Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Mama


__ADS_3

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Hari ini kamis sore, Naila dan Salman pulang ke Surabaya. Mereka membawa semua oleh-oleh yang belum sempat dibagikan kepada keluarga.


Turun dari pesawat, entah kenapa perut Naila mual seakan ingin muntah. Ia menahan gejolak itu.


"By, aku ke toilet dulu!"


"Iya, Sayang."


Naila melangkah cepat ke toilet.


"Huek...huek..." Naila memijat tengkuknya sendiri. Setelah dirasa lebih enak, ia keluar dari toilet.


"Sudah, Sayang?"


"Sudah, By!"


"Ayo, Ayah sudah menunggu kita!"


"Kenapa bukan Mang Diro yang jemput?"


"Mertua tersayang itu tidak sabar ingin bertemu denganmu."


"Hah... Bunda ikut?"


"Iya."


Sampai di parkiran mobil mereka sudah melihat Ayah dan Bundanya. Salman dan Naila langsung mencium punggung tangan kedua orangnya. Salman memindahkan barangnya dari troli ke bagasi mobil.


Salman duduk di samping kemudi. Naila dan Raisya duduk di jok tengah.


"Naila, kamu sakit? Kok kelihatannya pucat?"


"Nggak, Bun! Aku sehat, masa sih pucat?"


"Mungkin kurang tidur, Bun! Anakmu ini pasti sudah menyiksanya tiap malam, haha...." Haris menimpali.


"Ayah, kalau ngomong suka bener, haha...." Salman membenarkan ucapan sang Ayah.


Raisya hanya bisa geleng kepala mendengarkan.


"Ayah sama anak, sama-sama absurd! Semoga cucuku kelak tidak menurun sifat mereka." Celetuk Raisya.


Naila hanya tersenyum mendengar ucapan mertuanya.


"Tapi sepertinya kamu gemukan, Nai!"


"Masa sih, Bun?"


"Iya, pipimu jadi chabi!"


"Benar juga yang bunda bilang, perasaan pakaian dalamku mulai sesak." Batin Naila.


Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Faisal. Di sana sudah ada Freya, suami dan anaknya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam, alhamdulillah kalian sudah sampai! Ujar Faisal.


"Tadinya mereka mau langsung aku bawa ke rumah, Mas! Tapi kasian, mungkin kalian mau perpisahan dulu, sebelum punya Ibu baru!" Ujar Raisya.

__ADS_1


"Iya, aku ingin menghabiskan masa lajangku dengan mereka, haha...." Sahut Faisal.


Karena acara pernikahan Faisal dan Putri diadakan dengan sederhana, tidak banyak persiapan yang mereka lakukan. Hanya acara akad nikah saja di masjid dekat rumah Putri. Catering sudah jelas dari Ibunya Faisal. Hantaran dan lainnya sudah diurus Freya dan suaminya.


Setelah mengantar anak dan menantunya, Haris dan Raisya berpamitan pulang.


"Dek, kamu kok pucat? Sakit?"


"Nggak, Kak! Cuma kecapean saja!"


"Yang bener? Kalau sakit bilang, jangan ditahan!"


"Tadi sempat mual turun dari pesawat."


"Apa jangan-jangan kamu hamil, dek?"


"Hah... hamil? Aku belum telat, Kak! Besok lusa seharusnya aku datang bulan."


"Ya bisa saja, Dek! Kamu kan, lagi datang bulan pas waktu baru nikah! Lagi masa subur tuh! Bisa saja langsung jadi."


"Aku berhubungan dengan suamiku belum sebulan lho, Kak!"


"Ish, polos amat adekku ini! Lihat saja lusa! kalau telat segera test!"


"Iya deh!" Naila mengiyakan meski dirinya tidak yakin.


Malam harinya mereka berkumpul untuk barbeque-an. Nenek dan Kakek mereka juga berkumpul di sana. Kenzo tidak mau lepas dari gendongan Naila. Bayi yang berusia 3 bulan itu anteng saat digendong Naila.


"Sayang, Kenzo lucu ya? Nanti kalau kita punya anak, pasti kayak Kenzo gantengnya!"


"By, kamu ingin anak laki-laki?"


"Untuk anak pertama, aku sih terserah mau laki atau perempuan yang penting sehat dan sempurna."


"Iya, Bang!"


Mereka-pun makan brsama di halaman depan rumah.


Keesokan harinya.


Semua keluarga sudah siap untuk berangkat mengantar Faisal melepas status dudanya. Naila dan Freya memakai gaun yang sama. Mereka berdua akan mendampingi Ayahnya.


"Ibu, hari ini Ayah akan menikah, setelah sekian tahun Ayah sendirian membesarkan kami. Aku tidak pernah membenci Ibu. Dimana pun Ibu berada semoga Ibu diberi kesehatan. Aku masih berharap bisa melihat Ibu. Ayah akan memulai hidup yang baru. Aku yakin, wanita pilihan Ayah bisa menjadi pengganti yang lebih baik. Maaf aku tidak berkata ibu tidak baik, hanya saja Ibu kurang bersyukur. Ibu tetaplah Ibuku dan Kak Freya." Gumam Naila dalam hati.


Saat ini mereka sudah berada di mobil menuju masjid. Naila melihat ada sesuatu yang Ayahnya risaukan.


"Ayah kenapa? Grogi?"


"Naila, apa salah jika Ayah belum mencintai Tante Putri? Ayah memang sudah ta'arru dengannya. Ayah suka sama dia, dan berusaha untuk menerimanya."


"Tante Putri itu orang baik, Yah! Nai yakin setelah Ayah menjadi suaminya, Ayah akan jatuh cinta sama dia."


"Ayah kayak ABG, sih! Haha...." Celetuk Freya.


Akhirnya mereka sampai di masjid. Keluarga Putri sudah menunggu mereka di sana. Kedua orang tua Putri sudah tidak ada. Kakaknya yang akan menjadi wali nikah mereka.


Rombongan Faisal masuk ke dalam Masjid membawa seserahan. Putri memakai kebaya muslimah putih dan duduk di tengah tengah keluarganya. Polesan natural di wajahnya nampak anggun di mata yang melihatnya.


Acara pun dimulai. Faisal saat ini sudah menjabat tangan penghulu.

__ADS_1


"Saya nikahkan dan kawinkan adinda Putri Indah Lestari binti almarhum Fatahillah dengan engkau Faisal Ali Hamdani, dengan mas kawin uang sebesar 10 juta rupiah dan seperangkat alat shalat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Putri Indah Lestari binti almarhum Fatahillah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Sah..."


"Sah!"


"Alhamdulillah."


Pak ustadz pun membacakan do'a untuk kedua mempelai.


Putri dituntun oleh Raisya untuk mendekat kepada suaminya. Ia mencium punggung tangan suaminya. Faisal membalas dengan mengecup kening Putri.


Melihat itu, Naila dan Freya berkaca-kaca. mereka sangat terharu dan bahagia.


"Semoga Tante Putri menjadi jodoh terbaik untuk Ayah." Do'a Naila di dalam hati.


"Semoga Tante Putri bisa menjadi pasangan yang baik untuk Ayah." Do'a Freya dalam hati.


Semua orang memberikan selamat. Acara dilanjutkan dengan foto bersama. Tidak banyak waktu yang mereka habiskan di masjid. Karena 3 jam lagi Masjid akan ditempati shalat jum'at.


Satu persatu dari mereka meninggalkan Masjid. Putri akan langsung diboyong ke rumah Faisal. Rio masih ingin tinggal di rumah lama peninggalan Neneknya. Faisal dan Putri tidak ingin memaksanya. Mereka menitipkan Rio kepada sepupu Putri yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Putri.


Naila dan Salman ikut pulang ke rumah Faisal. Freya dan Alfano pulang ke rumah orang tus Alfano. Orang tua Faisal langsung pulang ke rumahnya sendiri.


Siang harinya, setelah shalat jum'at. Salman, Naila, dan pasangan pengantin baru makan siang di meja makan. Mereka makan menu sisa katering tadi pagi.


"Em... Ayah! Nanti sore aku dan Mas Salman mau ke rumah Bunda Raisya! Kita mau nginap di sana! Nggak pa-pa kan, Yah?"


"Kenapa nginap di sana? Idah nggak betah tinggal sama Ayah?"


"Bi-bukan begitu." Naila melirik suaminya.


"Itu, Yah! Itu ide saya, biar nggak ganggu pengantin baru." Salman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Apaan sih? Kita ini udah tua!"Putri menimpali.


"Tapi semangat masih muda kan, Yah?" Salman menggoda mertuanya.


"Dasar, keturunan Banget Haris!" Celetuk Putri menahan malu.


"Hubby... jangan godain orang tua, kualat lho!"


"Ampun, Ayah! Ampun, Ma!"


"Ma?"


"Iya, mulai saat ini kami akan memanggil Mama! Bukankah Mama sudah menikah dengan Ayah? Kita akan memanggil Mama seperti Rio." Jawab Naila.


Putri tersenyum bahagia.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa mampir di novel "Ketegaran hati Raisya" ya kak!


Novelnya seru dan seperti nyata.

__ADS_1


Terima kasih sudah selalu support author.


See you again....


__ADS_2