
"Maaf,"
"Tentang?"
"Tentang kelancangan saya terhadap anda hari ini,"
"Tidak masalah," jawab Rerena santai, menutupi kegugupannya.
Davin tersenyum, semoga saja ini awal dari kedekatan nya. Setelah selesai berbelanja, mereka pun kembali ke kediaman Haidar. Namun saat sampai, Rerena begitu malas. Ia malas bertemu dengan Bella, karena yakin Bella masih ada di mansion
.
.
Dan benar saja, saat Rerena masuk di lihatnya Bella begitu santai duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Mendengar suara langkah, Bella langsung mengangkat kepala, melihat ke arah suara. Di lihatnya Rerena dan Davin yang habis pulang dari luar.
"Wah, wah....bagus ya baru pulang. Seorang pelayan keluar dari pagi hingga malam melupakan pekerjaannya. Apa kau pikir kau itu tuan rumah disini," Bella menunjuk tepat di dada Rerena, mendorongnya pelan.
Rerena yang di perlakukan seperti itu menatap tidak suka, tapi dirinya tidak bisa membantah dan hanya bisa diam.
"Kau itu hanya pelayan yang menumpang makan, jadi bertingkahlah layaknya seorang pembantu. Jangan mentang-mentang tuan mu tidak tahu maka kau bebas melakukan apa yang kau suka. Ingat, sekarang ada aku. Jadi jangan coba macam-macam," Bella berkata dengan cukup pedas, membuat Rerena sadar akan status nya di kediaman itu.
Ya benar, dirinya hanya menumpang. Status hanya kekasih itu pun belum pasti akan kelanjutan hubungan mereka. Ia menunduk, "Maaf," itu lah kata yang keluar dari mulut Rerena karena tahu akan dirinya yang bukan siapa-siapa di rumah ini.
Davin yang ada di belakang Rerena mengepalkan tangan. Ia menatap tajam Bella karena berani berkata kasar pada wanitanya.
"Berani sekali kau, Bella!" batinnya ingin membunuh Bella karena membuat Rerena sedih.
Sudah bersusah payah hari ini ia membuat Rerena senang, tapi dalam kesejap di hancurkan oleh Bella sialan ini.
Tubuh Bella merinding, seolah ada aura menakutkan dan ingin membunuhnya. Ia menatap ke arah Davin, wajah merah, tatapan dingin dan tajam langsung menghunus tubuhnya.
Glek...
Bella menelan ludah. Jadi aura mengerikan yang di rasakan nya adalah milik Davin.
"Mengerikan,"
Walaupun takut, Bella tetap mencoba menatap Davin. Dan berkata lewat tatapan matanya.
"Jangan marah, aku melakukan ini demi mu. Jika aku tidak keras dan membuatnya sedih, bagaimana dia akan dekat mu dan bergantung dengan mu. Jadi jangan salah kan aku jika aku berkata kasar dengan nya,"
__ADS_1
Bella berharap Davin mengerti dan tidak marah dengannya. Davin yang seolah tahu arti tatapan itu menghela nafas.
"Nona,"
"Antar aku ke kamar,"
Rerena pergi, meninggalkan Bella yang bersedekap dada, menatapnya dengan senyum remeh.
Sedangkan Davin mendekat, dan langsung mencekik leher Bella.
"Kamu sungguh berani sekali ya, Bel,"
"Le...lepaskan aku Vin. Aku melakukannya agar kalian bisa lebih dekat," Bella mencoba melepas tangan itu dari lehernya, terasa sesak dan sakit.
"Cih, jika aku tahu kamu memang ingin menyakitinya, aku tidak akan segan-segan membunuh mu," ancam nya dan melepaskan tangannya, membuat tubuh Bella langsung ambruk di lantai dengan nafas tersengal-sengat.
Bella mengangguk dan tidak akan memiliki niat tersendiri untuk menyakiti Rerena. Ia hanya akan melakukannya demi tugas yang di berikan Davin.
"Aku janji. Aku akan melakukannya hanya demi untuk mu. Maafkan aku jika aku menyakitinya barusan,"
Bella sungguh takut, ia merasa Davin seperti malaikat maut yang siap mengambil nyawa nya kapan saja. Sungguh mengerikan. Apapun yang terjadi ia berjanji tidak akan membuat Davin marah.
Melihat Bella menyedihkan, Davin tidak iba sama sekali. Ia pergi meninggalkan Bella yang masih duduk di lantai sambil mengatur nafas dan memegang lehernya yang masih sakit.
"Sayang," panggilnya dan menghampiri.
Saat Haidar berada di depannya dan menyentuh bahu itu, Bella mendongak dan membuat Haidar terkejut.
"Bella,"
"Haidar,"
Haidar sungguh terkejut saat melihat Bella ada di rumahnya. Ia yang mengira itu Rerena ternyata salah, malah wanita itu adalah Bella kekasih masa lalunya yang pergi tanpa pamit dan meninggalkan sejuta cinta dan luka secara bersamaan.
Haidar bangkit dan berdiri memunggungi. "Sejak kapan kamu datang?"
Haidar marah, bagaimana bisa Bella datang kembali. Ia tidak mengharapkan Bella hadir kembali dalam hidupnya. Cinta yang besar terhadap Bella membuatnya bersusah payah harus ia lupakan saat Bella meninggalkannya. Saat cinta itu mulai menghilang, kini wanita itu datang kembali membuat perasaan yang di kubur nya dalam kini muncul kembali saat melihat wajah wanita yang sangat-sangat di cintainya.
Bella berdiri dan memeluk Haidar dari belakang. "Maafkan aku,"
Dengan sangat erat Bella memeluknya. Dari lubuk hati yang paling dalam, Bella sangat-sangat merindukan Haidar. Apapun yang terjadi ia ingin kembali dan memiliki Haidar seutuhnya, membuat Haidar jatuh cinta lagi padanya.
"Maaf, maaf untuk apa?"
__ADS_1
"Semua kesalahan yang aku lakukan. Meninggalkan mu tanpa pamit. Aku tahu aku salah, tapi saat itu tidak ada waktu untuk ku bermapitan pada mu. Maafkan aku,"
Haidar diam, mendengar semua apa yang di katakan Bella. Walaupun tahu kenapa Bella pergi dari nya, untuk saat ini ia ingin mendengar langsung dari mulut Bella.
Bella melepas pelukannya dan menarik tubuh Haidar agar menghadap ke arahnya. Haidar yang kini ada di depannya menatap wajah Bella, tidak berubah, tetap cantik.
"Aku tahu kamu marah dengan ku, tapi tidak bisakah kamu mengerti aku. Saat itu papa dan mama__"
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar penjelasan itu,"
Entah kenapa perasaannya sakit saat mengingat bagaimana dirinya di tinggal Bella. Ia melepas tangan Bella dan pergi.
"Aku lelah, istirahtalah," Haidar pergi membuat Bella menatapnya sedih.
Dengan langkah gontai, Haidar menaiki tangga menuju kamarnya. Ia bingung, apa yang harus di lakukannya. Bella datang dan membuat perasaannya kacau. Ada Rerena, lalu apa yang harus di lakukan nya.
Cklek...
Haidar masuk dan mengunci pintu, menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata. Bella, Rerena, dua wanita yang di cintainya.
Argh!
Haidar mengusap kepalanya dengan kasar, pusing.
Sedangkan di kamar sebelah, Rerena menangis saat melihat Haidar dan Bella berpelukan. Hati nya sakit sangat sakit. Davin yang ada di kamar itu, membawakan belajaan, hanya bisa menatap nonanya dengan diam. Ia ingin memberikan dada bidangnya untuk tempat bersandar, tapi sepertinya tidak mungkin, karena hubungan mereka tidak sedekat itu.
"Nona,"
Sadar disana ada Davin, Rerana berlari dan memeluk Davin dengan erat.
Hiks...Hiks...Hiks...
"Sakit Niel, sakit,"
Davin ingin sekali mengusap kepala itu dengan lembut, memberikan ketenangan untuk wanita nya. Tidak tega melihat Rerena menangis hanya karena seorang pria bernama Haidar. Karena menurutnya Haidar tidak pantas untuk di tangisi.
"Tumpahkan semua kesedihan mu, aku siap menjadi tempat bersandar mu,"
.
.
Bersambung
__ADS_1