Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Ingin Memeluk Dan Mencium Mu


__ADS_3

"Sayang," Bella berlari dan menghambur ke pelukan Haidar. Dan tanpa di ketahui mereka Rerena yang baru keluar dari kamar langsung melihat pemandangan romantis itu.


Rerkejut, tentu saja tidak. Sudah hampir setiap hari dirnya melihat pandangan itu dan sudah menjadi makanan setiap hari harus memandang keromatisan mereka.


"Apakah aku harus menyerah?" batinnya seperti tidak tahan melihat kedekatan mereka. Apalagi Bella selalu menempel pada pria yang kini masih berstatus kekasih nya.


.


.


Rerena menghela nafas, dan berjalan melewati mereka. "Permisi,"


Haidar menatap Rerena, perasaannya campur aduk. Ia bingung apa yang harus di lakukan.


"Re,"


Namun Rerena tidak mengibris, ia menuju dapur untuk mengambil air minum.


Saat di dapur, Rerena menyandarkan tubuhnya di kulkas, menyentuh dadanya yang bergemuruh. Sakit, sakit lagi. Hampir setiap hari dirinya merasakan sakit hati itu. Mendongak agar air matanya tumpah. Apakah ia harus pergi dan mengalah. Tapi kemana dirinya harus pergi? Ia tidak memiliki tujuan.


Terdengar suara langkah mendekat, dengan cepat ia menghapus dan mengambil air dingin di dalam kulkas. Di lihatnya Haidar datang menghampiri dan berdiri di depannya, menggenggam tangan itu.


Rerena mendongak, menatap wajah pria yang di cintainya.


Tes.


Air matanya kembali menetes saat melihat wajah yang beberapa bulan ini menyakitinya.


"Maafkan aku,"


Haidar menunduk, tahu akan kesalahannya. Semenjak hadirnya Bella di rumahnya membuatnya banyak kehilangan waktu dan mengabaikan Rerena.


"Maaf untuk apa?" tanya Rerena dengan wajah dingin.


Haidar menatap Rerena, tidak biasanya wanitanya ini berkata dengan nada dingin seperti itu. Ia menatap mata Rerena, menyelami dan ternyata Rerena begitu marah dengannya, terlihat dari sorot matanya.


"Sayang, aku tahu aku salah. Aku melukai mu semenjak kedatangan Bella disini. Aku bingung dengan perasaan ku. Bukankah kamu tahu dia itu siapa ku dulu? Aku tidak bisa melupakan nya, walaupun aku berusaha untuk melupakan nya. Cinta yang terjalin nama membuat hati ku sulit melupakan nya. Aku, aku...."


"Cintai dia dan lupakan aku,"


"Aku tidak bisa, aku juga mencintai mu."

__ADS_1


"Tinggal dia kalau memang kamu mencintai ku,"


"Aku..." Haidar bingung. Selain tidak ingin kehilangan Rerena, ia juga tidak ingin kehilangan Bella. Sungguh egois bukan?


"Sepertinya aku tahu jawaban mu. Aku pergi dulu,"


Dengan wajah dingin tanpa adanya senyuman seperti biasanya, Rerena pergi meninggalkan Haidar yang terus menatapnya.


Saat sampai di dalam kamarnya, Rerena menyandarkan tubuhnya di pintu, menangis. Dadanya terasa sesak, ia memukul-muluk nya untuk menghilangkan sesak akibat rasa sakit yang di rasakan nya.


"Kamu jahat Haidar, kamu jahat,"


Rerena menangis sesegukan, sungguh hidupnya sangat menyedihkan dan menyakitkan. Sedangkan di luar pintu kamar Rerena, Haidar mendongak, menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia marah, marah pada dirinya sendiri karena lagi-lagi menyakiti orang yang di cintai nya.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku,"


Dari kejauhan, Bella mengepalkan tangan, marah. Selama tinggal bersama dengan Haidar, Haidar selalu mencoba menjauh walaupun ia tahu Haidar masih sangat mencintai nya.


"Ini karana wanita itu. Jika wanita itu pergi dari hidup Haidar, aku yakin Haidar akan menerima ku kembali,"


Bella masuk kedalam kamar, mondar-mandir. Menyingkirkan cara untuk menyingkirkan Rerena dari kehidupan Haidar. Tapi apa yang harus di lakukannya. Selain ada Davin yang selalu mengawasi dan menjaga Rerena, dirinya juga akan di bunuh jika berani membuat Rerena terluka.


"Aku harus memiliki cara untuk menyingkirkan wanita itu dari Haidar. Aku sudah muak melihatnya terus. Tapi apa yang harus ku lakukan? Davin terus mematai ku," Bella terus mondar-mandir memikirkan cara untuk menyingkirkan Rerena, saingan cintanya. "Bagaimana caranya agar Davin tidak mengetahuinya? Aku harus memiliki cara untuk mengelambuinya,"


Bella seakan lupa akan hal itu karena tertutup nafsunya untuk memiliki Haidar, hingga membuatnya lupa akan ancaman dan janjinya untuk tidak menyakiti Rerena.


.


.


Pagi hari, Rerena seperti biasa menyiapkan semua makanan untuk mereka. Sudah menjadi kebiasan semenjak kedatangan Bella di rumah itu yang menganggapnya sebagai pelayan. Dan Rerena yang tahu akan posisinya hanya bisa menurut selagi dirinya belum bisa keluar dari kediaman Haidar.


Kehidupan yang semula baik, kini hancur dan penuh kesedihan setelah datangnya Bella di hubungan mereka. Ingin Rerena mengeluh, tapi dengan siapa. Haidar sudah berubah tidak seperti biasanya lagi padanya. Yah, walaupun kata cinta selalu terucap di bibirnya, namun akhir-akhir ini membuatnya tidak percaya lagi akan cinta Haidar untuknya.


"Duduklah, kita sarapan bersama," pinta Haidar dengan nada lembut.


Bella yang mendengar penatap tidak senang saat Haidar memperlakukan Rerena dengan lembut di depannya. Sedangkan Rerena tidak peduli dengan tatapan itu, ia lapar ingin mengisi tenaga untuk menguatkan dirinya yang penuh dengan cobaan ini.


Bella yang melihat Rerena duduk mengepalkan tangan. Sungguh berani sekali pikirnya.


"Sayang,"

__ADS_1


Bella tidak senang akan hadirnya Rerena di meja makan bersama mereka. Namun Haidar menganggat tangan, tidak mendengar penolakan Bella, dan membuat Bella di kursi cemburu dan benci.


"Lihat saja, akan ku buat kau menyesal wanita murahan,"


Bella menganggap Rerena tidak tahu malu, sudah tahu dirinya masih di cintai Haidar, tapi tetap tidak pergi dari kediamannya.


"Dasar wanita ja-lang,"


Mereka sarapan tanpa ada yang bersuara. Tiba-tiba sebuah dering ponsel memecah keheningan mereka.


Tring....


Tring....


"Siapa?" tanya Haidar menatap Rerena.


Rerena mengambil dan melihat siapa yang menghubungi nya. "Daniel! Kenapa dia menghubungi ku?" Tidak seperti biasanya Davin pagi-pagi menghubunginya, pasti adahal yang penting."


"Daniel," jawab Rerena membuat Haidar cemburu. Kedekatan mereka berdua yang pernah di lihatnya membuatnya tidak senang, apalagi saat melihat Rerena begitu akrab dengan pelayan itu. Berbeda dengannya, Rerena seolah menjauh dari nya.


Sedangkan Bella yang mendengar nama Daniel tahu jika itu Davin yang menghubunginya.


"Ada apa Davin menghubunginya?" Rasa penasaran Bella sama pula dengan Haidar. Mereka ingin tahu apa yang membuat pria itu menghubungi Rerena.


"Angkat saja, aku ingin mendengar,"


Dengan ragu Rerena mengangkatnya di depan mereka.


"Hallo, ada apa Niel? Tumben menghubungi ku?"


Davin yang saat ini duduk di kamar mewahnya tersenyum melihat Rerena dari layar laptopnya. Rindu, sangat-sangat rindu dan ingin memeluk serta mencium nya.


Davin dapat melihat Rerena karana ia menyabotase CCTV rumah Haidar untuk bisa melihat apa yang di lakukan Rerena. Mungkin dengan cara ini, ia dapat memantau dan mengobati rasa rindunya kala dirinya tidak bersamanya.


"Aku merindukan mu sayang," batinnya mengucapkan itu, karena jujur ia sangat rindu dengan wanita nya. Tapi saat ini tidak bisa bertemu karana ada suatu urusan yang tidak bisa di tinggalkan, urusan pekerjaan, dan itu bisa memakan waktu sampai satu minggu.


Membayangkan dirinya akan pergi jauh dari wanitanya, membuat Davin sakit kepala. Walaupun hanya beberapa hari, tapi Davin tidak rela untuk meninggalkannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2