
"Sebenarnya siapa yang melakukan?" gumam mereka masih terus menyelidik dan mengotak-atik komputer mereka, mencari siapa pelakunya.
Kesibukan di perusahaan Alvarendra tidak berlangsung singkat, cukup lama anak buah Davin mempermainkannya, hingga membuatnya lupa akan masalah yang dialami Nile.
Taksa yang mengetahui di permainan oleh badjingan tak di kenal benar-benar marah, bahkan anak buahnya yang ahli dalam.bidah IT tidak dapat menemukan siapa pelakunya. Dan membuatnya yakin bahwa orang tersebut pastinya bukan orang biasa.
"Siapa sebenarnya orang yang ingin mempermainkan ku?" Geram Taksa saat mendapatkan informasi dari Bagas bahwa mereka tidak bisa melacak orang yang meretas.
"Saya juga tidak tahu tuan, tapi sepertinya orang itu bukanlah orang sembarangan," jawab Bagas membuat Taksa berpikir keras. Akhir-akhir ini ia tidak pernah menyinggung siapa pun, tapi kenapa ada orang yang berani mengusiknya.
"Ya, kamu benar. Aku juga merasa bahwa orang yang melakukannya pastilah orang kuat. Tapi siapa?"
Keduanya benar-benar di pusingkan oleh Ergo DKK, bahkan saat anak buah Taksa lengah, mereka kembali menyerang dan membuat mereka pusing tujuh keliling karena Ergo mengobrak-abrik data dan mencurinya.
"Hahaha....ini sungguh menyenangkan," tawa Ergo tertawa keras karena berhasil mempermainkan mereka. Bahkan tidak hanya di perusahaan Alvarendra pusat yang di obrak-abrik, data mafia dan bisnis mafianya di bobok oleh Ergo membuat Bagas dan Taksa semakin pusing saat anak buahnya di markas melaporkan apa yang terjadi.
Brak....
"Akan ku bunuh jika aku menemukannya!" marahnya dengan tatapan tajam, wajah memerah dan rahang mengeras. Ia tidak menyangka jika markasnya juga do bobol oleh seseorang dan ia yakin pasti orang yang sama.
"Aku tidak mau tahu temukan badjingan itu sekarang juga," perintahnya dengan suara tinggi membuat Bagas mengangguk.
Bagas tahu tuannya sedang dalam mood tidak baik, tapi apa yang bisa ia lakukan, semua anak buahnya sudah berusaha untuk menemukan si pelaku, tapi tetap saja mereka beluk menemukan pelakunya.
.
.
Si tempat Davin, ia tersenyum menyeringai, puas dengan pekerjaan Ergo yang berhasil memporak-porandakan data perusahaan Alvarendra pusat dan Markas mafia Taksa.
"Bagus," senangnya puas.
Davin membaca data mafia hasil curian Ergo, tentang pekerjaan yang di lakukan oleh Mafia Taksa yang bernama RED BLOOD. Satu persatu ia baca, dan seringainya muncul. Ternyata selama ini kekayaan yang dihasilkan Alvarendra di dapat dari pekerjaan ilegal. Perdagangan manusia dan penjualan organ tubuh serta obat terlarang.
"Hm...jadi ini pekerjaan mereka. Pantas saja," gumamnya dan menyerahkan pada Varo.
Varo membacanya satu persatu apa yang di lakukan Mafia RED BLOOD dan kemana mereka memperjualkan. Ia menatap tuannya dan berkata. "Apa kita perlu mengurusnya tuan?"
"Tidak perlu, biarkan saja," jawabnya membuat Varo mengerutkan kening, bingung. Davin yang melihat berkata kembali, "Buat saja mereka pusing. Aku tidak tertarik dengan pekerjaan mereka. Di dunia mafia sudah hal wajar seperti itu, dan ku yakin orang yang di perdagangan pastinya bukanlah orang baik-baik, jadi biarkan saja,"
__ADS_1
"Bagaimana jika di antara mereka adalah orang baik tuan, bahkan bisa jadi anak-anak?"
Davin yang mendengar diam, berpikir. Bisa jadi. Jika itu benar, maka ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Selidiki,"
"Baik tuan," jawab Varo mengangguk.
.
.
Rerena yang kini bersama Haidar semakin nyaman dan seakan lupa dengan Nile serta kedua orang tuanya. Banyak perhatian dan kasih sayang yang di berikan Haidar, membuatnya semakin mencintai pria yang menjadi kekasihnya dan ingin cepat bersama membina rumah tangga berdua.
Namun hubungan mereka tidak hanya membuat orang lain kesal, tapi juga tidak di restu oleh ayah dari Haidar Tanson, karena menurutnya hubungan mereka tidak bisa di lanjutkan. Alasannya karena Tuan Tanson mengetahui jika putranya membawa istri dari Tuan muda keluarga Alvarendra dari informasi pelayannya.
"Kenapa anak itu membawa dan menyembunyikan istri dari Tuan muda Alvarendra? Apa dia tidak tahu akan konsekuensinya membawa wanita orang?" kesal Tuan Jhon Tanson pada putranya.
"Mungkin karena cinta, tuan muda tidak memikirkan konsekuensi nya tuan,"
"Cinta, cinta! Apa dengan cinta dapat menyelamatkan keluarga kita nantinya jika tuan muda Alvarendra marah?"
Asistennya tidak bisa berkata, karena dia sendiri tahu siapa ayah dari Nile Alvarendra.
"Apa kita harus menemuinya dan memperingatinya tuan?"
"Baik, tuan," Jawab Asisten Al, dan pergi.
.
.
Asiaten Al pergi langsung menuju tempat kediaman Haidar untuk menjemputnya, karena jika dirinya hanya menghubungi, pasti Haidar akan menolak.
Setelah sampai, Asisten Al turun dari mobil. Seorang pelayan yang mengenal Asisten Al langsung menghampiri dan menyambut.
"Tuan,"
"Apa Tuan Muda Haidar ada?"
"Ada Tuan, mari,"
__ADS_1
Asisten Al mengangguk dan mengikuti pelayan itu. Setelah masuk dalam Mansion, pelayan itu mempersilahkan Asisten Al duduk, sedangkan dirinya akan memanggil tuannya.
"Silahkan anda tunggu disini tuan, saya akan memanggil tuan muda,"
Asisten Al mengangguk. Dan tak berselang lama, Haidar datang bersama seorang wanita yang berjalan di sampingnya, saling menggenggam tangan. Asisten yang melihat tahu, itu pasti Rerena, istrinya dari Nile Alvarendra.
"Malam, tuan," sapa Asisten Al dan Haidar mengangguk.
"Duduklah," Haidar duduk dan Rerena setia di sampingnya.
Asisten Al menatap Rerena dengan pandangan tidak suka. Dan Haidar yang mengetahui menatap tajam.
"Ehem... Jika boleh saya tahu, apa yang membuat Asisten Al datang kemari?"
Al, beralih menatap Haidar, dan menjawab, "Saya di minta Tuan besar menjemput anda tuan,"
Haidar yang mendengar mengerutkan kening. Ada apa ayahnya memintanya datang menemui? Apa ada masalah? Atau ayahnya tahu tentang Rerena yang bersamanya?
Haidar menatap Rerena sejenak, dan setelah menjawab pertanyaan Al. "Kamu pulanglah, aku tidak ingin bertemu dengan nya," jawabnya menolak.
Al yang mendengar tersenyum kecil, sudah ia duga tuan mudanya akan menolak.
"Jika anda menolak, maka saya hanya bisa memaksa," jawabnya membuat Haidar menatap tajam. "Masuk, dan bawa tuan muda secara paksa," perintahnya pada beberapa orang yang di bawanya untuk membawa paksa Haidar.
"Hei, apa yang kau lakukan?" bingung Haidar melihat beberapa pria bertubuh kekar berjalan kearahnya.
"Bawa dia," Perintah Al membuat Reren dan Haidar terkejut. Bagaimana bisa dirinya Di perlakukan seperti ini, seolah dirinya adalah seorang penjahat.
"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!"
Namun beberapa pria itu tidak menggubris, mereka membawa Haidar dengan paksa membuat Rerena bingung untuk melakukan apa.
Al yang melihat Tuan mudanya telah di bawa pergi, Al menatap Rerena yang diam menatap ke arah pintu.
"Nona," panggil Al dan Rerena langsung menoleh, menatap Al. "Lebih baik anda tinggalkan tuan muda. Bukankah anda adalah wanita bersuami? Tidak baik seorang wanita bersuami tinggal bersama dengan pria yang tidak memiliki hubungan. Mungkin bagi anda itu tidak masalah, tapi bagi keluarga Tonson itu adalah hal yang memalukan karena ini menyangkut tentang reputasi keluarga," jelas Al dan.langsung pergi meninggalkan Rerena yang diam.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung