Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Disidang


__ADS_3

FLASH BACK ON


Hujan yang cukup deras, membuat Salman malas untuk keluar rumah. Dia takut alerginya kambuh. Dan ada orang tuanya yang tentunya tidak akan mengizinkan keluar malam-malam. Namun saat teringat Naila, dia ingin menelponnya, namun tidak ada signal. Akhirnya Salman iseng mengecek CCTV distro dari HP-nya. Ia terkejut melihat Naila sedang mondar-mandir sendirian di distro. Tanpa berpikir panjang, dia langsung keluar tanpa menggunakan jaket dan memakai jaa hujan. Dia tidak berpamitan kepada orang tuanya dan pergi ke rumah sebelah untuk meminjam motor Edo.


15 menit setelah kepergian Salman. Raisya keluar dari kamarnya, dan melihat kamar Salman terbuka. Saat tidak tahu ada orang di kamar Salman, dia mulai panik. Namunvdia melihat HP Salman tergeletak di atas kasurnya. Raisya melihat pergerakan Naila di dalam HP. Ia segera memberitahu suaminya untuk menyusul Salman. Raisya yakin putranya pasti menyusul Naila ke distro.


Sampai di distro, keadaan sudah gelap. Hujan deras dengan petir dan suara guntur yang bergemuruh membuat listrik padam. Seketika lampu hidup, mereka melihat pemandangan yang kurang pantas.


"Salman!"


FLASH BACK OFF


Adzan Shubuh berkumandang. Haris yang merasa Tubuhnya ada yang menindih merasa terusik tidurnya. Dia mengira yang menindihnya adalah sang istri. Dia-pun membuka mata. Sontak ia menyingkirkan kaki yang berat itu, karena ternyata itu kaki putranya.


"Ngapain bocah ini tidur di tengah-tengah! Dasar pengganggu!" Haris menyingkirkanbkaki putranya.


"Mas, kamu sudah bangun?" Ujar Raisya. Dia mengusap matanya. Suara Haris mengganggu ketenangannya.


"Iya, Bun! Ini Salman ngapain tidur sama kita? Udah dewasa masih aja ngintil!"


"Ayah, apa Ayah lupa? Tadi malam kan kita bawa Naila! Jadi kamar Salman ditempati Naila. Terpaksa Salman tidur dengan kita."


"Ya sudah, bangunkan bocah besar itu! Aku mau ke kamar mandi dulu, Bun!"


"Iya, Yah!"


Dengan lembut, Raisya membangunkan Sang Putra. Akhirnya mereka melakukan shalat Shubuh berjama'ah.


Tok


Tok


Tok


Raisya mengetuk pintu kamar Salman


"Naila! Apa kamu sudah bangun?"


Ceklek


Suara pintu terbuka. Nampak Naila masih mengenakan mukenahnya.


"Maaf menggangu, Nai! Tante kira kamu belum bangun."


"Sudah, Tante! Ini baru selesai Shalat."


"Bagaimana dengan lututmu?"


"Alhamdulillah, tadi malam sambil saya olesi salep, jadi sudah baik-baik saja."


"Oh, ya sudah! Tante mau ke dapur dulu! Kamu lanjutkan saja!"


"Iya, Tante."


Naila melepas mukenahnya, dn memakai bajunya yang semalam dia pakai. Ia pergi ke dapur menghampiri orang Raisya.


"Sedang apa tante? Boleh Naila bantu?"

__ADS_1


"Tidah usahh, Nai! Ini Cuma bikinin susu buat Ayahnya Salman dan Salman."


"Maaf, kemana semua? Kok tidak terdengar suaranya?"


"Salman dan Ayahnya pergi joging! Kamu mau susu juga, Nai?"


"Tidak, terima kasih Tante!"


Di taman perumahan. Ayah dan anak itu sedang duduk sebentar untuk melepas lelah.


"Salman! Jawab dengan jujur!"


"Iya, ada apa Yah?"


"Kamu apain Naila tadi malam?"


"Sumpah demi Tuhan! Aku tidak apa-apain Naik, Yah!"


"Tapi Ayh bisa melihat dari gelagatmu, sepertinya kamu menyuksinya, betul?" Pertanyaan Haris sangat mengintimidasi.


Salman nampak gusar. Mungkin dia harus berkata sejujurnya kepada sang Ayah.


"Jadi laki-laki harus gantle! Jangan lelet! Keduluan orang, baru tahu rasa!"


"Ta- tapi kan, Ayah tahu sendiri! Bunda melarang untuk tidak pacaran?"


"Ayah juga tidak menyuruhmu pacaran! Kalau sudah cinta dan yakin, ngapain main-main? Kamu sudah dewasa! Kuliahmu sudah kelar! Usaha juga sudah punya! Ayah tidak masalah kalau kamu ingin menikah muda!"


"Akan aku pikirkan lagi, Ayah!"


"Keturunan Haris, tidak boleh lemah! Harus maju, pantang mundur!" Ujar Haris, sambil menepuk pundak putranya.


Kedua-nya melanjutkan lari keliling kompak perumahan. Sampai akhirnya mereka kembali ke rumah.


"Kalian sudah pulang? Ini susunya diminum dulu!"


"Terima kasih, Sayang!" Ujar Haris, keceplosan di depan Salman dan Naila.


"Yaelah, sayang-sayangan di depan anak! Udah tahu anaknya jomblo!" Keluh Salman.


"Syukurin!"


Raisya dan Naila hanya tersenyum melihat perdebatan Ayah Haris dan Salman.


"Bunda dan Naila tadi sudah bikin roti bakar, kalian sarapan itu dulu ya!"


Raisya melayani suaminya. Naila melayani dirinya sendiri. Salman memperhatikan pemandangan di depannya.


"Kenapa aku tidak dilayani seperti Ayah, Bun?" Protes Salman.


"Nggak usah banyak protes! Cari istri, kalau mau dilayani! Jangan ganggu istriku!"


"Ya Allah! Kenapa Ayahku pelit sekali! Tidak mau berbagi istrinya!"


"Salman!"


"Ampun, Yah! Ya, ya, nanti aku akan mencari istri sendiri!" Ujar Salman. Dia melirik Naila.

__ADS_1


Ada sesuatu yang tidak bisa Naila pungkiri saat mendengar perkataan Salman.


"Makanlah yang banyak, setelah ini Bunda dan Ayah akan mengintograsi kalian!"


Naila merasa khawatir, dia sungkan kepada orang tua Salman.


Setelah sarapan bersama, mereka berkumpul di ruang tamu. Salman duduk di samping Ayahnya, dan Naila di samping Bunda Raisya.


"Ceritakan kronologinya semalam!" Perintah Raisya.


Salman-pun menceritakan keadaan yang sebenarnya.


"Tapi Bunda lihat dari HP-mu yang tersambung ke CCTV, kamu sempat menyentuh pipi Naila! Kemudian saat itu ada petir dan mati lampu! Bisa saja kamu mengambil kesempatan, Man! Dan saat kami sampai di sana, kamu sedang berada di atas Naila!"


"Aku reflek, Bunda! Tapi beneran, aku tidak apa-apain Nindi, Bun! Tanyakan saja sama orangnya!"


"Benar, Naila?"


"I-iya, Tante! Salman tidak pernah bertindak melebihi batas selama kami berteman."


"Itulah bahayanya kalau laki-laki dan perempuan bersama dalam satu tempat, dan tidak ada orang lain!" Ujar Raisya.


"Salman! Ayah dan Bunda tidak mau menanggung dosamu!" Haris menimpali.


"Naila, apa kamu minta ganti rugi karena aku menyentuh pipimu dan tubuhku tidak sengaja menindihmu!"


Naila sangat bingung. Situasi ini begitu sulit. Padahal sebenarnya itu bukan perkara besar. Kesalahpahaman ini membuatnya pusing. Naila gusar, dia hanya bisa menunduk.


"Salman! Kenapa kamu mengintimidasi Naila seperti itu? Kamu itu laki-laki baik, seharusnya kamu mengerti bagaimana ahlak kepada perempuan yang bukan mahrammu!" Tegas Haris.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan menikahi Nindi!"Ujar Salman, enteng.


"Bagus!" Jawab Haris.


"Ti-tidak!" Sanggah Naila.


"Kenapa Nai? Apa kamu sudah ada pacar?"


"Tidak, Tante! Saya tidak pernah punya pacar! Hanya saja...." Naila menghentikan ucapannya, dua sangat bingung saat ini.


"Kenapa? Apa karena kalian belum saling cinta? Apa mau berbuat maksiat dulu? Tidak ada pertemanan yang abadi antara seorang perempuan dan laki-laki yang bukan mahram!" Ujar Raisya.


Sekali lagi, Naila hanya bisa tertunduk. Ia merasa tersudutkan saat ini. Sebenarnya dia sangat senang jika menikah dengan Salman. Tapi tidak dengan cara desakan seperti ini.


"Sa-saya akan bilang ke Ayah dulu, Om, Tante."


"Baiknya seperti itu, Nai!" Jawab Raisya.


"Ya sudah, ayo kami akan antarkan kamu pulang! Tidak baik kalian jalan berdua terus menerus! Meski kalian tidak melakukan apa-apa, tapi orang lain tidak akan pedulikan itu. Mereka sangat pintar menduga-duga. Dan lagi, setan bisa saja lewat kapan-pun!"


Seperti itulah Orang tua, akan memikirkan baik-buruknya. Namun anak-anak, sedewasa apapun mereka kadang tidak berpikir sejauh itu.


Bersambung.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf tela up, karena author ada acara di rumah.

__ADS_1


Terima kasih selalu support author.


See you again


__ADS_2