
"Dira….Dira….dengar papa sayang!" Teriak Paleo masih di sambungan telepon.
Namun Nadira tidak menjawab, karena saat ini Nadira sudah berada di mobil lain.
"Sial!" Umpat Paleo tahu Nadira tidak lagi berada di sana. "Siapa mereka sebenarnya? Aku harus menghubungi Nile untuk memintanya mencari dan menemukan Nadira,"
Paleo menghubungi Nile, namun Nile yang sibuk dengan perusahaannya tidak peduli dengan ponselnya tang sedari berdering. Saat perusahaan pusatnya sedang kacau. Ada yang coba bermain-main dengannya. Nile dan.asisten sedang berusaha untuk mempertahankan perusahaannya agar tidak bangkrut. Kesibukannya itu membuat nya tidak peduli dengan yang lain. Menurutnya hal terpenting saat ini menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.
"Sial! Dimana dia ini? Kenapa tidak mengangkat panggilan ku?"
Paleo beralih menghubungi Taksa, mengatakan aoa tang sedang terjadi dengan Nadira. Taksa tentu saja terkejut mendengar itu. Apalagi Paleo juga mengatakan jika Nile tidak bisa di hubungi.
Taksa pun bertanya pada sistem Nile tentang apa yang terjadi. Dan saat tahu.ada hal buruk dengan perusahaan anak nya, Taksa tidak menyalahkan karena apa yang di lakukan Nile hal yang benar. Perusahaan harus selamat dari kebangkrutan.
"Asiten Nile bilang perusahaan pusat sedang mendapatkan masalah. Ada yang mencoba membuat perusahaannya bangkrut,"
"Apa mereka menemukan siapa pelakunya?"
"Belum. Tapi entah kenapa aku merasa semuanya saling terkait. Sebelumnya perusahaan cabang Nile bangkrut dan setelah itu markas ku di serang hingga hancur. Kini Nadira di culik, dan Nile sibuk karena perusahaannya diambang kehancuran," jelas Taksa. Paleo diam, seolah membenarkan ucapan Taksa.
"Lalu bagaimana? Aku harus menyelamatkan putri ku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengannya."
"Kita harus datang kesana dan menyelidiki,"
"Baiklah, sekarang juga aku akan berangkat. Lalu bagaimana dengan mu?"
"Aku juga akan berangkat sekarang. Aku akan membantu putra ku untu mengatasi masalah perusahaan. Lagian disini tidak ada yang bisa ku kerjakan. Aku susah bangkrut total.
"Baiklah. Kita ketemu disana,"
.
.
.
Di tempat lain, di dalam mobil. Nadira terus memberintak mencoba melepas tali yang mengikat tangan nya.
Em….
"Lepaskan aku sialan!" Nadira hanya bisa mengumpat dalam hati karena mulutnya di sumpal menggunakan kain.
"Pa, tolong Dira, pa." Nadira terus memohon, berharap papanya datang dan menyelangajna dirinya. Namun menyadari tempat mereka berbeda pasti akan terlambat mereka menyelamatkannya, dan sudah di pastikan dirinya tidak baik-baik saja.
Kita akan bawa kemana dia?" Tanya seorang anak buah Davin yang mengemudikan mobil.
"Ke tempat biasa sebelumnya kita tinggal,"
"Baiklah,"
__ADS_1
Nadira yang mendengar pembicaraan mereka bertanya-tanya kemana mereka akan membawanya. Nadira mengakui saat ini sungguh sangat ketakutan. Nadira berharap mereka tidak melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
Cukup memakan waktu yang lama, mobil hitam itu kini sampai di sebuah rumah kecil yang sudah lama tik berpenghuni.
Ckleek..
Pintu mobil di buka dan meminta Nadira keluar dari dalam mobil.
"Keluar!" bentaknya tidak sabar.
Nadira menggeleng dan semakin duduk di sudut. Tidak ingin keluar sedikitpun.
Mata pria itu melotot tajam, dan itu membuat Nadira gemetar. Melihat Nadira tidak ingin keluar dari dalam mobil, kesabarannya habis. Lagi-lagi pria itu membentaknya.
"Cepat keluar!"
Nadira menggeleng lagi.
Kesal karena Nadira tidak menurut. Pria itu menarik paksa kaki Rerena, membuat Rerena meronta. Namun tenaga tak sebesar pria itu, akhirnya dia kalah.
Pria itu mengangkat tubuh Rerena dan membawanya masuk. Mengunci rapat-rapat dari dalam. Pria lain yang lebih dulu masuk sudah membereskan semuanya agar tempat itu tidak kotor, agar lebih nyaman mereka menghabiskan waktu dengan gadis tangkapan nya.
Bugh….
Tubuh Nadira di lempar di atas ranjang. Dengan ketakutan Nadira mundur, wajahnya pucat keringat membasahi keningnya. Entah kenapa perasaannya semakin tidak enak. Bayang-bayang menjijikkan terlintas di otaknya. Takut dia pria itu menyentuh tubuhnya yang berharga.
"Kau pergilah keluar sebentar. Beli air minum dan makanan. Aku tidak yakin setelah ini kita bisa keluar."
"Ya kau benar. Membayangkan betapa menggairahkan wanita ini pasti akan susah untuk berhenti."
Nadira yang mendengar mengelengkan kepala. Tahu arah pembicaraan mereka.
"Tidak! Jangan lakukan itu."
Walaupun kenyataannya Nadira sering bermain dengan pria, tapi dia tidak ingin bermain dengan pria asal seperti mereka. Dia akan melakukan dengan pria yang jelas asal usulnya. Walaupun Nadira akui wajah mereka memang cukup tampan untuk seorang penculik.
Seorang dari mereka keluar untuk mencari.kebutuhan mereka. Sedangkan seorang yang bersama dengan Nadira mendekati, mencontohkan wajahnya di depan Nadira yang ketakutan.
"Hai cantik. Ku harap kau bisa bekerja sama dengan kami."
Nadira menggeleng lagi. "Jangan menyentuh ku. Jika kalian berani akan ku pastikan ku bunuh kalian," ucapnya dalam hati.
"Pria itu yang mendapatkan gelengan tersenyum menyeringai. "Aku bukan orang yang sabar. Asal kau bekerja sama dengan baik, aku tidak akan menyiksa mu. Senangkan kami hingga puas."
"Tidak, sampai mati pun aku tidak akan mau di sentuh oleh kalian badjingan menjijikkan," masih dengan umpatan dalam hati.
"Seperti nya kau tidak ingin bekerja sama dengan baik ya,"
Srak…
__ADS_1
Pria itu menjambak rambut Nadira dan membuatnya mendongak, saling tatap wajah keduanya.
"Kau benar-benar wanita yang keras kepala,"
Pria itu membuang sumaplan kain di mulut Nadira dan setelah nya langsung menyerobot bibir dan menciumnya dengan rakus.
Emm…..
Nadira ingin menolak, namun pria itu tidak membiarkan Nadira menolak ciumannya. Dengan kasar, pria itu menjelajahi bibir dan rongga mulut dengan lidahnya.
Nampak bersemangat karena akhirnya hari ini dapat merasakan wanita berkelas seperti Nadira.
Sraaakkk….
Pria itu meroebk baju Nadira yang kurang bahan dan membuangnya asal.
"Lepaskan aku badjingan!"
"Melepaskan mu? Enak saja. Kami belum merasakan tubuh mu ******." Pria itu menatap tubuh bagian atas Nadira yang sangat menggoda, apalagi dua buah da-da yang terpampang jelas besar dan menggiurkan.
"Umm…ternyata tubuh mu sangat seksih, apalagi ini," sambung pria itu dan mere-mas dada Nadira.
Argh….
Mendengar Nadira mende-sah saat tangannya mere-masanya, senyum menyeringai muncul di bibirnya.
Pria itu pun melanjutkan aksinya, ingin mendengar suara desa-han Nadira kembali yang membuatnya bergairah.
Tangan pria itu kembali mere-mas da-da besarnya, namun tidak kasar, karana ingin Nadira menikmati permainannya. Mempermainkan wanita itu agar tersulit naf-su bira-hi.
Dan benar saja, saat pria itu mempermainkan aset dua kembarnya, lagi-lagi Nadira mende-sah. Dia yang memang gampang bernaf-su membuat gairahnya cepat datang.
Ah…..
"Apa nikmat baby?"
Wajah Nadira memerah saat pria itu sama sekali tidak kasar dengannya. Malah gilanya, dia ingin lebih. Ingin pria itu mencum-bu tubuhnya.
Melihat tawanan wanitanya menikmati permainnya. Pria itu mendorong tubuh Nadira, terkurap .
"Menurutlah, aku akan membuat mu puas." Bisik pria itu di telinga Nadira.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1