
Di sebuah ruangan, Bella duduk di pangkuan pria yang bekerja sama dengannya, mengelus wajah itu dengan satu jarinya.
"Katakan, apa wanita itu sudah mati setelah tubuhnya terdapat racun mematikan?"
"Sepertinya tidak. Wanita itu di bawa oleh anak buah Davin dan ku yakin dia selamat. Tapi tenang saja, wanita itu tidak akan sembuh total dalam waktu dekat, butuh waktu panjang untuk menghilangkan racun yang ku buat,"
"Aku ingin wanita mati secepat nya,"
"Eit, aku malah ingin wanita itu tidak cepat mati. Aku malah ingin membuatnya menjadi kelemahan Davin sialan itu. Apa kau mengerti,"
Bella mengangguk mengerti. Bella terpaksa bekerja sama dengan pria yang cukup tampan di depannya. Dia tidak ingin mati konyol di tangan Davin. Setidaknya ada harapan untuk hidup jika bersama dengan pria ini. Yah walaupun dirinya harus menjadi wanitanya, memuaskan hasrat pria itu sewaktu-waktu dia memintanya.
"Apa kau tahu dimana mereka sekarang?"
"Sebenarnya lagi anak buah ku akan menemukan dimana mereka bersembunyi,"
"Baguslah, aku tidak sabar untuk melihat mereka berdua mati mengenaskan."
"Aku akan melakukannya. Kau tenang saja. Mereka akan secepatnya mati di tangan ku. Tapi untuk saat ini ada yang lebih genting,"
"Apa?" Tanya Bella penasaran.
"Aku menginginkanmu. Layani aku dan puaskan aku,"
Wajah Bella langsung merona. Dan tanpa babibu lagi, Bella melepas seluruh pakaiannya sendiri di depan pria itu dan menggodanya layaknya seorang pelachur.
.
.
.
Di bandara, seorang wanita baya namun terlihat masih cantik, turun dari pesawat. Seorang di belakang menarik koper miliknya, sedangkan dirinya berjalan begitu santai dan anggun sambil memakai kaca mata hitam besarnya yang membuatnya semakin bertambah cantik layaknya anak gadis usia 15tahun. Wkwwkwk.
Varo yang sedari menunggu melihat nyonya besarnya datang langsung berlari menghampiri, menyambutnya.
"Nyonya,"
"Oh Varo ya. Kau terlihat semakin tampan, membuat ku sampai pangling,"
Varo terkekeh. "Nyonya pun sama, tetap awet muda dan cantik."
"Apa kau ingin menggodaku anak muda? Kau tidak takut dengan ku?"
Glek….
Varo langsung menelan ludah. Dia tahu siapa wanita ini. Bahkan pernah dia mendengar cerita masa lalu nyonyanya yang begitu kejam. Bahkan membunuh adalah hal yang biasa. Seperti halnya Oma besar, Chloe Dominic.
"Saya tidak seberani itu nyonya, hehehe…..mari nyonya,"
Varo membawa Queen ke mobil. Setelah itu mobil melesat ke menuju Villa. Namun saat di pertengahan jalan, tiba-tiba mobil di tembak dari arah belakang membuat anak buah Varo yang mengawal langsung siaga. Megelurkan pistolnya dan balas menembak.
Door….
Door….
__ADS_1
Door….
Adu tembak saling melesat mengarah ke lawan masing-masing membuat kedua ban pecah akibat terkena tembakan.
Duar…
Mobil oleng dan masing-masing supir membanting setir agar mobil tidak mengalami kecelakaan.
Mereka keluar dan saling melesatkan tembakan. Jika anak buah Varo sibuk mengatasi musuh yang menyerang, berbeda dengan Queen yang begitu santai, mengetuk-ngetukan jari nya sambil mendengarkan musik.
Varo yang melihat santainya Nyonya nya menghela nafas pelan. Tidak menyangka tidak ada sedikitpun gurat kepanikan di wajah wanita baya itu.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka akhirnya sampai di Villa tempat dimana Davin berada.
Kedatangan Nyonya mereka langsung di sambut anak buah Davinz menundukkan kepala dengan hormat.
"Dimana Davin?"
"Tuan ada di belakang bersama dengan Nona Rerena," jelas Varo.
"Baiklah. Aku akan menemuinya nanti. Sekarang aku lelah, antarkan aku kekamar,"
Varo membawa Nyonya nya menuju kamar. Namun saat menuju kamar yang di sediakan, Queen berpapasan dengan sepasang suami istri yang tidak dia kenal.
Varo yang tahu tatapan nyonyanya langsung menjelaskan siapa sepasang suami istri itu.
Mendengar itu, Queen langsung memberikan senyum manisnya.
"Senang bertemu dengan anda Tuan Marcell, Nyonya Marcell."
"Senang bertemu dengan anda juga Nyonya."
"Saya Queen, ibu Davin," Queen memperkenalkan diri. Baik Tuan Marcell maupun Nyonya Marcell sedikit rikuh saat mengetahui nyonya besar tempat dimana mereka tinggal datang.
Melihat wajah mereka yang sedikit rikuh akan kehadirannya, Queen pun permisi karana tubuhnya lelah setelah menempuh perjalanan beberapa jam.
"Saya permisi dulu Tuan, Nyonya,"
"Silahkan. Saya satu anda lelah. Selamat istirahat Nyonya," jawab Nyonya Marcell dan Queen pergi dengan di antar oleh Varo.
"Melihat nyonya Tuan rumah pergi, Nyonya Marcell berkata. "Sepertinya keluarga Tuan Davin bukan keluarga sembarang, pa,"
"Ya, mama benar. Sebenarnya keluarga mana mereka ini. Papa tidak pernah melihat mereka atau mendengar nama keluarga mereka di negara ini."
"Mungkin saja mereka keluarga dari negara luar pa,"
"Mungkin saja."
"Oh, ya. Apa anak kita ada hubungan dengan Tuan Davin?"
__ADS_1
"Seperti nya iya. Dan ku harap putri kita bahagia. Tuan Davin pria yang baik, pasti dapat membahagiakan Rerena,"
"Semoga saja. Mama hanya berharap semoga hubungan mereka tidak ada rintangan atau masalah,"
.
.
.
Anak buah Varo yang menghapi musuh di jalan tadi kini tiba di mension. Dua di antara mereka terkena tembakan di kaki dan bagian lengan. Namun mereka berhasil meringkus musuh tersebut.
Varo yang melihat mereka datang meminta membawa musuh yang mereka tangkap ke ruang belakang, tepatnya di ruang bawah tanah. Sedangkan untuk yang terluka langsung meminta Dokter menanganinya.
Queen yang baru bangun melihat wajah gelap Varo menaikkan sebelah mata. Ada apa dengan anak angkat tampan nya itu.
"Ada apa dengan wajah mu? Kenapa gelap tidak enak di pandang seperti itu?"
"Anak buah kita tadi berhasil membawa musuh nyonya. Namun ternyata musuh itu adalah anak buah orang yang sama yang sebelumnya juga melakukan penyerangan,"
:Dari kelompok mana mereka?"
"Mafia Black Wolf nyonya."
"Oh, aku kira kelompok besar mana. Ternyata hanya cecunguk kecil yang mencoba cari mati. Kau urus saja. Aku tidak tertarik."
"Baik nyonya."
"Oh ya, langsung bunuh saja. Jangan bertele-tele. Jika perlu kirim mayatnya ke tempat mereka. Dan beri ancaman agar mereka kebakaran jenggot,"
Varo hanya mengangguk kaku. Bagaimana bisa nyonyanya begitu santai dalam membunuh. Apalagi malah memberikan saran yang bisa membuat mereka langsung perang.
Namun usul nyonyanya memang bagus. Patut di contoh. Dan tanpa menunda lagi Varo langsung menemui anak buah Coky dan langsung membunuhnya.
Varo juga meminta beberapa anak buahnya mengirimkan mayat itu ke tempat tak jauh dari markas Coky berada. Varo telah mengetahui dimana markas Coky dan itu berkat Rio dan Recky yang menyelidiki dan melacak keberadaan mereka.
Setelah mengirim beberapa mayat itu, tak lama anak buah Coky menemukan mereka dan melaporkan apa yang di temukannya.
"Bos, kami menemukan anak buah kita mati,"
"Apa mereka yang baru saja kalian kirim?" Tanya Coky pada orang kepercayaannya, Leo.
"Benar Bos."
"Itu berarti mereka tahu tempat kita."
"Sepertinya iya bos,"
"Bersiaplah jika sewaktu-waktu mereka menyerang. Mereka tahu tempat kita, aku tidak yakin mereka akan lama menunda,"
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung