Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Idaman


__ADS_3

Tiga hari berlalu, namun hidup yang dialami Naila semakin buruk. Ini hari keempat Naila menjadi seorang istri. Adit memang tidak berbuat kasar kepada Naila, namun ucapan Adit yang begitu tajam, seakan menembus jantung Naila. Naila sadar ini akibat perbuatan Freya yang meninggalkan begitu banyak luka kepada Adit. Tapi tidak seharusnya Adit membalasnya kepada Naila.


"Tidak usah melayaniku! Kamu hanya istri di atas kertas! Jangan coba-coba mengharap perhatianku, itu tidak akan pernah terjadi! Kamu perempuan munafik, tidak jauh beda dengan Kakakmu! Untuk apa kamu memakai jilbab? Untuk menutupi kebusukanmu! Iya?"


jlep...


Bagaikan busur panah menembus jantung Naila. Ucapan Adit selalu melukai hati Naila.Namun Naila berusaha untuk kuat di depan Adit, dia tidak ingin terlihat lemah.


"Kak, kalau Kakak memang tidak menginginkan aku, lebih baik Kakak lepaskan aku!"


"Andaikan orang tuaku tidak memaksaku, aku tidak akan menikahimu! Biarkan saja keluarga kita menanggung malu akibat perbuatan Kakakmu yang memalukan itu! Keluargamu pasti sedang menutupi boroknya!"


"Terserah Kakak! Aku tidak akan membela siapapun!"


Naila hendak meninggalkan Adit keluar kamar. Dia tidak ingin membuat keadaan semakin runyam.


Di Jogja


Farah kebingungan karena menunggu kabar dari Naila. Sudah dua hari Naila tidak dapat dihubungi. Padahal seharusnya dia masuk kuliah. Jika dalam 3 hari dia tidak masuk kuliah tanpa kejelasan, beasiswanya bisa dicabut oleh pihak universitas.


"Tidak biasanya kamu begini, Nai! Sebenarnya apa yang terjadi?" Ujar Farah lirih. Saat ini ia tengah berada di kantin seorang diri.


"Maaf permisi, apa kamu yang bernama Farah?"


"Iya benar, ada apa ya?"


"Perkenalkan, saya Salman." Salman menjabat tangan Farah.


"Salman.... apa kamu Salman temannya Naila?"


"Iya, benar sekali!"


"Ganteng juga, pantesan Naila nggak bisa move on." Batin Farah.


"Di mana Naila sekarang?" Tanya Farah.


"Lho, saya menemui kamu karena ingin mencari Naila!"


"Oh begitu? Naila pulang lima hari yang lalu, dia pamit karena Kakaknya mau menikah. Tapi tiga hari ini dia tidak bisa dihubungi. Saya sudah mencoba menghubungkan berkali-kali.


"Kamu tahu alamat rumah Naila?"


"Tidak tahu, mungkin pihak kampus menyimpan data Naila. Tapi info itu biasanya tidak akan diberikan kepada sembarang orang. Kamu kenapa baru muncul? Dua bulan lalu kamu juga menghilang tanpa kabar? Naila sampai galau menunggu!"


"Benarkah?"


"Ups!!" Farah menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.


"Bisa kamu jelaskan maksud perkataanmu itu?"


"Ti-tidak ada maksud apa-apa, hanya saja waktu itu Naila sempat cerita kalau kamu tidak ada kabar."


"Iya kedua adikku kecelakaan, aku harus segera pulang untuk menghibur dan mendampingi orang tuaku. Aku lupa meminta nomor Naila, padahal aku janji mau main ke kost-annya."


"Kalian itu sama saja! Pelupa berat!"


"Boleh aku minta nomor HP-mu? Siapa tahu ada kabar dari Naila, kamu bisa menghubungi aku."


"Baiklah, sini HP-mu!"

__ADS_1


Salman menyerahkan HP-nya.


"Terima kasih." Ucap Salman.


"Iya sama-sama."


Salman sampai di Jogja tadi pagi, dia ikut kereta api. Setelah kecelakaan yang terjadi kepada kecuali adiknya, Bundanya semakin mewanti-wanti Salman untuk tidak mengendarai mobil dengan jarak yang jauh. Dia sengaja tidak memberitahu Om Alan dan Caca bahwa dia akan datang ke Jogja. Dia ke Jogja karena merindukan Naila, namun ternyata tidak bisa bertemu. Salman memutuskan untuk kembali lagi ke kotanya.


Di rumah Adit


Naila sedang di dapur membantu mbok Darmi memasak siang ini.


"Non, nggak usah repot-repot bantu saya. Nanti Non capek!"


"Saya sudah biasa memasak dan melakukan pekerjaan rumah, Mbok."


"Wah! Selain sholeha, ternyata non juga serba bisa. Beruntung sekali den Adit punya istri seperti non Naila."


Setelah selesai memasak, Mbok Dari dan asisten lainnya menyajikan di di meja makan. Naila kembali ke kamarnya untuk shalat Dhuhur. Saat masuk kamar, ia melihat Adit baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk sepinggang. Naila sontak menundukkan pandangannya.


"Hah.. dasar munafik! Kenapa kamu menunduk?" Adit mendekati Naila.


"A-aku...."


"Kamu malu, iya? Bukannya kamu tidak jauh beda dengan Kakakmu? Pasti dia sudah tidur dengan laki-laki lain!"


Sontak Naila emosi, dia mendongak dan menajamkan pandangannya.


"Maaf kamu salah besar! Kalau tidak bisa menerima setidaknya jangan menghina! Aku sudah cukup sabar menghadapimu, Kak!


"Oh, jadi kamu sekarang sudah berani ya?"


"K-kamu mau apa, Kak?"


"Aku? Bukankah aku suamimu? Jadi mau aku apain saja, aku tidak berdosa."


Tok


Tok


Tok


"Makan siang dulu, Dit!" Suara Mama Dina memanggil.


"Iya Ma!" Jawab Adit


"Tapi kamu jangan GR! Aku tidak sudi menyentuhmu!"


Ucapan Adit kembali menyakiti hati Naila.


Adit pergi dari hadapan Naila begitu saja. Rupanya dia memakai baju dan celana rumahan. Dia keluar dari kamarnya tanpa mengajak Naila.


"Mana istrimu, Dit?"


"Masih shalat!"


"Dia rajin beribadah, jauh berbeda dengan...."


"Tidak usah menyebut namanya lagi, Ma!"

__ADS_1


"Ah, iya! Maafkan Mama."


"Tunggu Naila dulu, kasihan dia."


"Aku sudah lapar, Ma! Masakan Mbok tambah enak!"


Adit melahap makanan yang sudah penuh di piringnya.


Tiga menit kemudian Naik datang.


"Maaf Ma, tadi masih shalat dulu."


"Tidak apa-apa, Nai! Ayo makan dulu! Adit sudah nambah lagi ini, katanya masakan Mbok Dari tambah enak."


Naila hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya.


"Sebenarnya semua orang di rumah ini baik, hanya Kak Adit yang tidak bisa menerimaku." Batin Naila dalam hati.


"Wah, Den Adit suka ya masakannya Non Naila? Dihabisin tuh sama Den Adit."


"Uhuk uhuk." Adit tersedak, Naila memberinya air. Terpaksa ia terima karena keadaan darurat.


"Pelan dong, Dit!" Ujar Mama Dina.


"Ini bukan masakan kamu, Mbok?"Tanya Adit.


"Bukan, Den! Tadi Non Naila maksa mau bantu masak, ujung-ujungnya malah dia yang masak. Maaf ya, Den! Udah bikin Non Naila capek."


"Huft! Terserah!" Adit meninggalkan meja makan.


"Mau ke mana kamu dit?"


"Ke kamar, aku sudah selesai makannya, Ma! Aku mau jemput Papa ke kantor."


"Ya sudah, sana! Terserah kamu!"


Mama Dina sebenarnya tidak enak hati kepada Naila. Dia tahu bahwa Adit belum bisa menerima Naila. Dia berharap kalau pernikahan Adit dan Naila baik-baik saja, seperti di cerita novel yang biasanya awalnya tidak cinta menjadi bucin. Mama Dona sempat punya pikiran untuk memberi obat perangsang untuk Adit, namun tidak jadi karena Papa Arif melarangnya. Lebih baik mereka melakukan hubungan suami-istri atas dasar suka sama suka dan dalam keadaan sadar.


"Nai, kamu pintar masak juga ya?"


"Hanya masakan biasa, Ma."


"Tapi ini beneran enak!"


"Terima kasih, Ma!"


Setelah selesai makan, Naila membantu Mbok Dari untuk membereskan meja makan. Meski sudah dilarang oleh mertuanya, Naila tetap bersikukuh untuk membantu.


"Kamu wanita yang baik, Nai! Menantu dan istri idaman. Adit memang bodoh! Matanya sudah diracuni wajah Freya. Hatinya sudah diselimuti sakit hati dan dendam." Batin Mama Dina dalam hati, saat memperhatikan Naila ya yang telaten dalam melakukan pekerjaan.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah mampir kakak


Mohon dukungannya untuk karyaku ini, semoga bisa lebih semangat up.


See you again...

__ADS_1


__ADS_2