
Salman tentu akan sangat bahagia jika Naila mau menikah dengannya. Tapi ia belum tahu perasaan Naila. Orang tuanya juga tidak tahu status Naila yang sebenarnya.
Naila pulang ke kost diantara Raisya dan Haris. Sepanjang perjalanan Naila hanya diam. Sesekali Raisya mengajaknya bicara. Dia hanya menjawab singkat pertanyaan Raisya, karena takut salah bicara.
"Terima kasih, Om, Tante, sudah mengantarkan saya."
"Sama-sama, Naila! Maaf ya, kalau kamu tidak nyaman dengan kejadian semalam. Kami tunggu kabar selanjutnya. Segera hubungi orang tuamu, dan kami ingin bertemu dengan mereka.
"Baik, Tante."
Naila mencium punggung tangan orang tua Salman.
Raisya dan Haris kembali ke rumah Salman.
Salman sedang keluar ke distro. Saat ini Orang tuanya sedang bermusyawarah di di ruang tamu.
"Ayah, apa kita tidak keterlaluan kepada mereka?"
"Tidak! Salman memang harus ditegasin!"
"Tapi putra kita tidak mungkin berbuat sesuatu yang dilarang agama! Aku jamin itu!"
"Bunda ini gimana sih! Tadi kamu juga memojokkannya! Tapi biarkan saja! Lagian ya, aku tahu kalau bocah itu sebenarnya suka sama Naila!"
"Kok Ayah tahu? Aku juga berpikiran yang sama lho, Yah!"
"Ya tahu-lah! Aku ini sudah berpengalaman! Lagian putra kita wataknya itu tidak jauh beda denganku."
"Ya, ya, aku percaya itu! Aku memang melihat dari tatapan Salman, kalau dia itu punya perasaan kepada Naila. Tapi tidak tahu dengan Naila."
"Kita lihat saja nanti, Bun!"
"Tapi Bunda suka sama Naila, Yah! Anaknya santun, baik, dan menutup aurat pula."
"Iya, sudah masuk kriteria menantumu itu, Bun! Tapi kita belum kenal dengan keluarganya."
"Iya, semoga saja Naila keturunan orang baik-baik. Aku akan mendo'akan yang terbaik untuk mereka."
"Untuk kita, gimana?"
"Jangan ditanya lagi kalau itu, Yah!"
Raisya bersender ke bahu Haris dan menggenggam tangan suaminya itu. Keromantisan mereka tidak luntur, meski sudah berumur.
Di Singapura
Faisal, Rendy, dan Rindi masih menemani Freya di Singapura. Mereka masih membujuk Freya untuk mau dinikahkan dengan Alfano. Freya masih bersikukuh tidak mau, alasannya karena dia tidak mencintai Alfano.
Saat Freya berada di dlam kamarnya, Faisal menghampirinya.
"Ayah mohon, Fre! Untuk kali ini dengarkan Ayah! Ini demi kebaikan kamu dan Kenzo. Masalah cinta, itu bisa datang sering berjalannya waktu.Lihat anakmu! Apa kamu mau dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ayah?"
"Dia bisa mendapatkan kasih sayang Ayahnya tanpa kami menikah, Yah!"
__ADS_1
"Kamu tetap saja keras kepala! Pikirkan lagi baik-baik! Alfan itu laki-laki baik dan bertanggung jawab! Hanya wanita bodoh yang tidak mau menerimanya!"
Faisal merasa kesal kepada putri pertamanya itu, dia keluar meninggalkan kamar Freya. Apartemen Alfano memiliki dua kamar. Saat ini Kenzo sedang digendong Rindi di kamar sebelah. Alfano sedang bekerja, dan biasanya akan pulang sore hari. Faisal dan Rendy duduk sambil ngobrol di ruang tamu.
Tiba-tiba HP Faisal berdering. Ternyata Naila yang menelponnya. Faisal segera menerima panggilan Naila.
"Assalamu'alaikum, Ayah."
"Wa'alaikum salam, Nai."
"Ayah, maafkan aku! Kemarin tidak sempat telpon. Aku sibuk sekali."
"Tidak apa, Nai! Ayah mengerti, kamu pasti sibuk. Ayah juga lupa memberitahumu, sekarang Ayah sedang di Singapura."
"Apa, Singapura? Ngapain?"
"Iya, Ayah sedang menemui Kakakmu! Besok atau lusa Ayah akan pulang. Nanti Ayah akan langsung ke Jogja menemui dan akan Ayah ceritakan semuanya. Kamu baik-baik ya di sana!"
"Iya, Yah! Kalau begitu Ayah hati-hati! Jaga kesehatan, aku tunggu kedatangan Ayah!"
"Iya, sudah dulu! Ayah masih ada perlu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Naila mengurungkan niat untuk bercerita kepada Ayahnya. Karena mungkin saatnya belum tepat. Dia akan bercerita nanti kalau Ayahnya menemuinya.
"Siapa yang telpon, Cal? Naila?"
"Iya, Ren!"
"Anak itu keras kepala!"
"Kalau begitu, nurun kamu!"
"Ah, lebih tepatnya mirip Ibunya! Aku mohon Ren, jangan urungkan niatmu untuk menikahkan mereka!Freya itu sebenarnya baik, hanya saja anak itu masih menyimpan sakit hati atas perpisahan aku dan Ibunya. Dan dia juga kurang kasih sayang seorang Ibu. Makanya dia susah dibilangin. Beda dengan Naila, anak ith selalu mengalah, dan lembut hatinya."
"Wajar Freya begitu, Cal! Tapi intinya dia sebenarnya baik kok! Aku mau mereka tetap menikah! Lihatlah, Kenzo sangat mirip dengan Alfan! Aku tidak ingin Kenzo menjadi anak dari laki-laki lain. Dia akan tetap menjadi cucuku." Ujar Rindi yang sedang menggendong Kenzo dan baru keluar dari kamar.
"Ya, ya! Tentu, Ma! Alfan juga sudah membujuk Freya sejak Kenzo masih di dalam kandungan, tapi Freya tidak mau! Kali ini dia setuju atau tidak, tetap kita nikahan saja! Gimana menurutmu, Cal?"
"Ya, aku setuju! Setelah masa nifsnya habis, kita nikahan saja mereka. Rin, kamu masih mau tetap di sini, kan?"
"Iya, Cal! Aku akan mendampingi Freya untuk mengurus Kenzo. Kamu dan Mas Rendy pulang saja!"
"Aku akan pulang besok, dan langsung menuju Jogja. Aku harus bertemu dengan Naila."
"Oke, nanti aku akan urus tiketnya! Rendy meninpali.
Tidak lama kemudian, Alfano datang. Dia mencium punggung tangan ketiga orang tua yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Hai, anak Papa!"
"Jangan pegang dulu, Fan! Cuci tangan sana! Mandi dan ganti baju dulu! Baru kamu boleh pegang Kenzo."
__ADS_1
"Gitu amat, Ma?"
"Ya harus! Kamu nggak mau Kenzo sakit, kan? Sana ikuti apa kata Mama!"
Alfano masik ke kamarnya, mengikuti perintah Mamanya.
"Lihatlah, Cal! Alfan sangat sayang kepada Kenzo!"
"Hem, iya! Aku bisa lihat itu!"
Tidak kama kemudian Kenzo menangis. Rindi masuk ke kamar Freya untuk memberikan Kenzo.
"Kenzo kenapa, Tante?"
"Sepertinya dia haus! Kamu kasih ASI dulu."
"Iya, Tante."
Freya membuka kancing bajunya dan memberi ASI Kenzo.Dia melirik kepada Rindi. Sepertinya dia malu.
"Aku keluar dulu!" Pamit Rindi.
Rindi kembali ke ruang tamu, duduk bersama suaminya dan Faisal. Kemudian Salman keluar dari kamarnya dengan pakaian santai dan wajah yang segar. Rupanya dia baru selesai mandi.
"Mana Kenzo, Ma?"
"Bersama Freya di kamar!"
Sontak Rendy membuka kamar Freya. Iya tidak sabar ingin mencium Baby Kenzo.
"Eh, eh, Fan....."
Belum sempat Rindi melanjutkan perkataannya, Rendy sudah masuk ke dalam Kamar Freya.
Nampak Baby Ken sedang mengemut ASI dari sumbernya. Alfano tercengan di tempatnya berdiri. Dia menelan salivanya sendiri melihat Buah da*a Freya yang begitu Sintal.
Sontak Freya menutupi sumbervASI itu dengan sebelah tangannya.
Plak
Rindi memukul punggung anaknya.
"Mama!"
"Kamu itu, ya! Asal nyelonong saja! Kalian itu belum halal!"
"Ya, maaf! Aku tidak sabar ingin mencium Kenzo."
"Kamu lihat itu, Fre! Kalau begini terus, kalian hanya akan menambah dosa! Keputusan kami, kalian akan tetap menikah setelah Freya selesai masa nifas! Titik! Jangan ada bantahan lagi!"
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Jangan bosan untuk selalu support karyaku ya kak readers
See You Again.....