
Di kost Naila.
Faisal sudah bangun tidur, dan baru selesai shalat Ashar. Naila menghormati sisa tempe dan tahu yang ada di dalam kulkas. Sebelumnya dia sudah memasak nasi di magic com.
"Hmm...wangi sekali, masak apa, Nai?"
"Masak yang ada, Yah! Tahu-tempe, hehe..."
"Ayah tadi siang pasti belum makan, iya kan?"
"Iya, Ayah ngantuk sekali tadi! Semalam Ayah tidak bisa tidur!"
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu? Ada kabar dari Kak Freya?"
"Belum!"
"Ayah, boleh Naila jujur?"
"Kenapa harus bertanya? Kamu memang harus jujur! Ada apa?"
Naila menceritakan kronologi kemarahan Adit sebelum mereka bercerai.
"Apa? Alfan? Kamu tidak salah, kan?"
"Aku melihat sendiri fotonya, bahkan aku menyimpan satu!"
Naila mengambil selembar foto dari dalam lemarinya. Foto itu dia simpan di bawah lipatan baju. Foto yang disimpan Naila adalah foto Freya dan Alfani saat masuk ke rumah sakit. Alfano memapah tubuh Freya dengan perut yang belum terlihat buncit.
"Ini, Yah!"
Faisal mengamati foto itu.
"Ini jelas Alfan! Tapi kenapa mereka bisa bersama?Dan... ini kenapa Freya?"
"Apa Kak Freya sama sekali tidak menghubungi Ayah?"
"Tidak pernah! Nomornya juga sudah ganti!Tapi mungkin dia menghubungi Nenekmu! Buktinya Nenekmu santai saja."
"Kata Kak Adit Kak Freya hamil!"
"Apa?"
Faisal terduduk lemas mendengar pernyataan Naila. Ia sangat kecewa kepada dirinya sendiri. Dia merasa telah gagal menjadi Ayah.
"Ayah, ini belum tentu benar! Ayah bisa mencari kabar ke Om Rendy. Maaf kalau selama ini aku diam, aku hanya tidak ingin memperkeruh keadaan."
"Kamu tidak salah, Nai! Kamu sudah mengusahakan yang terbaik. Ayah tidak tahu, kenapa kesalahan Ibumu menjadi bumerarang untuk kalian?"
"Apa yang Ayah katakan? Jangan bicara begitu! Bukankah Ayah selalu mengajarkan kepadaku untuk bisa menerima takdir yang Allah berikan?"
"Astaghfirullah... huft! Kamu satu-satunya penyemangat Ayah saat ini."
Naila mendekap sang Ayah. Memberi kekuatan dan pengertian.
Faisal mencoba menghubungi Rendy untuk menanyakan Alfano. Namun Nomor Rendy sedang dialihkan.
__ADS_1
"Sepertinya Ayah harus ke rumah Alfano, telpon orang tuanya tidak bisa."
"Ayah jangan terlalu berfikir keras ya? Bicarakan baik-baik, jangan emosi! Aku tidak mau Ayah sakit gara-gara masalah ini!"
"Terima kasih, Nai! Maaf kamu harus dewasa sebelum waktunya. Tetaplah menjadi putri yang baik untuk Ayah."
"Aku tidak sebaik itu, Ayah! Aku sudah tidak jujur tentang beasiswaku kepada Ayah." Batin Naila.
Satu bulan berlalu. Salman masihvbetah di Jogja. Bundanya selalu menelpon agar dia kembali ke kotanya, namun Salman masih beralasan. Hari ini dia akan mulai membuka distronya.
Beberapa hari yang lalu Salman sedang berusaha membujuk Nabila untuk mau bekerja di distronya. Awalnya Naila menolak. Tapi karena kegigihan Salman, akhirnya Naila menceritakan. Naila pikir mungkin itu lebih baik, daripada dia dijadikan kambing hitam oleh Safira.
Jam 3 Sore setelah sahabat Ashar Salman menjemput Naila ke kost-annya. Naila sudah menolak untuk dijemput, karena dia bisa menggunakan taksi atau grap untuk ke distro. Namun bukan Salman namanya, kalau tidak memaksa. Padahal Naila kasihan kepada Salman, jarak dari perumahan ke kost lebih jauh daripada je distro.
Saat ini mereka sudah berada di distro. Di sana sudah ada Om Alan dan istrinya, Caca dan juga Ciko. Ada beberapa orang karyawan laki-laki dan perempuan yang direkrut oleh Salman sebelum distro dibuka. Ada juga anak buah Salman yang lain. Salman mengangkat Naila sebagai manager di distronya. Jadi pekerjaannya tidak terlalu memakan waktu. Naila boleh masuk jam berapa-pun. Sebenarnya Naila menolak posisi itu. Namun karena Salman yakin dengan kemampuan Naila. Akhirnya Naila bisa menerima dan ingin mengusahakan yang terbaik.
Salman sudah menggunting pita openingnya. Om Alan mengabadikan opening itu dengan merekam dan memotret untuk dikirimkan kepada Ayah Haris.
Saat ini mereka sedang menyantap nasi tumpeng yang dijadikan sebagai menu syukuran.
"Nin, ayo makan! Apa mau aku ambilkan?"
"Tidak, tidak! Aku bisa ambil sendiri!"
Caca yang melihat adegan itu merasa muak.
"Bang, ambilin dong!"
"Kamu bisa kan ambil sendiri, Ca!"
Untuk opening distro mereka memberikan diskon besar-besaran untuk menarik customer. Setelah acara makan-makan selesai, distro dibuka untuk pengunjung yang ingin melihat bahkan membeli. Ada beberapa kemeja dan kaos yang menjadi incaran para pengunjung.
"Nin, makasih ya?"
"Untuk apa?"
"Berkat idemu, pembukaan kita ramai."
"Terima kasih juga sudah memebriku pekerjaan baru."
Percakapan mereka kembali menjadi perhatian Caca. Dia semakin tidak suka kepada Naila.
"Pa, kenapa Bang Salman harus merekrut temannya itu?"
"Ya biarkan saja! Distro ini ksn milik Salman, jadi terserah dia mau merekrut siapa? Kenapa jadi kamu yan Bete?"
"Caca nggak suka!"
"Nggak suka kenapa, apa Naila itu pernah bikin kesalahan ke kamu?"
"Tidak, bukan begitu! Caca nggak suka Bang Salman dekat-dekat sama dia!"
"Ingat ya, Ca! Kamu dan Salman itu saudara! Jangan sampai ada perasaan lebih dari saudara!"
"Tapi, Pa!"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapi-an! Jangan ikut campur urusan orang! Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk itu! Ayo kita pulang! Bukankah kamu punya tugas untuk bikin makalah?"
Om Alan berpamitan kepada Salman, dia juga membawa Caca pulang.
"Nin, karena masih pembukaan, hari ini kita tutup jam 8 saja ya!"
"Oke, Bos!"
Tidak lama kemudian ada sebuah mobil datang dan berhenti di depan distro. Salman hafal betul dengan mobil itu.
"Assalamu'alaikum..." Ujar seorang perempuan cantik berjilbab Biru tua dan gamis warna denim.
"Wa'alaikum salam."Jawab mereka serentak.
"Bunda...!"
Sontak Salman menghampiri sang Bunda. Dia mencium punggung tangannya, Raisya mencium kening sang putra.
"Sudah, nggak usah ditambah lagi cium-ciumnya!" Ujar sang Ayah.
"Ayah!" Salman beralih mencium punggung tangan Haris. Haris menepuk pundak sang putra.
"Kalau lama nggak ketemu, kalian akur ya?" Ujar Raisya kepada suami dan putranya.
"Bunda dan Ayah kenapa tidak memberitahuku kalau akan ke Jogja? Kalau aku tahu kalian akan datang, aku bisa menunda openingnya."
"Bundamu yang maksa! Ayah nggak ada niat buat ke sini! Demi istri tercintaku." Ujar Haris, gengsi mengatakan rindu kepada sang putra.
"Ya, ya, terserah Ayah!Kemana adik-adikku? Kenapa mereka tidak ikut?"
"Raka dan Riky sedang persiapan untuk masuk kuliah, Ayuni ujian kenaikan kelas."
Melihat keakraban Salman dan kedua orang tuanya, Naila merasa iri. Selama ini, hanya Ayahnya tempat dia bermanja. Ia teringat kepada Ibunya yang sudah lama tidak ia jumpai.
"Nin, sini!" Suara Salman membuyarkan lamunan Naila.
"Bunda, Ayah, kenalkan ini Nindi! Eh maksud saya Naila." Ujar Salman.
"Yang benar siapa namanya, Nak?" Tanya Raisya dengan lembut.
"Saya Naila Anindita, Tante." Ujar Naila. Dia mencium punggung tangan Raisya dan Haris.
"Sebentar, sepertinya aku ingat sekali dengan nama ini!" Raisya mengingat-ingat sesuatu.
Bersambung.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf kalau masih ada typo kakak
Author oleng🤣
Terima kasih sudah mampir dan memberi support
sehat selalu untuk kalianku
__ADS_1
See you again....