
Setelah keluarga Humairah meninggalkan rumah Salman, Haris dan Raisya menghampiri Salwa.
"Salwa...."
"Iya, Bun."
Raisya menoleh ke arah suaminya. Ia rabu untuk mengatakan sesuatu kepada putri sulungnya itu.
"Ada apa, Bun? Kok bingung?"
"Eh, nggak kok! Anu... e...!"
"Sini-sini duduk dulu!"
Salwa mengajak Bundanya untuk duduk di sampingnya.
"Bun, Ayah ke depan dulu!" Ujar Haris, dan diangguki oleh istrinya.
Raisya agak ragu untuk mengatakannya kepada Salwa. Salwa menunggu Bundanya untuk buka suara.
"Sebenarnya ada apa, Bun?"
"Nggak ada apa-apa! Oh iya, tadi ada anak kecil perempuan pakai baju muslim warna abu, apa dia main di sini tadi?"
"Oh, Humairah? Apa dia yang Bunda maksud?"
"Iya benar."
"Iya, Bun! Tadi dia main bersama Ayla dan Alya. Anaknya lucu, cepet akrab! Anaknya siapa sih, Bun?"
"Oh iya, itu cucunya teman Ayahmu." Ujar Raisya.
"Tadi dia nggak mau pulang, Bun!"
"Oh ya? Apa mungkin anak itu tertarik denganmu?" Pancing Raisya.
"Kok Bunda tahu?"
"Karena kata keluarganya Humairah itu tidak mudah akrab dengan orang lain. Dia hanya dekat dengan keluarganya saja."
"Oh begitu?"
"Mungkin karena aku suka anak-anak, Bun! Makanya dia nyaman."
"Iya bisa saja! Atau mungkin dia menemukan sosok Ibu dalam diri kamu! Karena,Humairah itu piatu dari dari lahir."
"Subhanallah, Kasihan sekali! Jadi Ira itu tidak peenah merasakan kasih sayang Ibunya?Apa Ayahnya tidak menikah lagi, Bun?"
"Belum, tapi akan! Masih nunggu calon! Mungkin kamu mau mencalonkan diri jadi Ibunya Humairah?"
"Bundaa... nggak ah!"
"Kenapa?"
"Nggak ada yang lain selain duda gitu, Bun? Aku nggak mau dibanding-bandingkan dengan mantan istrinya!"
Salwa tidak tahu kalau Ayah Humairah adalah orang yang ingin dijodohkan dengannya.
"Kamu kenalan dulu! Baru kamu komentar."
"Sekali tidak tetap tidak, Bun!"
Raisya mencebikkan bibirnya.
"Dasar keras kepala! Awas kamu jatuh cinta nanti! Bunda sumpahin kamu jadi bucin!"
__ADS_1
Raisya bangun dan meninggalkan Salwa. Salwa hanya geleng kepala mendengarkan celoteh Bundanya.
-
Keesokan harinya.
Salwa masih berada di rumah Salman. Karena semalam ia menginap di sana. Salwa tidak mau pulang ke rumahnya, karena takut orang tuanya masih membahas perjodohan.
Pagi ini, Salwa menemani Naila menjemur Baby twins di belakang rumah. Nampak sekali Salwa sangat gemas melihat baby twins.
"Dek, Zean dan Zain itu kamu banget ya? Cuma matanya saja yang mirip Abinya!"
"Iya, Mbak! Kali ini menang banyak aku! Hehe..."
"Hem, Zean dan Zain kaya dari kecil ya? Ayah sudah menyiapkan aset untuk mereka, haha..."
"Iya, Ayah sangat bersemangat menyambut mereka!"
"Gemes banget, deh! Pingin punya kayak mereka!" Ujar Salwa. Ia mengambil gambar baby twins dan dijadikan story WA.
"Sudah umur 25 lho, Mbak! Cepetan deh diterima lamarannya!"
"Yang lamar siapa?"
"Itu Mas Duda!"
"Ish! Itu sih akal-akan orang tua saja!"
Beberapa jam kemudian
Salman pulang dari kantor. Ia disambut oleh istri dan kelima anaknya. Tentu hal tersebut membuat Salwa iri. Ia juga ingin merasakan hal yang sama dengan saudaranya itu. Namun ia belum menemukan seseorang yang bisa menggetarkan hatinya. Dalam hal pasangan hidup, ia tidak ingin main-main. Apa lagi ia tahu sejarah Bundanya yang dulu pernah gagal dalam pernikahan.
"Anak-anak Abi sudah pada mandi?"
"Sudah, Abi...." Jawab tripel A serentak. Setelah memberikan ciuman kepada ketiga anaknya, Salman mencium istrinya. Namun saat hendak mencium baby twins, Naila melarangnya.
"Kenapa ada pengecualian?"
"Mereka masih bayi, sangat rentan terhadap virus! Sudah sana mandi dulu!"
"Bener tuh, dek!" Salwa menimpali.
"Ya, ya... oke, baiklah!"
Salman pun naik ke kamarnya. Ia membersihkan diri dan melakukan shalat Ashar. Setelah itu, ia ke bawah untuk menemui istri dan anaknya.
Nampak Salwa sedang mengajari triple A mengaji. Dalam satu bulan lagi, mereka akan masuk sekolah PAUD. Satu minggu lagi usia mereka akan menginjak 4 tahun. Salman juga sudah mempersiapkan pesta untuk ketiga anaknya.
"Pinternya, siapa yang ngajarin?"
"Abii.." Jawab Arya.
"Ummi..." Jawab Ayla dan Alya.
"Alhamdulillah, meski sibuk kalian masih sempat mengajarkan mereka mengaji. Ilmu agama itu sangat penting. Anak kecil itu mudah menyerap pesan yang mereka terima." Ujar Salwa kepada adik dan adik iparnya.
"Iya dong, Mbak! Nanti kalau mereka sudah sekolahTK, aku akan undang guru les ngaji ke sini! Seperti kita dulu, Mbak!"
"Iya, ide bagus!"
"Wah, wah, Mbak paham banget masalah anak-anak ya? Apa ini tanda-tanda mau punya anak?"
"Hus, ngawur! Masa belum nikah mau punya anak!"
"Ya, kali aja nikahin Bapaknya gratis anaknya!"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Ah...tidak! Tidak ada maksud! Aku cuma bercanda, hehe..."
Adzan maghrib pun berkumandang, mereka shalat berjama'ah bersama. Bu Ajeng dan Dhani juga ikut bergabung. Salman sebagai seorang Imam, tak lupa bersyukur dan berdo'a atas nikmat yng telah Allah berikan kepadanya dan keluarganya.
Setelah selesai ritual ibadah, mereka makan malam bersama.
"Nak Salwa ayo nambah lagi!" Ujar Ajeng.
"Iya,,Bu! Ini sudah banyak!"
Mereka makan dengan santai.
-
Satu minggu kemudian
Tibalah hari ulang tahun Triple A. Pesta mereka diadakan di rumah Oma dan Opanya. Haris memaksa Salman untuk membuat pesta ulang tahun cucunya di di rumahnya. Salman tidak bisa menolak, karena dalam hal ini Bundanya ikut merayunya.
Ulang tahun mereka bertema barbie. Arya nemakai baju ala barby cowok Ken, Alya memakai baju barby dengan style hijabnya. Ayla memakai gaun barby. Cukup banyak tamu undangan yang hadir. Mereka juga menggunakan pakaian serba pink.
Acara sudah dimulai. Kini saatnya pemotongan kue. Potongan pertama diberikan kepada Abi dan Umminya. mereka,saling suap. Selanjutnya, potongan kue diberikan kepada tamu yang hadir.
Alya, Arya, dan Ayla sangat senang karena mendapatkan kado yang sangat banyak. Setelah semua tamuvpulang, mereka berebut membuka kadonya satu persatu.
"Terima kasih, Mi! Kamu sudah memberikan aku kebahagiaan yang luar biasa dengan kehadiran mereka, anak-anak kita!"
"Aku juga terima kasih, Bi! Kamu sudah menjadi pemimpin dan kepala keluarga yang baik untuk kami!"
"Jangan pernah tinggalkan aku, sampai kita menua nanti, Mi!"
"Aku tidak bisa berjanji, By! Tapi aku akan berusaha untuk selalu ada di sampingmu!" Naila menggenggam tangan Salman.
"Ehm ehm... wah enak banget ya kalian! Zean dan Zain ada yang gendong, terus kalian pacaran di sini!" Ujar Salwa.
Sontak Naila menghempaskan tangan Salman. Namun kali ini, justru Salman menggenggam tangan Naila.
"Biarin, kamu iri mbak? Cari gandengan sana!"
"Awas kamu ya! Ntar aku cari yang romantis, gagah, kaya raya, biar nggak kalah sama kamu!"
"Wah sepertinya ciri-ciri itu ada pada seseorang, Mbak!"
"Siapa?"
"Mas Duda! Haha..."
"Salmaaannn...." Pekik Salwa.
Salman berlari menghindari amukan saudara kembarnya. mereka kejar-kejaran seperti ton and Jerry. Haris dan Raisya hnya bisa tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Jadi ingat kecilnya mereka ya, Yah?"
"Iya, Bun! Jadian pingin punya balita lagi!"
"Ish, nggak usah ngaco! Malu sama cucu!"
Zean dan Zain merengek. Ternyata mereka ingin *****. Naila pun membawa mereka ke dala kamar. Salman membantu Naila memberi ASI yang sudah dalam kemasan botol kepada Zean. Sedangkan Zain meminum ASI langsung dari sumbernya.
TAMAT
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih untuk semua readers yang selalu mampir di karyaku ini. Novel ini sudah tamat. Semoga ada nilai moral yang dapat kita ambil dari novel ini.
__ADS_1
Jangan lupa baca novelku yang lain ya kak🤗