Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)

Cinta Dalam Do'A(Sequel Ketegaran Hati Raisya)
Suka dan duka


__ADS_3

Tiga tahun berlalu, kehidupan Naila dan Salman berjalan seperti layaknya keluarga lain. Kadang ada suka dan kadang duka. Semua itu mereka lewati bersama.


Dua tahun yang lalu setelah pulang melaksanakan ibadah haji, Salman memberikan kejutan kepada Naila. Hal tersebut tidak pernah ada dalam pikiran Naila. Salman menghadiahkan sebuah rumah yang cukup besar dan dibangun tidak jauh dari rumah orang tua Salman di Surabaya. Dengan terpaksa Naila mengikuti suaminya untuk pindah ke tanah kelahirannya. mereka meninggalkan Jogja bersama semua kenangan yang telah mereka lewati. Salman mempercayakan Edo untuk mengurus usahanya di Jogja. Dan Rio yang saat itu baru masuk kuliah di Jogja, ia titipkan kepada Edo. Rio tinggal di rumah Salman. Raka dan Riky juga nantinya akan menyusul ke Jogja untuk membantu usaha Abangnya di sana.


-


Di sebuah rumah yang cukup besar dan halaman yang lumayan luas.


"Ummi... de Ayla datoh (Jatuh)!"


"Iya, mana Mbak adeknya?"


"Di cana (sana)!" Alya menunjuk ke arah gerbang.


Naila berlari menuju arah yang dimaksud putri ketiganya tersebut.


"Hua..aa... Ummi catit (sakit)!" Ayla menunjuk lututnya yang lecet namun tidak berdarah.


"Cup-cup, sini ummi obati!" Naila menggendong Ayla dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kemudian ia baluri obat merah di lutut Ayla. Ayla masih menangis karena terasa perih.


"Nanti juga sembuh ini dek! Sudah jangan nangis ya?"


"Dede lari-lari cih!" Sahut Arya.


Sejak pindah rumah dan lulus kuliah, Naila tidak mempekerjakan Baby sitter lagi. Ia meminta Ibunya dan Dhani untuk tinggal bersamanya. Ia mempekerjakan dua asisten rumah tangga yang kadang juga nembantunya menjaga triple A. Kesibukan Naila hanya menjadi Ibu rumah tangga dan menjaga anak-anaknya. Sesekali kadang ia datang ke kantor travel milik suaminya untuk menggantikan suaminya saat ada tugas lain.


Merawat ketiga anaknya adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Naila saat ini. Ia bisa melihat tumbuh kembang mereka dengan sempurna. Biarkan saja orang berkata "Percuma kuliah tapi ijazahnya nganggur." Naila sama sekali tidak memasukkannya ke dalam hati.


Alya, Arya, Dlan Ayla, memiliki karakter yang berbeda. Alya dengan wataknya yang tegas namun penyayang, sedari kecil ia sangat suka berpakaian tertutup bahkan ia kerap menggunakan hijab. Sepertinya watak Alya mirip dengan Bunda Raisya. Arya dengan watak cerdas namun mirip sekali dengan Abinya. Sedangkan Ayla wataknya mirip sekali dengan Umminya.


"Assalamu'alaikum." Salman pulang kerja dengan membawa rujak biah yang dipesan Naila.


"Wa'alaikum salam." Jawab Naila dan ketiga anaknya.


Alya, Arya, dan Ayla berebut menghampiri Abinya.


"Jangan lari de! Nanti jatuh lagi!"


Arya yang sampai terlebih dahulu langsung mencium punggung tangan Abinya. Disusul Alya, kemudian Ayla.


"Siapa yang jatuh, Mi?"


"Ayla, By!"


"Hati-hati, Sayang! Coba sini Abi lihat!"


Ayla menyingkap dresnya.


"Masih sakit?"


"Ndak, By!"

__ADS_1


"Oh, gadisnya Abi! Lain kali hati-hati ya? Jangan main lari-lari!"


Ayla mengangguk, faham nasehat Abinya.


Lelah Salman hilang saat melihat ketiga anaknya dan istrinya yang selalu setia menunggunya pulang ke rumah.


"Abi tapek (capek)? Cini Mbak pijit!" Ujar Alya kepada Abinya.


"Wah pinternya Mbak Alya! Mau dong! Tapi Abi mau mandi dulu ya? Kalian main dulu y!."


Ketiganya mengangguk setuju. Dhani keluar dari kamar mengajak Arya bermain mobil-mobilan. Alya dan Ayla bermain rumah barbie ditemani Mbah Uti. Naila mengikuti suaminya ke dalam kamar. Ia menyiapkan baju ganti untuk Salman.


"Sayang, akhir-akhir ini kamu suka sekali makan rujak? Kalau aku hitung-hitung nih, udah empat kali kamu pesen rujak tiap aku pulang kerja."


"Kamu keberatan, By?"


"Eh, nggak! Bukan begitu maksudku! Aku hanya khawatir jamu sakit perut, itu mangga muda serba dan buah kedongdong pada kecut tapi kamu makan!"


"Nggak tahu ya, By! Pingin, rasanya seger!"


"Kecut gitu dibilang seger!" Salman bergidik, ngilu melihat Naila makan rujak buah yang kecut.


Setelah menghabiskan rujaknya seorang diri, Naila maandi. Selesai mandi, ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di badannya. Rambutnya iya ikat sembarang. Salman yang sedang berbaring di tempat tidur, tadinya tidak menghiraukan istrinya yang mondar mandir. Namun saat melihat istrinya akan memakai baju, ia malah menahannya.


"Sayang, ada yang menggoda iman."


Dengan sekali tarikan, handuk yang dipakai Naila jatuh ke lantai. Salman tentu tidak menunda kesempatan itu. Ia seperti seekor singa yang kelaparan. Segera ia gendong istrinya dan membawanya ke tempat tidur.


Dengan sentuhan dan cumbuan yang menggetarkan hasrat keduanya, akhirnya


"Pelan saja, Mi! Aku tidak mau sampai duluan!"


Salman merasa ada yang lain pada tubuh istrinya. Dan kali ini istrinya lebih agresif. Akhirnya mereka menuntaskan hajatnya. Naila terkapar di pelukan suaminya.


Tok


Tok


Tok


"Ummi..... Abi.... buka....!" Suara Alya di balik pintu."


Salman langsung melepaskan pelukannya dari sang istri.


"Aku ke kamar mandi dulu, By!" Naila lari ke kamar mandi.


Ceklek


"Ada apa, Mbak? Ada aket (paket)!"


Salman menerima paket tersebut.

__ADS_1


"Abi kok ndak pake baju, nanti masuk angin lho!"


"Ah iya, lupa! Abi tadi ketiduran! Ya sudah, Mbak kembali bermain dulu gih!"


"Oce, By!"


Salman mengelus dadanya.


Setelah selesai mandi wajib, keduanya keluar dari kamar. Namun mereka tidak melihat keberadaan anak-anak.


"Bu, kemana anak-anak?"


"Itu main di kamar Dhani!"


"Tiga-tiganya, Bu?"


"Iya, Dhani mau ngajarin mereka menggambar."


"Oh...iya!"


"Kamu shalat, Nai?"


"Iya, kenapa Bu?"


"Nggak pa-pa, cuma kalai Ibu perhatikan kamu nggak pernah libur shalatnya! Apa kamu telat?"


Sontak Naila terkejut dengan ucapan Ibunya. Ia baru ingat, kalau dirinya sudah telat satu minggu. Namun ia tidak begitu menghiraukan, karena hormon dalam tubuhnya belum stabil. Ia baru melepas alat kontrasepsinya dua bulan yang lalu atas permintaan suaminya. Salman merasa ketiga anaknya sudahsiap menerima kehadiran seorang adik.


"Iya telat, Bu! Bulan kemarin juga begitu, mungkin pengaruh hormon karena baru lepas IUD."


"Ya sudah, Ibu cuma ngingetin! Takutnya kamu hamil tapi nggak ketahuan, hehe..."


Salman mendengar obrolan keduanya ikut menimpali.


"Tapi nih, Bu! Dia makan rujak buah terus akhir-akhir ini!"


"Wah, itu harus dicurigai!"


Naila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ah masa sih?" Ujar Naila.


"Nak Salman, coba besok kalau pulang kerja belikan tespack di apotek!"


"Siap, Bu!"


Salman melirik sang istri dengan ekspresi senang. Ia sangat berharap apa yang dipikirkannya itu akan menjadi kenyataan. Istrinya akan hamil kembali.


Ajeng hanya menggeleng kepala melihat menantu dan anaknya.


Bersambung.....

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


See you again kakak.....


__ADS_2