Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Mencari titik terang


__ADS_3

Keesokan harinya.


Jam 4 Shubuh Salman terbangun, biasanya Bundanya menelpon membangunkan untuk shalat Shubuh. Namun kali ini Ayahnya yang menelpon.


"Iya, Bun! Ini aku sudah bangun. Terima kasih Bundaku sayang! Emmuah..."


"Heh... ini Ayah! Pake cium-cium segala! Awas..."


"Aku mau shalat dulu, Yah! Assalamu'alaikum."


Sebelum mendengar omelan Sang Ayah, Salman segera menutup telpon. Salman masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu'.


Setelah shalat, Salman teringat kepada Naila. Dia mengambil HP-nya kembali dan menghubungi nomor Naila.


Butuh waktu beberapa detik, barulah panggilannya diterima.


"Hallo!" Jawab Naila, malas. Kesadarannya belum penuh.


"Hallo, Nin!"


Mendengar panggilan itu, seketika Naila membulatkan mata.


"Ha-hallo! Salman?"


"Nindi! Kamu baru bangun?Belum shalat, hem?


"Lagi libur! Kamu dapat dari mana nomor HP-ku?"


"Dari HP-mu!"


"Ish, kamu....!"


"Iya aku lancang! Sorry! Sebagai permintaan maafku, nanti aku akan menjemputmu pulang kuliah."


"Ng-nggak usah! Apaan sih!"


"Kamu berhutang penjelasan kepadaku, Nin! Kalau kamu tetap nggak mau, biar aku jemput ke dalam kelasmu!"


"Dasar pemaksa!" Batin Naila.


"Eh, nggak usah! Kamu tunggu saja di parkiran.


"Nah gitu dong! Maaf ya udah ganggu tidurmu! Nanti aku jemput jam berapa?"


"Jam 10."


"Ya sudah, mau lanjut tidur lagi atau bagaimana?"


"Udah nggak bisa tidur lagi, mau beres-beres."


"Oke, Kalau begitu aku mau joging dulu! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah menelpon Naila, Salman lari pagi keliling kompleks perumahannya.


Naila menggulung rambut panjangnya asal-asalan. Dia ke kamar mandi mencuci muka dan sikat gigi. Kemudian dia mulai membereskan kamarnya.


Sudah jam 9 pagi, saat ini Naila dan Farah sudah berada di dalam kelas mengikuti mata kuliah. Hanya satu mata kuliah untuk hari ini, jadi mereka bisa pulang lebih awal.


Akhirnya kuliah selesai. Salman sudah mengirim chat kepada Naila. Dia sudah menunggu di parkiran.


"Mau langsung pulang, Nai? Ngantin yuk!"


"Duh, gimana ya, Far?"


"Kenapa, kok sepertinya kamu bingung?"


"Salman mau menjemputku. Semalam disngancam bakalan menjemput ke kelas kalau aku nggak mau dijemput. Kita ke parkiran ya!"

__ADS_1


Mereka berjalan ke tempat parkiran sambil ngobrol.


"Busyet! Nekat juga tuh babang ganteng!Ya sudah, ikutin saja dulu! Mungkin kalian akan menemukan titik terang. Lagian kamu kenapa sih, Nai? Kayaknya menghindar terus dari Salman.


"Panjang ceritanya! Kapan-kapan aku akan cerita kalau sudah jelas."


Saat ini mereka sudah berada di tempat parkir mobil kampus. Dari arah yang cukup dekat, Salman melambaikan tangan kepada Naila.


"Far, maaf ya? Kali ini aku tidak temanin kamu!"


"Nggak pa-pa, Nai! Aku juga mau langsung pulang saja. Mau bantu-bantu Mama, nanti malam keluarga Mbak Safira mau ke rumah. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku ya? Haha...."


"Kamu kira,Salman mau nyulik aku, gitu? Ya sudah! Hati-hati, Far!"


"Siap, sayangku!"


Naila berjalan ke tempat Salman menunggunya. Naila dengan kesal memasang muka juteknya.


"Nin, nggak usah dijutekin mukanya! Nggak pantes!"


"Apaan sih!"


Salman membukakan pintu untuk Naila. Tidak ingin berdebat, Naila-pun masuk ke dalam mobil.


"Ayo masuk, tuan putri."


"Bang Salman....!" Suara Caca mengejutkan keduanya.


"Bocah pengganggu datang." Batin salman.


"Bang Salman, mau ke-ma-na?" Ucapan Caca terputus saat melihat Naila sudah di dalam mobil Salman.


"Mau pergi, kenapa?"


"Kemana?"


"Ikuuutt...!"


"Kamu masih ada kuliah, Ca! Jangan coba-coba bolos! Atau aku laporkan ke Om Alan! Lagian ngapain kamu jam segini ke tempat parkiran, hah? Bukankah kamu pakai motor?"


"Cu-cuma iseng saja tadi."


"Sudah sana! Masuk kelas!"


Salman masuk ke dalam mobil. Caca masih berdiri di depan mobil Salman.


Tin...


Tin...


Salman membunyikan klakson mobilnya agar Caca segera pergi. Caca tang sudah kesal, nrnghentakkan kakinya dan meninggalkan parkiran.


Salman melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menyetel musik untuk menemani perjalanan mereka. Hari ini cuaca sedikit mendung. Naila tidak mengeluarkan suara satu kata-pun. Dia tidak tahu akan dibawa kemana oleh Salman. Rupanya perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Sampai akhirnya Naila menemukan petunjuk arah. Sepertinya dia akan dibawa ke pantai.


"Ehm, sariawan Neng? Kok daritadi diam saja?"


"Nggak!" Jawab Naila, singkat.


"Maaf ya, Nin! Aku agak memaksa, karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kemudian baru bertemu. Sungguh membuatku sangat senang. Namun saat bertemu kembali, kenapa rasanya kamu berbeda. Aku ingin berbicara baik-baik denganmu. Jadi, kuharap kamu mengerti." Tutur Salman.


Naila tidak membalas perkataan Salman. Kali ini dia tidak tahu harus menjawab apa.


Lima menit kemudian, mereka sampai di Pantai Indrayanti. Setelah memarkirkan mobilnya, Salman mengajak Naila turun dan masuk area pantai. Mereka duduk di salah satu cafe yang tersedia di sana.


"Mbak, saya pesan kelapa muda dua sama pisang coklat ya!" Ujar Salman kepada salah satu pelayan cafe.


"Ada lagi, Kak?"


"Nin, kamu mau apa lagi?"

__ADS_1


"Tidak, sudah cukup."


"Cukup! itu saja, Mbak!"


sembari menunggu pesanan datang, Naila mengambil foto pantai dari HP-nya. Air pantai yang biru, langit yang mulai cerah. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seketika hati Naila merasakan kedamaian.


"Silahkan, Kakak."


Naila dan Salman meminum kelapa muda.


"Nin, aku tidak akan berbasa-basi. Kita bukan anak SD lagi, jadi jika aku punya salah tolong katakan! Kenapa kamu menghindar dariku?"


"Aku... aku hanya tidak ingin mengganggumu."


"Kenapa mengganggu? Alasannya terlalu ambigu."


Naila memperhatikan jari Salman. Tidak ada cincin yang Salman pakai.


"Kamu lihat apa, Nin?"


"Kenapa kamu tidak memakai cincin?"


"Cincin apa?"


"Cincin tunangan! Bukankah kamu sudah bertunangan?"


"Hah! Tunangan? Kata siapa?"


"E... itu, anu!"


"Itu, anu! Yang jelas ngomongnya, Nin!"


"Caca! Dia yang bilang waktu itu. Katanya kamu cepat-cepat balik karena mau bertunangan." Ujar Naila. Dia menunduk dan memainkan ujung jilbabnya.


"Caca... Caca...! Anak itu suka ngarang cerita! Maksudnya apa, coba!"


Akhirnya Salman menceritakan yang sebenarnya kepada Naila.


"Jadi kamu menghindar, karena tahu kalau aku bertunangan? Terus kamu tidak mau berteman denganku lagi, begitu?"


"Aku tidak mau disangka pelakor kalau dekat dengan kamu, Man!"


"Tapi bukan karena kamu sakit hati, kan?" Ujar Salman, menyeringai.


"Dih, apaan sih! Mulai resenya!"


"Tapi ada lagi yang ingin aku tanyakan, maaf kalau ini sangat pribadi. Kenapa pihak kampus sampai mencabut beasiswamu?"


Naila menceritakan kronologi penyebab beasiswanya dicabut sampai akhirnya dia harus bekerja, namun dia belum cerita soal pernikahannya.


"Nin, Ayahmu pasti mengerti keadaanmu. Kenapa kamu tidak cerita saja?"


"Aku tidak mau Ayah kepikiran! Semuanya sudah kacau, aku tidak mungkin menambah beban untuk Ayah!"


"Kacau bagaimana? Sebenarnya apa yang terjadi, Nin?"


"Kakakku kabur di hari pernikahannya, dan aku harus menjadi pengantin pengganti!"


Jeddaaar....


Bagai disambar petir, hati Salman bergemuruh.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih atas supportnya Kakak


SEE YOU AGAIN.....

__ADS_1


__ADS_2