Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Sadar


__ADS_3

"Dokter....Dokter!" Teriak Davin membuat para Dokter langsung lari terbirit-birit menuju ruangan Rerena. Takut terjadi hal buruk dengan pasiennya dan mengakibatkan kepala mereka bolong akibat tembakan senjata dari Tuan kejamnya.


Beberapa Dokter langsung menghampiri dan memeriksa keadaan Rerena. 


Davin begitu gelisah. Dia berharap Rerena segera sadar dan sembuh. Dan tak lama setelah pemeriksaan yang dilakukan para Dokter itu, semuanya merasa lega. Ternyata nonanya tidak terjadi apa-apa. 


Davin yang melihat para Dokter itu selesai langsung berhampiri, mencerca banyak pertanyaan.


"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu dengannya? Jika terjadi sesuatu dengannya maka kalian akan menanggung akibatnya."


Pertanyaan yang membuat mereka bingung menjawabnya dan berakhir dengan ancaman yang membuat  mereka ketakutan. Tapi saat tahu nona nya tidak dalam bahaya, mereka menjawab tanpa ada rasa takut akan kehilangan nyawa mereka.


"Nona baik-baik saja, dan Keadaannya stabil."


"Lalu kenapa dia tidak bangun. Aku tadi melihat jarinya bergerak."


"Oh benarkah? Jika itu yang terjadi mungkin nona beberapa hari lagi akan sadar. Tapi untuk kepastiannya, kami tidak tahu."


Mendengar penjelasan Dokter itu bahwa tak lama lagi Rerena sadar. Davin menguras senyum kecil, senyum yang tidak dapat di lihat mereka semua. 


Davin berjalan mendekati Rerena dan menggenggam tangannya. 


"Buka mata mu. Aku ingin melihat mu tersenyum," 


Namun siapa sangka apa yang di katakan Davin mendapatkan respon baik dari Rerena dan membuatnya senang. Davin sampai menunjukkan respon itu pada beberapa Dokter yang ada disana. Dan semua yang membuat tak kalah bagaimana,  bukan karena Rerena akan cepat siuman melainkan karena nyawa mereka akan selamat dan mendapatkan bonus besar dari tuannya itu.


.


.


Malam hari, Davin ingin menemani Rerena. Davin berencana malam ini akan tidur di samping Rerena, dia invin secepatnya Rerena membuka dan melihatnya. 


Davin naik di atas ranjang. Memiringkan tubuhnya, bertumpu dengan satu tangan. Menatap wajah Rerena yang pucat. Tangan nya terulur mengusap lembut pipi Rerena.


"Sayang, kau tahu aku sangat merindukan mu. Mungkin saat kau bangun, kau pasti bertanya-tanya siapa aku ini. Dan saat itulah aku akan mengatakan bahwa aku adalah penggemar setia mu. Mungkin perasaan ini sungguh konyol, tapi percayalah aku sangat mencintai mu dan tak akan meninggalkan mu." Davin mengecup kening Rerena cukup dalam.


"Selamat malam," Davin merebahkan tubuhnya di samping Rerena dan tidur.


Saat tengah malam, mata Rerena perlahan terbuka. Pertama pandangannya terasa kabur, mungkin karena terlalu lama tidak sadarkan diri. Rerena mengerjap-ngerjapkan matanya dan terlihat jelas langit-langit kamar yang asing baginya. 


"Dimana aku?" Batinnya bingung.


Namun Rerena mendengar sesuatu. Kepalanya menoleh, terkejut saat melihat seseorang tidur disampingnya. Sebenarnya ada di mana dirinya? Kenapa bisa ada seseorang yang tidur disampingnya. 


Rerena tidak mengenal karena wajah pria itu mengadakan berlawanan. 


"Air…."


"Air…."


Seperti mendengar seuatu, Davin mengerjakan mata.


"Air…."


Memastikan telinganya mendengar sesuatu, dia menoleh. Menatap Rerena yang juga menatapnya. Davin terkejut dan langsung duduk.

__ADS_1


"Kamu sadar?" Davin sungguh tidak menyangka Rerena akan sadar seceoat ini.


"Air…"


Lagi-lagi Rerena meminta Air karena dia sangat haus. Davin yang mendengar langsung berteriak keras kepada anak buahnya. Davin yakin, anak buahnya berjaga di depan pintu kamar rawat Rerena.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Ambilkan air. Cepat!"


"Air? Untuk apa tuan,"


Davin yang mendengar menatap tajam. "Jika kau bertanya lagi, aku akan membunuh mu!" Tatapan Davin sudah seperti belati, membuat anak buah yang bertanya itu sadar jika dirinya salah. 


"Maafkan saya tuan," bawahan itu langsung berlari dengan tergesa-gesa dan mengambil air di dapur. 


Dengan nafas terengah-engah dia memberikan air itu kepada tuannya.


"Ini tuan," Dengan tangan gemetar dia menyerahkannya. 


"Jika kau tidak berguna lebih baik kau mati saja,"


"Ampun tuan, ampuni saya," mohinnya tidak ingin mati. Mulut nya terlalu ceroboh membuat tuannya marah. 


Rerena hanya menatap saja tanpa berkata. Tapi dirinya cukup tersentak dengan bentakan dan ancaman itu. 


Davin menatap Rerena,  bingung bagaimana cara memberikannya minum pada Rerena yang tubuhnya banyak terdapat selang.


Rerena sungguh tidak tahan. Ia sungguh haus, tapi pria di depannya malah diam tidak memberikan air minum.


"Air…."


"Tuan, angkat kepala nona. Itu tidak akan membuat nona terluka,"


Davin yang mendengar anak buahnya menyela langsung menatap tajam.


"Pergi kau!"


Dengan rasa takut akhirnya anak buahnya itu pergi dari hadapan Davin. Dan dengan usul anak buahnya, Davin pun perlahan mengangkat kepala Rerena dengan sangat hati-hati, takkt selang do tubuh Rerena lepas, dan membuatnya dalam bahaya lagi. 


"Pelan-pelan," 


Rerena meneguk air minum itu sedikit demi sedikit.


"Sudah,"


Davin merebahkan kepala Rerena dengan pelan dan meletakkan gelas di meja nakas.


"Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa mu,"


Davin turun dan memberi perintah anak buahnya untuk memanggil Dokter. Dan dengan cepat, Dokter datang dengan mata masih mengantuk.


"Jika kalian memeriksanya dengan mata seperti itu, aku tidak akan segan untuk membuat kalian tidur selamanya,"


Mendengar itu dalam sekejap, mata mereka langsung terbuka lebar. Dan semua itu di saksikan Rerena.  

__ADS_1


"Siapa pria ini? Kenapa semua Dokter ini seperti sangat ketakutan dengan pria ini? Apakah pria ini seorang penjahat?"


"Cepat periksa!"


"Ba…baik tuan," Dokter itu memeriksa dengan wajah pucat. Bisa Rerena lihat Dokter itu sungguh tertekan.


Dan setelah selesai, Dokter mengatakan kondisi nona sudah sangat baik, tinggal pemulihan saja. Hanya saja ada sesuatu yang aneh dengan anggota tubuh nonanya itu. Mereka memastikan agar tidak salah dengan pemeriksaan mereka. Namun kenyataannya tetap seperti itu. Mereka saling pandang, bingung untuk mengatakan kepada Tuan mereka. Apakah jika mereka mengatakan akan langsung di eksekusi? Tidak, mereka tidak ingin mati.


Davin yang melihat wajah gusar mereka, memicingkan mata. 


"Ada dengan wajah kalian?"


Brug


Mereka bersimpuh di hadapan Davin membuat Davin dan yang lainnya bingung dengan reaksi mereka.


"Tuan ampuni kami. Jangan bunuh kami. Kami masih memiliki istri dan anak yang harus kami hidup dan jaga. Ampuni kami tuan, " mohon mereka dengan sangat ketakutan. 


"Apa kalian melalukan suatu kesalahan?" Selidik Davin masih dengan mata memicing.


Mereka tidak melalukan kesalahan, hanya saja racun itu membuatnya mendapatkan masalah.


"Kenapa kalian diam? Apa kalian benar-benar melakukan kesalahan?"


"Tidak tuan. Hanya saja___"


"Cepat katakan! Aku tidak memiliki banyak waktu mendengar ocehan kalian," 


Seorang Dokter yang mewakili mereka berbicara menghembuskan nafas dengan dalam. Mengambil banyak-banyak oksigen karena setelah ini belum tentu mereka bisa bernafas. 


"Nona seperti nya mengalami kelumpuhan karena racun itu sudah menyerang syaraf kakinya, tuan," 


Setelah berkata seperti itu, Dokter tertunduk. Sudah siap dengan nasib mereka malam ini. 


Hening…


Tidak ada yang bersuara. Bahkan Rerena dan Davin juga hening, mereka seakan salah mendengar kenyataan itu. 


Tiba-tiba wajah Davin menggelap, tatapannya begitu sangat tajam.


"Bawa mereka keluar!"


Davin menahan amarahnya untuk tidak membunuh beberapa Dokter itu di depan Rerena. Dia tidak ingin Rerena ketakutan melihat kekejamannya.


Semua Dokter yang mendengar tubuh mereka gemetar, ketakutan.


"Tuan, ampuni kami tuan,"


Mereka terus memohon dengan tubuh di seret oleh beberapa anak buah Davin. Membawanya ke suatu tempat. Setelah kepergian para Dokter yang menurutnya tidak berguna, Davin menghela nafasnya dengan berat. Dan menghampiri Rerena yang terus menatapnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung 


__ADS_2