Cinta Dalam Diam Sang Pelayan

Cinta Dalam Diam Sang Pelayan
Bertemu


__ADS_3

Sebenarnya Taksa merasa penasaran alasan Peleo melarang putranya berurusan dengan pengusaha bernama Davin.  Tapi dia tidak ingin bertanya lebih lanjut karena sepertinya Paleo enggan untuk menjelaskan nya.


.


.


.


Davin kini sampai di bandara. Disana beberapa anak buahnya telah menjemputnya, menunggu kedatangan tuannya.


"Tuan," Davin masuk kembal bersama dengan Varo. Sedangkan untuk orang tua Rerena berada di mobil lainnya.


Mobil melaju meninggalkan bandara. Tak lama setelah itu mereka akhirnya sampai di Villa. Davin meminta semuanya untuk merahasiakan kedatangannya. Ia tidak ingin Rerena tahu tentang kejutannya.


"Dimana dia?"


"Ada di kamar tuan," jawab Dokter Alesa mengambil jas milik Davin.


Mata Dokter Alesa melihat sekitar, ada dua orang asing yang belum pernah dia lihat. "Siapa mereka?"


Tahu akan tatapan Alesa, Davin pun memperkenalkan.


"Mereka berdua Tuan dan Nyonya Marcell,"


"Salam kenal Tuan, nyonya. Saya Alesa, pelayan Tuan muda," jawab Alesa memperkenalkan diri sembari tersenyum ramah.


Mereka semua kini pergi ke kamar Rerena berada. Di dalam Rerena sedang membaca buku yang di berikan Alesa padanya untuk menghibur diri agar tidak jenuh.


Cklek....


"Pintu di buka.


Rerena yang mendengar langsung mendongak, melihat siapa yang datang ke kamarnya. Saat tahu siapa yang datang, Rerena hanya diam. Namun matanya tak lepas dari wajah Davin yang tampan dan gagah.


Wajah Rerena merona hingga ke pangkal telinga. Entah kenapa saat melihat Davin yang tampan dia selalu merasa aneh, seolah pernah bersama cukup lama.


"Kamu sangat memalukan Rerena. Melihat wajahnya yang tampan sudah membuat mu seperti wanita murahan,"


Rerena membuang muka berharap Davin tidak melihat wajahnya yang bersemu. Namun terlambat Davin sudah melihat semuanya, membuatnya tersenyum kecil.


Davin melangkah maju membuat jantung Rerena berdetak kuat. Apalagi saat melihat Davin duduk di sampingnya.


"Apa keadaan mu sudah lebih baik?" elusnya di wajah Rerena


Rerena semakin bersemu apalagi saat tahu banyak yang melihat mereka.


"Aku baik-baik saja," tepisnya tangan Davin yang sungguh lancang itu.


Davin tidak marah sedikitpun, dia malah tersenyum membuat Rerena begitu sebal.

__ADS_1


"Kamu tidak merindukan ku?" tanya dengan pertanyaan ambigu.


Rerena langsung menatap. 'Merindukan?' Memang hubungan mereka apa? Mereka bukan kekasih jadi tidak perlu merasakan rindu pada seseorang yang tidak ada hubungan sama sekali.


Davin yang melihat Rerena tidak menjawab, langsung memasang wajah pura-pura sedihnya. "Ternyata hanya aku yang merindukan mu. Hati ku sungguh sakit sekali," Davin mengucapkan dengan sangat dramatis. Seolah Rerena menyakiti perasaannya.


Dokter Alesa dan Varo yang mendengar ingin muntah darah. Dari mana tuannya belajar kata seperti itu. Sungguh tidak sesuai dengan sikap kejamnya.


Sedangkan di liar kamar, Tuan dan Nyonya Marcell saling pandang, penasaran. Mereka di larang masuk sebelum Tuan mudanya memberi perintah dan akhirnya hanya bisa menunggu.


Rerena yang mendengar melotot tajam. Tidak percaya pemuda yang belum lama di kenalnya mengatakan hal gila itu.


"Kita tidak terlalu dekat. Jangan katakan hal seperti itu."


"Kenapa?"


Rerena diam, tidak tahu harus menjawab. dia memiliki hubungan dengan Haidar, tapi di satu sisi Haidar jelas bersama dengan Bella dan itu membuatnya sakit.


"Tidak ada apa-apa. Pergilah, aku ingin istirahat,"


Davin yang melihat perubahan sikap Rerena mengepalkan tangan. Davin tahu pasti yang di pikirkan Rerena, pasti tentang si dadar gulung itu.


"Sialan! Awas kau dadar gulung. Tidak akan ku biarkan kau tenang karena membuat wanita ku memikirkan mu,"


"Ada yang ingin ku kenalkan pada mu," Dengan nada lembut Davin mengusap kepala Rerena.


"Aku ingin istirahat, biarkan aku sendiri."


"Tidak,"


"Sungguh?"


"Pergilah," Rerena tidak ingin di ganggu, perasaan nya kacau saat mengingat Haidar. Jika biasanya akan ada yang menghiburnya, Daniel. Tapi sekarang tidak. Entah kemana perginya pemuda itu.


"Ku rasa kamu akan menyesal jika tidak mau melihat mereka,"


Rerena masih diam. Memang siapa yang ingin dengannya. Dirinya tidak memiliki siapapun yang di kenal, kecuali Daniel dan kedua orang tuanya. Jika pun itu Nile dan Haidar, sepertinya tidak mungkin. Karena dia yakin pria di depannya tidak akan mengizinkan.


Rerena sedikit tahu apa yang terjadi dengan Davin dari tatapan matanya padanya. Pria itu seolah tertarik dengan nya. Namun Rerena tidak ingin memperdulikan, dia tidak ingin merasakan sakit hati lagi karena dia tahu pria di depannya bukankah pria yang mampu dia gapai.


"Suruh mereka masuk," perintahnya dan anak buah Davin yang ada di liar, mempersilahkan Tuan dan Nyonya Marcell untuk masuk kedalam.


"Silahkan tuan, nyonya,"


Mereka mengangguk dan masuk kedalam kamar itu. Mereka menatap Varo Dan Alesa yang mengangguk. Dan setelah itu beralih ke arah wanita yang tertunduk di ranjangnya, tidak terlihat jelas di pandangan mereka.


"Siapa wanita itu?" tanya Nyonya Marcell lirih.


"Papa juga tidak tahu. Tapi sepertinya Tuan muda tadi ingin kita bertemu dengan wanita ini,"

__ADS_1


Mereka berdiri di depan Davin. Davin tersenyum dan berbicara lagi dengan Rerena yang masih menunduk.


"Benarkah kamu tidak ingin melihat mereka?"


"Sudah ku katakan a...." Ucapan Rerena berhenti saat matanya melihat dua orang yang sangat di kenalnya.


Tes...


Rerena sungguh sangat terkejut melihat kedua orang tuanya ada di hadapannya. Dia tidak akan menyangka bahwa bisa bertemu lagi dengan mereka. Tak hanya Rerena yang terkejut, kedua orang tua Rerena juga terkejut saat tahu wanita itu adalah putri semata wayangnya.


"Papa, mama,"


"Rerena anak ku,"


Mereka langsung berpelukan. Air mata menetes di pipi mereka. Isak tangis pun memenuhi ruangan itu. Semua yang melihat merasa bahagia karena akhirnya mereka dapat di pertemuan kembali.


"Kita keluar, biarkan mereka melepas rindu," Varo mengajak Alesa untuk keluar dari kamar, memberikan ruang untuk anak dan orang tuanya.


Sedangkan Davin juga akan beranjak. Namun saat hendak berdiri, tangannya.di cekal oleh Rerena.


"Jangan pergi,"


"Baiklah,"


Davin hanya bisa melihat mereka yang melepas kerinduan selama mereka berpisah. Sebenarnya Davin tidak ingin menganggu mereka, hanya saja Rerena melarannya untuk pergi. Entah apa yang di inginkan Rerena, Davin hanya menurut saja.


Setelah cukup lama melepas kerinduan, dan bertanya masing-masing tentang keadaan mereka sebelumnya yang sempat membuat Rerena maupun Tuan Marcell marah, kini mereka merasakan kebahagiaan karena akhirnya bisa berkumpul bersama lagi.


Rerena mengusap air matanya yang sedari tadi tak henti-hentinya menetes dan itu membuat Davin tidak tahan. Tangannya bergerak, ikut menghapus air mata sialan itu.


"Jangan menangis. Aku tidak suka melihat mu menangis,"


Brugh...


Rerena memeluk Davin dengan eret. Air matanya kembali menetes di pipinya membuat wajahnya dan hidung memerah karena sejak tadi Rerena tak berhenti menangis.


"Hiks...Hiks...Terimakasih. Terimakasih karena telah menyelamatkan orang tua ku. Aku tidak menyangka akan melihat mereka kembali. Aku pikir, aku tidak akan melihat mereka lagi. Tapi ternyata hari ini kamu...."


"Hus....jangan nangis lagi. Aku tidak suka melihat mu menangis. Jika kamu menangis terus aku akan mengembalikan mereka lagi ke tempat semula."


Rerena, Tuan dan Nyonya Marcell yang melihat langsung melotot. Apa yang di katakan Davin tadi, mengembalikan? Rerena langsung melepas pelukannya dan memukul dada Davin.


"Berani kamu mengembalikan orang tua ke tempat sialan itu, aku tidak akan memaafkan mu," kesalnya namun membuat Davin tersenyum dan terkekeh.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2