
Aksi yang di lakukan Davin benar-benar tidak meraka sangka, bahwa pria yang mereka hadapi begitu lihai dalam hal bertarung. Dan semua itu di saksikan oleh Nile yang terus menatapnya.
.
.
Nile terus menatap Davin yang mengalahkan anak buahnya dengan mudah. Tangannya terkepal erat, marah.
"Beraninya pelayan ini!" Geramnya tidak menyangka jika Pelayan itu dengan mudah menghadapi semua anak buahnya, bahkan membuat mereka babak belur dengan banyak luka di tubuhnya.
Bugh,
Tubuh anak buah Nile terpental dan jatuh tepat di depan Nile.
Nile menginjaknya dan menatap tajam Davin, seolah tidak peduli dengan anak buahnya yang terluka.
"Brengsek!" Nile langsung maju dan menyerang Davin, meninju, memukul dan melayangkan tendangannya.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Pukulan, tendangan terus di layangkan. Keduanya saling menyerang, berada tinju dan pukulan.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Satu pukulan Davin berhasil menghantam rahang Nile membuat Nile memindahkan darah.
Nile yang merasakan pukulan tersebut tidak terima, ia kembali menyerang dan melawan. Dan pertarungan keduanya terbilang sangat sengit. Nile ingin membunuh Davin karena berani padanya, padahal Davin hanya lah seorang pelayan. Dan Davin berniat membuat Nile babak belur, karena pernah menyiksa Rerena, Dan anggap saja semuanya adalah balas dendam atas Rerena.
"Ini karena kau menyakitinya,"
Bugh,
"Ini karena kau menyiksanya,"
Bugh,
"Ini karena kau memaksanya,"
Bugh,
"Ini karena kau mengambilnya dari ku,"
Bugh,
Davin bergumam dalam hati. Setiap pukulan yang di berikan sebagai balas dendam atas apa yang di lakukan Nile selama ini pada Rerena. Ia begitu marah, dan hari ini waktu pas untuk membuat Nile merasakan apa yang di rasakan Rerena selama ini.
__ADS_1
Wajah Nile penuh dengan luka lebam. Bahkan sudut mata dan bibirnya robek karena kuatnya Davin memukul wajah itu. Tak hanya bagian wajah, dada nya penuh penuh lebam, dan tangannya patah karena Davin memelintir nya dengan kuat.
Krak...
Argh....
Teriak Nile merasakan sakit luar biasa saat tangan itu di patahkan.
Semua yang melihat apa yang di lakukan Davin bergidik ngeri, bagaimana tidak, Davin seperti orang gila menghajar Nile dengan bringas. Bahkan Haidar yang baru sampai melihat itu menelan ludah saat melihat kekejaman Davin.
Glek,
"Pelayan itu sungguh mengerikan," gumamnya dalam hati dan tidak akan menganggu atau memprovokasi pelayan baru Rerena.
Walaupun ia seorang majikan, tapi jika melihat kekejaman itu ia berpikir dua kali untuk menyinggung, ia takut pelayan itu marah dan akan membunuhnya tanpa melihat statusnya. Karena orang yang memiliki dendam tidak akan pandang bulu, yang penting dia puas, apapun akan di lakukan.
Haidar yang melihat Nile tergeletak tak berdaya langsung menghampiri mereka dan menghentikan Davin, tidak ingin Nile mati di tempatnya.
"Berhenti!" Teriaknya menghentikan Davin yang menindih Nile sambil menunju wajah nya.
Davin yang mendengar langsung berhenti, menoleh ke arah Haidar. Ia bangkit dan berdiri di samping Rerena. Sedangkan Rerena yang melihat Haidar datang langsung berlari memeluk tubuh Haidar, ia sungguh takut.
Davin yang melihat Rerena berpelukan dengan Haidar, mengepalkan tangan, marah. Bagaimana bisa wanita yang di inginkannya berpelukan dengan pria tepat di depan matanya.
Tatapannya sungguh tajam, dan Haidar yang tidak sengaja melihat terkejut melihat tatapan tajam itu. Haidar menggelengkan kepala, mungkin ia salah melihat. Dan benar saja, wajah Davin sudah berubah tidak memberikan tatapan tajam itu.
"Mungkin hanya perasaan ku saja," gumam Haidar dalam hati. Entah kenapa melihat Davin, seperti ada ketakutan tersendiri apalagi saat melihat Davin dengan mudah menghajar Nile.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Haidar mengelus kepala Rerena.
Haidar menatap anak buah Nile yang berdiri dengan tubuh sempoyongan karena di hajar habis-habisan dengan Davin.
"Bawa tuan mu dari sini, dan jangan biarkan aku melihatnya lagi. Jika sampai dia berani datang lagi, aku akan membunuhnya," ancam Haidar seolah dia mampu membunuh Nile.
Dengan tergesa-gesa, mereka mengangkat tubuh Nile dan membawanya pergi dari kediaman Haidar. Dan setelah melihat pergi, Haidar membawa Rerena masuk. Saat melewati Davin, Haidar menepuk bahunya, "Kerja bagus,"
Davin hanya mengangguk kecil dan menatap punggung Haidar dan Rerena yang masuk kedalam Mansion.
.
.
Puk..
Tepuk Pak Min pada bahu Davin membuat Davin terkejut dan menoleh.
"Pak Min,"
"Bukankah mereka pasangan yang cocok?" Davin hanya diam tidak menjawab, dalam hati ia berkata.
"Cocok dari mana, dia lebih cocok dengan ku,"
Dengan sewot Davin langsung pergi, tidak ingin mendengar Pak Min membahas hubungan Rerena dan Haidar. Sedangkan Pak Min yang melihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung dengan ekspresi Davin.
__ADS_1
"Ada apa dengan nya?"
.
.
Davin pergi ke belakang mengambil air minum, meneguknya dengan cepat.
Hah,
Ia menyentuh sudut bibirnya yang robek, terasa perih.
Stt....
"Nile sialan! Beraninya di melukai ku," geramnya meremat gelas yang di pegang nya.
Seorang pelayan tua datang menghampiri, melihat Davin yang berdiri lama di dekat meja.
"Nak Daniel, ada apa?" tanya Buk Su menghampiri.
Davin menoleh, dan langsung membuat Buk Su terkejut.
"Ya ampun, ada apa dengan wajah mu nak?" tanyanya khawatir Dan menyentuh wajah Davin yang terdapat lebam keungu-unguan.
"Tidak apa-apa Buk, hanya luka kecil aja kok,"
"Luka kecil? Luka kecil dari mana? Wajah mu penuh dengan lebam, sini Buk Su obati,"
Buk Su meminta Davin untuk duduk, sedangkan dia mengambil obat untuk mengobati luka lebam Davin. Buk Su duduk saling berhadapan, dan mengeluarkan alkohol untuk membersihkan luka itu.
"Kenapa sampai terluka separah ini? Sebenarnya apa yang terjadi?"
Buk terus mengoceh, bertanya kenapa Davin bisa terluka. Buk Su memang tidak mengetahui kejadian di halaman rumah tentang perkelahiannya dengan anak buah Nile, sehingga ia tidak bahwa Davin memukul habis mereka semua.
"Ini hanya luka kecil, Buk Su, tidak parah," jawab Davin agar Buk Su tidak terlalu khawatir.
"Mentang-mentang masih muda menganggap luka ini tidak parah. Kalau sudah tua baru tahu rasanya, jika ini parah dan sakit,"
Davin hanya tersenyum kecil, sungguh Buk Su sangat perhatian. Tapi senyuman itu terlihat dengan adanya seorang wanita yang di sukainya datang menghampiri.
"Biar saya yang mengobatinya, Bu," Rerena mengambil kapas dari tangan Bu Su.
Buk Su memberikan dan undur diri, biarlah nonanya bersama dengan Davin, mengobatinya.
Davin yang melihat Rerena ada di hadapannya jantungnya berdetak tak karuan. Ia menatap Rerena tanpa berkedip sedikitpun.
"Cantik sekali, aku menginginkannya,"
Davin hanya bisa berseru dalam hati, ia tidak berani berkata atau mengungkapkannya, takut Rerena terkejut dan membencinya, menganggapnya orang gila.
"Aku hanya bisa mencintaimu dalam diam untuk saat ini."
.
__ADS_1
.
Bersambung