Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Flash Back On


__ADS_3

Flash Back On


Kala itu Freya sedang ada pemotretan di Malaysia. Dalam dunia permodelan, tentu tidak selalu berjalan dengan mulus. Ada beberapa orang yang bersaing secara tidak sehat. Aira adalah teman dekat Freya di agencynya. Namun sayangnya Aira ternyata tidak sebaik yang Freya pikirkan. Aira adalah akar dari permasalahan Freya. Dia sengaja memberikan obat perang*ang ke dalam minuman Freya, saat mereka tengah melakukan launching busana yang dibintangi oleh agency mereka di Malaysia. Aira ingin mencoreng nama baik Freya dengan cara menjebaknya. Dia menghubungi salah satu bos relasi salah satu agency yang bersedia membayar Freya dengan mahal.


Acara launching diadakan di salah satu hotel bintang lima. Saat itu Freya yang tidak tahu akal busuk Aira, menguk habis orange juice yang diberikan Aira.


"Fre, kamu kenapa?" Tanya Aira pura-pura khawatir.


"Nggak tahu, rasanya panas." Freya mulai gelisah, obat itu mulai bereaksi.


"Ayo aku antar kamu ke kamar."


"Tidak usah, aku bisa sendiri. Tolong kasih tahu ke yang lain, aku balik duluan."


"Oke."


Ada seseorang yang sedang memperhatikan Freya dari jauh.


Freya masuk ke kamarnya. Dia membuka pajaiannya, dan hanya menyisakan pakaian dalamnya.


Tok


Tok


Tok


Freya yang tidak sadar dengan keadaan tubuhnya, melangkahkan kaki untuk membuka pintu kamarnya.


Ceklek


Dia mengintip di tepi pintu.


"Hai Nina Freya."


"Tuan Jhon, kenapa anda di sini?"


"Tidak usah berpura-pura, Nona. Anda sudah menerima uang dariku."


Tuan Jhon mendorong pintu kamar Freya.


"Wow, rupanya kamu sudah tidak sabar, lihatlah kamu seksi sekali."


"Stop! Tolong keluar dari sini!"


Tuan Jhon mulai membuka jas yang dia pakai. Freya sudah mulai bergejolak, namun akal sehatnya masih terkontrol.


"Keluar!" Freya berusaha mendorong tubuh Tuan Jhon. Namun usahanya tidak membuahkan hasil, kekuatannya tidak sebanding dengan tubuh Tuan Jhon yang tinggi besar. Saat ini tubuh Tuan Jhon sudah berada di atasnya, menindih tubuhnya.


Gubrak.....


Suara pintu terbuka. Memang pintu itu lupa dikunci, karena mata Tuan Jhon sudah dusuguhi pemandangan indah.

__ADS_1


"Biadap!" Ujar Alfano. Dia menarik tubuh Tuan Jhon dan menghajarnya habis-habisan. Freya menutupi tubuhnya dengan selimut yang ada di atas tempat tidur. Alfano sudah menghubungi keamanan.


"Bawa orang ini keluar!"


Alfano menutup pintu kamar Freya.


"Freya, kamu baik-baik saja?"


Alfano mendekati Freya.


"Panas Bang! Abang kenapa bisa ada di sini?"


Freya yang mulai kepanasan lagi membuka selimutnya.


"Fre, tutup tubuhmu!"


"Aku kepanasan Bang, tolong aku!"


Alfano menggendongnya ke kamar mandi, dan mendudukkannya di bawah shower. Namun gairahnya tak kunjung padam. Justru ia semakin merang*ang melihat rambut Alfano yang basah karena terkena percikan air.


Freya menarik tubuh Alfano sampai ia terjelembab ke tubuh Freya. Freya mengecup bibir Alfano. Sebagai seorang laki-laki dewasa dan berpengalaman, Alfano tentu memiliki gairah yang sama. Hanya saja dia masih bisa menahannya.


"Stop, Fre! Ini nggak bener!"


"Abang tolong aku! Aku nggak kuat lagi!"


Gairah Freya sudah memuncak, dia membuka kancing kemeja milik Alfano.Sekuat apapun Alfano menahan, dia tetaplah pria normal. Alfano yang mulai diselimuti naf*u, kini terbawa suasana. Entah bagaimana mulanya, kini Freya dan Alfano sedang bergulat di atas ranjang.


Alfano tersentak mendengar suara Freya.


"Oh ****! Apa yang aku lakukan?" Seru Alfano, frustasi.


"I-ini cuma mimpi kan, Bang? Abang tidak mungkin tega melakukan ini kepadaku, hiks...."


"Ma-maafkan aku Fre! Aku juga tidak menyangka akan jadi begini! Aku hanya manusia biasa. Semalam kamu...."


"Cukup, Bang! Tidak usah dijelaskan! Ini salahku, iya kan?" Suara Freya mulai melemah.


"Aku akan bertanggung jawab, Fre!"


"Tidak! Abang tidak perlu bertanggung jawab! Ini hanya kesalahan! Aku juga tidak mungkin hamil kalau hanya melakukannya sekali, iya kan?"


"Tapi aku merasa sangat bersalah dalam hal ini, Fre! Aku tidak mau menjadi laki-laki pengecut! Dan aku tidak mau kamu menganggapku mengambil keuntungan dari kelemahanmu semalam."


"Aku tidak mencintai Abang! Pernikahanku dengan Adit sudah di depan mata. Dia sangat mencintaiku, dia pasti bisa menerima semua kekuranganku! Silahkan Abang keluar dari sini!"


"Baiklah, kalau itu yang kamu mau! Berhati-hatilah! Ada seseorang yang tidak menyukaimu,! Apa yang terjadi pada kita semalam, mungkin saja atas ultahnya! Dan kalau kamu berubah pikiran, hubungi aku!"


Alfano memakai pakaiannya dan keluar dari kamar Freya.


Freya masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air shower.

__ADS_1


Tiga minggu kemudian Freya merasa mual dan pusing. Karena telat datang bulan, dia menjadi khawatir.


"Tidak, ini tidak mungkin! Tespeck ini pasti palsu!"Freya menatap dua garis merah di tespeck yang ada di tangannya. Freya tidak menyangka kesalahan satu malamnya akan menjadi masalah besar dalam hidupnya. Padahal rencana pernikahannya dengan Adit sudah di depan mata.


Saat tahu kalau dirinya sedang hamil, Freya depresi, dia ingin menggugurkan bayinya. Untung saja Alfano menemukannya saat di rumah sakit. Alfano berusaha meyakinkan Freya untuk mempertahankan bayi itu. Freya yang merasa bersalah kepada Adit, dia mundur dengan cara melarikan diri di hari pernikahannya. Nasib malang Naila, ia harus menggantikan Kakaknya. Keluarga mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap Freya.


Alfano adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia tetap menemani Freya sampai detik ini. Dia berjanji kepada dirinya sendiri, untuk menjaga Freya sampai melahirkan. Bagaimanapun bayi yang ada di dalam rahim Freya adalah bayinya. Dia sangat berharap suatu saat Freya mau menikah dengannya. Meski belum ada cinta diantara mereka.


Flash Back Off


Naila kini sedang di kost-annya. Dia tidak bercerita kepada Ayahnya, bahwa beasiswanya sudah dicabut. Naila bekerja paruh waktu di Cafe milik kakaknya Farah.


Namun meski begitu, Ayah Faisal tetap mengirim uang kepadanya secara rutin setiap bulan, seperti biasanya.


"Nai! Tolong meja nomor 10 ya! Ini pesanannya!"


"Ok, Fin! Ujar Naila kepada rekan kerjanya yang bernama Fina.


Naila sangat cekatan dalam menyiapkan pesanan Pengunjung. Setelah menyiapkan pesanan, dia mengantarnya ke meja yang dimaksud.


"Permisi, Kak! Ini pesanan Kakak! Coklat hangat dan putu Belanda." Ujar Naila, semangat.


"Nindi?"


Sontak Naila terkejut mendengar panggilan itu. Dia tahu betul siapa pemilik suara itu. Sekuat tenaga dia menundukkan pandangan.


"Nindi, ini kamu, kan?" Reflek Salman menyentuh pundak Naila.


Sontak Naila menghempaskan tangan Salman.


"Maaf saya harus kembali bekerja." Ujar Naila.


"Tunggu!" Salman mengejarnya, namun ada yang menghalangi langkah Salman.


"Maaf, apa karyawan saya bertindak kurang sopan kepada anda?" Tanya Faris, Kakak Farah.


"Ah, ti-tidak! Saya hanya ingin ngobrol dengannya."


"Anda bisa ngobrol banti kalau jam kerjanya sudah habis. Silahkan menikmati hidangan anda."


"Baik, terima kasih."


Salman kembali ke tempat duduknya. Ia menikmati coklat hangat miliknya. Matanya tak lepas memandang Naila yang sedang melayani pelanggan. Nampak jelas bahwa Salman sangat merindukan Nindinya.


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima kasih sudah selalu mendukung karyaku, semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan


See you again....

__ADS_1


__ADS_2