
Salman sibuk membantu kedua orang tuanya yang bolak-balik rumah sakit karena kedua adiknya yang kecelakaan. Saat ini Raka sudah boleh keluar dari rumah sakit, setelah dirawat secara insentif selama 10 hari. Riky sudah sadar dari kmnya, sejak kemarin. Namun dokter menyarankan untuk Riky tetap dirawat insentif di rumah sakit sampai keadaannya membaik. Karena terjadi benturan yang keras di kepalanya, dua agar otak ringan.Orang yng mereka tabrak sudah membaik setelah dioperasi tulang hidungnya. Raka dan Riky tidak sengaja menabrak seorang penjual bakso keliling karena menghindari kucing di jalan. Selain menabrak penjual bakso, Riky yang mengendarai mobilnya saat itu, menghantam pohon besar. Raka yang duduk di samping kemudi mengalami patah tangan, namun tidak sampai dioperasi. Keluarga mereka menanggung biaya operasi dan perawatan penjual bakso itu.
Setelah badai berlalu, Salman sudah bisa mengikuti sidang skripsinya. Hari-hari Salman sudah penuh dengan kesibukan. Dia sudah bertanya kepada Caca tentang Naila, namun Caca bilang tidak ada yang kenal dengan Naila. Salman tidak percaya, dia sebenarnya ingin kembali ke Jogja lagi. Tapi mengingat sidang skripsinya sudah di depan mata, dia ingin fokus dulu untuk kelulusannya.
Di Jogja
Sore ini Naila sudah siap-siap untuk pulang ke Sidoarjo, rumah Neneknya. Besok adalah hari pernikahan Kakaknya. Dia hanya ijin dua hari kepada kepala prodinya.Mengingat dia seorang Mahasiswi meski jalur presatasi, Naila mendapatkan kebijakan tertentu dari Kampus. Termasuk tidak boleh menikah sebelum lulus kuliah.
Untuk mempersingkat perjalanan, Naila naik pesawat terbang. Saat ini ia sudah dijemput oleh Ayahnya di Bandara Juanda.
Faisal Ali Hamdani pria 51 tahun yang sudah 10 tahun menduda, dia adalah seorang Ayah yang sangat menyayangi kedua putrinya. Meski sudah tidak muda lagi, namun aura ketampanannya masih terlihat. Sebelum menikah dengan Ibunya Nabila, ia pernah mencintai seorang wanita. Setelah sebelumnya dua tidak pernah memikirkan tentang asmaranya. Namun cintanya kandas karena konflik masa lalu adik iparnya dan calon mempelai wanita yang ingin dia pinang.
"Ayah!" Naila berhambur memeluk Ayahnya.
"Gadis kecil Ayah!" Faisal memeluk putrinya dan berputar seperti menggendong anak kecil.
"Haha...sudah Ayah! Aku sudah dewasa! Malu dilihat orang."
"Ah iya, Ayah lupa! Ayo cepat kita langsung ke rumah Nenek."
Mang Diro membawakan tas ransel yang Naila gendong. Tidak banyak barabg yang dia bawa, hanya dua potong baju dan peralatan make-up.
Di sepanjang perjalanan, Naila menceritakan keadaannya di Jogja.
"Ayah sudah dapat Ibu barunya?"
"Kamu nanyain Ibu baru seperti anak kecil nanyain permen, Nai. Ayah belum kepikiran, nanti kalau kamu sudah menikah baru Ayah akan cari."
"Lama dong?"
"Nggak juga!"
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah orang tua Ayah Naila.
"Nenek... Kakek...!" Naila menghapus ke pelukan Neneknya, lalu Kakeknya. Tak lupa ia mencium punggung tangan keduanya.
"Kak Freya kemana?"
"Ada di kamarnya, sana gih temui Kakakmu!"
Naila masuk ke kamarnya yang memang disediakan Neneknya kalau dia menginap. Dia menaruh barang bawaannya, kemudian pergi ke kamar Kakaknya.
Tok
Tok
Tok
Naila mengetuk pintu, karena pintu kamar Kakaknya dikunci.
"Kakak, ini aku!"
Ceklek
pintu terbuka.
__ADS_1
"Kakak, aku kangen banget! Hampir satu tahun kita nggak ketemu." Naila memeluk Freya. Freya membalas pelukan adiknya. Meski terkesan cuek, sebenarnya Freya sayang kepada Naila.
"Masuk, dek!"
"Kak, kenapa sepertinya Kakak tidak bahagia? Kakak akan menikah dengan laki-laki pilihan Kakak."
"Aku hanya kelelahan, dek. Gimana kuliahmu, lancar?"
"Alhamdulillah, Kak."
"Ini gaun untukmu besok, cobalah! Untuk jilbabnya aku tidak tahu kamu suka yang seperti apa, tapi itu sudah aku pilihan yang panjang."
Naila mencoba gaun yang diberi Freya. Gaun warna putih tulang dengan aksen bordir warna silver, ditambah paket putih dan silver yang mewah.
"Kak, ini mewah sekali! Semua brides maid memakai seperti ini?"
"Hanya punyamu yang beda, karena kamu adikku. Dan cuma kamu yang memakai jilbab."
"Terima kasih, Kak." Naila mencium pipi kanan Kakaknya.
Keesokan harinya, pagi hari Naila bangun seperti biasanya. Dia mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Naila Shalat berjamaah'ah dengan keluarga yang lain di Musholla dalam rumah.
"Kakakmu belum bangun, Nai?" Tanya Nenek.
"Sepertinya belum, Yah!"
"Anak itu susah sekali bangun Shubuh! Kamu bangunkan Nai!"
"Iya, Nek."
"Ayah, Kakak tidak mendengar panggilanku, kamarnya masih terkunci! Aku takut terjadi apa-apa kepadanya."
"Bu, ada kunci cadangan kamar Freya? Tanya Sang Ayah kepada Nenek.
'"Tidak ada Sal! Kamu dobrak saja!"
Ayah Faisal mendobrak pintu kamar Freya.
Gubrak... Seketika pintu terbuka.
Namun mereka tidak mendapati Freya di dalam kamar. Mereka mencari ke kamar mandi juga tidak ada.
"Kemana Freya, Bu?"
"Ibu juga nggak tahu, Sal!"
"Coba cari ke seluruh rumah, Sal! Atau kamu cari di rumah adikmu! Mungkin dia ke sana!" Ujar Kakeknya.
Ayah Faisal pergi mencari Freya ke rumah adiknya yang berada di samping rumah orang tuanya. Dia langsung masuk ke rumah adiknya yang tidak terkunci, karena matahari sudah mulai terbit.
"Freya! Freya!"
"Ada,apa, Kak?" Tanya Septy yang baru keluar dari kamarnya.
"Apa Freya ada di sini, dik?"
__ADS_1
"Tidak ada, memangnya kenapa?"
"Freya tidak ada di kamarnya, dia hilang!"
"Kok bisa,sih, Kak? Apa,dia diculik?"
"Tidak tahu, ya sudah aku akan kembali ke rumah Ibu dulu!"
Ayah Faisal masuk ke dalam rumah.
"Ayah, Kak Fera meninggalkan sebuah surat di bawah bantalnya." Naila memberikan surat itu dengan perasaan khawatir.
Ayah Faisal mengambil surat itu.
Untuk semua orang yang aku sayangi
Sebelumnya aku minta maaf karena telah mengecewakan kalian. Sifatku yang cuek bukan brarti aku tidak peduli. Hanya saja aku terlanjur kecewa dengan keputusan Ibu yang tega meninggalkan aku dan Naila. Jadi saat aku belajar menjadi orang yang tegar, justru malah hal itu membuatku seakan tidak peduli kepada kalian, maafkan aku.
Dan untuk kesalahan fatalku saat ini, sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa menikah dengan Adit. Aku sangat mencintainya, tapi aku tidak bisa menikah dengannya. Aku tidak bisa menjelaskan alasanku untuk saat ini. Tapi kalian jangan mencariku, karena aku sudah pergi jauh.
Untuk adikku Naila, Kakak minta tolong. Menikahlah dengan Adit, dia pria yang baik. Aku yakin dia bisa membahagiakanmu.
^^^Freya^^^
Ayah Faisal meremas surat dari Freya. Nenek jatuh pingsan.
"Ibu, Nenek." Pekik Ayah Faisal, Kakek dan Naila bersamaan.
"Panggil Dokter, Sal!"
Ayah Faisal segera menelpon Dokter.
Kakak dan adik Ayah Faisal sudah berkumpul di rumah.Tidak lama kemudian, dokter datang. Nenek sudah sadar dan diperiksa oleh Dokter.
"Bagaimana, Dok?"
"Tekanan darah Ibu tinggi. Kolestrolnya juga tinggi. Tolong jangan dikasih beban pikiran terlebih dahulu, jaga perasaannya! Saya takutnya malah akan struk. Saya akan kasih resep, Pak Faisal! Anda bisa mrembelinya di apotek terdekat. Semoga Ibu segera membaik."
"Baik, Dok! Terima kasih banyak."
Ayah Faisal menyuruh Mang Diri untuk membeli obat di apotek.
"Faisal, bagaimana ini? Acara akadnya jam 10, sekarang sudah jam 8." Kakek frustasi.
"Aku tidak tahu, Ayah! Aku bingung." Ujar Ayah Faisal, tak kalah panik.
Naila kalut, pikiran dan hatinya berkecamuk.
Bersambung......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Yang belum baca novel Ketegara Hati Raisya, mmpir yuk! Itu novel ceritanya orang tua Salman dan Raisya, dijamin seperti kehidupan nyata.
Terima kasih yang sudah mampir ke sini. Jangn lupa untuk support karyaku kakak🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
See you again...