
"Kamu tahu, mendengar mu akan membantu ku mencari keberadaan orang tua ku, aku sangat bahagia. Selama ini aku ingin menemukan mereka. Dan entah kenapa aku merasa kamu bisa membantu ku,"
Rerena memiliki perasaan dan pikiran bahwa Davin bisa andalkan. Selama ini ia menanti Haidar menemukan keberadaan orang tuanya, tapi nyatanya sudah menunggu lama, Haidar tidak menemukan keberadaan orang tuanya. Dan kini malah ada hadirnya Bella, Rerena yakin Haidar akan sibuk dengan wanita itu dan melupakan dirinya dan apa yang di mintanya.
.
.
"Jika anda percaya dengan saya, maka saya akan berusaha membantu anda, nona,"
Setelah mereka saling berbincang akrab, keduanya kini semakin dekat layaknya sahabat. Rerena tidak menganggap Davin pelayan, melainkan teman yang selalu menjaga dan membantu.
Waktu menunjukkan siang hari, dimana mereka kini mencari tempat untuk makan siang. Rerena membawa Davin ke tempat yang tidak pernah seumur hidup ia datangi, sebuah rumah makan kecil lesehan. Saat Rerena meminta nya untuk menuju tempat itu, Davin ragu. Ia merasa tempat itu kecil dan kotor dan tidak pantas untuk Davin membawa Rerena makan disana.
"Nona, apa anda yakin makan disini?" Davin bergidik ngeri saat melihat pengunjung tempat makan itu makan satu meja bersama dengan jumlah lebih dari 4 orang.
"Kenapa?" tanya Rerena menatap Davin bingung. Mungkinkah Davin tidak pernah datang ke tempat ini.
"Disini makanan nya enak. Aku yakin kamu akan menyukainya,"
Glek....
Davin menelan ludah. Tiba-tiba perutnya terasa ingin muntah. Tapi saat mengingat dirinya dalam penyamaran dan menjadi orang miskin, ia menghela nafas. Dan dengan terpaksa menuruti apa inginkan Rerena.
Davin ikut saja saat tangannya di seret oleh Rerena masuk kedalam rumah makan tersebut, dan duduk bareng bersama pengunjung lainnya.
Davin begitu kesal saat dirinya duduk bersama dengan seorang pria yang memiliki pasangan, tapi dengan berani dan lancangnya pria itu menatap Rerena yang ada di sampingnya. Ia tidak suka dan ingin membunuh pria itu.
Tatapan nya begitu tajam, dan aura membunuhnya begitu kental membuat pria yang menatap Rerena langsung takut.
"Kita pindah tempat saja." ucap pria itu pada kekasihnya. Dan mereka pun pindah tempat membuat Rerena bingung. Ada apa dengan mereka?
"Kenapa mereka pergi?"
"Saya tidak tahu, mungkin mereka tidak nyaman dengan kedatangan kita,"
"Apakah kita mengganggu mereka?"
"Abaikan saja nona," Davin tidak peduli, ia malah senang jika pria itu pergi karena tidak menatap wanitanya lagi.
.
__ADS_1
.
Setelah makan siang penuh dengan paksaan karena tidak biasa makan makanan seperti itu, kini mereka berada di Mall. Hari ini Rerena akan belanja menghabiskan uang milik Haidar untuk mengobati kekesalan dan kesedihannya hari ini.
Rerena kesana kesini mencari apa yang dia suka. Sedangkan Davin hanya mengekor sambil membawa belanjaan yang di beli Rerena. Davin tidak mengeluh, ia malah senang karena bisa menemani wanitanya berbelanja.
"Apa ini bagus?" tanya Rerena menunjukkan sebuah dres
"Cantik, akan cocok jika nona kenakan,"
"Baiklah, akan aku coba,"
Rerena mencoba dres itu. Dan setelah selesai ia keluar, berdiri di depan Davin, terlihat cantik sampai membuat Davin terpesona.
Davin tidak berkedip, ia sungguh kagum dengan kecantikan yang ada di depan matanya. Tanpa sadar, ia beranjak dan berdiri di depan Rerena, menatap wajah cantik depannya. Dan tangannya terulur menyentuh wajah itu.
Rerena yang melihat diam, tidak tahu apa yang harus di lakukan saat jari itu menyentuh pipinya.
"Sangat cantik,"
Mendengar apa yang di katakan Davin, dada Rerena berdetak tak seperti biasanya. Entah kenapa kata cantik yang keluar dari bibir Daniel membuatnya berdebar.
"Niel," panggil Rerena langsung menyadarkan Davin.
"Maaf, maafkan saya nona,"
Rerena menatap Davin dan setelah itu berbalik, masuk keruang ganti. Ia menyentuh dadanya, ada debaran aneh yang di rasakannya.
"Ada apa ini?" gumamnya bingung dengan hatinya.
Sedangkan di luar, Davin merutuki kebodohannya, tidak bisa menahan apa yang dirasakannya.
"Sial! Bodoh, bodoh, bodoh," Pukuknya pada kepalanya sendiri. "Kenapa kamu tidak bisa menahannya sih. Bagaimana jika dia takut dan menjauhi mu?"
Davin mondar-mandir di depan ruang ganti itu, gelisah, takut Rerena membencinya.
Cklek...
Rerena muncul dari ruangan ganti, berdiri menatap Davin yang masih mondar-mandir tanpa sadar dirinya melihatnya.
Rerena yang melihat, tersenyum kecil. Ia yakin Davin merasa bersalah dengannya.
__ADS_1
Ehem...
Davin yang memdngar langsung menoleh, menatap Rerena yang mantapnya.
"Apa dia marah?" batin Davin tidak berani berkata.
Namun siapa sangka, ternyata Rerena tidak marah. Dan malah menarik Davin pergi dari tempat itu. Davin sungguh terkejut, ternyata Rerena tidak marah dengannya. Ia tersenyum dan ikut kemana Rerena membawa.
Keduanya tak hanya belanja, mereka menonton film bersama. Jika di lihat mereka bukan seperti majikan dan pelayan, melainkan sepasang kekasih. Bagaimana tidak, tanpa ragu kini Davin malah menggenggam tangan Rerena, membawanya keliling Mall, melihat apa yang menarik di matanya.
Rerena hari ini begitu senang, padahal tidak bersama dengan Haidar, kekasihnya. Hari ini pertama kali ia keluar setelah tinggal di kediaman Haidar. Selama tinggal bersama Haidar, tidak pernah Rerena jalan berdua dengannya, karena Haidar selalu sibuk dengan pekerjaannya, tidak ada waktu untuknya.
"Nona, apa ada senang hari ini?"
Rerena menganggguk, ia hari ini sungguh senang. "Ya, ini hari terbaik untuk ku. Terimakasih telah menemani ku,"
"Jika anda bahagia, saya turut senang nona. Oh ya, tunggu sebentar, saya ingin membelikan seuatu untuk anda," Davin pergi saat melihat penjual es krim. Ia membeli 2, untuknya dan untuk Rerena.
Rerena duduk menunggu Davin membeli es krim tak jauh darinya. Ia terus menatap punggung itu. "Sebenarnya kenapa aku ini? Kenapa saat di dekatnya jantung ku berdebar, dan hati ku merasa nyaman." gumamnya memikirkan apa yang di rasakanya, "Tidak mungkin aku___, tidak tidak, ini tidak mungkin," wajah Rerena bersemu, tidak mungkin dirinya menyukai pelayannya.
Davin datang, memberikan es krim kepada Rerena. Rerena mengambil dan memakannya.
"Terimakasih,"
Davin mengangguk. Dia duduk di depan Rerena, saling berhadapan. "Nona,"
"Hm...ada apa?"
"Maaf,"
"Tentang?"
"Tentang kelancangan saya terhadap anda hari ini,"
"Tidak masalah," jawab Rerena santai, menutupi kegugupannya.
Davin tersenyum, semoga saja ini awal dari kedekatan nya. Setelah selesai berbelanja, mereka pun kembali ke kediaman Haidar. Namun saat sampai, Rerena begitu malas. Ia malas bertemu dengan Bella, karena yakin Bella masih ada di mansion
.
.
__ADS_1
Bersambung