
Naila bilang kepada Ayahnya kalau ia dan Salman saling mencintai, dan mereka ingin menikah agar tidak terjerumus dalam dosa karena telah berpacaran. Dia juga sudah menceritakan bahwa Adit telah mengusiknya. Naila terpaksa berbohong kepada Ayahnya, Kalau ia dan Salman saling mencintai. Ia hanya ingin meyakinkan Ayahnya. Setelah mendengar penjelasan Naila, Faisal kembali bertanya.
"Siapa Salman?"
"Di-dia temanku waktu SD, Ayah!"
"Kenapa dia bisa berada di Jogja? Kalau dia masih sepantar denganmu, pasti dia juga masih kuliah, Nai?" Faisal merentet pertanyaan kepada putrinya.
"Dia sudah bekerja, Ayah! Bahkan aku bekerja di tempatnya."
"Apa dia sengaja mengikutimu ke Jogja? Sejak kapan kalian menjalin hubungan?"
"Kami tidak pernah pacaran, Ayah! Makanya, kami ingin berkomitmen untuk menghindari perbuatan maksiat."
"Sepertinya kamu sangat yakin, Nai! Dia tidak keberatan dengan statusmu?"
"Tidak, aku sudah jujur kepadanya, Yah!"
"Baiklah, kabari orang tuanya! Ayah ingin bertemu mereka malam ini juga!"
"Ta-tapi kenapa harus malam ini, Yah?"
"Kamu ini gimana? Katanya mau nikah? Ayah tidak mau melakukan kesalahan lagi! Kalau kalian sudah yakin untuk apa Ayah menunda lagi?"
"Iya, Yah! Aku akan menghubungi Salman."
Naila-pun mengirim chat kepada Salman. Dia menyampaikan pesan Ayahnya. Dia juga bilang tentang kebohongannya kepada sang Ayah tentang perasaan mereka.
POV Naila
Sebenarnya aku tidak bohong tentang perasaanku kepada Salman. Aku ingin sekali mengatakan, kalau aku sudah lama mencintainya. Namun aku tidak punya keberanian. Semoga keputusanku menikah dengannya, tidak salah. Aku tidak ingin main-main dengan pernikahan. Salman sudah meyakinkan untuk itu. Itu artinya dia sudah siap menjalani.
POV Salman
Kamu bisa saja berbohong kepada Ayahmu tentang perasaanmu, Nindi. Tapi aku tidak bisa berbohong tentang perasaanku kepada Ayah dan Bunda. Aku mencintaimu dari dulu. Namamu yang sebut dalam setiap do'aku. Aku berharap dengan pernikahan ini, kamu bisa merasakan perasaanku yang sebenarnya.
Jam 6 sore, Salman dan kedua orang tuanya berangkat menuju restoran tempat mereka akan bertemu dengan Naila dan orang tuanya.
Naila dan Faisal sudah menunggu kedatangan mereka. Jarak restoran dan tempat kost Naila tidak terlalu jauh. Jadi ia dan Ayahnya bisa sampai lebih dulu.
"Kita pesan makanan kalau mereka sudah datang saja, Nai!"
"Iya, Yah."
Malam ini Naila mengenakan tunik berwarna pink muda dan rok plisket warna hitam serta jilbab segi empat warna pink motif bunga. Dengan make-up natural, ia nampak terlihat cantik dan anggun. Faisal memperhatikan putrinya yang sangat kelihatan sedang grogi saat ini. Dia tersenyum kecil saat melihat Naila gigit jari.
Tiba-tiba HP Naila berdering. Ia langsung mengakatnya.
__ADS_1
"Hallo!"
"Nin, aku sudah sampai! Kamu di meja yang mana?"
"Di lantai 2, meja nomor 50."
"Oke, kami akan segera ke sana."
Salman menutup panggilannya.
"Ayah, Salman dan orang tuanya sudah sampai."
"Iya, kamu jangan grogi!"
Tak lama kemudian Salman dan orang tuanya sampai di lantai 2 dan menjalani meja yang dimaksud. Tidak sulit untuk menemukan meja nomor 50, Karena letaknya di dekat blankon restoran.
"Maaf lama nunggunya!" Ujar Haris kepada Faisal dan Naila.
Faisal dan Naila bangun dan berdiri. Naila mencium punggung tangan kedua orang tua Salman.
"Perkenalkan saya Haris, orang tua Salman! Ini putra saya, Salman! Dan ini Istri saya, Bundanya Salman, namanya Raisya."
Deg
Faisal dan Raisya tercengang. Sudah lama sekali mereka tidak pernah berjumpa. Dan kali ini mereka harus dipertemukan kembali karena anak-anak mereka.
"Bun!" Tegur Haris.
"Apa kabar, Mas?" Raisya menyapa Faisal.
"Ba-baik, Raisya!"
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Haris, penasaran.
"Iya, Mas Faisal ini temannya Mas Rendy, Yah!"
"Oh... iya-iya! Saya tidak menyangka ternyata Naila anak anda! Padahal kita berasal dari kota yang sama, tapi anak-anak kita mempertemukan kita di Jogja." Ujar Haris.
Mereka memesan makanan dan minuman sesuai selera. Setelah makan malam mereka selesai. Mereka .mulai membahas Salman dan Naila.
"Kami tidak ingin basa-basi Pak Faisal! Sebagai orang tua kami ingin yang terbaik untuk anak-anak, Pak Faisal pasti juga begitu, kan?"
"Iya, Pak Haris."
"Salman ingin menikahi Naila. Mereka sudah saling kenal sejak SD. Mereka memang masih muda, tapi saya yakin mereka cukup dewasa untuk menjalin hubungan pernikahan. Daripada mereka berbuat dosa, bukan begitu, Pak Haris?"
"Benar, Pak Faisal. Tapi Naila masih kuliah, apa Nak Salman tidak keberatan?"
__ADS_1
"Tentu tidak, Om! Saya sudah memikirkannya dengan matang." Jawab Salman tegas.
"Maaf, Nak Salman! Sebagai orang tua saya ingin memastikan terlebih dahulu. Karena menikah itu bukan ajang permainan atau perlombaan. Kalian tidak berbuat kesalahan, kan?"
"Ti-tidak, Om! Sumpah demi apa-pun, saya tidak pernah berbuat macam-macam dengan Naila. Saya tahu batasannya! karena bagaimanapun, saya memiliki saudara perempuan. Dan terlebih Bundaku ini, selalu mengajarkanku untuk menjaga dan menghormati wanita."
"Raisya, kamu benar-benar beruntung memiliki keluarga yang lengkap. Anak-anak yang dididik dengan baik. Tidak sepertimu yang gagal menjadi suami dan Ayah." Batin Faisal. Dia melirik Raisya.
"Ehm! Pak Faisal, anda tidak perlu khawatir untuk kehidupan Naila ke depannya! Saya tahu anda orang yang cukup mampu. Salman sudah memiliki usaha sendiri meski baru merintis. Tapi saya jamin dia laki-laki yang bertanggung jawab, sama seperti Ayahnya. Haha...." Ujar Haris sambil tertawa untuk mendinginkan suasana.
"Saya percaya itu, Pak Haris! Tanggung jawab itu yang paling penting. Hanya saja saya masih ragu, apa anda dan Raisya masih mau menerima Naila kalau tahu statusnya?"
"Maksudnya?" Tanya Haris.
"Apa Salman tidak mengatakannya kepada kalian?"
Syasana menegang, Sakman dan Naika hanya busa menundukkan keoala.
"Maaf, Naila ini pernah menikah, dan sudah bercerai 7 bulan yang lalu."
"Apa?" Haris terkejut. Beitupula Raisya, namun dia masih bisa mengontrol diri.
"Naila menjadi pengantin pengganti Kakaknya. Itu kesalahan saya sebagai orang tua. Maaf saya tidak bisa bercerita detailnya seperti apa. Intinya saya tidak ingin keluarga anda kecewa jika tahu status Naila dari orang lain."
"Kamu sudah tahu itu, Salman?" Tanya Haris kepada putranya.
"Iya, aku sudah tahu, Yah! Aku tidak keberatan dengan itu. Statusnya jelas kok! Untuk apa aku permasalahan masa lalunya? Bukankah dulu Ayah juga begitu?"
"Bagus! Ayah bangga denganmu! Pertahankan pendirianmu!" Haris menepuk bahu Putranya.
"Anda dengar sendiri, Pak Faisal! Putra kami tidak keberatan, jadi kami akan mendukung setiap keputusannya."
"Alhamdulillah, terima kasih! Saya sangat lega mendengarnya."
"Kapan anda pulang ke Surabaya? Kami akan melamar Naila di rumah anda."
"Saya akan pulang besok. Satu minggu lagi Naila akan pulang, karena libur tengah semester."
"Baiklah, tunggu kami satu minggu lagi! Kami akan kabari lagi nanti."
"Iya, Pak Haris! Terima kasih."
"Saya juga berterima kasih, Pak!"
Raisya hanya memberikan senyum kepada Faisal. Akhirnya mereka pulang. Haris memaksa Faisal untuk ikut mobil mereka. Faisal dan Naila balik ke kost-an bersama mereka.
Bersambung....
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
See you again....