Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Mencari Lawan Yang Salah.


__ADS_3

Bella benar-benar kesal mendengar ocehan Varo yang terus menerus mengingatkannya, membuat telinga sakit dan panas.


"Cerewet sekali, lebih baik kamu pergi saja. Aku lelah," usirnya dan membuka pintu, masuk.


Sedangkan Varo pergi, tapi sebelum itu ia menghubungi tuannya, mengatakan bahwa dirinya telah menjemput Bella..


.


.


"Saya sudah membawa Nona Bella ke apartemen, tuan,"


"Hm, apa kau sudah mengatakan semuanya?"


"Sudah tuan. Tinggal bagaimana Nona Bella menjalankannya,"


"Bagus,"


.


.


Di depan kediaman Nile, Seorang wanita cantik dengan pakaian sek si berdiri menatap mansion besar itu. Ia tersenyum, tidak sabar untuk bertemu dengan Nile, pria pujaaannya.


Nadira memanggil satpam untuk membuka pintu gerbang, mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Nile. Dan satpam itu pun membuka pintu dan mempersilahkan Nadira masuk.


"Apa Nile ada?"


"Tuan Nile masih berada di rumah sakit nona, kebetulan hari ini tuan akan pulang,"


"Baiklah, aku akan menunggu nya."


Nadira masuk kedalam mansion, memberi perintah pada seorang pelayan untuk membawakan barangnya ke kamar sebelah Nile. Dan dia akan menunggu kedatangan Nile. Tapi sebelum itu, ia membersihkan tubuhnya agar terlihat cantik dan menawan, berharap Nile akan tergoda dengan nya.


Setelah satu jam menunggu, sebuah mobil berhenti di depan. Nadira yang melihat yakin bahwa itu adalah Nile dan dengan cepat menyambutnya.


Fin yang menjemput tuannya membukakan pintu, memapah tuannya turun dari mobil. Saat mereka hendak masuk, keduanya terkejut melihat Nadira sudah berada di mansion.


Nadira yang melihat langsung memeluk Nile tanpa persetujuan dari Nile.


"Aku merindukan mu,"


Nile bukannya membalas kata rindu itu, tapi ia malah meminta Nadira untuk melepaskan pelukannya, terasa risih. "Tidak bisakah kau mengizinkan ku masuk dulu,"

__ADS_1


Sadar bahwa Nile baru pulang dari rumah sakit, Nadira langsung melepas pelukannya dan tersenyum kecil. "Maaf, aku tidak bisa menahannya, karena terlalu rindu dengan mu,"


Nile tidak menggubris, ia meminta Fin mengantrqkannya ke kamar dan mengabaikan Nadira.


Nadira yang melihat mengepalkan tangan, kesal, "Beraninya dia mengabaikan ku!"


Nadira menyusul Nile dan akan menunjukkan bahwa ia peduli padanya. Dan menunjukan bawa dirinya sangat mencintai Nile tanpa syarat.


.


.


Nile yang sudah berbaring di ranjang, menatap Nadira yang duduk di sampingnya. Ia akui Nadira cukup cantik, tapi kecantikan itu belum bisa membuatnya jatuh cinta.


"Kapan kamu tiba?" tanya Nile dengan wajah dinginnya.


"Satu jam yang lalu," Nadira menatap Nile, bagaimana bisa Nile terluka seperti ini. Tangannya terukir hendak menyentuh wajah Nile, tapi dengan cepat Nile mengelak, membuat Nadira mendengus.


"Kenapa bisa terluka seperti ini?"


"Bukan urusan mu," jawab Nile dengan nada dingin.


Nadira yang mendengar menghela nafas, ia tahu Nile tidak menginginkannya. Tapi dirinya datang juga karena permintaan Tuan Taksa, tidak bisakah Nile sedikit lembut dengan nya.


Nile menghela nafas. Ia tahu Nadira datang karena Daddynya. Tapi ia benar-benar tidak menyukainya.


"Lebih baik kamu istirahat, kamu pasti lelah," Nile menatap Fin dan memintanya untuk mengantarkan Nadira kekamarnya. "Antar dia untuk istirahat," Seolah tidak ingin di ganggu, Nile mengusir Nadira, membuat Nadira kesal.


Nadira pun beranjak dan pergi. Tapi sebelum itu ia berkata, "Aku akan membuat mu menjadi milik ku. Tak akan ku biarkan siapapun memiliki mu,"


Nile yang mendengar menatap Nadira yang pergi. Ia menghela nafas, semakin rumit. Belum juga ia selesai dengan Rerena, kini ada Nadira yang akan membuatnya semakin pusing, apalagi Daddynya memintanya untuk menerima dan mencoba mencintai Nadira.


"Untuk saat ini harus mengurus pelayan rendahannya itu," gumamnya begitu dendam dengan Davin.


Nile meminta Fin untuk mencari tahu dari mana asal pelayan itu. Dan tak membutuhkan waktu lama, kini Nile mengetahui bahwa Davin hanyalah seorang pria miskin yang hidup dengan pria tua di rumah kecil tak jauh dari kediaman Haidar.


Senyum seringai muncul di bibir Nile, ia memberi perintah pada anak buah Daddynha yang kini sudah berada di bawah kendalinya untuk membunuh Davin saat pulang bekerja. Dan malam nanti mereka akan bertindak, membalaskan apa yang di lakukan Davin padanya.


"Akan ku buat kau mati malam ini juga,"


.


.

__ADS_1


Malam hari pukul 7 malam, Davin pulang dari kediaman Haidar. Ia mengendarai motornya dengan begitu santai. Namun saat tak jauh dari mansion Haidar, di lihatnya dari spion, dua mobil mengejarnya. Mengetahui itu Davin menambah kecepatan. Ia menghubungi Varo untuk membawa beberapa anak buahnya untuk menghadapi mereka nanti.


"Bawa beberapa anak buah mu. Ada beberapa semut yang ingin mengirimkan nyawanya,"


"Baik, tuan,"


Varo langsung bergegas menyusul tuannya dengan membawa beberapa anak buahnya, untuk menghadapi beberapa semut yang mencoba mengganggu Tuannya.


Sedangkan Davin menghentikan motornya. Ia duduk dengan santai di atas motornya, bersedekap dada, menatap dua mobil yang kini berhenti tepat di hadapannya.


Beberapa orang di dalam mobil itu kini turun, dan berbaris berhadapan dengan Davin yang begitu santai. Semuanya mengeritkan kening melihat Davin yang santai saat melihat mereka semua.


"Mungkinkah dia sudah pasrah mati di tangan kita?" batin mereka beranggapan bahwa Davin pasrah dengan kematiannya, karena tidak sanggup untuk melawan mereka.


Seseorang dari mereka, mungkin saja ketua dari kelolpok itu menunjuk wajah Davin dan berkata, "Lebih baik kau menyerah dan jangan melawan. Kami akan memberikan mu kematian yang mudah,"


Davin yang mendengar tersenyum menyeringai. Ia mengambil sebuah pisau tajam runcing yang atasnya bergerigi, memainkanya, memutar di jarinya.


"Apa kalian mampu," tantang Davin membuat mereka mendengus kesal.


"Brengsek! Kau hanya sendirian dan ku pastikan cukup aku sendiri sudah mempu membunuh mu,"


Davin tertawa keras mendengar itu, "Hahahaha.....begitu ya,"


Seolah sangat di remehkan, pria bertubuh kekar dengan beberapa tato di lengannya mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya mengeras.


"Badjingan sialan, ku bunuh kau!" marahnya dan langsung maju menyerang menggunakan pisau.


Davin yang melihat menangkap tangan itu, memelintir dan membalikkan tubuhnya hingga membuatnya berada di belakang pria tersebut. Dan dalam gerakan cepat, Davin menggorok leher itu hingga membuatnya mati.


Bugh,


Tubuh pria itu tumbang dengan darah mengalir dari lehernya.


Beberapa anak buah Nile yang melihat terkejut, begitu mudahnya membunuh temannya. Mereka waspada, dan memgang senjata mereka masing-masing dengan erat. Namun belum juga keterkejutannya mereka hilang, sebuah mobil datang dan berhenti. Beberapa orang turun dengan membawa senjata mereka, menghadap dan memberikan hormat kepada pria yang ingin mereka bunuh.


"Tuan,"


Semua nya semakin terkejut saat mereka memanggil dengan sebuah tuan, mungkinkah pria yang ingin mereka bunuh bukanlah pria sembarang. Sungguh mereka mencari lawan yang salah.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2