
"Kau pikir Tuan Bos mu yang itu akan memaafkan mereka? Karena kebodohan mereka kini Nona dalam bahaya. Dan aku yakin Bos akan membunuh mereka sekaligus. Jangan mengasihani mereka. Jika kau membela nya aku yakin nyawa mu juga akan ikut melayang bersama mereka."
Gleeek
"Tidak! Saya tidak mau,"
Panggilan pun berakhir. Dia tidak ingin mati konyol di tangan Tuan Bosnya. Memikirkan itu sudah membuat bulu keduknya merinding.
.
.
Anak buah Nadira yang di tangkap kini di bawa ke suatu tempat oleh anak buah Davin. Tubuhnya di ikat dan di kerubungi beberapa orang dengan senjata di tangan mereka.
Pria itu mendongak melihat sekeliling. Dia terkejut saat beberapa orang menatapnya dengan aura membunuh.
"Siapa mereka? Kenapa aku bisa ada di sini?"
Pria itu mengingat apa yang terjadi sebelumnya saat mengintai di rumah sakit. Namuj tiba-tiba sebuah pisau di todongkan di belakang kepala membuatnya menyerah dan kini menjadi tahan mereka.
"Siapa kalian?"
Seharusnya aku yang tanya. Siapa kau ini?" seorang pria muncul dari arah pintu dan duduk tepat di depannya. Pria suruhan Nadira mengerutkan kening, menatap pria yang mungkin saja ketua dalam kelompok ini.
"Siapa kau dan ada di mana aku. Lepaskan kan,"
Anak buah Davin tertawa mendangar pria itu minta di lepaskan. Enak saja. Jika mereka berani melepaskannya, sudah di pastikan kepala mereka di ledakan oleh Bos mereka.
"Hahaha.....jangan mimpi."
Anak buah Davin mengangkat dagu pria itu dengan tongkat besi kecil. Dia ingin pria itu menatap wajahnya.
"Siapa yang mengirim mu datang kerumah sakit itu, katakan!"
Pria itu tidak menjawab malah memberikan tatapan remehnya. "Walaupun kau bertanya sampai mulut mu bernanah, aku tidak akan pernah mengatakannya,"
"Cuih, kau benar-benar menantang ku rupa nya. Kau belum tahu siapa kami ini. Kami bisa membunuh mu dan mengoyak daging mu jika kami mau,"
"Lakukan jika kalian bisa. Tapi ku yakin kalian itu tidak akan bisa, karena kalian semua ini banci!"
Anak buah Davin mengeraskan rahangnya, marah dengan hinaan itu. Dia tahu dirinya di provokasi dan sedetik kemudian tersenyum menyeringai.
"Nyali mu besar juga. Aku cukup kagum dengan keberanian mu. Aku menyukainya." seringai mengerikan muncul di bibir.
"Lepas pakaiannya,"
__ADS_1
Dalam sekejap anak buah Nadira sudah telan-jang, hanya tinggal kain segitiga menutupi burung dan telurnya. Pria itu di ikat dengan cara merentang menggunakan rantai besi di tangan dan di kaki. Dia memberikan tatapan tajam pada anak buah Davin yang kini menyeringai sambil membawa cambuk di tangannya.
"Dasar banci!"
Anak buah Davin tidak terhalang oleh hinaan itu, ia mendekati dan menganggat dagu menggunakan gagah cambuknya, "Sebenarnya sangat di sayangkan jika tubuh sebagus ini akan di cambuk. Aku lebih suka jika___"
Anak buah Nadira yang mendengar kata ambigu itu melotot tajam. Apa yang di pikirkan pria gila di depannya ini? " Di tidak belakang?" Berbagai macam pikiran langsung memenuhi otaknya. Tidak ingin tubuhnya di nodai dengan hal menjijikkan itu. Lebih baik mati dengan di bunuh ataupun di cincang, itu membuatnya lebih bagus dari pada di siksa dan gagahi oleh pria yang memiliki kelainan.
"Berhenti! Jangan mengatakan kata menjijikan itu di depan ku,"
Anak buah Davin yang melihat ketakutan tersendiri dari pria itu terkekeh. Ia semakin semangat untuk mengerjai. Lagian dia tidak belok, dari pada lubang tai ia lebih memilih apem yang lebih enak.
"Tapi aku sangat menyukainya. Bagaimana jika__"
"Stop! Lebih baik kau bunuh aku secepatnya. Tapi jangan pernah menyentuh ku dengan batang mu itu. Sungguh menjijikkan,"
"Anak buah Davin tidak bisa menahan tawanya. Ia tertawa keras. "Kau pikir aku menyukai batang, hm...? Aku lebih suka apem bolong dan melon,"
"Satu orang cambuk satu kali. Aku ingin dia merasakan rasa sakit karena berani mencoba meyakiti Nona," Perintahnya dengan lantang, membuat semua yang ada di sana senang.
Tangan mereka begitu gatal. Mereka mengambil cambuk yang di sediakan dan mencambuk tubuh itu dengan sekuat tenaga.
Ctaar....
Pria itu tidak berteriak, menahan agar suara itu tak lepas dari mulutnya. Melihat pria itu menahan rasa sakit, anak buah Davin semakin menyeringai.
Craaar....
Lagi-lagi pria itu masih menangani. Namun terus, anak buah Davin mencambuk nya hingga membuatnya tidak bisa menahan lagi rasa sakit itu.
Ctaaar....
Argh!
Anak buah Davin yang mendengar tertawa. Ternyata pria itu sudah tidak menahan lagi rasa sakit yang di berikan oleh mereka.
"Uh, ternyata kau sudah tidak tahan lagi. Baiklah, aku sendiri yang akan membuat mu berteriak. Nikmati sentuhan dari cambuk ku ini,"
Ctaaar.....
Ctaaar.....
Ctaaar.....
Argh....
__ADS_1
"Hahahah....Terus berteriaklah. Aku ingin mendengar suara mu yang menggoda ini,"
Ctaaar.....
Ctaaar.....
Anak buah Davin tidak berhenti. Tubuh pria itu benar goresan menganga dan darah yang mengalir karena kuatnya cambukan yang mereka berikan.
"Aku bisa mengurangi rasa sakit ini. Tapi katakan siapa yang memberi mu perintah,"
Pria yang tertunduk itu sekuat tenaga mengangkat kepalanya, menatap pria yang berkata tepat di depannya.
Cuih,
Ludahnya tepat di wajah anak buah Davin. Anak buah Davin tidak marah, dia malah tersenyum dan mengusap wajahnya dengan sapu tangan sambil menunggu umpatan apa lagi yang akan keluar dari bibir pria itu.
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah mengatakannya pada badjingan-badjingan seperti kalian!"
Mendengar kata badjingan, mereka semua kompak tertawa. Memang benar mereka badjinga. Jika mereka bukan badjingan tidak pantas mereka menjadi orang bejat dan jahat.
"Uh, ternyata kau cukup keras kepala. Tapi aku suka. Sekarang kalian semua ambil pistol kalian. Tembak apapun yang kalian inginkan,"
Anak buah Nadira wajahnya langsung pias. dia tahu tidak akan bisa selamat dari kematiannya. Dan malam inilah akhir dari hidupnya.
Door....
Door....
Door....
Anak buah Davin menghubungi Varo, mengatakan jika pria itu tidak mau buka mulut. Namun mereka menemukan ponsel di saku celana, membuat Varo yang mendengar tersenyum menyeringai.
"Apakah Recky ada bersama kalian?"
"Ada Bos."
"Berikan ponsel itu padanya. Lacak panggilan terakhir di ponsel itu agar tahu siapa yang memberi perintah padanya."
"Baik Bos."
Anak buah Davin langsung menghubungi Recky, memintanya untuk mencari siapa dalang di balik semuanya. Bos mereka ingin tahu apakah itu sama dengan pelaku yang membuat Nonanya bahaya atau tidak.
Recky yang di perintah langsung dengan cepat bekerja, mencari siapa pemilik nomor panggilan terakhir. Namun saat menemukan koordinat lokasi dari pemilik nomor, Recky mengerutkan kening. Kediaman Nile Alvarendra
.
__ADS_1
.
Bersambung