Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Pernikahan


__ADS_3

Pulang ke rumah, Salman masih badmood. Bundanya melihat aura kegelisahan pada putranya.


"Salman, ada apa? Kenapa mukanya ditekuk?"


"Tidak apa, hanya capek, Bun."


"Benarkah?"


"Iya."


"Jangan bohong! Kamu tidak bisa berpura-pura! Ceritakan sama Bunda! Mungkin Bunda bisa membantumu."


Karena desakan Bundanya, akhirnya Salman menceritakan kejadian di distro tadi sore. Raisya menyimak cerita dari putranya.


"Sabar, Man! Mungkin mantannya Naila menyesal. Atai bisa jadi dia belum bisa terima, makanya dia mau panas-panasin kamu. Kamu bisa menerima Naila dan masa lalunya, kan? Kamu harus terima konsekuensinya! Kalau kamu masih ragu, mending kamu mundur saja! Bunda yakin Naila juga tidak ingin menjadi janda."


"Huft... iya, Bun! Aku hampir saja termakan omongan si Adit! Sepertinya dia memang ingin merecoki hubungan kami. Aku akan menghubungi Naila, agar dia berhati-hati."


Hari demi hari terus berganti. Tidak terasa hari pernikahan Naila dan Salman sudah di depan mata. Begitu pula pernikahan Freya dan Alfano.


Dua hari lagi mereka akan mendapatkan status baru. Segala persiapan sudah mencapai 100%. Akad nikah Naila dan Salman akan dilaksanakan di rumah orang tua Salman jam 8 pagi. Dan akad nikah Freya akan dilaksanakan di rumah orang tua Faisal jam 1 siang. Resepsi akan digelar bersamaan jam 7 malam, di salah satu hotel terbesar di Surabaya.


Beberapa hari yang lalu Faisal mendatangi kediaman Adit. Dia menceritakan kepada orang tua Adit tentang kelakuan putranya. Orang tua Adit sangat marah, mereka mengancam untuk menahan semua fasilitas yang Adit dapat kalau dirinya masih berulah. Mereka juga mengirim Adit ke luar negeri untuk mengurus bisnis mereka di sana.


Selama beberapa hari ini, Naila dan Salman tidak berkomunikasi. Naila masih sangat canggung jika berhadapan ataupun berkomunikasi dengan Salman.


Terbalik dengan Freya dan Alfano. Keduanya seperti tikus dan kucing. Sebenarnya Alfano sudah memiliki perasaan terhadap Freya, begitupun sebaliknya. Hanya saja mereka masih belum menyadarinya.


Tiba saatnya hati yang ditunggu. Pagi-pagi sekali Keluarga Naila sudah dijemput oleh keluarga Salman. Naila masih dengan pakaian rumahan, dia akan dimake-up di rumah Salman. Raisya sudah menyiapkan semuanya untuk calon menantunya.


Tibalah mereka di rumah Salman. Belum ada tamu yang datang, karena masih jam 6 pagi. Naila dibawa masuk ke dalam kamar Salwa. Salwa tidak bisa pulang dari Kairo untuk menghadiri pernikahan kembarannya, karena saat ini ia sedang ujian semester.


Naila didampingi oleh Farah di dalam kamar. Farah memang sudah datang dari dari tadi malam bersama dengan kekasihnya.


Jam 7 MUA sudah datang. Naila mulai dimake-up. Farah masih setia menemani sahabatnya itu.


"Sudah selesai! Masyaallah cantik sekali! Pangling! AyoMbak dipakai kebayanya!" Ujar sang MUA.


"Iya, Nai! Kamu cantik banget!"


Naila hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


Setelah memakai baju kebayanya, MUA merapikan kembali bagian hijab Naila.


Tamu sudah mulai berdatangan. Acara akan segera dimulai. Hati Naila menjadi deg-deg-an. Kali ini dia akan mengulang hal yang sama seperti beberapa bulan yang lalu. Namun bedanya, waktu utu ia terpaksa untuk menggantikan Kakaknya. Saat ini dia dengan ikhlas, meski dia belum tahu perasaan Salman kepadanya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naila Anindita binti Faisal Ali Hamdani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Sah! Sah!"


"Alhamdulillah" Ujar semua orang bersamaan.


Faisal tak dapat membendung rasa hatinya. Matanya berkaca-kaca.


"Ajeng, lihatlah putrimu! Bahkan sampai mereka menikah-pun kamu tidak pernah muncul!Begitu tidak berharganya mereka untukmu? Walaupun kamu sudah tidak menganggapku apa-apa, setidaknya kamu masih ingat dengan Freya dan Naila." Batin Faisal.


Hati Naila brgetar mendengar kalimat akad yang begitu lancar Salman ucapkan.


"Ayo, Naila! Keluarlah! Suamimu sudah menunggu!" Ujar Raisya menyusul menantunya ke kamar. Raisya tersenyum melihat Naila yang begitu cantik dengan balutan kebaya putih.


Salman terpana melihat kecantikan Nindinya. Dia tersenyum penuh arti menyambut kedatangan sang istri.


"Ayo, Nai! Cium tangan suamimu!" Perintah Faisal.


"Cium kening istrimu!" Haris berbisik di telinga Salman. Putranya itu menjadi salah tingkah. Namun saat melihat kode dari Bundanya, akhirnya dia melaksanakannya.


Salman mengecup kening Naila seperkian detik. Naila memejamkan matanya. Bibir Salman terasa dingin di kulit keningnya.


Setelah menandatangani buku nikah, mereka berfoto bersama. Ada dekorasi sederhana serba putih yang Raisya pasang khusus untuk mengabadikan momen pernikahan putra pertamanya itu.


Setelah semua acara selesai, Keluarga Naila berpamitan pulang. Karena nanti siang Mereka akan mengadakan acara akad nikah Freya dan Alfano. Faisal pamit kepada Salman dan keluarganya untuk membawa Naila pulang.


"Maafkan Ayah, Nak Salman! Istrimu kami bawa dulu! Nanti siang kalian akan bertemu lagi di pernikahan Freya."


"Nggak pa-pa, Pak Faisal! Bawa saja! Kasian kalau tetap di sini, nanti dibikin capek sama Salman! Haris menimpali!"


"Ayah, ngomongnya itu lho difilter dulu!" Tegur Raisya kepada suaminya.


"Haha... nggak pa-pa, Rai! Suamimu benar!"


"Nanti kami akan ikut iringan dari Alfano. Mbak Rindi dan Mas Rendy meminta kami untuk berada di pihaknya, Mas!"


"Iya Rai! Tentu tidak masalah bagi kami! Ya sudah, kami pamit dulu."

__ADS_1


Naila mencium punggung tangan mertuanya. Dia lupa mencium tangan suaminya.


"Lho..lho! Istriku, kenapa kamu melupakan aku?" Ujar Salman dengan gaya tengilnya.


"Maaf, lupa!" Naila bingung harus memanggil Salman dengan sebutan apa. Dengan malu-malu, ia mencium punggung tangan suaminya.


Orang tua mereka hanya bisa menahan senyum melihat tingkah mereka. Salman sangat gemas melihat ekspresi istrinya itu.


Sampai di rumah Jaket dan Neneknya, Naila lansung mencari keberadaan Baby Kenzo.


"Kenzo sayang! Sini ikut aunty!"


"jangan dicubit lagi pipinya, dek! Kamu itu kalau gemes kebangetan!" Ujar Freya.


"Habisnya imut, Kak! Jadi nggak nahan pingin nyubit!"


"Nanti bikin sendiri yang seperti Kenzo!"


"Ish, apaan sih!"


"Haha.... ci cie malu-malu meong nih!"


"Sudah-sudah! Mana Kenzonya, Kakak siap-siap saja! Sebentar lagi Dhuhur!"


Waktu berputar begitu cepat, tibalah saat pernikahan Freya. Mempelai pria baru saja tiba. Rombongan dipersilahkan untuk duduk di tempat yang telah disediakan.


Freya sudah make-up cantik ala dirinya sendiri. Dia tidak mau ribet di acara pernikahannya. Rambutnya disanggul simple dengan akan headpiece sederhana.


"Bagaimana dek? Apa sudah rapi dandananku?" Tanya Freya kepada Naila dan Farah yang saat ini menemani Freya di dalam kamar. Faisal meminta Naila untuk menjaga Kakaknya. Ia takut putri sulungnya itu akan berbuat ulah lagi.


"Perfect! Kakak memang cantik! Bang Alfan pasti tidak bisa berkedip lihat Kakak!Haha..."


Acara pernikahan Freya berjalan dengan lancar. Semua orang yang hadir ikut bahagia menyaksikannya.


Bersambung......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf kalau masih ada typo kakak...


See you again.....

__ADS_1


__ADS_2