Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Kejujuran Naila


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Saat ini Faisal sudah di bandara bersama Rendy. mereka melakukan penerbangan dengan tujuan berbeda. Rendy ke Surabaya dan Faisal ke Jogja. Faisal sudah menitipkan Freya dan Kenzo kepada Rindi.


Setelah melakukan penerbangan, Faisal memesan taksi menuju Kost Naila. Dia sudah memberi kabar Naila, bahwa dirinya akan sampai di kost 20 menit lagi. Tepatnya jam 16.30. Naila sudah memberitahu Salman untuk izin tidak masuk kerja hari ini. Karena dia ingin menemani sang Ayah.


Naila sedang menunggu kedatangan Ayahnya di depan rumah Bude pemilik Kost-an. Ia sedang berpikir keras untuk menyampaikan sesuatu yang sedang menimpa dirinya.


"Kamu ngapain ngelamun di situ, Naila?" Sura Bude mengagetkan Naila.


"Eh, Bude! Ini aku sedang menunggu kedatangan Ayah."


"Oh, iya! Jangan sambil ngelamun toh nduk!"


"Hehe... iya Bude!"


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Faisal sampai.


Naila tersenyum bahagia menyambut kedatangan sang Ayah. Ia langsung membawa Ayahnya naik ke atas kamarnya.


"Ayah makan dulu, ya! Aku sudah masak sayur sop dan perkedel."


"Wah, pasti enak!"


Naila menuangkan nasi ke piring Ayahnya. Mereka makan bersama. Setelah makan bersama mereka melanjutkan obrolan.


"Bagaimana kuliahmu?"


"Alhamdulillah lancar, Yah! Sebentar lagi aku ujian tengah semester. Do'ain ya, Yah?"


"Pasiti, Ayah selalu mendoakanmu! Kamu kok kurusan, Nai? Kenapa? Apa ada yang kamu pikirkan?"


Sontak Naila terkejut mendengar pertanyaan itu dari sang Ayah.


"Ti-tidak ada, Yah!"


"Jangan bohong! Kamu tidak pandai berbohong."


"Oh iya, Yah! Bagaimana keadaan Kak Freya? Katanya Ayah mau menceritakan tentang dia kepadaku?" Naila mengalihkan pembicaraan.


"Ah iya, Ayah sampai lupa! Hah..." Faisal menghela nafas panjang.


Saat ini mereka berdua duduk bersila di lantai.


"Benar apa kata Adit, Kakakmu memang hamil!"


"Apa? Hamil? Dengan siapa?"


"Dengarkan dulu penjelasan Ayah. Jangan biasakan menanggapi sesuatu terburu-buru sebelum tahu kejelasannya."


"Iya, Yah! Lanjutkan ceritanya! Aku akan mendengarkan sampai tuntas."


Faisal menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa menutupi sesuatu apapun pada Naila. Faisal sadar Naila sudah cukup umur untuk diajak berbagi masalah Freya. Dan Faisal sangat yakin Naila bisa memaafkan Kakaknya karena telah menyebabkan dia berstatus janda saat ini.


"Kasian sekali Kak Freya! Tentu dua juga tidak pernah menyangka hal itu terjadi kepada didinya, Yah! Tolong jangan hakimi dia!"


"Ayah sudah ikhlas dengan apa yang terjadi, kamu tidak marak kan, sama Kakakmu?"


"Untuk apa aku marah? Semua sudah terjadi! Sekarang yang terpenting adalah memperbaiki keadaan. Lalu bagaimana keputusan Ayah?"


"Kami akan menikahkan Freya dengan Alfan!"


"Tapi mereka tidak saling cinta, Yah!"

__ADS_1


"Cinta bisa berjalan seiring berjalannya waktu. Apalagi mudah ada Kenzo!"


"Aku tidak sabar ingin bertemu Baby Kenzo, Yah! Boleh aku melihat fotonya?"" Ujar Naila dengan antusiasnya.


"Ini fotonya!" Faisal menunjukkan foto Kenzo dari HP-nya.


"Masyaallah, gantengnya! Mirip Bang Alfan ini!"


"Ya, begitulah!"


Faisal ingat kembali pertanyaannya kepada Naila.


"Nai, ada yang ingin kamu sampaikan kepada Ayah? Ayah berharap kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari Ayah."


Naila menundukkan kepala. Hatinya gusar dan dilema.


"Jangan memendam sesuatu sendiri, Naila! Kamu masih punya Ayah!"


Deg


Tubuh Naila bergetar, dia sudah tidak sanggup lagi menyembunyikan beban yang ada pada dirinya. Sontak dia mendekap erat tubuh sang Ayah.


"Hiks hiks...."


"Menangislah, Nai! Keluarkan apa yang ada di hatimu! Maaf jika selama ini Ayah belum bisa menjadi tempat bersandar yang nyaman untukmu. Ayah tidak bisa menjadi pengganti sosok Ibu untukmu. Kamu tidak perlu pura-pura kuat di depan Ayah, Nai!"


"Maafkan aku, Ayah! Aku sudah tidak jujur sama Ayah! Beasiswaku sudah dicabut sejak aku telat kembali ke Jogja. Dan selama ini aku bekerja paruh waktu karena tidak ingin membebani pikiran Ayah." Ujar Naila masih terisak di pelukan sang Ayah.


Faisal tercengang mendengar tuturan sang putri. Tapi dia masih berusaha tenang. Dia mengusap punggung Naila dengan sayang.


"Aku tahu Ayah sangat mampu membiayai kuliahku! Tapi aku tidak mau Ayah menyalahkan diri sendiri karena sudah membawaku ke dalam situasi yang menjadikanku begini!"


Faisal tentu sangat terpukul atas pengakuan Naila. Dia tidak berpikir kalau dampak yang Naila dapat akan seperti itu.


Naila merenggangkan dekapannya dari sang Ayah.


"Ayah, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan!"


"Katakan saja! Ayah akan mendengarkanmu!"


"Naila tahu Ayah melarang Naila untuk pacaran. Tapu kalau Naila menikah?"


"Maksudmu apa, Nai?"


"Naila mau menikah!"


"Apa? Kamu jangan bercanda, Nai! Apa kamu telah berbuat kesalahan seperti Freya?"


Faisal mulai emosi.


"Tidak...tidak! Bukan begitu, Yah! Dengarkan dulu penjelasanku!'


FLASH BACK ON


sehari sebelum kedatangan Faisal. Naila keluar dari kost untuk membeli makan siang di sekitar lingkungan kostnya. Seperti biasanya, Naila berjalan kaki.


Namun, saat melewati gang sepi, tiba-tiba dia dihadang seseorang. Orang tersebut adalah Adit.


"Kak Adit! Kenapa Kak Adit di sini?"


"Urusanku denganmu belum selesai!"


"Apa maksud Kak Adit?"

__ADS_1


"Kamu dan keluargamu tidak bisa hidup tenang setelah mengacaukan hidupku!"


"Kamu salah paham! Kamu hanya belum bisa menerima takdir, Kak!"


"Kamu harus membayar semua yang telah diperbuat Freya kepadaku!"


"Bukankah aku sudah rela menggantikannya! Tapi Kak Adit sendiri yang melepasku! Lalu sekrang, apa mau Kak Adit?"


"Aku hanya ingin balas dendam! Aku menyesal telah melepasmu, sebelum aku menyiksamu!" Jawab Adit dengan mata yang menyalang.


"Ayo ikut denganku!" Adit menarik tangan Naila.


"Lepasin, Kak!" Naila berontak, berusaha melepas tangannya.


Tiba-tiba ada yang menendang tubuh Adit. Dia jatuh tersungkur dan secara otomatis tangan Naila terlepas.


"Salman!" Pekik Naila


Ternyata Salman yang sudah menyerang Adit.


"Siapa kamu? Berani-beraninya menyentuh calon istriku!"


Adit berdiri dan menyeringai.


"Wow! Calon istri ya? Yakin kamu tidak menyesal menikahinya?"


"Tidak! Kenapa aku harus menyesal?"


"Bangga sekali kamu mendapat bekasku!"


"Kak Adit!" Sanggah Naila yang mulai tersulut emosi.


Salman tercengang mendengar perkataan Adit. Dia baru sadar saat Naila menyebut nama Adit. Ternyata orang yang di depannya ini adalah mantan suami Naila.


"Lebih baik bekas istri orang daripada bekas pacar orang!" Jawab Salman tegas.


"Hebat! Aku salut padamu! Aku tunggu undangan kalian! Jangan hanya omong kosong! Zaman sekarang banyak pembohong!"


Adit meninggalkan Naila dan Salman.


"Nin, kamu nggak apa-apa, kan?"


"Aku nggak apa-apa! Terima jadih, Man!


"Iya sama-sama." Keduanya sama-sama melangkah menuju kost-an.


"Kenapa kamu bisa berada di sana tadi?"


"Aku ke kost-mu, ternyata nggak ada! Kata Bude biasanya kamu beli makan siang dia sekitar sini. Jadi aku iseng jalan-jalan. Untung saja tadi aki datang tepat waktu."


"Iya, kamu benar sekali! Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba Kak Adit datang dan bertindak seperti itu. Selama ini dia tidak pernah mengusikku."


"Mungkin dia masih sakit hati! Atau ada pemicu lain yang membuatnya begitu."


"Pikirikan lagi apa kata orang tuaku! Aku bersedia menikahimu! Kamu tenang saja, kita akan tetap seperti teman. Adit mungkin saja bisa datang lagi dan mengganggumu! Akan lebih aman jika kamu ada yang menjaga."


Setelah sampai di kost Naila, Salman pamit balik ke distro.


FLASH BACK OFF


Bersambung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


See you again...


__ADS_2