
"Hahahaha....aku tidak sabar membuatnya jatuh cinta pada ku,"
Varo hanya tersenyum, ia tidak menyangka tuannya akan jatuh cinta dengan seorang wanita, bahkan wanita itu pernah menjadi istri orang. Padahal sebelumnya banyak gadis yang mengantri untuk menjadi pendampingnya, wanita bangsawan dan putri dari seorang pengusaha sukses dari berbagai negara. Tapi Davin selalu menolak, dengan alasan belum ingin memiliki pendamping dan hal itu membuat banyak wanita patah hati karena nya.
.
.
Davin kini pergi ke tempat dimana Rerena berada. Ia menunggu agak sedikit jauh dari mereka berada.
Sedangkan anak buah Davin menunggu mobil yang di kendarai Rerena lewat. Beberapa menit menunggu akhirnya mobil Rerena terlihat membuat anak buah Davin langsung bertindak, mengejar mobil tersebut.
Sopir Rerena masih santai, mengendarai dengan pelan. Taoi saat dirinya melihat ke kaca spion, di lihatnya satu mobil membuntutinya.
"Nona, sepertinya mobil itu membuntuti kita," ucap sopir itu memberitahu.
Rerena langsung menoleh ke belakang melihat apakah benar ada yang membuntutinya. Dan saat melihat bahwa mobil itu benar membuntutinya, Rerena panik, ia meminta sopir nya untuk melakukan mobilnya lebih cepat.
"Lebih cepat pak, saya takut mereka memang membuntuti kita."
Sopir itu mengangguk dan langsung menambah kecepatannya. Dan ternyata benar, mobil belakang juga menambah kecepatan menyusul mobil Rerena. Sampai akhirnya mereka melewati jalan sepi, mobil anak buah Davin menyalin dan mengehntikannya dari depan.
Ciittt....
Suara ban mobil yang di rem dengan mendadak.
Rerena terhubung hingga jidatnya terbentur dengan kursi kemudi.
"Nona, mereka sepertinya bukan orang baik." ucap Sopir itu saat melihat beberapa pria bertubuh kekar keluar dari mobil.
"Bagaimana ini pak?" panik Rerena takut.
"Nona jangan keluar, biar bapak yang keluar dan bertanya?"
"Tapi, bagaimana jika bapak kenapa-napa?"
"Tidak apa-apa, yang terpenting anda aman. Jangan keluar dan kunci pintunya Nona,"
Sopir itu keluar dan berdiri saling berhadapan dengan beberapa pria bertubuh kekar.
"Tuan, kenapa anda menghentikan jalan saya? Jika boleh saya tahu sebenarnya ada apa?"
"Serahkan wanita yang ada didalam mobil?" perintah seorang dengan nada tegas.
"Wanita? Saya sendirian tuan, tidak ada wanita di dalam mobil saya," jawab Aopir itu berbohong.
"Heh, kau pikir aku percaya. Geledah dan seret wanita itu!"
Beberapa pria lainnya maju dan hendak mendekati mobil Rerena. Namun dengan cepat di tahan oleh sopir itu. Pria yang di halangi merasa kesal, ia mendorong tubuh bapak itu hingga terjatuh di jalan.
__ADS_1
Arh....
Rerena yang melihat terkejut, mereka sungguh kasar. Ia keluar, tidak tega melihat sopirnya di lukai, apalagi saat di lihatnya sopirnya hendak di tendang oleh beberapa pria itu.
"Berhenti!" teriak Rerena dan berlari le arah sopirnya. Mendorong beberapa pria itu untuk menjauh. "Minggir kalian,"
Rerena membantu, memapah tubuh itu, berdiri. "Bapak tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa nona," jawabnya menerima bantuan itu. "Nona kenapa keluar? Ini bahaya,"
"Saya tidak peduli. Saya tidak tega melihat bapak di aniaya oleh mereka," ucap Rerena memberi tatapan tidak suka terhadap mereka, karena sikap mereka yang kasar.
Beberapa anak buah Davin yang melihat Rerena berada di depannya tersenyum menyeringai.
"Tangkap wanita itu, dan serahkan pada Tuna Nile," seru seorang dari mereka menyebutkan nama Nile agar Rerena berpikir bahwa mereka adalah anak buah Nile yang mencoba menangkap nya.
Dan benar saja, Rerena langsung terkejut saat mendengar mereka menyebutkan nama Nile.
"Ka...ka..kalian anak buah Nile?"
"Tentu saja. Kami di perintah untuk membawa anda,"
Rerena panik, ia takut, tidak ingin di tangkap oleh mereka dan di serahkan kepada Nile. "Pak ayo kita pergi, mereka adalah anak buah mantan suami saya. Saya tidak ingin di tangkap oleh mereka," aja Rerena untuk kabur.
Namun sebelum ia kabur, Rerena di hadang oleh mereka.
"Mau kemana hm?" tanya mereka dengan seringai mengerikan.
Beberapa pria itu hendak menyentuh dan memaksa Rerena, namun belum juga mereka menyentuh tubuh itu, dari belakang seseorang menendang tubuh mereka hingga terhuyung.
Bugh,
"Sialan! Siapa yang berani pada ku?" geramnya tiba-tiba ada seseorang yang menendangnya.
Mereka semuanya menoleh, di lihatnya tuan mereka. Mereka menelan ludah, takut melawan. Tapi demi rencana tuannya, apa boleh buat mereka harus melawan.
"Lepaskan wanita itu dan pergi dari sini!" perintah Davin dalam penyamaran.
"Siapa kau berani memberi perintah pada kami? Lebih baik jangan ikut campur urusan kami, jika tidak... kau akan mati ditangan kami," seru seorang di sana dengan tegas. Namun dalam hati takut mati karena berani lancang berbicara kasar seperti itu kepada tuannya.
"Mati aku, tuan pasti marah," batin nya karena kelancangan mulutnya.
"Semoga Tuan tidak marah dan tidak membunuh kita semua," batin semuanya ketakutan.
Heh, Davin tersenyum mengerikan membuat mereka bergidik ngeri. "Senyuman itu, sungguh mengerikan. Aku tidak ingin mati sekarang. Ampuni kami tuan," teriak mereka dalam hati.
"Jika kalian tidak ingin melepaskan wanita itu, maka aku akan membunuh kalian,"
Glek...
__ADS_1
Mereka menelan ludah.
Membunuh
Membunuh
Membunuh
Isi kepala mereka penuh dengan kata membunuh. Apa kah mereka akan mati hari ini demi kelancaran rencana tuannya. Mereka lemas, seolah pasrah dengan ajal yang akan menjemputnya.
Davin maju dan menyerang mereka. Dan apa boleh buat, mereka pun membalas setiap serangan yang di layangkan tuannya. Namun karena Davin bos mereka dan handal dalam bertarung membuat mereka satu persatu mendapatkan pukulan, dan tendangan, membuat mereka babak belur dalam sekejap.
Bugh,
Bugh,
Argh...
Uhuk...Uhuk....
Batuk mereka memindahkan darah saat perut dan dada mereka terkena pukulan dan tendangan.
Bugh,
Tubuh seorang dari mereka terlepas karena kuatnya tendangan itu.
"Ampun..! Ampuni kami tuan," sujud mereka memimpin ampunan.
Davin berdiri di depan mereka dan menendang kembali, membuat nya terjungkal.
Bugh...
"Ampun tuan, kami tidak akan mengganggu nona itu lagi. Mohon ampuni kami," mohon mereka meminta belas kasihan.
Tapi seolah Davin tidak peduli dengan permohonan itu, ia kembali menendang dan memukul orang yang tadi lancang berbicara padanya. Padahal itu memang permintaannya, tapi entah kenapa ia tidak suka anak buahnya berkata seperti itu. Seolah anak buahnya memang malawannya.
"Ini karena kau berkata kasar pada ku,"
Bugh,
Arh...
"Tuan, ampun tuan," mohonnya lagi karena tubuhnya sangat-sangat sakit akibat pukulan tuannya yang begitu kuat.
Semua yang melihat menelan ludah, ia tahu tuannya marah saat ini. Mereka tidak ada yang berani berkata karena takut mereka malah terkena bogem tuannya.
Rerena yang melihat menghentikan. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu, takut anak buah Nile lainnya datang.
.
__ADS_1
.
Bersambung