
"Buruk Dad,"
Tuan Smith yang mendangar mengerutkan kening. Buruk? Apa maksud putrinya. Mungkinkah Nile memperlakukan putrinya dengan tidak baik. Darah Tuan Smith mendidih membayangkan Nile melakukan hal buruk pada putri kesayangannya. Tuan Smith tidak terima dan akan memberi pelajaran pada pria yang kurang di untung itu.
.
.
"Katakan apa yang terjadi?" tanya Tuan Smith
"Ada seseorang yang mencoba menyadari ponsel ku Dad."
"Maksudnya gimana? Kenapa ada yang menyadap ponsel mu. Katakan apa yang terjadi?"
Nadira pun menceritakan semuanya tanpa di tutup-tutpi sedikitpun, tentang Nile yang memiliki mantan istri dan mencoba merebut kembali dan seseorang yang sepertinya memiliki kekuatan kuat yang melindungi wanita tersebut.
"Dasar bodoh. Kenapa kau melakukan itu? Bagaimana jika orang itu adalah orang kuat?"
"Aku tidak peduli Dad. Aku hanya ingin memiliki Nile. Bukan kah aku memiliki Daddy yang akan melindungi ku?"
"Kau selalu mengandalkan kan itu. Daddy tidak ada di sana,"
Maka kirim anak buah Daddy kesini untuk melindungi dan menjaga ku. Aku tidak yakin jika orang itu lebih kuat dari anak buah Daddy.
"Baiklah. Daddy akan mengirim anak buah Daddy untuk menjaga mu. Tapi sebelum itu Daddy akan berbicara dengan Taksa,"
Nadira mengangguk dan akan menunggu anak buah Daddynya datang.
Di tempat kediaman Taksa. Taksa saat ini sedang marah dengan Nile karena kebodohannya, perusahaan cabang NL Crop's bangkrut dalam semalam.
"Siapa yang kau singgung?"
"Nile tidak tahu."
"Tidak tahu kau bilang! Dasar anak bodoh. Bagaimana bisa kau tidak tahu siapa itu. Apa anak buah mu tidak dapat melacak dan menemukan siapa pelakunya?"
"Tidak bisa. Orang-orang ku kuawalah mencarinya. Bukannya kami menemukan siapa itu, malah semua komputer yang kami gunakan langsung di berikan Virus mematikan membuat komputer mati dan tidak berfungsi,"
Taksa yang mendengar penjelasan putranya diam. Siapa sebenarnya nya mereka? Dan seperti nya mereka lawan yang tidak mudah di kalahkan.
"Lalu sekarang bagaimana?"
__ADS_1
"Aku memberi perintah untuk selalu memantau. Takut kecolongan dan menghancurkan hasil kerja keras ku."
"Kau harus berhati-hati. Lawan ini tidak lah mudah. Jika kamu butuh bantuan setelah menemukan dalangnya, kamu bisa minta tolong pada Daddy untuk membunuh orang itu."
"Baiklah. Oh ya Dad, bagaimana dengan keadaan dua orang itu,"
"Masih sama saat kamu mengirim mereka ke tempat Daddy."
"Baiklah. Jaga dua orang itu. Entah kenapa semua ini sepertinya ada sangkut pautnya dengan Rerena. Dan ku yakin pasti suatu saat akan ada yang mencoba membebaskan mereka."
"Kau tenang saja. Untuk masalah dua orang itu kau tidak perlu khawatir. Biar Daddy yang menjaganya."
Nile mengangguk percaya dengan Daddynya yang akan membantunya. Sedangkan di tempat Haidar Bella merasakan was-was saat tahu di rumah sakit penjagaannya semakin ketat. Bella berpikir mungkinkah semua ini ada sangkut pautnya dengan Davin. Jika itu benar dan Davin mengetahui apa yang di perbuatnya, maka nyawanya akan dalam bahaya.
"Aku tidak boleh ketahuan. Davin tidak boleh mengetahui bahwa aku pelaku yang memberikan racun itu pada Rerena. Jika sampai dia tahu, tamat riwayat ku,"
Kegelisahan itu membuatnya tidak tenang. Tapi demi memperlancar rencananya, Bella tidak boleh gerogi hingga menimbulkan kecurigaan.
Bella menghubungi Davin, ingin mencari tahu apakah Davin telah mendengar apa yang di alami Rerena. Bella akan berpura-pura sebaik mungkin berkata, agar Davin tidak sedikit pun curiga bahwa dirinya adalah pelaku sebenarnya.
Tut
Tut
Tut
"Ada apa?" tanya Davin dengan nada dingin.
"Vin, apa kau mendengar tentang Rerena?"
Hm.....
"Lalu apa kau tidak khawatir dengannya? Kenapa kamu tidak kembali dan melihat keadaanya?"
"Aku sibuk." jawabnya masih dengan nada dingin.
"Berarti kau tidak khawatir dengannya. Buktinya kau tidak datang bahkan saat dirinya sekarang membutuhkan mu," Davin yang mendengar mengerutkan kening. Tidak biasanya Bella seperti itu.
"Aku akan datang jika urusan ku sudah selesai. Lagian aku sudah menempatkan banyak anak buah ku untuk menjaganya. Jika ada yang berniat melukainya, maka aku akan membunuhnya."
Gleek...
__ADS_1
Bella menelan ludah mendengar kata membunuh dari mulut Davin. Entah kenapa tiba-tiba dirinya menjadi takut dengan apa yang di perbuatnya.
Davin yang mendengar suara Bella memutus panggilan. Bella yang mengetahui menggerutu, "Sialan! Kenapa dia mematikan nya."
Mengingat lagi apa yang di katakan Davin, Bella menggelengkan kepala. "Aku tidak boleh ketahuan. Apapun yang terjadi, Davin tidak boleh tahu. Tapi untuk berjaga-jaga, aku harus mencari pendukung yang dapat melindungi ku. Tapi siapa?"
Bella berpikir keras. Siapa orang yang bisa membantunya. Terlintas seseorang yang belum lama ini dia temui. Seringai muncul di bibirnya.
"Ya, aku harus menghubungi nya. Berapapun biayanya akan ku berikan."
Bella menghubungi orang itu dan ternyata orang menyetujui permintaaanya. Bella yang mendengar senang dan akan memberikan imbalan seperti yang orang itu minta.
"Kenapa tidak kita lepaskan saya wanita secepatnya. Mumpung orang itu tidak ada dekat wanita itu. Kalau hanya beberapa anak buahnya, anak buah saya bisa mengatasinya."
Bella yang mendengar diam. Benar juga kata orang itu. Lagian Davin juga tidak akan mengetahui jika dirinya yang memberi perintah. Dan jika itu berhasil maka untuk bisa bersama dengan Haidar semakin mudah.
"Baiklah, lakukan. Tapi jika kalian tertangkap kalian tidak boleh menyebut nama ku,"
"Anda tenang saja nona, rahasia anda akan terjaga dengan baik."
Panggilan itu pun berakhir. Dan orang yang di hubungi tadi kini langsung menghadap seseorang, seseorang yang tak lain adalah tuannya.
"Tuan, sepertinya semuanya berjalan dengan lancar. Dengan melibatkan wanita itu anda dapat membuat Davin menderita dan kalah di tangan kita."
"Ya, sepertinya Davin benar-benar mencintai wanita itu. Maka kita akan buat wanita itu menjadi kelemahannya.
"Anda benar, tuan,"
"Kirim banyak anak buah kita dan culik wanita itu."
"Baik tuan."
Sesuai perintah Tuannya, dia mengirim banyak anak buahnya untuk mengintai rumah sakit dimana Rerena di rawat. Mereka akan memohat dulu, apakah penjagaan nya ketat atau tidak. Jika mereka mampu menembus penjagaan, mereka akan akan menyerang dan menculik Rerena.
Tanpa di ketahui oleh mereka, Davin yang baru saja mendapatkan panggilan dari Bella langsung menghubungi Rio untuk mensadap ponsel Bella. Dan benar dugaannya, Bella terlibat dalam semua ini.
"Dasar wanita rubah. Akan ku buat kau menyesal berani menyinggung ku. Tapi siapa yang dia hubungi?" Davin tidak tahu siapa yang di hubungi Bella barusan. Karena saat melacak nomor itu, tak lama nomor itu langsung tidak aktif.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung