Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Mulut mercon


__ADS_3

Hari ini Naila kuliah masuk jam 9. Ia sudah janjian dengan Farah. Jam 8 Farah sudah berangkat menjemputnya ke rumah.


Naila baru saja selesai sarapan bersama Salman.


Tin


Tin


Suara klakson mobil.


"Sayang, sepertinya Farah sudah datang, lihat dulu gih! Biar aku yang membereskan!"


"Iya, By!


Naila beranjak ke ruang depan. Dan benar saja Farah sudah turun dari mobilnya.


"Pagi, Mama muda!"


"Ish, apaan sih!"


"Ya kan, bentar lagi mau jadi Mama!


"Nikah baru seminggu, Far! Kamu itu ada-ada saja! Udah sarapan, belum?"


"Udah tadi makan roti! Suamimu mana?"


"Ada, lagi beresin piring bekas kita makan!"


"Wah, parah kamu, Nai! Suami kok dijadikan pembokat!"


"Yee... nggak gitu juga kali, Far! Suamiku itu orangnya fleksibel, bisa menyesuaikan keadaan. Pokoknya idaman banget!"


"Ya, ya... terserah kamu! Emang kalau cinta itu semuanya terlihat indah, haha....


"Duduk bentar, Far! Aku mau lihat suamiku dulu!"


Ternyata Salman sudah selesai mencuci piring dan masuk ke kamarnya.


"Hubby, maaf sudah merepotkan!"


"Kamu itu bicara apa, Sayang? Nggak ada yang direpotin! Udah siap-siap dulu gih! Nanti Farah bisa ceramah agama kalau kelamaan nunggu! Ingat, nggak usah pakai lipstik!"


"Baiklah! Akan aku ingat!"


Naila pun siap berangkat ke kampus dengan Farah. Dia berpamitan kepada Salman. Salman mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu dan memberikannya kepada Naila.


"Uang jajanku masih ada, By!"


"Nggak pa-pa pegang saja!"


"Ya sudah, aku berangkat dulu! Assalamu'alaikum." Naila mencium punggung tangan suaminya.


"Wa'alaikum salam."


Di mobil, keduanya saling bertukar cerita. Farah yang tidak bisa diam itu, tidak ada hentinya menggoda dan memancing Naila.


Sampai di kampus, mereka langsung masuk ke kelas dan mengikuti mata kuliah.


Jam 11 siang, mereka keluar dari kelas. Farah pergi ke toilet dan Naila menunggu di gazebo dekat taman kampus.


Tiba-tiba Caca dan dua orang temannya menghampiri Naila.

__ADS_1


"Mbak, kamu itu apa-apaan sih ngelarang aku untuk main ke rumah Bang Salman? Sok banget! Baru jadi istri satu minggu udah belagu! Aku ini saudaranya! Kamu nggak bisa ngatur aku!"


Naila terkejut dengan ucapan Caca. Ia-pun berdiri sejajar dengan Caca. Setenang mungkin Naila menanggapinya.


"Ca, kamu ngomong apa? Tiba-tiba kayak gini?"


"Alah! Nggak usah pura-pura! Kamu pasti udah main dukun untuk guna-guna Bang Salman! Dengan mudahnya dia bertekuk lutut sama kamu! Atau mungkin saja kamu sudah menggodanya di atas ranjang! Kamu kan, janda!"


Plak....


Tamparan yang cukup keras mengenai pipi kanan Caca. Bukan Naila yang melakukannya, tapi Farah yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka saat baru kembali dari toilet.


"Heh! Kurang ajar!"


Kedua teman Caca menyerang Farah. Namun bukan Farah namanya kalau tidak bar-bar. Farah menjambak rambut salah satunya.


"Rasain! Kamu mau kayak temanmu ini? Iya?"


"Farah, sudah lepaskan! Jangan sampai ada dosen yang lihat! Bisa gawat!"


"Pergi nggak? Ayo cepat sana pergi! Tidak udlsah ganggu Naila lagi!"


Caca mengepalkan tangan.


"Lihat saja nanti!" Ucap Caca dengan nada ancaman.


"Far, kamu nggak pa-pa?"


"Nggak kok Nai! Kamu tenang saja! Gila tuh bocah! Bisa-bisanya ngomong asal ceplos saja kayak kentut! Kalau aku jadi kamu, udah aku sambelin mulutnya!"


"Aku juga kaget tadi! Aku nggak ngerti kenapa dia ngomong gitu! Mungkin dia salah paham."


"Sudahlah! Jangan diambil pusing!"


"Iya... tapi nggak janji!"


Mereka-pun pulang meninggalkan kampus.


Keesokan harinya


Saat pertengahan mata kuliah, Naila dan Farah dipanggil.


"Maaf Pak, permisi sebentar! Tolong yang namanya Naila dan Farah ikut saya ke ruang ketua prodi!" Ucap salah saru dosen yang baru saja masuk ke kelas.


Naila dan Farah berdiri dan mengikuti dosen tersebut. Naila sedang mengira-ngira sebab apa mereka dipanggil.


"Saudari Naila Anindita dan Nadia Faradis."


"Iya, Kami Pak!" Jawab keduanya.


"Apa benar ini yang di dalam video ini kalian?"


Pak Dodi menampilkan vidio CCTV yang menampilkan rekaman kemarin di taman.


"Benar, Pak!"


"Saudari Caca melaporkan tindakan yang tidak menyenangkan dari kalian berdua."


"Itu tidak benar, Pak!"


"Tunggu, biarkan saudari Caca juga mendengarkan penjelasan kalian."

__ADS_1


Caca dan kedua temannya itu masuk ke ruang Pak Dodi.


"Ceritakan kronilinya! Dimulai dari anda saudari Naila!"


"Saya duduk sendirian di gazebo, Pak. Tiba-tiba Caca dan kedua temannya datang dan berkata sesuatu yang tidak pantas kepada saya. Tiba-tiba Farah datang menampar Caca, karena mungkin Farah tidak terima saya dikata-katain, Pak!"


"Dikatain apa? Kok Farah sampai semarang itu?"


Caca dan kedua temannya menyeringai. Mereka yakin bisa mempermalukan Naila di depan beberapa dosen. Naila bingung akan menjelaskan perkataan Caca kemarin.


"Intinya mereka ngatain Naila udah pake dukun untuk guna-guna suaminya, Pak! Suaminya Naila masih saudara sama Caca!" Farah menimpali.


"Kalau hanya seperti itu kenapa kau sampai menampar Caca? Itu tidak mencerminkan seorang yang berpendidikan."


"Lalu apakah seseorang yang berbicara tidak beretika mencerminkan seseorang yang berpendidikan, Pak?"


"Farah, cukup! Saya belum minta kamu melanjutkan keterangan!"


"Caca, benar yang mereka katakan itu?"


"Saya hanya bilang sama Mbak Naila, kalau saya ingin nitip sesuatu ke suaminya, Pak! Tapi dia malah marah-marah. Dan temannya ini malah seperti orang stres tiba- tiba menampar saya dan menjambak teman saya."


Setelah mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Akhirnya Pak Dodi memberi keputusan.


"Kalian discors tiga hari! Jangan ulangi tindakan seperti itu lagi!"


"Baik, Pak." Jawab Naila dan Farah.


"Tapi Pak, mereka yang salah kami tidak! Caca membela diri.


"Tidak usah membela diri, kalian sama-sama salah!"


Mereka-pun keluar dari ruangan itu. Naila bingung harus berkata apa kepada suaminya nanti. Jika dia bilang kena scors, pasti Salman akan tanya penyebabnya.


Farah mengantarkan Naila pulang.


"Tenang, Nai! Biar aku yang jelasin ke Salman!"


"Tapi aku tidak mau dianggap mengadu domba Caca dan suamiku, Far!"


"Ngadu domba apanya? Itu si Caca Marica hei hei yang bikin ulah! Punya mulut kayak mercon! Sudah, pokoknya kamu diam saja! Biar aku yang jelasin ke Salman!"


Naila tidak ingin berdebat lagi. Farah tidak bisa dicegah lagi. Dia hanya bisa berharap semuanya baik-baik saja.


Sampai di rumah, ternyata Salman belum pulang. Farah masih di rumah Naila, menunggu Salman pulang.


30 menit kemudian Salman pulang. Naila menyambut suaminya.


"Dari distro, By?"


"Iya sayang!"


"By, ada Farah! Dia mau ngomong sama kamu! Tapi kalau kamu capek, nggak usah dulu deh, By!"


"Nggak, kok! Aku nggak capek! Daritadi di distro cuma duduk saja!"


Salman dan Naila masuk ke dalam rumah, dan menemui Farah yang sedang menunggu di ruang tamu.


Bersambung


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


See you again Kakak....


__ADS_2