
"Mau kemana?"
"Aku ingin pergi sebenar. Ada seuatu yang ingin ku beli,"
Bella pergi tanpa membuat Haidar curiga sedikitpun. Bella menunggu taksi di depan. Dan setelah taksi itu datang, ia pun pergi menuju rumah sakit di mana Rerena berada.
.
.
Sampai di depan ruang sakit, Bella turun dengan menggunakan kacamata dan master. Bella menatap kanan kiri apakah ada CCTV atau tidak. Dia berjaga-jaga, takit selagi aksinya berhasil Davin melohqt dan mengetahui bahwa itu dirinya. Senyum mengambang, dan benar saja disana ada Pantauan CCTV.
Bella berjalan santai, dan saat di lihat tidak ada pantauan CCTV, ia menyelinap dan menghilang mencari seseorang yang di hubunginya sejak tadi.
"Mana barangnya,"
"Ini nona,"
Wanita muda itu menyerahkan sebuah jas putih, jas yang biasa di kenakan oleh seorang Dokter. Bella memakianya san juga memakai tanda pengenal, dan memberikan bayaran untuk wanita tersebut.
"Ini bayaran mu. Pergilah. Jangan terlihat mencurigakan."
"Baik, Nona,"
Setelah wanita itu pergi, Bella berjalan begitu santai masuk kedalam.runah sakit Tersebut, masih dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Sekurity yang melihat menghormatinya, berpikir bahwa Bella adalah Dokter sungguhan.
Bella berjalan begitu santai masuk tanpa ada yang curiga. Saat melihat ruangan milik Dokter yang sudah menjadi pionnya, Bella masuk karena tahu Dokter yang memiliki ruang itu tidak bertugas malam ini.
Bella begitu beruntung. Senyuman seringai muncul di bibirnya. Ia mengeluarkan sesuatu dalam tas nya dan tertawa, merasa yakin rencananya akan berjalan lancar dan Davin tidak akan mengetahui jika itu dirinya.
Semua sudah di perkirakan. Bella tahu Davin akan menyelidiki tentang apa yang akan di lakukan nya jika Rerena terjadi sesuatu. Maka dari itu, ia memanipulasi dengan baik agar tidak ada yang curiga dengan nya karena lawannya adalah Davin yang pintar. Tapi tanpa dia ketahui, apa yang di lakukan nya adalah awal bumerang kehancurannya karena berani melawan Davin Menzies
"Maaf Vin semuanya tidak seperti yang kau inginkan. Terpaksa aku melakukan ini. Aku mencintai Haidar, tapi wanita mu itu selalu menganggu membuat Haidar susah untuk ku miliki. Jadi terpaksa aku melakukan."
Bella siap dengan aksinya. Melepas kacamatanya namun tidak maskernya agar tidak ada yang curiga sedikitpun dengan nya. Dia memanggil seseorang yang sudah di siapkan, suster gadungan yang siap beraksi bersamanya.
Ceklek
__ADS_1
"Nona,"
"Apa kamu sudah siap?"
"Sudah, Nona."
"Baiklah, ayo."
Suster itu mengangguk dan mereka pun pergi ke ruangan dimana Rerena di rawat.
Bella mengetahui dimana Rerena di rawat dari Haidar, karena sebelumnya Haidar mengatakan dan menceritakan apa yang terjadi dengan Rerena.
Bella berjalan dengan pasti tanpa ragu. Tidak ada yang curiga dengan nya dan suster gadungan itu. Saat mereka sampai di ruangan Rerena di rawat, mereka di hentikan oleh anak buah Davin.
"Periksa mereka,"
Tanpa berani menolak, mereka pun di periksa. Takut ada yang membawa senjata dan membahayakan Nonanya.
"Bagaimana?"
"Aman bos,"
Setelah berhasil masuk, Bella melirik kesana kemari. Ia yakin ada CCTV yang memantaunya, karena tidak mungkin Davin melepaskan Rerena tanpa pantauannya.
Bella berdiri di depan Rerena, menatap wanita yang terkulai tak sadarkan diri itu. Senyum menyeringai di balik masker. Bella meminta Suster gadungan itu melakukan tugasnya dengan baik, agar tidak ada yang mencurigainya. Memeriksanya layaknya seorang Suster asli dan begitupun dengan Bella melakukan tugasnya dengan baik.
Bella mengambil sebuah jarum dan sebuah botol kecil yang sudah di siapkan. Dengan menggunakan sarung tangan putih, ia menyedot cairan dalam botol kecil itu dan menyuntikan nya ke dalam selang infus.
Serasa sudah berhasil, Bella keluar. Dirinya mengangguk saat berpapasan dengan anak buah Davin. Anak buah Davin tidak curiga sedikit pun karena mengira memang itu Dokter sungguhan. Namun tanpa mereka ketahui, itu awal buruk dari wanita bernama Rerena, karena Rerena di berikan suntikan racun mematikan namun tidak ketara, Karena racun itu tidak akan menunjukkan efeknya, tapi perlahan membuat organ dalam itu rusak dan saraf tubuh mati.
Perasaan Davin yang berada di lain negara sungguh tidak nyaman. Entah kenapa ia begitu gelisah, membuat Varo yang melihat pusing di buat nya.
"Tuan, nona dalam pantauan kita. Tidak akan ada yang menyakitinya,"
"Tapi entah kenapa perasaan ku tidak enak. Aku merasa ada seuatu yang terjadi dengannya."
Varo menghela nafas. Dia tidak bisa membujuk tuannya untuk tenang dan menyelesaikan urusannya dengan cepat. Dan akhirnya hanya bisa meminta anak buahnya untuk meretas CCTV perusahaan untuk memperlihatkan Rerena yang di rawat disana.
Anak buah Varo pun datang dengan membawa laptop di tangannya. Menghadap Davin yang memasang wajah dingin.
__ADS_1
Glek
"Ada apa dengan Bos? Kenapa wajahnya serem seperti itu?" Batin Rio beralih ke Varo. Varo mengerminkan mata, memintanya jangan banyak tanya karena Tuan dalam mode singanya.
"Retas CCTV di rumah sakit Nona Rerena berada. Tuan ingin melihatnya," perintah Varo dan Rio langsung membuka laptopnya. Dengan lincah dan gedit jari-jari itu bergerak mengakses CCTV rumah sakit.
Setelah berhasil, Rio memperlihatkan ke depan Bosnya. Dan Davin yang melihat tangannya tekepal saat tubuh wanitanya terkulai tak berdaya dengan alat-alat medis tang menempel di tubuhnya.
Rahangnya mengeras. Davin tidak akan melepaskan pelaku itu. Dia akan mencincang dan membunuhnya serta memberikannya pada Siswa buaya kesayangan Varo.
Namun saat mata itu tak teralih dari rekaman tersebut, dia melihat seorang Dokter wanita dan satu Suster datang untuk melihatnya.
Semuanya nampak normal dan tidak mencurigakan. Namun mata jeli Davin seolah menangkap sesuatu yang aneh. Dia melihat Dokter wanita seperti mencurigakan, apalagi saat melihat sekali gerakan yang seolah Dokter itu mencari sesuatu.
"Apa kalian melihat sesuatu yang aneh dengan Dokter itu?"
Varo dan Rio memperhatikan dengan teliti. Mata mereka menyipit mencari keanehan yang di katakan Bosnya.
"Tidak ada,"
Pletak...
"Dasar bodoh," Davin memukul kepala mereka bergantian membuat Varo dan Rio mengusap dengan mulut mengerucut.
"Perhatikan baik-baik. Aku merasa Dokter sungguh aneh. Dari gerakan dia masuk kedalam ruangan itu nampak biasa. Tapi lihatlah pas ini," Davin meminta Rio untuk memutar detik keanehan dalam rekaman itu. "Seolah dia mencari sesuatu,"
Varo dan Rio memperhatikan dan benar saja, sepertinya Dokter itu sedang mencari sesuatu. Mungkin jika orang itu tidak jeli pasti tidak akan menyadari.
"Coba kau putar dari CCTV halaman depan,"
Rio pun langsung mencari Rekaman CCTV yang menampilkan halaman depan rumah sakit. Di lihatnya pada waktu yang tak jauh dari rekaman CCTV dimana Dokter mencurigakan itu beraksi. Mereka melihat sebuah taksi berhenti dan turun seorang wanita memakai masker dan kacamata, setelah itu masuk halaman rumah sakit. Namun sebelum wanita itu masuk kedalam, wanita berjalan kearah lain yang tidak terkena pantauan CCTV.
Davin, Varo dan Rio yang melihat saling pandang, mereka semakin curiga dengan wanita tersebut. Apalagi saat melihat wanita itu muncul kembali dengan pakaian yang berbeda, menggunakan jas putih kebesaran seorang Dokter. Dan apa yang mereka lihat semakin membuat kecurigaannya semakin benar, bahwa ada keanehan dengan wanita tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung