
Arkana bingung, ia memiliki pilihan yang rumit dan berakhir dengan kehancuran. Walaupun dirinya pengacara, tapi ia tidak bisa melindungi nyawa nya jika peluru menembus tubuh dan kepala nya, karena orang-orang ini suka memegang senjata api ditangannya yang siap membunuh orang yang tidak patuh dengan nya.
Arkana di lema, dia benar-benar bingung. Hah, ia menghela nafas dan menatap Davin, orang di depannya sungguh tidak menganggapnya seorang pengacara yang bisa saja melaporkan apa yang di lakukan nya terhadap dirinya, pengancaman.
Davin tersenyum menyeringai melihat Arkana bimbang.
"Jika anda melakukan apa yang saya minta, saya akan menjamin keselamatan keluarga anda dari tangan Nile," ucap Davin seolah memberikan jalan aman untuk Arkana.
Arkana menatap Davin, benarkah raja ini dapat di percaya? Jika tidak bagaimana?
"Saya tahu anda bimbang Tuan Arkana, tapi asal anda tahu, saya sama sekali tidak memiliki masalah dengan anda, jadi jangan khawatir saya akan mengingkari apa yang saya katakan. Jika anda mau bekerja sama dengan saya, maka anda akan aman,"
Mendengar itu Arkana berpikir ulang. Jika memang benar Raja di depannya dapat di percaya mungkin memang benar dirinya dan keluarga akan aman dari tangan Nile. Tapi jika dirinya menolak, maka sudah di pastikan semua keluarga nya bisa saja mati.
"Bisakah saya mempercayai anda?"
"Tentu saja," jawab Davin
Arkana menunduk, semoga keputusannya benar memilih bekerja sama dengan Raja dari Kerajaan NAVOLEON. Setelah keputusannya bulat, Arkana menatap Davin dan menganguk. "Baiklah, saya terima," jawabnya membuat Davin dan Varo tersenyum.
"Jawaban yang bagus dan mulai sekarang lakukan tugas anda. Saya akan mengirim seseorang untuk mengawasi anda," ucap Davin membuat Arkana mengerutkan kening. Bukankah sekarang dirinya akan di awasi. Dan jika berani berkhasiat mungkin dirinya akan langsung mati.
"Anda tenang saja tuan, saya tidak akan mengingkari janji saya untuk membantu anda. Jadi tidak perlu khawatir akan saya berkhasiat,"
Hmmm...
Setelah berbincang cukup lama, Arkana pun pergi dari ruangan itu dengan tubuh lemas. Kenapa nasibnya menjadi seperti ini? Terikat dengan orang yang memiliki kuasa besar.
Tubuhnya seakan lemas, ia masuk kedalam mobil, dan menyandarkan tubuhnya, menatap dua amplop yang diberikan Asisten Varo. Di bukanya amplop berisikan foto putrinya, rahangnya langsung mengeras. Semua ini karena putrinya. Jika saya putrinya tidak melakukan hal menjijikan ini, dirinya tidak perlu harus menuruti keinginan Davin. Tapi semuanya sudah terlanjur dan nasi sudah menjadi bubur, dan sekarang tinggal menjalani yang sudah terjadi.
__ADS_1
.
.
Di tempat Davin berada, Varo memikirkan tentang Arkana apakah bisa di percaya atau tidak. Jika sampai tidak bisa di percaya bukankah Nile akan mengetahui.
"Tuan,"
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tenang saja, dia tidak akan melakukan hal yang bodoh," jawab Davin santai, yakin Arkana tidak akan mengingkari kesepakatan mereka.
"Baik, tuan," jawab Varo percaya.
.
.
Di kediaman Haidar, Haidar menemui Rerena untuk bertanya tentang Tuan dan Nyonya Marcell apakah benar berada di tangan Nile atau tidak. Di lihatnya Rerena sedang menyusun rangkaian bunga di Vas, ia terlihat cantik dan anggun, membuat Haidar yang melihat terpesona.
"Apa kau menyukai tempat ini?" tanya mengambil serangkaian bunga mawar dan menyerahkan kepada Rerena.
Rerena hang melihat tersenyum, mengambil bunga tersebut dan merangkainya. "Ya, aku suka," jawab Rerena fokus dengan pekerjaannya.
Haidar tersenyum lembut dan duduk di samping Rerena, ikut membantu memberikan bunga yang sedang di rangkaian, "Jika kamu senang berada di sini, tetap lah bersama ku."
Rerena yang me dengar langsung menghentikan tangannya, diam, dan menoleh menatap Haidar.
"Sebenarnya aku ingin. Tapi aku___,"
"Aku akan mencoba membuatnya untuk menceraikan mu dan kita akan bersama seperti dulu," Haidar mengambil tangan Rerena dan mengenggamnya. Ia tidak akan meninggalkan dan melepaskan Rerena.
__ADS_1
Rerena menunduk, benarkah Haidar bisa melakukan itu? Jika apanyang di katakan Haidar terbukti bisa, bukankah ia akan sangat bahagia? Rerena mendongak menatap Haidar yang lumayan tampan. Rerena mengangguk, dan akan percaya.
"Tapi kamu harus berhati-hati, Nile tidak seperti yang kita lihat. di belakangnya, ada kekuatan yang mendukungnya, dan itu mengerikan,"
Haidar mengangguk, dan akan berhati-hati berurusan dengan Nile. Haidar teringat dengan apa yang di ucapkan Nile padanya, dan ia pun bertanya tentang kedua orang tua Rerena.
"Re, bolehkah aku bertanya?"
"Katakan, apa yang kamu ingin tanyakan,"
Haidar diam sejenak, dan setelah bertanya untuk mengetahui kejelasannya, "Apakah kedua orang tua mu berada di tangan Nile?"
Rerena yang mendengar terkejut, bagaimana bisa Haidar tahu. "Dari mana kamu mengetahuinya?" tanya Rerena dengan tatapan penuh tanya.
"Jadi apa benar mereka bersama dengan dia?" Rerena tidak lekas menjawab, membuat Haidar mengatakan jika ia tahu dari mulut Nile sendiri, "Aku tahu darinya," jelasnya membuat Rerena menatap tajam Haidar. Bagaimana bisa Haidar tahu dari Nile, apakah mereka pernah bertemu?
"Kalian bertemu?"
Haidar mengangguk, tapi dia tidak mengatakan jika Haidar datang ke tempatnya.
"Apakah dia tahu aku bersama mu?" Lagi-lagi Haidar mengangguk membuat Rerena lemas. Ia takut setelah mengetahui dirinya bersama Haidar, Nile akan melakukan sesuatu yang tidak di inginkan.
Melihat Rerena yang lemas, Haidar memegang bahu dan bertanya, "Ada apa?" tanyanya khawatir.
"Aku hanya khawatir dia melukai mu?"
"Dia tidak akan bisa melukai ku, percayalah," ucapnya percaya diri bahwa Nile tidak akan bisa melukainya. Padahal pikirannya salah, Nile nisa saja dengan mudah melukai bahkan membunuhnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung