
Davin tidak peduli di katakan sebagai spikopat, karena menurutnya Mafia haruslah kejam. Davin selalu Bisa menempatkan dirinya berada. Jika dirinya berada di kerajaan sebagai raja yang memimpin masyarakat nya, maka dia akan welas asih. Dan jika berada di wilayah dunia hitamnya, Davin langsung berubah menjadi iblis mengerikan.
Berbeda lagi jika dia menjadi pemimpin perusahaan. Dia bisa kejam dan juga baik. Tapi tetap saja dengan wajah dingin dan datarnya.
Davin mengambil sapu tangan yang di berikan oleh Varo, mengelap tangan yang terdapat darah setelah puas memainkan tubuh penyusup tersebut dan setelah itu membuangnya.
"Kita apakan tubuh ini Tuan?" tanya seorang bawahannya.
"Buang di kolam,"
"Baik tuan,"
Mereka pun membawa bagian tubuh yang tidak utuh dan di lemparkamnya ke kolam yang banyak ikan piranhanya. Dan ikan-ikan itu saling berebut saat mendapatkan makanan mereka.
Davin menjatuhkan bokongnya di sofa. Beberapa hari bekerja membuatnya sangat-sangat lelah. Dia menyandarkan tubuh nya, rindu dengan wanitanya.
"Selidiki kelompok mana yang memiliki tato serigala dan dari mana asalnya,"
"Baik tuan, akan saya selidiki,"
"Oh ya, bagaimana perkembangan Rerena? Apakah para Dokter itu telah menemukan menawar nya? Jika mereka belum menemukannya, lebih baik mereka tidak usah jadi Dokter,"
"Saya belum menghubungi mereka tuan. Jadi belum tahu apakah mereka menemukan penawaran atau belum. Nanti saya akan menghubungi mereka dan bertanya,"
"Hm....Aku lelah. Pergilah," Davin memejamkan mata. Tubuhnya terasa lelah. Selama seminggu lebih dirinya tidak banyak istirahat dan sudah bolak-balik beda negara.
Varo mengangguk. Varo tahu tuannya sangat lelah, begitu pun dengan dirinya. Namun untuk saat ini dirinya belum bisa untuk istirahat karena hal yang harus di lakukan terlebih dahulu.
Drrt
Drrt
Drrt
"Hallo Bos," jawab Recky yang langsung bangun saat mendengar ponsel nya berdering. Ya, saat ini menunjukkan waktu 2 dini hari dan bos nya itu menghubungi di waktu tidak tepat di saat dirinya sedang kantuk-kantuknya.
"Bagaimana Nona Rerena? Apakah para Dokter itu telah mendapatkan penawar racunnya?"
"Sepertinya besok akan di lakukan uji cobanya tuan. Apakah obat yang mereka racik berhasil atau tidak."
"Katakan pada mereka. Jika mereka sampai gagal, lebih baik mereka tidak usah menjadi Dokter,"
__ADS_1
Recky diam. Dia tahu jika bos nya sudah mengatakan hal itu pasti akan berdampak buruk untuk beberapa Dokter itu.
"Akan saya katakan."
"Oh ya. Beberapa orang kau yang tangkap sisakan dua untuk tetap hidup. Besok Tuan akan kembali. Untuk sisanya kau bunuh saja,"
"Baik tuan, akan saya laksanakan,"
"Kembalilah."
Panggilan itu pun berakhir. Dan esok hari setelah menempuh perjalanan yang beberapa jam, mereka sampai di bandara. Sebuah mobil anak buahnya telah menunggu kedatangannya. Mempersilahkan tuan mereka untuk masuk kedalam dan mobil pun melaju meninggalkan bandara.
Tujuan mereka adalah Villa, karena Davin ingin segera melihat ke adaan wanitanya. Dan tak butuh waktu lama kini mereka sampai di tempat tujuan. Varo membukakan pintu untuk tuannya, dan tak lupa memberi perintah pada bawahannya untuk membawa koper mereka.
Langkah kaki lebar dan wajah tegas membuat semua bawahannya memberi hormat, menyambut kedatangan tuan nya.
"Selamat datang tuan," Davin hanya mengatakan 'Hm' dan berlalu.
Ckleek....
Varo membukakan pintu dan Davin masuk. Beberapa Dokter yang ada di dalam langsung menoleh dan menyambut kedatangan tuannya.
"Selamat datang tuan," sambut beberapa Dokter itu dengan wajah menunduk. Perasaan mereka tidak tenang, takut tuannya tidak puas. Apalagi saat ini wanita yang berbaring di ranjang belum sadarkan juga.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Davin dengan tangan terulur menyentuh wajah tirus Rerena karena sakit selama seminggu lebih. Apalagi racun yang terus menggerogiti tubuhnya.
"Hari ini kami akan menggunakan obat yang selama ini di buat. Semoga obat ini berhasil dan racun dalam tubuh Nona dapat di keluarkan,"
"Lakukan. Aku tidak ingin ada kegagalan. Jika ini tidak berhasil lebih baik kalian tidak usah menjadi Dokter. Lagian menjadi Dokter buat apa. Tidak berguna,"
Gleek....
Mereka menelan ludah mendengar itu. Keringat membanjiri kening mereka, takut obat yang selama ini buat tanpa istirahat tidak berhasil dan malah membuat mereka menderita.
"Kami akan melakukan yang terbaik tuan," jawab mereka kompak. Mereka berdoa semoga saja semuanya berjalan lancar, tidak ada kendala sedikit pun. Mereka tidak ingin mati secepat itu.
Davin menyingkir dan duduk di sofa dalam ruangan itu. Matanya tak lepas dari apa yang di lakukan beberapa Dokter yang kini sibuk mengobati Rerena. Davin mengepalkan tangannya erat. Jika ini tidak berhasil akan dia ratakan keluarga Haidar dan Nile. Entah mereka yang berbuat atau tidak, awal mula Rerena seperti karena mereka berdua.
"Lihat saja. Jika wanita ku tidak kunjung bangun maka bersiaplah kehancuran kalian ada di tangan ku,"
Nile dan Haidar tiba-tiba bersin. Entah kenapa, mereka merasa ada yang membicarakan nya di belakang.
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Cukup lama pemeriksaan di lakukan. Dan kini waktu para Dokter menguji obat yang mereka buat.
"Semoga saja berhasil," Doa semua Dokter yang merawat Rerena.
Dokter itu memasukkan obat yang berbentuk cairan berwarna hijau kedalam cairan impus, karena tidak mungkin bagi Rerena untuk meminumnya untuk saat ini.
Tik....
Tik....
Tik....
Sunyi, tidak ada yang berkata. Semuanya nampak menunggu obat itu bereaksi. Cukup lama, namun tidak ada perubahan sama sekali.
Para Dokter sudah menunduk takut. Keringat membasahi kening dan punggung mereka. Bahkan tangan mereka sudah begitu dingin. Mereka sungguh sangat takut, takit orang berkuasa di depannya membunuh mereka di tempat karena ketidak becusan mereka.
Davin yang melihat wanitanya tidak ada perubahan sedikit pun, rahang mengeras, wajahnya terlihat gelap. Dia beranjak dan berdiri.
"Dasar tidak berguna! Lebih baik kalian mati saja. Seret mereka semua!"
Anak buah Davin yang berada di luar langsung masuk saat tuan mereka memberi perintah untuk menyeret beberapa Dokter yang tidak berguna itu.
Mereka mencekal dan menarik paksa. Para Dokter itu memberontak penuh ketakutan. "Tuan ampuni kami tuan. Kami mohon beri kami kesempatan,"
"Tidak ada kesempatan untuk orang tidak berguna seperti kalian. Seret mereka!"
"Tuan ampuni kami. Kami tahu kami tidak berguna. Tapi beri kesempatan untuk kami." teriak mereka masih terus memohon penganpunan. Berharap mereka tidak mati saat ini.
Seorang dari mereka berhasil lepas dan langsung bersimpuh di kaki Davin, memohon untuk belas kasihannya dan meminta di beri kesempatan lagi.
Davin tidak peduli. Wajahnya menggelap dan tatapannya begitu tajam.
"Bunuh mereka,"
Wajah para Dokter itu sudah pucat pasi. Sungguh malang nasib mereka karena harus mati di tempat ini. Mereka menghela nafas. Jika nasibnya harus seperti ini, apa boleh buat. Mereka akan pasrah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung