruang rawat Davin. Saat maya itu melihat putranya berbaring di atas ranjang pasien, air matanya langsung jatuh melihat keadaan Davin yang kondisinya cukup parah.


Hiks…hiks….


Queen langsung berlari ke arah Davin dan mengelus kepala Davin dengan lembut, tak lupa memberikan kecupan di kepala putranya yang tidak sadarkan diri.


Queen terus menangis melihat keadaan putranya yang memprihatinkan. Andai saat itu dirinya membantu, mungkin putranya tidak akan mengalami hal seperti ini. 


"Maafkan Mommy,  maafkan Mommy sayang," sesal Queen karena ketidak becusannya melindungi putranya. 


Sedangkan yang lainnya tidak masuk menemui Davin, karena Dokter melarang, hanya boleh satu orang yang mengunjunginya. Semuanya juga merasa sedih dengan keadaan Davin saat ini. 


Rerena, wanita yang ada di atas kursi roda itu juga menangis melihat kekasih nya yang terluka dan belum sadarkan diri. Ingin sekali dia menemui dan mengusap tangan serta wajahnya. Tapi dirinya harus mengerti keadaan, karena keluarga Davin lah yang berhak melihat lebih dulu ketimbang dirinya. 


Dua hari berlalu, namun tetap saja Davin belum sadarkan diri. Sedangkan Varo sudah sudah sadarkan diri dan itu membuat keluarga Menzies dan Tesla merasa senang. Namun saat melihat Davin, kecemasan melanda di diri mereka. Mereka takut Davin koma dan akan lama sadarnya. 


"Bagaimana Dok?" Twnya Queen dan Gavin tentang keadaan Davin.


"Sepertinya Tuan Davin mengalami koma tuan, nyonya."


"Lalu kapan Davin akan sadar?"


"Saya sebagia Dokter tidak bisa memastikan. Bisa jadi 3 hari, bisa jadi 3 bulan. Dan bisa juga 3 tiga tahun lama."


Mendengar itu Queen langsung lemas. Dia tidak ingin putranya mengalami koma hingga berkepanjangan. Dia ingin putranya sadar dan mereka bisa berkumpul kembali.


Semuanya terus berdoa, berharap Davin akan mendapatkan mukjizat dan sadar dari komanya. 


Rerena yang setiap hari menemani dan mengunjungi Davin tak henti-hentinya selalu mengajak Davin berbicara. Rerena yakin Davin mendengar suaranya. Dia berharap seringnya dia mengajaknya mengobrol, Davin alam sadar dari komanya.


"Sayang, aku merindukan mu. Cepat lah sadar. Bukankah kamu janji akan menemui ku dan menikahi ku. Aku tidak sabar untuk melihat mu melamar ku dan setelah itu kita mengucapkan janji suci di altar bersama-sama. Aku ingin bersama mu, jangan buat aku sedih karena kamu tidak sadarkan diri seperti ini." Bisik Rerena di telinga Davin yang masih dengan mata terpejam.


Rerena benar-benar tidak sanggup jika melihat Davin terus seperti ini. Dia berharap Davin akan lekas bangun dan bersamanya hidup selamanya.

__ADS_1


__ADS_2