Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Apakah Aku Harus Menyerah


__ADS_3

"Sakit Niel, sakit,"


Davin ingin sekali mengusap kepala itu dengan lembut, memberikan ketenangan untuk wanita nya. Tidak tega melihat Rerena menangis hanya karena seorang pria bernama Haidar. Karena menurutnya Haidar tidak pantas untuk di tangisi.


"Tumpahkan semua kesedihan mu, aku siap menjadi tempat bersandar mu,"


.


.


Dan tanpa ragu lagi, Davin mengusap kepala Rerena dengan lembut. Rerena yang merasakan menjadi nyaman, ia memeluk pinggang itu dengan erat. Aroma wangi yang keluar dari tubuh Davin membuatnya tenang, dan entah kenapa ia menyukainya.


Cukup lama Rerena berada dalam pelukan Davin, Rerena melepas, mengusap sisa air matanya.


"Terimakasih, telah memberikan tempat untuk ku bersadar,"


Davin mengangguk. "Jika nona membutuhkan saya, saya siap menjadi sandaran anda,"


Rerena menatap Davin, setelah itu membuang muka. Tidak pantas dirinya melakukan itu pada pelayannya.


:Kamu keluarlah, aku ingin menenangkan diri," Rerena menuju ranjang dan duduk di tepi, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Davin yang melihat sebenarnya tidak tega meninggalkan Rerena sendirian di kamar itu, tapi dirinya yang masih dalam penyamaran membuatnya tidak bisa menemaninya terlalu di kamar, takut ada pihak lain yang mengetahuinya.


"Saya permisi, nona,"


Tanpa ada jawaban Davin pun pergi, meninggalkan Rerena yang dengan kesedihannya.


.


.


Di tempat lain, Fin beraksi. Mulai membuat Perusahan HR Group kacau, ia menyabotase dan mencuri data-data serta merubah data perusahaan. Perlahan pasti, perusahannya sedikit demi sedikit di ambil alih oleh Nile.


Haidar belum menyadari hal itu, hingga beberapa bulan asisten Haidar melaporkan tentang tidak beresnya perusahaan.


Asisten Haidar menjelaskan semuanya, membuat Haidar benar-benar marah. Ia sudah menduga bahwa Nile akan melakukan itu.


Brak....

__ADS_1


Haidar melabrak Nile. Ia sangat marah akan apa yang di lakukan Nile pada perusahannnya.


"Apa ini?"


Nile bersedekap dada, dengan santai duduk di kursi kebesarannya. Menatap remeh Haidar.


"Memang apa yang ku lakukan?"


"Beraninya kau mencoba mengambil alih perusahan ku. Badjingan brengsek, sialan kau!"


"Oh, jika benar kenapa? Bukankah seharusnya kau tahu sejak awal kenapa aku membeli saham di perusahaanmu, tentu saja untuk menghancurkan mu. Sekarang ku beri dua pilihan, berikan perusahaan itu pada ku dengan suka rela, atau ku hancurkan perusahaan mu tanpa sisa,"


Haidar yang mendengar langsung marah, ia ingin membunuh Nile saat ini juga.


"Badjinga sialan, ku bunuh kau!"


Haidar menarik kerah kemeja Nile dan hendak menonjoknya. Namun sebelum itu di lakukan, dan mengancamnya di sertai dengan senyum seringainya.


"Jika kau memukul ku, ku pastikan kau tidak akan melihat Rerena lagi," ancamnya dan Fin menunjukkan sebuah video Rerena sedang berbelanja sayur di depan mansion, tapi penjual sayur itu adalah anak buah Nile yang diperintahkan nya, yang kapan saja siap membunuh Rerena dengan pistolnya.


"Tidak hanya penjual sayur yang akan membunuhnya, bahkan orang di sekitarnya pun siap untuk membunuhnya. Maka dari itu, jika kau melawan, ku pastikan pria itu membunuh Rerena saat itu juga. Dan tidak hanya Rerena, tapi wanita bernama Bella serta ibu mu juga akan ku bunuh,"


Haidar tidak ingin Rerena dan Bella mati, apalagi ibunya. Walaupun Rerena ada Davin, tapi tidak setiap saat Davin bersamanya dan itu sungguh membuatnya takut. Apalagi Bella yang tidak memiliki penjaga, membuat nya takut setengah mati kehilangan wanita yang masih di cintai nya.


"Sungguh laki-laki yang serakah," batin Nile yang mengetahui Haidar mencintai Rerena dan Bella.


"Sekarang katakan apa keputusan mu,"


Haidar menghela nafas, ia tidak menyangka akan mengalami hal sepert ini. Perusahan yang di bangun dengan susah payah kini hancur dan menjadi milik orang lain. Benar kata ayahnya, menyinggung Nile Alvarendra bukanlah hal yang baik.


"Aku akan menyerahkan perusahan itu pada mu. Tapi ku harap kau tidak menghancurkannya untuk saat ini, karena aku masih ingin melihat hasil jerih payah ku saat membangun perusahaan itu mendatang. Apakah perusahaan itu akan semakin besar atau malah sebaliknya, hancur tanpa sisa,"


"Baiklah, untuk saat ini silahkan tandatangi berkas ini dulu bahwa kamu telah menyerahkan perusahaan itu pada ku. Dan ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan. Aku akan menjadikan mu pemimpin di perusahaan ini, tapi dengan syarat,"


"Syarat? Apa Syarat nya," Haidar senang saat dirinya masih di izinkan menjadi pemimpin perusahaan, maka dari itu ia bertanya apa syaratnya, "Katakan,"


"Kau bawa Rerena pada ku. Jika kau menolak, selain kau tidak akan kembali ke perusahan mu, keluarga mu akan mati di tangan anak buah ku,"

__ADS_1


Haidar terkejut, tidak mungkin dirinya membawa Rerena pada Nile. Walaupun ia tergiur dengan janji yang di berikan Nile untuk tetap menjadi pemimpin perusahaan lagi, tidak mungkin dirinya mengorbankan Rerena demi kepentingannya. Tapi saat mendengar ancaman tentang orang tuanya yang bisa saja di bunuh oleh Nile dalam sekejap, Haidar bingung. Apakah menuruti perintah itu atau tidak dan hanya bisa melihat kematian kedua orang tuanya.


"Kalian sudah bercerai, buat apa kamu menginginkannya lagi?"


"Lakukan saya apa yang ku minta. Aku tidak suka di bantah. Besok kau harus membawa Rerana pada ku,"


Seolah tidak ingin ada penolakan, Nile melambaikan tangan, meminta Fin untuk membawa Haidar pergi.


"Silahkan tuan,"


Haidar pergi dari ruangan Nile. Ia bingung apa yang harus di lakukan. Mungkinkah mengorbankan Rerena demi keselamatan orang tuanya. Atau menolak perintah itu dan mendapati kematian orang tuanya.


Haidar bingung, dengan jalan gontai dia masuk kedalam mobil, menyandarkan kepala bingung dengan keputusan yang harus dia ambil.


"Apa yang harus ku lakukan,"


Haidar merasa frustasi, otaknya terasa mau meledak memikirkan apa yang inginkan Nile.


Ia kalah, benar-benar kalah. Selain tidak bisa mempertahankan perusahnnya kini harus siap kehilangan Rerena.


Haidar mengusap wajahnya kasar dan setelah itu pergi. Tujuannya adalah kediamannya, dan ia harap keputusannya ini benar, dengan memberikan Rerena kembali pada Nile akan membuat keluarganya aman.


"Semoga keputusan ku ini benar,"


Setelah sampai di mansion, Haidar langsung mencari keberadaan Rerena. Namun bukannya Rerena yang di dapati, melainkan Bella yang baru turun dari lantai atas.


Yah, sejak kedatangan Bella kini kamar yang semula di tempati Rerena sudah menjadi milik Bella. Sedangkan kamar milik Rerena berada di ruang tamu, sesuai pengaturan Bella. Dan Rerena yang tidak ingin berdebat, mengangguk saja, menurut tanpa protes sedikitpun.


"Sayang," Bella berlari dan menghambur ke pelukan Haidar. Dan tanpa di ketahui mereka Rerena yang baru keluar dari kamar langsung terkejut melihat pemandangan romantis itu.


"Apakah aku harus menyerah?" batinnya seperti tidak tahan melihat kedekatan mereka. Apalagi Bella selalu menempel pada pria yang kini masih berstatus kekasih nya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2