
Sedangkan Nadira yang kini mencari keberadaan Rerena telah menemukan lokasinya. Anak buahnya memberutahukan jika Rerena berada di sebuah Villa megah jauh dari kota.
"Apa tempat itu apa penjaganya?"
"Hanya beberapa orang yang menjaga di luar Nona,"
"Baiklah, kamu bawa anak buah ke sana dan tangkap wanita itu untuk ku."
"Tapi bagaimana jika di sana banyak yang berjaga."
"Bukankah kamu sudah menyelidiki selama ini hanya ada beberapa. Kamu tidak perlu takut, kalian pasti bisa mengatasi orang yang hanya beberapa itu. Lagian tidak mungkin di Villa itu ada kelompok kuat yang menjaga wanita itu. Dia hanya wanita tidak memiliki status, jadi kalian tidak perlu khawatir."
"Baik nona," jawab anak buah Tuan Smith yang melindungi Nadira.
Nadira tidak tahu akan bahaya yang mengincarnya tentang keberaniannya datang ke Villa Davin. Jika dia di tahu siapa orang yang akan dia singgung, mungkin Nadira akan membatalkan rencananya untuk menangkap Rerena.
Tapi karena dia bodoh, tidak mencari tahu dengan siapa Rerena bersama, Nadira menggali kuburannya sendiri.
.
.
.
Anak buah Nadira malam hari sudah bersiap dengan semua senjata mereka di tangan. Mereka akan langsung berangkat karena tempat dimana Villa berada sedikit jauh dari tempat mereka saat ini.
"Bawa wanita itu. Aku tidak ingin mendengar kegagalan,"
"Baik nona. Kami akan membawa wanita itu,"
"Hm..pergilah,"
Rombongan itu pun pergi menuju Villa. Beberapa mobil hitam melesat membelah dinginnya malam. Mereka tidak tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir mereka menghirup udara.
Sedangkan di tempat Davin. Davin bergelung dengan selimut bersama dengan Rerena. Walaupun Queen sudah berpesan untuk tidak tidur bersama, namanya Davin sama sekali tidak menggubris pesan Mommynya. Dia malah mencuri-curi waktu untuk bisa tidur dengan kekasihnya. Yah, walaupun mereka tidak melakukan hal lebih, namun Davin tetap icip-icip sesuatu yang menyegarkan.
"Tidak bisakah kamu diam?"
"Mana bisa sayang. Sehari ini aku menemani mu, dam aku sangat lelah. Jadi malam ini gantian diru mu untuk memberikan asupan bergizi mengganti rasa lelah ku,"
__ADS_1
"Aku tidak meminta mu untuk menemani ku. Kau saja yang ngomong,"
"Tapi aku melakukan nya karena aku mencintai mu dan mengkhawatirkan mu. Aku takut terjadi sesuatu dengan mu, sayang,"
"Itu hanya alasan mu saja. Padahal disini ada mama, Alesa dan pengawal lain. Mereka tidak mungkin mengabaikan ku jika terjadi sesuatu dengan ku."
"Tetap saja beda."
"Tidak ada yang beda. Semuanya sama," bawah Rerena.
"Aku tidak mau tahu. Aku ingin semangka mu. Aku sangat menyukainya,"
Seolah tidak bisa di bantah, Davin langsung mencium bibir Rerena dengan rakus. Menekan tengkuknya untuk memperdalam ciuman mereka. Lidah mereka saling berbelil merasakan manis nikmatnya ciuman. Davin menye-sap, melu-mat dengan rakus, seolah tidak ada puasanya sama sekali sampai-sampai bibir Rerena begitu bengkak karena ganasnya Davin melu-mat.
Tangan Davin sudah merayap kemana-mana mencari tempat-tempat kesukaannya akhir-akhir ini. Bahkan tak segan mere-mas dada Rerena, membuat wanita itu mende-sah dan bergelinjang.
Ah……Vin,"
"Nikmatkah sayang?" Rerena tidak menjawab. Dia sibuk merasakan nikmat yang di berikan bibir dan tangan Davin
Bibir Davin sudah menyusuri leher dan dada. Mengecup dan memberikan gigitan-gigitan kecil hingga menampilkan beberapa stampel kemerah-merahan.
Ah….
"Vin, aaaah……"
Tangannya juga tindak tinggal diam, mere-mas satu buah da-da lainnya membuat Rerena benar-benar terang-sang.
Tak hanya itu yang di lakukan Davin. Davin dengan beraninya menyusuri lembah bawah yang kini sudah basah. Memainkan jarinya disana dengan lembut, membuat tubuh Rerena semakin bergelincang.
"Vin, aah….aaaah……"
Davin yang melihat wanitanya menikmati permainannya tersenyum menyeringai. Davin tahu saat ini Rerena masih perawan, maka dari itu dia tidak memasukkan jarinya kedalam lubang kenikmatan karena takut Rerena akan kesakitan. Dia akan melakukan hal lebih itu jika kaki Rerena sudah pulih total dan untuk saat ini karena Rerena masih dalam perawatan dokter yang mencoba menghilangkan sisa racun di tubuhnya, Davin akan sekuat tenaga menahan miliknya untuk tidak menancapkan di lubang kenikmatan.
Davin melempar selimut yang membungkus mereka, dan terlihat jelas lakukan tubuh indah Rerena yang telan-jang.
"Sangat indah," gumam Davin kagum dengan keindahan di depan matanya.
Sedangkan Rerena yang mendengar membuang muka, wajahnya bersemu saat tahu Davin melihat tubuhnya yang belum pernah di lihat siapapun termasuk mantan suaminya.
__ADS_1
"Sayang aku sudah melihat semuanya. Apa kamu ingin melihat milik ku,"
"Tidak,"
"Benarkah tidak ingin? Padahal punya ku sangat gagah dan menggairahkan,"
Davin tahu Rerena akan menolak. Tapi Davin tidak peduli. Dia juga ingin memperlihatkan jagoannya pada wanita nya agar imbang. Davin tanpa menunda lagi langsung melepas cekalannya. Dan kini terlihat jelas sesuatu yang panjang dan keras mengacung berani di depan Rerena.
Rerena yang melihat melotot tidak percaya.
"Apa itu? Kenapa besar sekali? Apakah itu akan muat jika di masukkan ke inti ku?"
Bayangan nakal melintas di otaknya saat mrmbayangkan Davin mendobrak selaput darah nya. Pasti sangat sakit. Rerena menelan ludah, begitu ngeri membayangkan benda tumpukan itu masuk dan bermain di intinya.
Davin yang melihat tersenyum nakal, dia menarik tangan Rerena dan memintanya untuk menyentuhnya.
"Pegang sayang dan mainkan. Aku ingin kamu memainkan nya,"
Wajah Rerena semakin merona saat melihat tangannya menyentuh benda keras nan tumpul itu.
"A…aku tidak tahu caranya," jawab Rerena polos karena belum pernah memainkan benda seperti itu.
"Gerakkan tangan mu maju mundur sayang. Aku menginginkannya." Wajah Davin sudah memerah. Tubuhnya pun terasa panas saat miliknya di sentuh oleh kekasihnya.
Dan dengan polosnya Rerena melakukan apa yang di lintas Davin, menggerakkan tangannya maju mundur membuat Davin mende-sah kenikmatan.
"Ahh….sayang." racun Davin kenikmatan.
Wajah Rerena semakin merona saat mendengar pria nya menikmati permainnya. Davin tidak membiarkan dirinya saja yang menikmati. Tapi Rerena juga. Kini tangannya bermain di area milik Rerena, mengusapnya lembut membuat Rerena juga mende-sah.
Kini Davin maupun Rerena mende-dah menikmati dengan permainan tangan. Jika saja keadaan tubuh Rerena baik-baik saja, Davin tidak akan melepaskan Rerena sampai pagi.
Jika di kamar itu penuh dengan suara-suara kenikmatan, berbeda di luar Villa. Anak buahnya kini sedang menghadang beberapa orang yang masuk dalam sarangnya.
Senyum seringai terbit di bibir setiap anak buah Davin. Sedangkan anak buah Nadira ketakutan karena ternyata prediksi mereka salah. Mereka yang mengira hanya ada beberapa penjaga dan mampu mengalahkan penjaga Villa, kini salah besar. Ternyata mereka masuk ke kandang singa yang sepertinya sangat kelaparan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung